
Nina mendekati ponsel Jimmy. Nina mengambil dan membuka ponsel tersebut.
"Nomor itu lagi", gumam Nina.
Nina mencoba menelpon nomor tersebut melalui ponsel Jimmy. Nina hanya ingin mendengar suara pemilik nomor tersebut. Tapi sayang nomor tersebut tidak aktif.
Nina menghapus panggilan untuk nomor tersebut.
Tanpa Nina sadari Jimmy sudah keluar dari kamar mandi.
"Sayang", seru Jimmy pada Nina.
Nina kaget. Hampir saja ponsel Jimmy lepas dari genggamannya.
Nina meletakkan ponsel Jimmy di meja kecil samping tempat tidur mereka. Nina pura-pura merapikan tempat tidur mereka. Jimmy mendekati ponselnya.
"Apa ada yang menelpon?", tanya Jimmy
pada Nina.
"Gak ada. Tadinya mau merapikan tempat tidur, ternyata ada ponsel kamu dekat bantal ini", jawab Nina sambil memegang bantal yang di maksud.
Nina merapikan tempat tidur. Lalu menyiapkan pakaian untuk sang suami tercinta. Jimmy menerima pakaian yang di berikan oleh Nina dan langsung mengenakannya. Nina membantu sang suami mengancingkan bajunya. Nina mengeryitkan dahinya ketika melihat ada bekas membiru di dadanya.
"Ini kena apa? koq sampai biru gini", tanya Nina seraya mengusap dada Jimmy.
Jimmy sedikit gugup. Dia cepat memberikan alasan agar Nina tidak mencurigainya.
"Oohh itu kejedot meja kemarin, ponselnya jatuh saat aku menunduk mau ambil handphonenya eehhh malah kena sudut mejanya, sakit sih tapi gak nyangka sampai biru gini", Jimmy berdalih.
"Lain kali hati-hati dong, masa segitu aja bisa kejedot", kata Nina sambil mengancingkan baju Jimmy.
"Iya pasti dong sayang. Kemarin itu mau cepat-cepat, takut ponselnya rusak, gak tahunya malah kena sudut meja",kata Jimmy sambil tersenyum.
Nina memasangkan dasi suaminya. Jimmy memandang wajah Nina. Dia merasa sangat bersalah. Tapi mau jujur untuk saat ini sangat tidak memungkinkan. Terpaksa Jimmy harus tetap berbohong, setidaknya untuk saat ini.
"Sarapan sudah siap", ujar Nina setelah melihat Jimmy telah selesai dengan segala sesuatunya.
"Oke sayang yuk", ajak Jimmy seraya merangkul pinggang ramping Nina.
Nina mengangguk. Mereka berjalan bak pengantin baru. Mesra dan penuh kasih.
Mereka menuju meja makan. Di sana ada mbak Yuni yang sedang menata meja.
"Silakan tuan nyonya", kata mbak Yuni penuh hormat.
"Terima kasih mbak", kata Nina.
Mbak Yuni hendak pergi kembali ke belakang.
"Mbak Yuni mau kemana?kita sarapan bareng sini", kata Nina.
"Ehh gak usah Nya di belakang saja", kata mbak Yuni menolak.
"Lho kenapa?makan di sini saja sama kita", kata Nina lagi.
"Gak usah Nya biar saya di belakang saja, permisi", kata Mbak Yuni kembali menolak dan segera berlalu kembali ke belakang.
Jimmy dan Nina mulai dengan ritual makannya. Jimmy sesekali pandangan melayang ke wajah Nina.
"Bang, kalau aku toko boleh gak?aku bosan di rumah terus", celetuk Nina tiba-tiba.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau buka usaha apa?", tanya Jimmy di sela makannya.
"Dari dulu aku pengen buka usaha makanan khas dari setiap daerah, sejenis makanan untuk oleh-oleh gitu lho", jelas Nina.
"Tapi kamu kan belum pulih betul, nanti berpengaruh dengan kesehatan kamu", ujar Jimmy.
"Sudah sehat koq Bang, kalau untuk angkat barang, sementara ini kita pakai jasa orang saja, gimana boleh ya?", tanya Nina minta persetujuan.
"Mau buka di mana?", tanya Jimmy sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
"Yang pasti banyak orang yang lihat, di tempat ramai gitu biar cepat maju", ucap Nina.
"Pasar dong ramai", kata Jimmy enteng.
"Kalau memang ada peluang gak papa, di pasar juga boleh", jawab Nina santai.
"Yang benar saja, bisa rusak reputasiku kalau kamu buka di pasar. Nanti abang cari tempat yang aman, nyaman dan pastinya akan banyak pengunjungnya", kata Jimmy.
"Benaran?jadi kamu setuju?", kata Nina girang.
Jimmy mengangguk. Nina tegak dan merangkul peher Jimmy dari belakang.
"Terima kasih ya, kapan abang akan mencari tempatnya?", tanya Nina.
"Kalau tidak banyak kerjaan, hari ini akan abang urus", kata Jimmy.
