Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Dia sudah berubah


__ADS_3

"Panggil tuan kamu, cepat", kata Prili.


Mendengar ada suara ramai di depan, Nina keluar dari kamarnya.


" Ada apa mbak?", tanya Nina pada asisten rumah tangganya.


"Prili",


Nina terkejut saat tahu siapa yang bertamu ke rumahnya.


Melihat Nina menghampirinya, Prili langsung memeluk Nina. Ia menangis sambil memeluk Nina. Nina yang masih kaget belum memberikan reaksi apapun.


"Nin, maafkan aku ya. Aku salah. Aku tidak akan mengulangi lagi kesalahanku. Maafkanlah aku Nin. Maafkan", kata Prili di sela isak tangisnya.


Nina membelai punggung Prili. Nina melerai pelukan Prili.


"Aku sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu meminta maaf. Aku tahu cinta kita sama besarnya terhadap bang Jimmy tapi kamu jangan lupa bahwa semua itu tidak abadi. Semua akan ada titik akhirnya. Nikmati saja apa yang sekarang terjadi pada kita. Jalani. Kita tidak bisa melawan takdir. Ingat ini adalah takdir bukan nasib. Semua sudah menjadi ketentuan dari yang di atas. Jadi anggap saja kita berteman. Tak ada gunanya kita saling membenci dan iri", kata Nina sambil memegang bahu Prili.


"Baik banget hatimu wahai majikanku. Kalau kamu jadi aku, sudah ku vermaks habis nih orang", batin mbak Yuni sambil melirik Prili.


"Sayang kamu di mana?", seru Jimmy dari dalam.


Jimmy yang baru keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Nina yang tidak ada di kamar mereka.


Jimmy menuju ruang depan yang pintunya terbuka.


"Ngapain kamu kemari?aku tidak mengundang kamu kesini", kata Jimmy ketus saat melihat Prili datang ke rumahnya.


"Bang, dia sudah menyadari kesalahannya. Maafkanlah dia. Lagian yang sudah hilang tak akan kembali lagi bukan? Allah sudah menggantinya dengan yang ini", kata Nina seraya memegang perutnya yang sudah membesar.


"Kamu yang sudah memaafkan dia tapi aku tidak ", jawab Jimmy.


Jimmy bermaksud memutar tubuhnya ingin kembali masuk ke dalam rumahnya tapi Prili cepat bertindak. Dia berlutut di hadapan Jimmy dengan memegang kedua kaki Jimmy.


"Maafkan aku mas, aku khilaf. Jangan siksa aku seperti ini. Aku salah. Aku mohon maafkanlah aku mas", kata Prili dengan sangat memelas.


Nina yang melihat ada tetangganya yang menyaksikan adegan tersebut cepat mengambil tindakan.


"Kita masuk aja yuk, kita bicara di dalam gak enak di lihat orang", ajak Nina.


Jimmy menepis tangan Prili. Nina mengajak Prili untuk masuk ke dalam.


"Mbak Yun, bawa barang bu Prili masuk ke dalam ya", kata Nina pada mbak Yuni.


"Baik Nya", kata mbak Yuni.

__ADS_1


Jimmy melangkah terlebih dahulu. Di susul Nina dan Prili. Mereka duduk di ruang tamu.


"Jadi apa maksud kamu datang kemari?mau buat kekacauan lagi begitu?", tanya Jimmy sengit.


"Bang, jangan gitu dong ngomongnya", kata Nina berusaha melerai suasana.


"Oh iya ini aku bawa pakaian untuk calon bayi kamu. Tolong di terima ya", kata Prili pada Nina.


"Gak perlu repot-repot, aku bisa membelikan anakku pakaian", celetuk Jimmy sinis.


"Bang", sergah Nina.


"Orang seperti dia tidak pantas di beri hati, bikin sesak dunia", ucap Jimmy.


Jimmy bergegas meninggalkan Nina dan Prili di sana.


"Semarah itukah kamu padaku mas?", gumam Prili.


"Li, abang sepertinya masih marah padamu sebaiknya kamu pulang saja ya. Kamu tahu kan dia orangnya keras. Jadi biarkan dulu dia mengelola emosinya. Dua atau tiga hari lagi mungkin marahnya sudah berkurang atau hilang sama sekali. mungkin saat itu dia sudah bisa di ajak bicara", titah Nina pada Prili.


