
"Sejak kapan kamu panggil aku sayang?", tanya Nina masih dengan cemberut.
"Sejak malam ini lah sayang, jangan cemberut gitu dong, hilang tuh cantiknya", goda Jimmy.
Nina membuang mukanya. Walau perkataan Jimmy hanya candaan tapi telah mengusik hatinya.
"Sudah belum cemberutnya? wanita-wanita tersebut cuma rekan bisnis gak lebih, kalau aku mau dari dulu aku gaet mereka tapi tidak, aku tidak punya rasa untuk mereka, aku gak gampang jatuh cinta", jelas Jimmy.
"Iya deh aku percaya", kata Nina tanpa memandang wajah Jimmy.
"Naah gitu dong, aku kan senang dengarnya ", kata Jimmy.
Jimmy mengantarkan Nina sampai rumahnya.
"Turun dulu yuk", ajak Nina
"Gak usah lain kali aja, udah malam lagian sepertinya hari mau hujan juga",kata Jimmy menolak ajakan Nina.
"Ya udah, hati-hati ya", kata Nina.
"Iya",kata Jimmy.
Benar saja hari mulai gerimis. Jimmy pergi meninggalkan rumah Nina. Nina masuk di sambut sang adik dengan wajah sumringah.
"Senang deh lihatnya", goda Adel.
"Senang kenapa?", tanya Nina pura-pura tak mengerti.
Nina masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.
"Ala mbak mbak, aku itu bisa membaca karakter seseorang, dan sekarang aku bisa lihat kalau mbakku yang tersayang tercinta ini sepertinya lagi fulling in love", tebak Adel.
"Sssttt anak kecil gak boleh ngomong cinta-cintaan, nanti pecah bulu", kata Nina sambil berlalu.
Nina menuju kamarnya sambil senyum-senyum. Sementara Adel masih terpaku di tempat berdirinya dengan mendengus.
"Huhh",
Adel dengan mulut mencucuh bak ikan mujair, ia memainkan mola matanya seakan mencari sesuatu. Adel akhirnya tersenyum licik dan kembali ke kamarnya.
*****
Keesokan harinya seperti biasa di saat pagi tiba. Nina dan Adel sudah siap akan berangkat ke tujuannya masing-masing.
Setelah pamitan keduanya pun berangkat.
"Mbak nanti pulang sekolah Adel ke kantor mbak ya boleh gak?", tanya Adel.
"Mau ngapain?",tanya Nina dengan terus melajukan kendaraannya.
"Mau lihat kantornya mbak", kata Adel enteng.
"Gak boleh, itu kantor bukan tempat rekreasi", jawab Nina.
"Ishh pelit amat sih", kata Adel.
__ADS_1
"Tugas kamu itu sekolah, lalu pulang jangan kelayapan", kata Nina.
"Pokoknya Adel nanti ke sana", kata Adel dalam hati.
Mereka diam sampai akhirnya Adel tiba di sekolahnya. Nina meninggalkan Adel dan menuju kantornya. Adel masuk ke dalam sekolah, tapi baru saja kakinya melangkah beberapa langkah tiba-tiba sebuah motor besar lewat di samping sedikit mengebut. Air genangan bekas hujan semalam muncrat ke tubuh Adel. Adel berteriak histeris karena kaget. Seragam sekolah Adel basah. Untung air tersebut bening tidak kotor karena menggenang di jalan masuk sekolah yang berkeramik. Si pengendara yang menyadari ada yang berteriak, menghentikan motornya. Di lihatnya Adel basah karena percikan air yang tadi di lewatinya.
"Hei kalagondang mentang-mentang punya motor mahal, jalan seenak perutmu, lihat gara-gara kamu pakaianku basah", kata Adel marah.
"M-maaf saya tidak sengaja", katanya seraya turun dari motornya.
Dia mengambil tissue di dalam tasnya dan bermaksud membersihkan pakaian Adel yang basah. Adel mendorongnya. Hampir saja dia terjatuh akibat dorongan Adel yang lumayan kuat.
"Hei kamu kira ini boneka apa, main pegang aja, gak punya sopan santun amat", kata Adel seraya mengibas-ibaskan pakaiannya dengan tangannya.
"Saya kan cuma pengen bantuin kamu membersihkan pakaian kamu",katanya pada Adel.
Banyak siswa-siswi yang melihat adegan tersebut. Teman-teman si cowok yang melihat kejadian langsung menghampiri.
