Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Suami siaga


__ADS_3

Jimmy pulang dari kantor. Sejak mereka mempunyai Iza, Jimmy pulang lebih awal kalau tidak ada kerjaan yang mendesak. Nina dengan segala rutinitas barunya menjadi seorang ibu, selalu aman dan nyaman kalau sang suami sudah pulang dari kantor. Jimmy selalu menggantikannya jika sudah pulang dari kantor. Pernah suatu hari Jimmy yang dengan sangat letihnya, setelah seharian bekerja dan banyak bertemu klien, kondisi Jimmy jadi tidak fit. Tapi ketika sudah bertemu dengan Iza, rasa lelahnya hilang seketika.


"Bang, abang istirahat saja dulu. Abang terlihat sangat letih. Biarkan saja Iza juga tidak rewel", kata Nina.


"Kamu tahu, abang itu suka gak tenang kalau gak lihat Iza kita. Kangen terus sama bidadari kecil papa ini", kata Jimmy gemas.


"Hilang capek abang kalau sudah lihat wajahnya", kata Jimmy seraya mengelus pipi si imut Iza.


"Kamu istirahat aja ya, gantian abang yang urus si embul ini", kata Jimmy memegang pipi Iza yang tambah berisi.


"Iya udah deh aku mau tidur dulu bentar ya bang, ngantuk banget mata sudah lima watt", ujar Nina.


"Iya tidurlah", kata Jimmy pada Nina isterinya.


Nina akhirnya memejamkan matanya. Matanya seperti di gantungi oleh batu. Berat tak mampu membuka lagi karena kantuk yang teramat sangat.


"Kasihan dia, gak apalah gantian. Kalau dia sakit, aku juga yang repot", batin Jimmy.


Iza masih tidur dengan nyenyaknya.


"Nyaman amat tidurnya sayang", gumam Jimmy sambil memandangi wajah si imut.


"Kalau tidur terus nanti malamnya begadang dong sayang", gumam Jimmy lagi.


Tak ada reaksi dari si imut. Matanya masih tertutup rapat. Jimmy terus mengajak Iza bicara, padahal si imut lagi tidur dengan sangat nyenyaknya.


Melihat tak ada reaksi, Jimmy akhirnya mengambil laptopnya dan melihat kembali file-file di laptopnya, apa sudah tersimpan dengan rapi atau tidak.


Semenjak ada si kecil Iza, Jimmy tak pernah melewatkan kesempatan untuk bersama si kecil. Kasih sayang di curahkan sepenuh hatinya untuk si kecil. Jimmy mempunyai impian untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Anugerah terindah yang dikarunia oleh sang maha pencipta untuknya dan Nina ini membuatnya tambah semangat dalam bekerja.


*****


Sementara itu kediaman keluarga pak Wibowo terlihat sangat sunyi. Seperti tak ada penghuninya. Anak satu-satunya yang mereka miliki kini sudah tidak ada lagi. Pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


"Pa, kita ke rumah Jimmy yuk?", ajak mama Hanny pada pak Bowo.


"Mau ngapain?", tanya pak Bowo tanpa mengalihkan pandangan dari televisi yang di tontonnya.


"Lihat anaknya. Kita sudah kehilangan Prili, kalau bisa kita jangan kehilangan Jimmy juga. Aku sangat menginginkan cucu dari Prili tapi semua berkata lain. Kita bisa menganggap anak Jimmy sebagai cucu kita. Setidaknya kita punya kegiatan baru dengan adanya anak Jimmy ini", ucap mama Hanny.


"Tapi apa Jimmy tidak marah dengan melihat kedatangan kita?", tanya pak Bowo.


"Tidak mungkin pa, Jimmy itu memang keras tapi dia orangnya bijaksana. Dia pasti senang melihat kita datang ke rumahnya. Lagian dia juga tahu bahwa kita tidak mendukung perbuatan Prili. Nina juga orangnya baik, dia pasti senang kalau kita berkunjung ke rumah mereka", jelas mama Hanny.


"Kapan mau kesana?", tanya pak Bowo seraya memutar tubuhnya menghadap sang isteri.


"Sekarang yuuk", ajak mama Hanny.


"Sekarang!?tapi ini kan sudah sore ma, besok aja lah", kata pak Bowo.


"Tapi mama pinginnya sekarang suamiku sayang", ucap mama Hanny memeluk pak Bowo suaminya mesra.


Kalau sudah begitu, pak Bowo selalu tidak bisa menolak kemauan sang isteri. Pak Bowo mengucek-ucek pucuk kepala sang isteri.

__ADS_1


"Ya udah deh asal nanti ada upahnya", kata pak Bowo menggoda isterinya.


"Iihh papa dikit-dikit minta upah, udah tua juga", kata mama Hanny.


"Jiwa tetap muda ma", kata pak Bowo membalas pelukan sang isteri.