"Enak benar kamu bicara, sepertinya kamu sudah mau menguasai Jimmy ", batin Prili.


Walau hati Prili sangat dongkol tapi Prili masih bisa berpikir panjang. Ia menuruti apa yang di katakan oleh Nina.


Nina tersenyum pada Prili.


"Suatu hari nanti senyum itu akan hilang dari wajahmu Nina", batin Prili sambil senyum menyeringai.


Prili pamit pada Nina. Sebelum masuk ke dalam mobilnya Prili berpesan pada Nina.


"Jaga mas Jimmy ya", katanya sambil tersenyum.


Nina yang melihat Prili tersenyum, dia pun tersenyum membalas senyuman Prili.


Prili meninggalkan rumah Nina dan Jimmy.


"Prili orangnya nekat ya bang, belum sehat betul udah jalan kemana-mana", ujar Nina setelah berada di dalam kamar.


Jimmy tak menggubris ucapan Nina. Jimmy asik main game kesayangannya.


"Bang, maafkanlah dia ya. Dia sudah meminta maaf kan. Maafkanlah dia bang. Aku gak kenapa-napa lagi. Lagian kita fokus ke yang sekarang ada dalam kandunganku aja, yang sudah lepas dan hilang tidak usah di sebut lagi. Aku tidak mau banyak masalah di masa kehamilan ini bang. Nanti berpengaruh pada janin", kata Nina.


Jimmy melirik Nina sebentar. Lalu matanya kembali ke ponselnya.


"Abang dengar gak sih bang?aku kayak ngomong sama patung. Gak ada jawaban atau reaksi sedikit pun", tanya Nina.

__ADS_1


"Kamu maunya gimana?", tanya Jimmy enteng.


"Berbaikanlah sama Prili. Kasihan dia", kata Nina.


"Sudahlah, kenapa juga ngurusi si Prili. Urus abang aja, biarkan saja Prili. Biarkan dia seperti itu, itu balasan bagi orang yang tidak tahu diri. Ahh sudahlah malas bahas Prili melulu. Sebaiknya buatin abang kopi saja sana", kata Jimmy tanpa menoleh.


"Pahit apa manis?", tanya Nina.


"Manis", jawab Jimmy singkat.


Nina memanggil mbak Yuni untuk membuatkan kopi untuk suaminya Jimmy. Mbak Yuni kembali lagi dengan membawa segelas kopi manis di tangannya. Nina mengambil kopi tersebut dari tangan mbak Yuni. Mbak Yuni kembali ke belakang.


"Bang ini kopinya", kata Nina seraya memberikan kopi tersebut pada Jimmy.


"Letakkan saja dulu di sana", ujar Jimmy sedikit memajukan wajahnya menunjuk arah meja kecil yang ada di samping tempat tidur mereka. Nina meletakan kopi tersebut di sana.


"Bang sepertinya Prili sudah berubah, kasihan dia bang. Hatinya pasti sedih karena kamu tak peduli padanya",Nina masih mencoba untuk membujuk Jimmy.


"Sudah ku bilang berhentilah membahas Prili. Aku muak dengar namanya", suara Jimmy sedikit keras.


Nina tercekat mendengar suara Jimmy. Nina terdiam setelah Jimmy memintanya untuk tidak lagi membahas Prili. Nina merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Ia membelakangi Jimmy. Nina menghela nafasnya.


Jimmy melirik ke arah Nina. Jimmy merasa menyesal telah berucap kasar pada Nina. Tapi Jimmy setidaknya bisa tenang, tidak mendengar lagi ocehan Nina tentang Prili.


Jimmy terus memainkan game onlinenya. Tanpa dia tahu bahwa Nina sudah tertidur dengan pulasnya. Nina sudah terbang ke alam bawah sadarnya.


"Sayang ambilkan kopinya ya", pinta Jimmy tanpa melihat kepada Nina.


Tak ada pergerakan dari Nina. Jimmy memajukan wajahnya untuk menengok wajah Nina.


"Pantas diam, ternyata sudah tidur", ucap Jimmy.


Jimmy menghentikan permainan gamenya. Jimmy turun dari tempat tidur dan meminum kopinya sampai habis.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like dan komennya ya di tunggu.

__ADS_1


__ADS_2