Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Menikah


__ADS_3

Jimmy melangkahkan kakinya meninggalkan kantor di ikuti Nina yang tak mengerti maksud dan tujuan Jimmy mengajaknya pergi. Karena sepengetahuannya jadwal hari ini tak ada keluar Kantor atau bertemu dengan klien. Tapi walaupun bingung Nina masih mengikuti langkah Jimmy.


"Maaf pak kita mau kemana?", tanya Nina setelah bersejajar dengan Jimmy.


Jimmy tak menjawab Nina. Jimmy malah menyuruh Nina masuk ke dalam mobilnya.


"Masuklah", kata Jimmy pelan.


Nina menurut. Ia masuk ke dalam mobil Jimmy.


"Hari ini tidak ada pertemuan dengan klien pak, dan tidak ada...", kata Nina terputus karena kalimatnya di potong oleh Jimmy.


"Aku mau kita menikah sekarang", kata Jimmy seraya menjalankan mobilnya.


Nina seperti di sengat lebah, dia kaget tak menyangka kalau Jimmy jadi senekat ini.


"Kamu tidak sedang bercanda kan?", kata Nina setelah mobil yang membawanya keluar dari halaman kantor.


"Aku tak pernah main-main dengan ucapanku", kata Jimmy menoleh sekilas kepada Nina karena selanjutnya matanya fokus ke jalan raya.


"Bagaimana mungkin aku menikah tanpa sepengetahuan ibuku kak?", tanya Nina serba salah.


"Sudah gak usah risau", jawab Jimmy tanpa memperdulikan apa yang sedang dirasakan oleh Nina.


Jimmy terus melajukan kendaraannya. Tidak ada pembicaraan lagi bagi keduanya. Nina diam tanpa bertanya lagi. Hingga tiba pada suatu buah rumah Jimmy berhenti di sana.


Jimmy mengajak Nina turun dari mobil. Awalnya Nina ragu tapi karena Jimmy terlihat serius akhirnya Nina ikut turun juga.


Jimmy mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu tersebut.


"Nak Jimmy udah sampai, ayo silakan masuk", kata wanita paruh baya tersebut.


Jimmy melangkahkan kakinya untuk masuk, tapi di lihatnya Nina masih mematung tanpa reaksi. Jimmy memutar kembali badannya.


"Ayo masuk, gak usah takut", kata Jimmy menggandeng tangan Nina.


Jimmy merasakan tangan Nina terasa dingin.


Jimmy menggenggam tangan Nina. Menguatkan hati Nina yang masih galau.


Nina mengikuti langkah Jimmy masuk ke dalam rumah tersebut.


"Silakan duduk, calon nak Jimmy cantik sekali, pantas saja nak Jimmy keburu ingin nikah", kata wanita itu lagi sambil tersenyum.


Jimmy tersenyum sambil memandang wajah Nina yang bersemu merah.


"Ibu tinggal dulu ya bentar", kata ibu tersebut.


"Iya bu", kata Jimmy.


Nina masih diam. Jimmy mengerti kekhawatiran Nina.


"Assalamualaikum", kata pak Harto sopir keluarga Jimmy yang tiba-tiba datang dengan membawa seorang lelaki berjas hitam memakai peci hitam bersamanya.


"Waalikum salam", jawab Jimmy dan Nina serentak.

__ADS_1


"Maaf nak Jimmy harus menunggu, tadi beliau masih ada pekerjaan jadi sedikit terlambat", kata pak Harto.


"Tidak apa-apa pak, saya minta maaf sudah merepotkan", kata Jimmy.


"Bu koq tamu kita gak di kasih minum", seru pak Harto pada isterinya.


"Bentar", kata suara wanita paruh baya tadi yang ternyata adalah isteri pak Harto.


"Bu Sarmi maaf jadi merepotkan", kata Jimmy setelah wanita paruh baya tersebut datang lagi dengan membawa minum dan cemilannya.


"Gak papa nak, kan gak tiap hari", kata bu Sarmi sambil tersenyum.


"Bisa kita mulai sekarang?", kata laki-laki berjas hitam tersebut yang ternyata pak penghulunya.


"Bentar pak, masih ada yang di tunggu", kata Jimmy sambil melirik Nina.


"Ohh gitu", kata laki-laki tersebut.


"Sini nak ikut ibu ke belakang bentar", kata bu Sarmi menggandeng tangan Nina.


Nina bingung. Nina menoleh ke Jimmy minta penjelasan. Jimmy cuma mengangguk. Nina akhirnya mengikuti bu Sarmi ke belakang.


"Ganti pakaian kamu dengan ini", kata bu Sarmi memberikan kain dan kebaya berwarna putih yang sangat mewah.


"Ayo nanti kelamaan, ini semua nak Jimmy yang siapkan, alat make up nya itu, nanti setelah pakai ini baru pakai make up nya, sini ibu bantu", kata bu Sarmi.


Dengan cekatan bu Sarmi membantu Nina. Setelah memakai kebayanya, bu Sarmi membantu Nina memakai make up ala kadarnya. Rambut Nina di ikat ke atas. Lalu bu Sarmi memasang selendang di kepala Nina. Nina terlihat anggun. Pakaian yang di pakainya sangat pas dengan tubuhnya yang semampai. Bu Sarmi sampai melongo.


