
"Menikah?dengan pria yang belum pernah ketemu sama sekali?mimpi apa aku semalam ya?", gumam Nova.
Nova mengambil foto-foto yang tadi di letakkannya di atas meja. Nova bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Ia duduk di pinggiran tempat tidurnya. Didalam kamar Nova merenung panjang. Kata-kata papanya membuatnya takut. Walau bagaimanapun ia tidak mau kehilangan papanya.
"Papa sepertinya sangat menginginkan aku segera menikah tapi orang-orang ini tak menarik bagiku. Aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku saja", gumam Nova.
Nova merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Foto-foto tersebut diletakkannya di sampingnya. Nova terlihat sedang berpikir keras. Tapi Nova tidak menemukan jawaban dari apa yang sedang di pikirkannya. Nova akhirnya tertidur dengan sendirinya.
****
Suara ponsel Nina berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Tika", gumam Nina ketika melihat nama Tika tertera dilayar ponsel.
"Halo sayangku apa aku mengganggu?", suara Tika dari seberang sana.
"Nggak. Ada apa?", tanya Nina sedikit malas.
" Bosku sudah ngasih aku ijin cuti nih. Kamu ke rumah ya", ucap Tika enteng.
"Maksudnya kamu bang Jimmy?", tanya Nina.
"Iya suami kamu. Sekarang aku sudah libur dan cuti cuma di kasih seminggu oleh suami kamu", ucap Tika.
"Seminggu?singkat amat", kata Nina.
"Iya. Dua hari menjelang hari H dan sisanya untuk berbulan madu katanya. Sebenarnya bos hanya ingin aku kerja kembali setelahnya karena tugasku belum ada orang yang tepat untuk mengganti posisi sementara ku, menurut beliau hanya aku yang bisa me..", ucapan Tika langsung di potong oleh Nina.
"Tidak-tidak biar aku yang nanti bicara sama abang. Seminggu cukup apa!", ujar Nina.
"Gak usah gak usah, nanti aku di marah sama suami kamu. Pasti dia nebak kalau aku yang kasih tahu semuanya sama kamu", kata Tika jadi takut.
"Kamu tenang aja. Aku akan bicara sama dia", ucap Nina. Nina langsung memutus obrolannya dengan Tika.
Nina menemui Jimmy di ruang kerjanya.
"Bang", sapa Nina setelah tiba di hadapan suaminya.
"Hmmm", jawab Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah map berwarna merah di mejanya.
__ADS_1
Nina membawa kursi ke dekat suaminya.
'Masih banyak pekerjaan ya?", tanya Nina basa-basi.
"Nggak juga. Kenapa?", tanya Jimmy seraya menutup map yang ada di depannya.
Jimmy memutar kursinya sehingga dia dan Nina berhadapan.
"Mau nanya tentang Tika", kata Nina.
"Tanya tentang apa?Tika sudah ku kasih libur dari kemarin", kata Jimmy mulai serius.
"Ohhh. Kalau Tika libur, trus yang menggantikan Tika sementara waktu siapa bang?", tanya Nina.
"Gak ada. Tika ku kasih cuti hanya satu minggu. Karena hanya Tika yang bisa ku andalkan disini", ujar Jimmy.
"Satu minggu?singkat amat bang. Rinal kan bisa untuk menggantikannya sementara waktu. Capek bang. Belum hilang rasa capek selesai acara, harus kembali kerja lagi. Kasihan kan!?", ucap Nina.
"Rinal baru disini sayang, dia belum paham betul area dan situasi kerja. Kalau dia yang harus gantikan bisa kacau urusannya", jawab Jimmy.
"Bang, Rinal itu sudah dewasa. Sudah bisa berpikir. Kalau dia merasa tidak bisa, dia pasti akan bertanya langsung pada kakaknya sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di bisnis tersebut.
"Iya setidaknya jangan satu minggu lah bang, kasihanlah", ucap Nina.
"Oke kita ganti menjadi dua minggu tapi tetap Tika tidak berganti. Rinal bukan bidangnya, dia tak akan bisa menguasai bidang tersebut secara proporsional. Biar Marsel nanti yang turun tangan. Kita akan lauching produk baru dan ini bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar, kita perlu orang seperti Tika. Okelah dua minggu, bisa di atasi oleh Marsel. Biarkan Tika menikmati masa penganten barunya dulu. Ingat cuma dua minggu!", ucap Jimmy mempertegas.
