
Sejak PPKM para siswa di tuntut untuk belajar di rumah. Semua kegiatan di lakukan di rumah. Wina yang tak sabar ingin bertemu dengan Adel akhirnya mendatangi rumah nya Adel.
"Apa Adel sudah tahu ya kalau mbaknya nikah sama kakak aku?Adel gak telpon atau apa gitu untuk kasih berita ke aku. Apa mereka sudah sekongkol untuk menyembunyikan semuanya. Sebaiknya aku ke rumahnya saja sekarang", kata Wina bersemangat.
Wina mengambil tas kecilnya. Ia memasukkan ponsel dan dompet kecilnya ke dalam tas tersebut. Lalu mengambil kunci kontak mobilnya yang ada di lacinya.
"Ma, Wina ke rumah teman dulu ya", kata Wina pada sang mama.
"Virusnya masih berkeliaran sayang, gak usah kemana-mana", kata sang mama yang berada di depan televisi.
"Tenang Ma yang penting prokesnya jalan, Wina pergi dulu ya", kata Wina santai.
"Iya hati-hati", kata sang mama melirik sebentar ke arah sang anak.
"Yes mom", kata Wina.
Sang mama hanya geleng-geleng kepala. Wina mengambil mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah Adel.
Sesampainya di rumah Adel. Wina langsung mengetuk pintu. Adel muncul.
"Wina, tumben kemari", kata Adel.
"Kita keluar yuk, aku mau bicara", kata Wina.
"Sekarang?", tanya Adel.
"Nggak besok!iya sekarang lah, makanya aku kemari", kata Wina kesal.
"Yeee gitu aja sewot, bentar aku bilang ibu dengan ambil ponselku dulu", kata Adel sambil berlalu.
Tak lama Adel muncul kembali.
"Yuukk", ajak Adel pada Wina.
Kedua gadis belia itu masuk ke dalam mobil berwarna kuning menyala tersebut.
"Kamu penyuka warna kuning sepertinya", celetuk Adel.
"Banget", jawab Wina singkat.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana?", tanya Adel penasaran.
"Ke sebuah tempat yang sangat asri", kata Wina dengan mata tetap fokus ke jalan.
Wina menghentikan mobilnya di sebuah taman kecil di ujung kota. Mereka turun dan menuju tempat duduk yang tersedia di sana.
"Sebenarnya ada apa kamu mengajakku ke sini?", tanya Adel penasaran.
"Kamu tahu kan tentang kakakku dan mbak kamu?", tanya Wina langsung.
"Maksudnya?tentang yang mana?", tanya Adel belum mengerti.
"Kamu pura-pura gak tahu atau memang gak tahu sih", kata Wina jengkel.
"Aduh Wina sayang, aku itu orangnya suka kalau blak-blakan gak berbelit-belit, coba deh yang jelas ngomongnya",kata Adel bingung.
"Oke, kamu udah tahu kan kalau kak Jimmy dan mbak Nina nikah?", tanya Wina langsung tanpa basa-basi lagi.
"Iya, trus masalahnya dimana?", kata Adel masih belum memahami maksud dari perkataan Wina.
"Jadi kamu sudah tahu?", tanya Wina dengan mata membulat sempurna. Merasa tak percaya dengan jawaban Adel.
__ADS_1
"Iya", jawab Adel singkat.
"Adel mereka nikah tanpa sepengetahuan kami, mereka tahu-tahu udah nikah, nyokap dan bokap syok dengan semua ini", jelas Wina.
"Sebelum nikah kak Jimmy memberitahu kalau mereka akan menikah dan meminta ijin dan restu dari ibu. Ibu awalnya berat karena mereka menikah bukan di rumah tapi ibu tetap merestui pernikahan mereka dan datang di hari pernikahan tersebut, ibu tidak terlalu ingin ikut campur. Yang penting mereka bahagia dan saling cinta dan kak Jimmy bertanggungjawab dengan pernikahannya, itu sudah cukup", jelas Adel.
"Masalahnya tak segampang itu Del, kak Jimmy sudah di jodohkan dengan anak temannya mama tapi dia lebih memilih mbak Nina daripada gadis itu. Yang jadi masalah, mama malu dengan apa yang telah di sepakati. Sekarang mama tidak tahu harus berbuat apa", kata Wina lirih.
"Apa maksud kamu dengan kata lain kak Jimmy harus menikahi gadis tersebut?", tanya Adel mulai berang.
"Del, aku tahu ini tak mudah dan tak sepatutnya, namun ini menyangkut nama keluarga", kata Wina menjelaskan.
"Apa kamu mau aku mengijinkan kak Jimmy menikahi gadis itu? jawabannya adalah tidak. Aku tak akan menghancurkan saudaraku sendiri, permisi", jawab Adel seraya bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Wina.
"Adel tunggu", seru Wina.