"Ada apa Vin?", tanya temannya yang bernama Andre.
"Ini tadi gak sengaja lewat di genangan air itu dan airnya muncrat ke dia, aku sudah minta maaf tapi dia masih marah",jelasnya yang ternyata bernama Kevin tersebut.
"Ohh gitu, kamu anak IPS ya?", tanya Andre ke Adel.
"Bodoh amat", kata Adel kesal dan meninggalkan Kevin dan teman-temannya.
Kevin dan teman-temannya hanya memandangi kepergian Adel.
"Ya sudah bro, yuk masuk kelas", kata Andre pada Kevin.
"Ada apa nih?", kata Wina yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.
Kevin merupakan anak kelas tiga IPA. Dia adalah adiknya Marsel. Makanya Wina sangat dekat dan mengenal Kevin.
"Kamu juga sih gak lihat-lihat jalannya, dia marahlah pasti pakaiannya basah", tebak Wina.
Kevin mengangguk.
"Udah bro minta maaf aja lagi nanti, kalau dia masih marah minta bantuan saja sama si Wina", kata teman Kevin yang bernama Niko.
"Enak aja, minta maaf sendiri aja sana, kenapa aku yang di bawa-bawa, ogah", kata Wina sambil berlalu.
"Iya deh nanti aku akan coba minta maaf lagi", kata Kevin.
Kevin memarkirkan motornya. Mereka menuju kelas mereka.
Wina masuk ke kelasnya. Di lihatnya Adel sibuk membersihkan pakaiannya. Wina berpikir sejenak.
"Jangan-jangan yang di maksud Kevin adalah si Adel", batin Wina.
Wina meletakkan tasnya di mejanya. Ia mendekati Adel.
"Kamu lagi apa?", tanya Wina memastikan.
Adel diam. Wajahnya masih cemberut. Sangat terlihat kalau dia masih menyimpan amarah di hatinya. Wina melihat pakaian Adel yang basah. Wina yakin yang tadi di maksud Kevin pasti si Adel.
__ADS_1
"Kamu koq basah gitu? hujannya kan semalam, kenapa basahnya baru sekarang?", ledek Wina.
"Itu tuh si anak IPA itu, gara-gara dia aku basah gini, untung cuma sebelah kiri tidak menyeluruh",umpat si Adel.
"Oh jadi kamu yang tadi mereka maksud?", kata Wina bertanya memperjelas.
"Jadi tadi kamu ketemu sama mereka?", tanya Adel.
"Iya, aku juga kenal dengan yang punya motor, namanya Kevin, kakaknya sahabat kakak aku. Tadi mereka minta aku untuk membantu si Kevin meminta maaf padamu tapi ku tolak, enak aja aku yang tak tahu menahu kejadian di suruh membantunya meminta maaf padamu, aku gak mau lah", jelas Wina.
Adel diam dia masih sibuk mengibas-ibaskan roknya agar cepat kering.
"Dia anak baik koq Del, aku yakin tadi dia pasti gak sengaja", kata Wina mencairkan suasana.
Adel duduk di kursinya.
"Udah gak usah cemberut terus, bentar lagi juga kering', kata Wina seraya memegang bahu Adel.
Adel menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Senyum dong", goda Wina pada Adel.
Adel tersenyum walau hatinya masih dongkol.
"Nah gitu kan lebih baik", kata Adel.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Mereka duduk di tempat masing-masing. Tak lama guru mereka datang.
Pelajaran terus berlangsung, sampai tiba jam istirahat.
"Ke kantin yuk", ajak Wina ke Adel.
Adel melihat ke pakaiannya, sudah kering.
"Yuk", kata Adel sambil menggandeng tangan Wina.
Di kantin Adel dan Wina bertemu kembali dengan Kevin cs.
Niko menyenggol tangan Kevin.
"Lihat Wina ternyata berteman dengan tuh cewek", kata Niko pada Kevin.
Mereka kompak melihat arah datangnya Wina dan Adel.
"Hai", kata Andre menyapa kedua gadis tersebut.
Adel cuek. Wina yang melihat ekspresi wajah Adel yang tak bersahabat, akhirnya Wina menjawab sapaan Andre.
"Hai juga, maaf ya kami ke sini mau makan, jangan ada gangguan", kata Wina menarik tangan Adel dan berlalu dari hadapan Kevin cs.
.
.
.
__ADS_1
Bantu vote, like dan komennya ya readers. Mampir juga ke karya author yang lain ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).