"Jadi gak nih?", tanya mama Hanny.


"Okelah. Ayo!", ajak pak Bowo.


Mama Hanny sangat senang pak Bowo suaminya mau menerima ajakannya untuk ke rumah Jimmy dan Nina.


Mereka berdua berangkat menuju kediaman Jimmy dan Nina. Tiba di sana mereka di sambut dengan hangat oleh Nina.


"Tante, om apa kabar? kehormatan besar bagi kami om dan tante mau datang ke rumah kami, ayo om tante silakan masuk", ajak Nina.


"Terima kasih Nin kamu baik banget", ujar mama Hanny.


Mama Hanny dan pak Bowo masuk kedalam rumah mengikuti yang empunya rumah.


"Jimmy mana?", tanya mama Hanny setelah berada di dalam rumah.


"Tadi masih mandi tan, ngomong-ngomong tante dan om dari mana nih?", tanya Nina.


"Memang dari rumah, tujuan memang kemari. Tante mau lihat anak kamu. Pasti cantik dan lucu", kata mama Hanny.


Pak Bowo hanya senyum mendengar ucapan sang isteri.


"Di kamar tan, Iya boleh lah tante. Nanti Nina ambil dulu ya", kata Nina.


Nina meninggalkan mama Hanny dan pak Bowo di ruang tamu. Ia menuju kamarnya untuk mengambil Iza si bayi imut.


"Orang lagi tidur koq di angkat sih sayang", tegur Jimmy saat melihat Nina mau membawa Iza keluar.


"Itu bang ada tante Hanny dan om Bowo di depan, mereka sengaja datang kemari mau lihat anak kita", jawab Nina.


"Tante Hanny dan om Bowo, jangan-jangan mereka punya niat yang sama dengan Prili untuk membahayakan anak kita", uvap Jimmy cepat.


"Tidak baik berburuk sangka dengan orang bang, apalagi ku lihat mereka sepertinya tulus, mereka sangat ingin bertemu dengan Iza", Nina meyakinkan Jimmy.


"Setelah kejadian waktu itu, abang harus jadi suami siaga. Jaga-jaga", ucap Jimmy.


"Ya sudah bawa sana, abang bentar lagi nyusul", ucap Jimmy lagi.


Nina membawa putrinya kedepan menuju pak Bowo dan mama Hanny.


"Ini ada opa dan oma lho sayang, bangun dong", kata Nina sambil memegang pipi bayinya.


"Lucunya cucu oma, sini oma yang gendong. Gemas lihatnya ", ucap mama Hanny.


Nina memberikan bayinya pada mama Hanny. Mama Hanny sangat senang. Ia menerima bayi Nina.


"Siapa namanya Nin?", tanya mama Hanny kepada Nina.

__ADS_1


"Panggil aja Iza tante", jawab Nina


"Iza. Nama yang bagus. Halo sayang, bangun dong," ucap mama Hanny.


Mereka asik bercengkrama. Jimmy muncul di tengah keseruan mereka.


"Pa ma apa kabar?", tanya Jimmy.


"Seperti yang kamu lihat", kata pak bowo sambil tertawa.


Jimmy duduk di samping Nina.


"Ini mamamu dari tadi mau kesini, katanya pingin lihat anak kamu. Ia ingin menggendong cucu, ia pingin anak kecil lagi sepertinya", ujar pak Bowo sambil tertawa.


"Papa ini ngomong apa sih?", kata mama Hanny sambil mendelik.


"Bercanda ma, anggap saja anak Nina dan Jimmy, cucu kita. Bolehkan Nin?", tanya pak Bowo pada Nina.


"Sangat boleh om, kita tetap keluarga koq", jawab Nina.


"Berarti kalau mama kesini tiap hari boleh dong ya?", kata mama Hanny melirik Jimmy.


"Iya boleh dong ma", jawab Jimmy.


"Terima kasih ya nak", kata mama Hanny.


Mereka asik bercengkrama, hari mulai merangkak malam. Mama Hanny masih betah berlama-lama dengan si imut Iza.


"Ayo ma kita pulang dulu, nanti lain waktu kita kesini lagi", kata pak Bowo.


"Tapi mama masih ingin disini pa", jawab mama Hanny.


"Hari malam ma sudah mulai gelap, bayinya juga masih bobo gitu, kita pulang aja dulu ya",


"Iya udah deh kita pulang dulu", ucap mama Hanny.


Mama Hanny memberikan bayi yang di gendongnya pada Nina. Mereka berpamitan pada Nina dan Jimmy untuk pulang. Walau berat hati, mama Hanny akhirnya pulang mengikuti langkah pak Wibowo.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku semuanya.


Jangan lupa komentarnya ya. Like dan votenya juga ya di tunggu.


Mampir juga yuukk ke karya ku yang lain :


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2