Wina mengejar Adel. Tapi Adel larinya lebih kencang dan Adel langsung menemukan ojek yang kebetulan lewat. Adel meninggalkan Wina yang terengah-engah karena mengejarnya.
"Sial...aku harus berbuat apa untuk mencairkan suasana ini, ya allah begini amat yak urusannya", gumam Wina.
Wina akhirnya kembali ke mobilnya dan pulang.
Sementara itu Adel juga pulang ke rumahnya.
"Gila tuh anak, emangnya gampang apa urusannya, enak saja nyuruh kak Jimmy nikah lagi, emangnya dia gak merasa apa sebagai sesama wanita, miris banget", gerutu Adel dalam kamarnya.
"Aku harus telepon mbak Na sekarang", Adel menelpon Nina.
"Halo mbak, mbak dimana?", tanya Adel setelah tersambung.
"Di rumah, ada apa?", tanya Nina.
"Ya udah ke rumah aja mbak tunggu", kata Nina.
"Siap luncur, eehh kak Jimmy nya ada nggak?", tanya Adel lagi.
"Dia ke kantor bentar", jawab Nina.
"Oohh ya udah aku luncur sekarang", kata Adel.
Obrolan pun berakhir. Adel langsung menuju rumah Nina. Ternyata Nina sudah menunggunya di depan. Adel langsung menarik tangan Nina untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada apa sih?rahasia banget sepertinya", kata Nina melihat perlakukan adiknya seperti itu.
"Mbak ternyata kak Jimmy sudah di jodohkan", kata Adel langsung.
"Iya mbak tahu", kata Nina ringan.
"Hhaahh mbak udah tahu?", tanya Adel tak percaya.
"Iya Jimmy sudah cerita semuanya, justru dia menikahi mbak karena menolak perjodohan itu", kata Nina.
Tiba-tiba Nina merasakan pusing di kepalanya dan sedikit mual.
"Mbak kenapa?", tanya Adel tak mengerti.
"Mbak juga gak tahu, mungkin masuk angin saja", jawab Nina sambil memijit kepalanya.
"Coba kamu ambilkan minyak kayu putih mbak di laci kamar mbak ya", kata Nina meminta bantuan pada Adel.
" Baik mbak", kata Adel seraya menuju kamar Nina.
__ADS_1
Adel kembali dengan membawa minyak kayu putih di tangannya. Adel membantu Nina menggosokkan minyak tersebut di belakang Nina.
"Gimana kalau kita ke dokter aja mbak?, aku takut mbak kenapa-napa", kata Adel.
"Gak usah, paling juga masuk angin", kata Nina.
"Aku kerok ya", kata Adel.
"Gak ada kerokan, mau kerok pakai apa?", tanya Nina.
"Gampang", kata Adel langsung menuju dapur.
Tak lama Adel kembali dengan membawa sendok di tangannya.
"Naikin baju mbak, biar Adel kerokin, sini minyak kayu putihnya", pinta Adel.
Nina memberikan minyak tersebut pada Adel. Nina mengangkat bajunya ke atas. Adel mulai mengerok tubuh bagian belakang Nina.
"Gak merah mbak, biasanya kalau masuk angin di kerok langsung merah", kata Adel setelah beberapa menit dengan aktifitasnya.
"Gak ngerti juga sih, mungkin lagi gak sehat badan aja", kata Nina sambil menurunkan kembali bajunya.
"Mbak, mbak jangan mau di madu, jangan biarkan kak Jimmy menikah dengan wanita itu", kata Adel kembali ke pokok permasalahan.
"Jimmy melakukan ini karena tidak mau menikah dengan wanita itu, tapi entahlah aku juga gak paham, karena orang tuanya sepertinya sangat menginginkan pernikahan itu", kata Nina sedih.
"Koq mbak pasrah gitu", kata Adel kesal.
"Sudahlah gak usah di bahas mbak pusing", kata Nina mengelak.
"Tapi aku tetap gak rela kalau mbak di duakan oleh kak Jimmy", kata Adel geram.
"Belajar aja yang rajin, bentar lagi ujian. Yang lain jangan di pikirkan, itu urusan mbak", kata Nina menahan mual di perutnya.
"Pulanglah, nanti ibu khawatir, pasti kamu gak bilang kan sama ibu kalau mau kemari?", tanya Nina.
"Tadi buru-buru jadi gak sempat bilang", kata Adel.
"Itu kan benar, kebiasaan banget", kata Nina.
"Tapi yakin mbak gak kenapa-napa?", tanya Adel.
"Yakin, bentar lagi Jimmy juga pulang", kata Nina.
Adel permisi pulang pada Nina. Nina kembali ke dalam setelah Adel menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Selamat membaca ya readers semua ...
Maaf karena jarang update, tapi author akan terus hadir dan terus menulis.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya.
Mampir juga ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1