
Malam pertama adalah malam yang di tunggu oleh para pengantin pria. Tapi tidak dengan Dedi. Bayangan wajah Nina mengusik pikirannya. Tika yang sudah menjadi isteri sahnya malah tidak di gubris sama sekali. Walau tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Tika berusaha untuk mendekati suaminya. Sebagai isteri yang baik Tika berusaha memberikan pelayanan terbaik buat sang suami.
"Mas, koq disini terus. Tidur yuk", ajak Tika yang melihat Dedi sang suami masih berdiri di pinggir jendela.
"Belum ngantuk. Kamu tidur aja dulu", ucap Dedi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudah malam ini mas, lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 lewat", ujar Tika.
"Iya bentar lagi, kamu tidur aja dulu. Mas masih betah disini", ucap Dedi melihat wajah Tika sebentar lalu melihat keluar jendela kembali.
Walau ingin sekali bertanya lebih lanjut tapi Tika menuruti perintah suaminya. Ia menuju tempat tidur. Dan mengatur posisi untuk tidur. Tika akhirnya tertidur dengan sangat pulasnya. Terlihat sekali kalau ia sangat kelelahan. Dedi mendekati Tika yang sedang tidur.
"Dia tidak bersalah. Sepertinya dia sangat tulus mencintai aku. Tapi bayangan Nina selalu mengusikku. Aku tidak bisa melupakannya. Oh tuhan apa yang sedang terjadi pada diriku!?apa yang sedang terjadi dengan hatiku?wanita ini sudah ku nikahi secara sah tapi kenapa selalu Nina yang hadir di hatiku", batin Dedi.
Dedi mencoba naik ke tempat tidur. Berbaring di samping Tika. Dia memandangi wanita yang kini sudah menjadi isteri sahnya tersebut. Di telusurinya tubuh Tika dengan tatapan matanya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dia sempurna. Lantas kenapa aku tidak ingin menyentuhnya?lihat tubuhnya sangat gempal dan berisi. Ya tuhan, kenapa denganku?", Dedi membalikkan tubuhnya dan membelakangi Tika.
Pikiran Dedi menerawang. Bayangan Nina bermain di otaknya.
"Seandainya Nina yang berbaring di sampingku, pasti akan terasa beda dan takkan ku sia-siakan ", batin Dedi.
"Pasti si Jimmy sedang asik bersama Nina", batin Dedi sambil mendengus. Dedi memejamkan matanya.
"Sudahlah Ded, Nina sudah menjadi isteri orang. Dia tidak mencintaimu. Dan sekarang kamu sudah memiliki Tika yang sudah menjadi isteri sahmu. Nikmatilah malam pertamamu dengan bahagia. Lupakan Nina. Dia bukan milikmu", bisik hati Dedi yang lain.
Dedi membuka matanya dan memandang wajah Tika kembali.
"Kasihan dia. Dia tidak bersalah. Aku terlalu terobsesi dengan Nina. Maafkan aku sayang", batin Dedi.
Dedi mengelus pipi Tika. Tika cuma menggeliat tapi tidak bangun atau membuka matanya.
"Sepertinya dia sangat letih. Biarkan saja dia tidur. Sebaiknya aku juga tidur. Sudah hampir jam tiga pagi", gumam Dedi seraya melihat jam yang ada di dinding.
Akhirnya Dedi tertidur juga. Mereka tidur dengan mimpinya masing-masing. Sampai menjelang pagi, Tika terbangun saat mendengar alarmnya berbunyi. Tika menggeliat. Dia lupa untuk beberapa saat kalau dia sudah bersuami.
"Ada orang, siapa dia? kenapa ada di kasurku?", Tika melompat turun dari tempat tidurnya.
"Ya ampun. Itu suamimu Tika. Dia adalah mas Dedi", gumam Tika.
Tika mendekati Dedi sang suami yang masih tertidur lelap.
"Mas, mas bangun udah siang", kata Tika seraya menyentuh bahu suaminya.
Dedi tak bergeming.
"Jangan-jangan dia pingsan lagi", ucap Tika.
Tika meletakkan telunjuknya di bawah lubang hidung Dedi. Terasa hangat telunjuknya oleh hembusan nafas Dedi. Dan di lihatnya dada Dedi naik turun.
__ADS_1
"Itu artinya dia masih hidup. Syukurlah", ucap Tika seraya mengelus dadanya.
Tika meraba tubuhnya.
"Apa dia menyentuhku semalam?", pikir Tika seraya bercermin.
"Ahh tidak, sepertinya kami sama-sama kelelahan. Dan akhirnya tertidur dengan sangat pulas. Suami yang baik. Tahu aja kalau isterinya masih kecapean", gumam Tika sambil tersenyum.
Malam pertama terlewatkan begitu saja. Tika menuju kamar mandi dan mandi disana. Selesai mandi Tika mengganti pakaiannya. Di lihatnya sang suami masih tertidur dengan nyenyaknya.
