Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Marah


__ADS_3

Sore itu Jimmy kembali menelpon Nina. Dia ingin mengajak Nina ke sebuah mall untuk belanja kebutuhannya.


"Halo sayang, temani ke mall yuk mau belanja, mau ya?", tanya Jimmy setelah terhubung dengan Nina.


"Baru semalam kita jalan berdua, nanti kamunya bosan loh ketemu terus, kalau belanja kan bisa sendiri gak perlu minta di temani", kata Nina berkilah.


"Aku maunya tiap detik bersama kamu, udah siap-siaplah nanti ku jemput", kata Jimmy.


"Be..", Nina tak menyelesaikan bicaranya karena Jimmy sudah memutus obrolannya.


"Dasar, selalu begitu. Dengerin dulu keq apa orang ngomong, main matiin aja",kata Nina ngedumel.


Dengan langkah malas Nina mengambil handuknya dan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama Nina selesai juga mandinya.


Nina membuka lemarinya dan mengambil pakaian kasualnya biar terkesan santai. Dengan kaos oblong bercelana jeans, sepatu kets berwarna putih dengan rambut di kuncir membuat Nina seperti gadis ABG. Wajahnya yang imut serasi dengan penampilannya.


Nina memoles sedikit riasan di wajahnya. Sebenarnya walau tanpa polesan Nina sudah cantik dari sananya. Tapi biar terkesan segar, Nina menambahkan polesan di wajahnya yang putih mulus tersebut.


Nina mengambil tas kecilnya dan mengambil ponselnya. Nina keluar dari kamarnya. Dia melihat sang ibu lagi menonton televisi. Nina menghampiri ibunya. Sang ibu melihati anak sulungnya itu dari atas ke bawah.


"Mau kemana sore-sore gini?", tanya sang ibu.


"Nemani kak Jimmy belanja bu", kata Nina seraya mencium punggung tangan ibunya.


"Jangan malam-malam pulangnya", kata sang ibu.


"Iya bu, Nina pergi dulu ya bu", kata Nina.


"Mbak oleh-oleh nya jangan lupa", kata Adel yang tiba-tiba muncul.


"Iya", kata Nina seraya menuju teras rumahnya.


"Sepertinya kak Jimmy cinta mati sama mbak Na ya bu", kata Adel setelah Nina keluar.


"Huss anak kecil gak boleh ikut campur", kata ibunya.


"Iya kan setidaknya aku bisa lihat kedekatan mereka, tapi mbak Na sepertinya cuek", kata Adel.


"Kakak kamu sudah jadian sama nak Jimmy, ibu bilang sama mbak kamu kalau kita ini tak sebanding dengan nak Jimmy, jadi setidaknya jangan berlebihan, jangan over apalagi di hadapan orang tuanya, ibu tak mau dia jadi bahan ngomongan orang di luar sana ", jelas sang ibu.


"Koq aku gak di kasih tahu sih kalau mbak Na sudah jadian", kata Adel cemberut.


"Tadinya ibu pengen bilang, tapi ibu kira kamu orangnya mudah mengerti keadaan, pasti kamu tahu", kata sang ibu.


"Sebenarnya sudah seminggu yang lalu aku melihat gelagat keduanya, sepertinya mereka saling suka tapi gengsian", kata Adel.


"Tuh kan tahu", kata sang ibu.


"Iya tapi tak berani menyimpulkan", kata Adel sambil terkekeh.


Di luar terdengar suara mobil.


"Itu pasti kak Jimmy, mau lihat ahh", kata Adel pada ibunya.


"Eehh mau ngapain?", kata sang ibu seraya memegang tangan Adel.


"Cuma mau lihat doang koq", kata Adel memelas.


"Gak usah, cuci piring aja di belakang, gak usah lebay", kata sang ibu.


Adel dengan mulut mencucuh bak ikan mujair, berjalan menuju dapur. Sang ibu hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Flashback on#


Waktu Nina pulang malam itu dari jalan-jalan sama Jimmy, ibu Nina yang bukakan pintu.


"Malam pulangnya Nin, gak enak pergi sama bos pulang malam- malam nanti jadi omongan orang, kamu mau keluarga kita jadi bahan pembicaraan orang?", kata sang ibu.


"Tapi kami cuma jalan-jalan bu, lagian hari ini kak Jimmy...", Nina tak meneruskan kata-katanya. Nina memandang ke wajah ibunya.


"Nak Jimmy kenapa?", tanya sang ibu sedikit cemas.


Nina tertunduk malu.


"Anu bu, itu kak Jimmy nembak Nina", kata Nina malu-malu.


"Apa nembak kamu?terus bagian mana yang kena tembak?kamu gak apa-apa kan?", tanya sang ibu ketakutan.


