Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

"Apa?", kata Nina lantang.


"Jangan mengada-ada kamu ya, kak Jimmy melakukan ini karena dia bosnya mbak",kata Nina mempertegas.


"Iihh marah ni ye, aku kan cuma menebak, karena kak Jimmy baik banget sama mbak", kata Adel.


"Kak Jimmy itu baik pada semua karyawannya, jadi jangan ngarang cerita lu ya", kata Nina melangkah meninggalkan Adel yang bengong.


"Iishh, gitu aja marah", kata Adel seraya menuju meja makan, siap menyantap makanan yang tadi di bawa Nina.


"Sering-sering aja gini, aku senang aja bisa makan enak tiap malamnya", gumam Adel sambil senyum-senyum sendiri.


*****


"Adel Adel ada-ada saja, mana mungkinlah kak Jimmy mau sama aku, orang kaya mana mau sama orang seperti kita", gumam Nina seraya meletakkan ponselnya di kasurnya.


Nina menuju kamar mandi, tak lama berselang Nina keluar lagi.Nina terbiasa setipa mau tidur selalu mencuci kakinya terlebih dahulu. Nina merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.


"Kak Jimmy itu baik, ganteng, orang kaya mana mungkin aku pilihannya, pasti gadis pilihannya itu wanita cantik, seksi, anak orang berkelas, mimpi kalau aku yang dia suka, mustahilah", bisik batin Nina.


Nina memejamkan matanya. Tak lama Nina pun terlelap dalam tidurnya.


*****


Jimmy masuk ke dalam kamarnya. Melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan celana pendek dan memakai baju kaos tipis. Jimmy menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya.


"Nina", gumamnya.


"Apakah Nina bisa merasakan apa yang aku rasakan ya?",gumam Jimmy.


Jimmy menghela nafasnya.


"Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya", kata Jimmy seraya melipat tangannya dan di letakkan di bawah kepalanya. Jimmy senyum-senyum sendiri.


Dulu semasa SMA banyak yang mengincar Nina, tapi tidak dengan Jimmy. Nina yang kutu buku sangat tidak menarik di mata Jimmy. Tapi sejak kejadian waktu itu, dengan sekejap Nina bisa meluluhkan hati seorang Jimmy yang kaku.


Jimmy akhirnya tertidur setelah lelah dengan pikirannya sendiri.


*****


Nina pagi-pagi sekali sudah bangun dari tidurnya. Nina duduk di pinggir tempat tidurnya. Terngiang kembali kata-kata Adel semalam.


"Apa mungkin kak Jimmy mau sama aku?orang kaya mana mau sama orang miskin seperti kami,, aku juga tahu dirilah, gak mungkin gak mungkin , sangat tidak mungkin sekali", kata Nina seraya menuju kamar mandi. Seperti biasa Nina mengerjakan sholat subuh dan kemudian menuju dapur. Nina membuat sarapan untuk mereka bertiga.Setelah selesai Nina menuju kamar adiknya Adel. Di bukanya pintu kamar Adel.


"Ya ampun Adel masih ngorok juga, mau sekolah gak sih, ayo bangun", kata Nina seraya menepuk pantat Adel.

__ADS_1


"Ganggu aja sih mbak", kata Adel seraya menggeliatkan tubuhnya.


"Bangun, mau sekolah gak nih?", kata Nina kembali menepuk pantat Adel.


"Iya mau lah mbak", kata Adel agak malas.


"Emangnya jam berapa sih mbak?", tanya Adel dengan mata masih terpejam.


"Jam enam lewat", kata Nina santai


"What?!",kata Adel seraya melompat dari tempat tidurnya.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih kalau udah siang", kata Adel setengah berlari mengambil handuk dan menuju kamar mandinya.


Nina menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala. Nina keluar dari kamar adiknya Adel menuju kamar ibunya.


"Bu", panggil Nina seraya masuk ke dalam kamar ibunya tapi Nina tak menemukan ibunya di kamar.


"Koq gak ada, ibu kemana ya?", gumam Nina sembari keluar dari kamar tersebut.


