Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Berjuang demi anak


__ADS_3

Jam pulang kerja sudah tiba. Prili bersiap untuk menyambut kedatangan Jimmy suaminya. Prili selalu ingin tampil terbaik di depan Jimmy. Ia sudah mandi sebelum Jimmy datang. Ia tidak lupa memakai wewangian demi menyambut sang pujaan. Makanan enak pun selalu ia sediakan, entah itu masakan rumah atau pun beli. Walau pada dasarnya yang masak bukan dia sendiri melainkan asisten rumah tangganya. Tapi Prili ingin selalu memberikan yang terbaik. Ia ingin menjadi orang nomor satu di hati Jimmy.


Prili mulai gelisah saat sudah sore tapi Jimmy belum juga menampakkan batang hidungnya. Prili mondar-mandir di kamarnya.


Prili mencoba menelpon Jimmy kembali. Teleponnya tersambung. Tapi tak di angkat.


"Koq gak di angkat sih?apa dia tidak mau peduli lagi padaku?ini gara-gara si Nina ini. Sejak dia hamil Jimmy lebih perhatian ke dia sedangkan aku di abaikan. Awas kamu Nina", gumam si Prili.


"Sabar ya sayang nanti papa akan selalu ada di sini bersama kita", ucap Prili sambil mengelus perutnya. Prili melihat dirinya di cermin. Ia tersenyum penuh arti.


Ponselnya Prili berbunyi. Notifikasi pesan, pertanda ada pesan yang masuk. Prili mengambil ponselnya.


"Prili untuk dua hari ini aku tidak bisa ke sana ya, lagi demam ini. Gak apa-apa ya. Badanku sakit semua. Jaga anak kita", pesan Jimmy di WhatsApp nya.


"Iyaaa pada hal aku sudah siapin makanan kesukaan kamu lho. Minum obat dong sayang . Atau Nina tidak bisa merawat kamu?aku ke sana saja ya", balas Prili.


"Tidak usah, kalau kalian bertemu yang ada ribut melulu. Yang ada juga aku tambah sakit bukan sehat ulah kalian nanti. Sudah aku gak apa-apa koq, cuma butuh istirahat ", balas Jimmy.


"Tapi aku juga ingin merawat kamu sayang", balas Prili.


"Kamu lagi hamil tua. Jangan membantah. Lebih baik kamu di rumah sana, ada mama", jawab Jimmy.


"Iya udah deh, cepat sehat ya. I miss you", pesan Prili tanpa sungkan.


Jimmy hanya membalas dengan stiker jempol. Prili menghela nafasnya. Ada perasaan iri di hatinya. Di saat sakit seperti itu, Jimmy lebih memilih berdiam bersama Nina dari pada dengan dirinya.


"Nina lebih sering dong bersama dia di banding aku. Aku di sini tanpa Jimmy. Enak benar tuh si Nina", gerutu Prili.


"Apa aku beli lagi aja ya obat itu untuk Nina?kan aku masih menyimpan salinan resepnya", batin Prili.


Pikiran jahat Prili kembali menggodanya. Ia ingin merebut hati Jimmy seutuhnya. Ia ingin Jimmy selalu di sampingnya.


"Ini gara-gara bayi yang ada dalam kandungan Nina. Aku harus membuat perhitungan. Biar Nina tahu rasa", gerutu Prili sambil mengepalkan tangannya.


Tanpa pikir panjang Prili mengambil salinan resep yang masih di simpannya dengan rapi. Prili mengambilnya. Lalu Prili keluar membawa resep tersebut dan pergi ke sebuah apotek.

__ADS_1


"Ibu tahu ini obat apa?", tanya salah satu pegawai apotek tersebut pada Prili.


"Tahu mbak, itu resep saya waktu itu tapi sekarang obatnya bukan untuk saya tapi buat adik saya. Kebetulan adik saya kemarin keguguran tapi janinnya belum keluar jadi saya berinisiatif membelikan obat untuk dia, kasihan lihatnya", jelas Prili sedikit berbohong untuk melancarkan niatnya.