Nina menahan tawanya. Menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Sang ibu mengelilingi tubuh Nina.


"Gak ada yang luka", gumam sang ibu sambil memegang tubuh Nina.


"Ibu, kak Jimmy itu nembaknya dengan kata-kata", kata Nina.


"Maksudnya?", tanya sang ibu tak mengerti.


"Kak Jimmy meminta Nina jadi pacarnya bu", kata Nina malu-malu.


"Oohhhhh", cuma kata itu yang di ucapkan oleh sang ibu.


"Ibu setuju kan?", tanya Nina takut kalau ibunya marah padanya.


"Ibu setuju dengan siapa pun yang kamu mau, tapi nak Jimmy itu anak konglomerat loh, jangan sampai keluarganya menganggap rendah keluarga kita, ibu tidak mau kamu terluka", kata sang ibu.


"Baiklah, jaga diri ya nak, awas jangan memanfaatkan orang", kata sang ibu.


"Iya gak lah bu", kata Nina.


"Iya udah tidur sana udah malam", kata sang ibu.


"Iya bu", kata Nina. Sang ibu masuk ke dalam


kamarnya. Nina pun menuju kamarnya.


Flash back off#


*****


Sementara itu Jimmy dan Nina telah Tiba di sebuah mall.Jimmy turun dari mobilnya. Nina mengikuti langkah Jimmy. Baru beberapa langkah mereka berjalan ada seseorang yang menghadang perjalanan mereka.


"Ferdy", kata Nina spontan.


"Oohh jadi ini penyebabnya?", kata Ferdy sambil menatap tajam ke arah Jimmy.


"Siapa kamu!?",tanya Jimmy pada Ferdy.


"Gak penting siapa aku, yang penting kembalikan dia padaku", kata Ferdy seraya menunjuk Nina.


Nina refleks memegang lengan Jimmy.


"Minggirlah aku tak ada urusan dengan anda", kata Jimmy ketus.


"Tapi dia urusanku", kata Ferdy seraya menarik tangan Nina.

__ADS_1


"Brengsek", kata Jimmy seraya memberi bogem mentah di wajah Ferdy.


Ferdy termundur beberapa langkah.


"Asal kamu tahu ya dia itu wanitaku, kamu tak berhak menghalangi aku, serahkan dia padaku", kata Ferdy seperti orang mabuk.


Jimmy melepaskan pegangan tangan Nina. Jimmy maju mendekati Ferdy dan terjadilah perkelahian. Nina menjerit minta tolong.


"Tolong", Nina terus menjerit ketakutan.


Orang-orang berdatangan. Mereka melerai perkelahian keduanya. Jimmy memegang tangannya akibat cakaran kuku Ferdy. Ferdy mengelus bibirnya yang sedikit berdarah akibat pukulan Jimmy.


"Enyahlah dari sini sebelum aku menghabisimu", kata Jimmy pada Ferdy geram.


"Baiklah tunggu pembalasanku, kita belum selesai", kata Ferdy sambil menunjuk wajah Jimmy.


"Sudah jangan di hiraukan dia orangnya stress, kamu gak papa kan?", kata Nina pada Jimmy cemas.


"Cuma kena cakaran kukunya", kata Jimmy memegang luka di tangannya.


"Makasih ya pak, mas", kata Nina pada orang-orang yang tadi melerai perkelahian Jimmy dan Ferdy seraya mengajak Jimmy pergi dari tempat itu.


"Siapa lelaki itu?", tanya Jimmy setelah berada di dalam mall.


"Kita belanja dulu aja ya, nanti setelah belanja kita baru cerita", bujuk Nina.


"Aku mau sekarang, jika perlu belanjanya batal, ayo ikut aku", kata Jimmy mengajak Nina keluar dari mall dan kembali menuju mobilnya.


Nina merasa tenggorokannya kering. Wajah Jimmy menampakkan kekesalan. Terlihat sekali tidak bersahabat. Nina sedikit cemas dan takut.


"Masuk", perintah Jimmy pada Nina.


"Katanya mau belanja", kata Nina berusaha memperbaiki keadaan.


"Batal", kata Jimmy sudah tidak berminat. Moodnya sedang buruk.


Nina dan Jimmy masuk ke dalam mobil. Jimmy melajukan kendaraannya menuju ke sebuah taman.


"Turun", kata Jimmy pada Nina.


Melihat Nina masih bingung, Jimmy keluar dari mobilnya dan menggendong Nina membawanya ke kursi taman. Jimmy mendudukkan Nina di situ. Jimmy yang masih kesal menendang botol air mineral yang ada di dekatnya.


Prakkk...


"Kak Jimmy", kata Nina bergetar.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Jangan lupa like, komen dan kasih votenya juga ya..


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2