Nina menyiapkan sarapan untuk adik dan ibunya. Tak lama Adel dan ibunya muncul.


"Ibu dari mana sih?tadi Nina ke kamar gak ada",tanya Nina.


"ibu di kamar mandi, lagi nyetor makanya waktu kamu manggil gak ibu jawab", kata ibunya seraya menempati tempat duduknya.


Nina sudah selesai. Nina menemui ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.


"Nina berangkat dulu ya bu", Nina menuju motornya dan menstarternya. Nina menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Nina fokus ke jalan raya. Di perempatan lampu merah ada bis yang berhenti di sampingnya. Mata Nina beralih memandang ke arah bis tersebut. Tiba-tiba wajah Nina berubah. Pandangannya langsung di alihkannya ke arah lain.


"Ferdy", ucap Nina tanpa sadar.


Nina menutupkan kaca helmnya menutupi wajahnya supaya tidak terlihat oleh Ferdy. Tapi terlambat Ferdy telah lebih dahulu mengenali Nina. Ferdy segera turun dari bis. Lampu rambu lalu lintas telah berubah hijau. Nina dengan cepat melarikan motornya.


"Nina tunggu, sial", kata Ferdy setelah melihat Nina lepas dari kejarannya tapi Ferdy tak kehabisan akal. Di samping jalan tersebut ada banyak ojek yang sedang mangkal. Ferdy dengan cepat menaiki salah satu ojek dan meminta kepada pengendara ojek tersebut untuk mengejar Nina. Pengendara ojek itu dengan kecepatan tinggi mengejar motor Nina. Nina yang merasa dirinya sudah aman tak lagi mempercepat laju kendaraannya. Tiba-tiba ada sebuah motor yang menghadang dengan menyalibnya. Nina kaget bukan kepalang. Nina menghentikan motornya secara mendadak. Nina ingin memaki tapi setelah tahu siapa yang menghadangnya Nina kembali ingin melanjutkan perjalanannya.


"Nina Nina tunggu Nina, please!bisakah kita bicara sebentar saja", kata Ferdy memelas.


"Untuk apa, sudahlah aku mau kerja nanti aku telat", elak Nina.


"Nin, kita harus bicara", kata Ferdy menghadang Nina dengan kedua tangannya.


"Kamu sudah gila ya, apa kamu sudah tak mau hidup lagi?minggir", kata Nina geram.


"Aku tak akan minggir, kalau kamu mau... tabrak saja", ancam Ferdy.

__ADS_1


Nina menghela nafasnya.


"Dasar wong edan", batin Nina.


"Nin maafkan aku please", kata Ferdy.


"Kamu sudah punya isteri, aku tidak mau nanti di katakan perusak rumah tangga orang, pergilah,,,",kata Nina sembari memundurkan kendaraannya.


"Nina aku mau kita bicara sebentar", kata Ferdy seraya menarik tangan Nina.


Nina menepiskan tangan Ferdy.


"Sudah Fer, aku mau kerja, nanti bosku marah lagi kalau aku telat",kata Nina menghindar.


"Itu cuma alasan kamu supaya kamu bisa lari dari aku",kata Ferdy sambil memegang stang motor Nina.


Nina mencari akal supaya Ferdy bisa melepaskannya.


"Gini aja, aku minta nomor ponselmu, nanti pulang kerja aku telpon, sekarang aku mau kerja, nanti aku telat", kata Nina memberi alasan.


"Baiklah kita tukar nomor ponsel, kalau kamu bohong, aku takkan segan-segan berbuat nekad padamu", ancam Ferdy.


"Sebutkan nomormu", kata Nina.


Nina menyimpan nomor Ferdy.


"Ehh nomor kamu mana?", kata Ferdy setelah melihat Nina ingin memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Catat", kata Nina sembari menyebutkan nomor ponselnya.


"Iya sudah nanti pulang kerja aku telepon, kita ketemuan nanti sore", kata Ferdy.


Nina mengangguk. Ferdy naik kembali ke motor ojek yang tadi di pesannya. Lalu pergi meninggalkan Nina. Nina menarik nafas lega. Nina kembali menjalankan sepeda motornya menuju kantornya.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya..

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2