"Iya ibu, ini obat keras lho. Kalau ibu yang makan ya bahaya untuk ibu karena ibu lagi hamil", kata pegawai tersebut sambil melihat ke arah perut Prili.


"Apa adiknya tidak di bawa ke dokter spesialis aja dulu mbak? sebenarnya setiap apotek melarang pasien membeli obat ini tanpa resep dokter karena obat ini tidak di jual bebas. Apalagi resep ini punya ibu bukan punya adik ibu", kata pegawai tersebut bertanya lagi.


"Adik saya cuma di bawa ke bidan dekat rumah aja mbak, kata bidan itu nanti akan keluar dengan sendirinya. Tapi sampai sekarang belum keluar juga. Jadi saya beli obat ini aja mbak. Bantu saya mbak, kasihan adik saya", kata Prili mengarang cerita sambil memasang muka mimik sedih.


Si pegawai berpikir sejenak. Tapi akhirnya si pegawai mengangguk tanda setuju.


"Baiklah tapi kami tidak memberi salinan resep lagi", ucap si pegawai.


"Tidak apa-apa mbak, kalau janinnya masih tidak keluar akan kami rujuk langsung ke rumah sakit ", jelas Prili meyakinkan.


Si pegawai mengambil obat tersebut ke dalam. Sedangkan Prili menarik nafas lega. Karena akhirnya ia bisa mendapatkan obat tersebut.


"Huuhh susah juga ternyata mendapatkan obat tersebut", batin Prili.


"Untung pegawai itu akhirnya percaya, kalau tidak bisa rusak rencanaku", gumam Prili setelah mobilnya jauh meninggalkan apotek tersebut.


"Tinggal gimana caranya aku bisa memberikan obat ini kepada Nina", ucap Prili.


"Sebaiknya aku pulang saja, mama pasti bingung nyariin aku. Karena tadi ponselku kelupaan bawanya", ucap Prili lagi.


Prili melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyusuri jalan hitam yang kelihatan bertambah hitam karena hari sudah perlahan kembali ke peraduannya.


Prili diam. Ia terus melajukan kendaraannya sampai tiba di rumah. Prili cepat memasuki kamarnya. Ia tak mau bertemu dengan mamanya. Karena kalau mamanya tahu, alamat akan banyak pertanyaan yang muncul. Dan Mamanya akan marah besar kalau sampai tahu akan hal itu.


Prili menyimpan obat tersebut di tas kecilnya. Lalu di simpannya di dalam lemarinya.


"Hanya anakku yang akan menjadi penerus papanya", batin Prili.


Prili duduk di tepi tempat tidur. Ia merasakan kakinya pegal sekali. Prili menaikkan kakinya untuk selonjoran.

__ADS_1


"Berjuang demi anak gak papalah", gumam Prili seraya memijat betisnya yang terasa pegal.


"Prili kamu dari mana saja nak?mama cariin dari tadi gak ada", kata mama Hanny yang tiba-tiba muncul di kamar Prili.


Prili kaget.


"Mama bikin kaget aja", kata Prili.


"Kamu itu yang lagi melamun sampai-sampai tidak tahu mama masuk kemari", ujar sang mama.


"Tadi Prili beli minyak untuk kaki Prili Ma, pegal banget rasanya", jawab Prili sekenanya.


"Oohh itu bawaan bayinya. Trus kakinya sudah di kasih minyak?", tanya sang mama.


"Belum Ma mau selonjoran dulu", jawab Prili lagi.


"Mama punya minyak urut. Enak minyaknya hangat, wangi lagi", ujar mama Hanny.


"Boleh juga tuh Ma, mau pakai minyak mama aja deh. Boleh ya Ma?", tanya Prili.


"Iya boleh dong sayang. Tunggu mama ambilin dulu ya", kata mama Hanny bersemangat.


"Huhh untung mama percaya. Tapi kakiku pegal benaran ini", gumam Prili.


.


.


.


Selamat membaca ya para readers.


Jangan lupa kasih like, komen dan juga votenya ya.


Mampir ke sini juga ya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2