Tika menuju dapur. Di lihatnya ibunya dan adik ibunya sedang memasak disana.
"Ibu dan bibi masak apa?", tanya Tika setelah tiba di dapur.
"Duh pengantin baru baru bangun jam segini. Lembur ya semalam?", goda sang bibi.
"Iihh bibi. Nggak lah orang kita tidur koq. Kelelahan acara kemarin", bantah Tika.
"Oh iya?gak percaya!", ucap sang bibi.
"Bi Nur apa sih?serius kita nggak ngapa-ngapain koq", jawab Tika.
"Coba jalan, bibi mau lihat", ucap sang bibi yang bernama Nur tersebut.
Tika mengeryitkan dahinya. Ibu Tika hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik dan anaknya.
"Ayo jalan", ujar sang bibi seraya mendorong sedikit badan Tika agar segera berjalan.
"Hmm iya juga sih, langkah kamu biasa aja. Atau memang belum tembus?", ucap si bibi masih dengan penasarannya.
"Iih bi Nur ahh ada-ada saja. Udah ahh aku mau balik ke kamar aja", kata Tika yang mulai jengah dengan kelakuan sang bibi.
"Yeee ngambek, awas lho ada harimau di dalam kamar kamu. Nanti kamu di makan", ujar sang bibi senang menggoda ponakannya itu.
"Biar aja, biar ku terkam juga", jawab Tika sambil berlalu.
Ibu dan bibinya tertawa mendengar jawaban si Tika.
"Kamu juga Nur senang banget jahilin orang", kata ibunya Tika.
"Dari pada sepi mbak. Biar rame aja", jawab bi Nur ringan.
Ibunya Tika hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kata-kata adiknya tersebut.
Tika kembali ke kamarnya. Di lihatnya sang suami masih tertidur. Tika mencoba mendekati Dedi sang suami. Tiba-tiba Dedi langsung menangkap tubuh Tika. Tika kaget dan berteriak. Ibu dan bibinya yang sedang di dapur langsung kabur ke kamar Tika. Ingin memastikan kalau Tika tidak kenapa-napa. Betapa terkejutnya mereka saat melihat adegan yang tak sepantasnya mereka lihat. Tubuh Tika berada di atas tubuh Dedi. Tika cepat melerai pelukan Dedi.
"Hmmm maaf kami kira ada apa tadi. Tuh benarkan kena terkam", kata bi Nur seraya menutup kembali pintu kamar Tika.
"Kamu tuh ya bikin kaget aja. Lihat ibu dan bibi jadi melihat ulah kamu", Ucap Tika merajuk.
__ADS_1
Dedi senang melihat Tika yang lagi merajuk seperti itu.
"Dia isterimu Ded, sudah halal. Dia untukmu. Lepaskanlah beban pikiranmu bersamanya", bisik batin Dedi yang lain.
Dedi menarik tangan Tika agar lebih dekat dengannya. Tika menurut saja.
"Duduk sini", kata Dedi seraya menunjuk pada kakinya yang bersila.
Sebagai isteri yang baik Tika menurut saja. Aroma wangi tubuh Tika menyelinap ke dalam penciuman Dedi.
"Boleh aku tanya sesuatu?", tanya Dedi sambil mencium rambut Tika yang hitam lebat.
"Tanya saja, kalau bisa akan ku jawab", jawab Tika.
"Apa kamu mencintaiku?", tanya Dedi di telinga Tika.
"Kalau gak cinta, kita takkan menikah mas", jawab Tika enteng.
"Iya juga sih. Jadi boleh sekarang kita mulai?", tanya Dedi mengambang.
"Dari waktu akad kan sudah di mulai mas", jawab Tika lagi.
Jawaban Tika membuat Dedi tambah menyukai Tika. Tika lembut dan baik tapi kelihatan lugu.
"Kita mulai sekarang ya", ujar Dedi seraya mengibaskan rambut Tika yang menutup lehernya. Dedi menjelajah leher belakang Tika. Bulu roma Tika merinding.
"Mas ahh", lenguh Tika.
Dedi bangun dari tempat duduknya dan mengunci pintu kamar mereka.
"Mas, gak enak sama ibu dan bibi nanti mereka dengar", kata Tika berdalih.
"Biarin aja mereka juga pernah muda", ucap Dedi seraya memeluk tubuh Tika yang gempal. Tonjolan di dada Tika sangat terasa di tubuh Dedi. Dedi mencari pengait bra Tika dan melepaskan bra tersebut ke tempat tidur.
Dedi mengangkat baju Tika. Dedi terpana melihat dua bukit kembar Tika yang besar dan padat. Dedi mulai menjamah bukit kembar tersebut. TIka yang merupakan pengalaman pertamanya, bagai ada aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhnya saat mulut Dedi menyentuh salah satu bukit kembarnya itu. Tangan Dedi mulai bergerilya. Badan Tika mulai panas dingin. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
Tok tok tok...
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
__ADS_1
Mampir juga yuukk ke karyaku yang lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).