"Waah kamu cantik banget nak, ibu sampai pangling, di dandani segini aja kamu cantik sekali apalagi kalau pakai jasa salon, pasti seperti bidadari", puji bu Sarmi pada Nina.


"Ayo kita keluar, pasti mereka sudah nungguin kita", kata bu Sarmi sambil menggandeng tangan Nina.


Jimmy melongo ketika melihat Nina yang berjalan menuju mereka.


"Ibu", kata Nina yang kaget melihat ibunya sudah ada di antara mereka.


Sang ibu hanya tersenyum. Walau hatinya sangat berat karena anaknya menikah bukan di rumah mereka tapi demi kebahagiaan anaknya, dia hadir di pernikahan tersebut atas kemauan Jimmy.


Pernikahan itu pun di mulai. Acara sakral itu pun di laksanakan Seorang lelaki muda yang merupakan satpam di perusahaan Jimmy mengabadikan momen bersejarah tersebut.


Walau bukan acara besar dan mewah, namun acara tersebut sangat khidmat. Terlihat wajah Jimmy yang sangat ceria ketika sudah ijab kabul. Akhirnya dia bisa menghalalkan Nina menjadi miliknya.


flashback on#


Semalaman Jimmy tak bisa memejamkan matanya setelah sang mama tidak merestui hubungannya dengan Nina.


Jimmy memutar otaknya. Nina telah di nodainya. Dia tidak mau Nina nanti hamil mengandung anak tanpa ayah.


Jimmy akhirnya mengambil keputusan untuk segera mengnikahi Nina secepatnya. Walau tanpa restu kedua orangtuanya akhirnya Jimmy memberanikan diri mengambil jalan pintas.


Jimmy menemui pak Harto yang kebetulan sopir di rumahnya.


"Ada apa nak Jimmy?tumben malam-malam gini nemuin bapak", tanya pak Harto yang siap-siap mau pulang ke rumahnya.


"Hhmmm gini, aku minta pertolongan bapak, tapi jangan tahu mama sama papa, aku ingin menikah", kata Jimmy langsung.

__ADS_1


"Loh bagaimana bisa?", kata pak Harto bingung.


"Ceritanya panjang, tapi yang pasti mama tak merestui hubungan kami, aku ingin menikahinya pak, setelah itu baru aku akan bilang sama mama kalau kami sudah menikah, dengan begitu mama tak bisa mengelak lagi kalau dia sudah menjadi isteriku", jelas Jimmy.


"Koq nekat gitu nak Jimmy", kata pak Harto.


"Sudah pokoknya aku mohon minta bantuan bapak", kata Jimmy memelas.


"Iya sudah nanti acaranya di rumah bapak saja, kamu bawa ke sana saja wanitamu, bapak akan bawa penghulunya ke rumah, kebetulan penghulunya tidak jauh dari rumah bapak", kata pak Harto menyanggupi.


"Terima kasih pak, nanti bapak belikan pakaian buat dia untuk acara nikahnya, kalau bisa kebaya putih bersama kainnya, selendangnya juga, bedak-bedaknya sekalian", kata Jimmy.


"Aduh nak kalau soal itu bapak tidak mengerti", kata pak Harto.


"Atau gini aja, besok pagi-pagi bapak ke butik Nora yang ada di jalan Sudirman nanti ku telpon pemiliknya, bapak tinggal ambil barangnya", kata Jimmy.


"Baiklah, siap laksanakan", kata pak Harto.


"Awas jaga rahasia, di rumah ini jangan ada yang tahu", kata Jimmy pada pak Harto.


"Siap", kata pak Harto.


Jimmy meninggalkan pak Harto dan kembali ke kamarnya. Jimmy mengambil ponselnya dan menelpon salah satu satpam yang ada di kantornya.


"Naf, kamu lagi dimana?", tanya Jimmy pada satpamnya yang bernama Manaf.


"Di kantor bos, ada apa bos?", tanya manaf.


"Besok kamu ke rumah Nina ya, kamu tahu kan rumahnya, bawa ibunya ke rumah pak Harto, jelaskan sedetail mungkin jangan sampai dia merasa anaknya di culik, aku ingin menikah dengan Nina di sana. Jangan ada yang tahu, jalankan dengan rapi, nanti kamu beli kamera untuk dokumentasinya", jelas Jimmy.


"koq dadakan bos?", tanya Manaf keceplosan.


"Ceritanya panjang, hubungan kami tak di restui, cuma dengan jalan ini kami bisa bersatu", jelas Jimmy.


"Oh gitu, baiklah siap laksanakan", kata Manaf.


Obrolan mereka berakhir. Jimmy menghela nafasnya.


"Maafkan aku ma, aku sangat mencintainya", kata Jimmy sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


flashback off#.


.


.


.


.


Bantu vote, like dan komennya ya readers.


Mampir juga ke karyaku yang lain ya,


Masih Ada Pelangi(tamat).

__ADS_1


__ADS_2