Nina mencium pipi Jimmy.
"Terima kasih ya", kata Nina.
"Iya tapi lepasin dulu nih tangan, gak bisa nafas nih abang", kata Jimmy.
Nina terkekeh. Ia melepaskan tangannya dari leher Jimmy. Jimmy bangun dari tempat duduknya dan mengambil tas kerjanya.
"Iya tuan besar, aku boleh meminta satu hal?", tanya Nina.
"Apa?", tanya Jimmy.
"Jaga hatimu untukku", pinta Nina.
Jimmy seakan terhenyak dengan permintaan terakhir Nina. Jimmy menghela nafasnya. Jimmy hanya menganggukkan kepalanya.
"Abang pergi dulu ya", kata Jimmy.
Nina mencium punggung tangan suaminya. Jimmy pergi dengan langkah gontai. Kata-kata Nina barusan sangat menyentuh hatinya. Tapi apa daya semua telah terjadi. Sudah terlanjur di lakoni oleh Jimmy. Jimmy belum bisa membuat keputusan atau memberi tahu kebenarannya kepada Nina.
Nina memandangi kepergian suaminya. Nina baru menutup pintu setelah bayangan Jimmy sudah tidak terlihat lagi di pandangannya.
Jimmy bukan menuju kantornya, ia malah memutar mobilnya menuju rumah Prili.
"Ada apa?aku kan sudah bilang ke kamu, jangan hubungi aku, biar aku yang hubungi kamu. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama Nina", kata Jimmy setelah bertemu dengan Prili.
"Jangan marah gitu dong, anak kamu rindu sama kamu ",kata Prili seraya mengambil tangan Jimmy dan membawanya ke perutnya.
"Kamu jangan mengada-ada Prili, aku kan lagi sibuk, jangan manja", kata Jimmy kesal.
"Aku lagi hamil anak kamu Jim, aku butuh kamu, aku ingin selalu di dekat kamu", kata Prili mulai merajuk.
"Iya aku tahu, aku ngerti.Tapi aku mohon mengertilah, tolong jangan hubungi aku, biar aku yang menghubungi kamu", kata Jimmy.
"Auuwww", kata Prili tiba-tiba.
__ADS_1
Jimmy kaget. Prili memegangi perutnya yang terasa kram. Jimmy mendudukkan Prili di kursi taman samping rumah Prili.
"Kamu kenapa?", kata Jimmy panik.
"Perutku kram", kata Prili sambil memegangi perutnya.
Jimmy mengelus perut Prili. Prili merasa sangat nyaman. Perlahan kram di perutnya mulai menghilang.
"Gimana rasanya?", tanya Jimmy.
"Sudah enakan, kamu juga sih. Datang-datang bukannya senang, nanya keadaan anak, ehh malah marah, dia juga merasakan lho", kata Prili pada Jimmy.
"Iya aku minta maaf, tapi mulai sekarang kamu jangan hubungi aku lagi, biar aku yang datang ke kamu ", ucap Jimmy.
"Artinya malam ini kamu akan ada buat aku kan?", kata Prili.
"Pulang kantor iya tapi tidak tidur di sini, Nina butuh aku", jelas Jimmy.
"Aku juga butuh kamu Jimmy ", kata Prili kesal.
"Iya aku akan datang buat kamu setiap pulang kantor, jangan bantah keputusanku", ujar Jimmy.
"Baiklah, awas kalau bohong", ancam Prili.
"Iya", jawab Jimmy singkat.
Prili menarik Jimmy ke dalam rumah. Hampir saja Jimmy terjatuh karena tak siaga. Prili membawa Jimmy ke kamarnya.
"Jim, aku ...", kata Prili yang tak mengerti akhir-akhir ini hasratnya sangat kuat untuk selalu berhubungan intim dengan suaminya Jimmy.
"Iya ada apa?", tanya Jimmy yang tak peka.
Entah seperti ada kekuatan yang menggerakkan tangan Prili untuk membuka kancing baju Jimmy yang ada di depannya.
"Prili aku mau kerja, jangan gila", kata Jimmy blingsatan.
"Aku juga bingung apa yang sedang terjadi, tapi aku selalu pengen melakukannya dengan kamu Jim, tolong mengertilah", kata Prili.
"Kalau ngidam jangan ke bablasan Prili", kata Jimmy.
"Entahlah aku juga gak ngerti, tapi sekarang aku sangat menginginkannya", kata Prili seraya membuka kancing bajunya sehingga terlihatlah pemandangan yang menakjubkan.
Jimmy menelan ludahnya saat Prili menampakan dua buah gundukan yang nampak segar dan ranum tersebut. Wajah keduanya saling mendekat. Jimmy tak mau mengecewakan Prili.
Akhirnya pergulatan itu pun terjadi kembali. Hanya *******-******* kecil yang terdengar. Prili menikmati permainan yang di ciptakan oleh Jimmy. Pergumulan pun tak dapat di hindarkan lagi.
Prangggg.....
Bersambung...
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya readers yang baik...
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).