Nina tersenyum. Ia memeluk suaminya.
"Suami yang baik", batin Nina.
Jimmy membalas memeluk isteri yang sangat di cintainya itu.
"Kita ke rumah Tika yuukk bang, kali aja ada yang bisa di bantu", ucap Nina seraya melerai pelukannya.
"Kita datang pas hari 'H' nya saja. Abang hari ini ingin di rumah saja. Malas keluar rumah. Abang mau istirahat", ucap Jimmy.
"Kalau aku sendiri yang kesana boleh gak?", tanya memegang erat tangan Jimmy.
Jimmy memandang Nina dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ke rumah Tika?sendiri?", tanya Jimmy.
"Iya", jawab Nina singkat.
"Ohh tidak-tidak. Besok saja ke rumah Tika. Hari ini abang di rumah. Jadi hari ini khusus buat abang. Kamu tidak boleh kemana-mana", ujar Jimmy sedikit protes.
"Justru karena abang ada di rumah, aku bisa pergi", ucap Nina.
"Besok saja, abang temani", kata Jimmy seraya mengunci pintu ruang kerjanya.
"Koq di kunci bang?", tanya Nina yang belum mengerti.
Jimmy tak menjawab. Ia malah menggendong Nina dan mendudukkan Nina di atas meja kerjanya. Jimmy memeluk tubuh Nina dengan sangat erat.
"Abang mau apa?abang mau membunuhku?", tanya Nina sambil melerai pelukan Jimmy. Pelukan yang erat membuat Nina hampir tak bisa bernapas.
"Iya. Abang mau melumpuhkan kamu di atas meja ini", kata Jimmy sambil senyum menyeringai.
Entah apa yang ada dalam pikiran Jimmy. Dia langsung meraup bibir Nina dengan sangat lahap. Nina mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia hanya diam saja. Jimmy terus beraksi. Pakaian Nina di lucuti Jimmy sampai tak tersisa. Jimmy dengan leluasa menjelajahi tubuh polos Nina. Nina melenguh saat Jimmy menyentuh area sensitifnya. Jimmy kembali meraup bibir Nina yang lembut dan kenyal. Lidah Jimmy bermain di dalam rongga mulut Nina isterinya. Awalnya Nina hanya diam dan pasrah, lama kelamaan ada rasa nikmat menjalar dalam tubuh Nina. Perlahan tapi pasti Nina membalas perlakuan Jimmy padanya. Jimmy tersenyum. Jimmy membuka kaki Nina biar dia lebih leluasa bergerak. Nina semakin bergairah saat Jimmy bergerak bebas di bawah dana. Keduanya sudah tidak sangat bergairah. Dengan memajukan tubuhnya, Jimmy menusukkan senjata andalannya. Nina melenguh. Tubuh Nina di majukan Jimmy, biar lebih gampang untuk penyatuannya. Jimmy mulai memompa. Awalnya perlahan. Lama-lama volumenya di percepat. Nina bak cacing kepanasan. Bagaimana pun aksi suaminya membuat sensasi lain dalam berhubungan.
Arrrghh...
Keduanya mencapai klimaksnya. Penyatuan pun selesai. Keduanya saling berpelukan. Rasa puas dan bahagia menghampiri keduanya. Jimmy mengecup dahi Nina isterinya.
"Ini yang abang maksud, kamu ada untuk abang", ucap Jimmy sambil mengecup bibir Nina.
"Jadi kita ke rumah Tika hari ini?", tanya Nina hati-hati.
"Tadi kan sudah abang bilang, hari ini khusus buat abang. Kalau abang mau nambah boleh?", bisik Jimmy di telinga Nina.
"Tidak-tidak. Cukup dulu. Nanti lagi ya", jawab Nina sambil menghindar dari Jimmy suaminya.
Nina memakai kembali pakaiannya dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Jimmy menuju kamarnya.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.
Salam bahagia untuk semuanya.
__ADS_1