
Tatapan Alana masih lurus ke depan, mengamati punggung om Rudi hingga masuk dalam mobil dan berlalu pergi. Ada satu penyesalan dihatinya karena sudah tidak berkata jujur saat menjawab pertanyaan pria paruh baya itu tadi.
Alana hanya berpikir, bukan kapasitasnya untuk menjelaskan keadaan Dita yang sebenarnya, biarlah sahabatnya itu sendiri nanti yang menjelaskan.
Yang harus dia lakukan adalah memberikan pandangan pada Dita, agar dia mau pulang dan menemui orang tuanya.
Sebesar apapun perselisihan antara anak dan orang tua, anak akan selalu kembali pada orang tuanya dan akan selalu ada pintu maaf dari orang tua.
***
Alana yang melihat mood Dita sedang uring-uringan membuatnya membatalkan niat untuk mengatakan perihal om Rudi yang datang mencarinya hari ini.
"Ta..makan dulu yuk, udah siap nih makan malamnya" ajak Alana mengetuk pintu kamar Dita yang terkunci dari dalam.
"Ta..buka pintunya dong" bujuk Alana masih berusaha. Dia tahu Dita memang suka moodyan orangnya, makanya tidak terlalu heran melihatnya jika tiba-tiba diam mengurung diri seperti ini.
"Dita Angraeni Setyawan, buka pintunya" suara Alana naik satu oktaf.
"Aku ga makan Al. Jangan ganggu aku" balasnya dari dalam. Kalau tuan putri sudah berkata keinginannya, siapa pun tidak ada yang bisa membantah.
***
Alana merasa bersyukur, toko rotinya bisa ramai dan mendapat sambutan positif dari banyak orang. Setiap harinya kesibukan Alana dia jalani dengan gembira. "Boleh berkerja tapi jangan sampai sakit Al" ucap Arun saat mengantarnya.
"Siap bos" Alana mengangkat tangannya menghormat seraya tersenyum, yang buat Arun tidak tahan untuk membiarkan bibir itu berlalu tanpa menyentuhnya.
"Jangan kecapean sayang" bisik Arun menyatukan kening mereka. Alana mengangguk seraya tersenyum.
Pukul dua siang, Dita datang ke toko. Wajahnya tampak masam dan ada lingkaran hitam dibawah matanya. "Udah kayak zombie tau ga" ledek Alana tertawa kecil.
"Bentar lagi bukan hanya jadi zombie, jadi mayat gue" sahutnya merebahkan kepalanya di atas meja, tanpa semangat dan juga gairah hidup.
"Hush, ga boleh ngomong gitu" Alana datang membawa satu gelas jus jeruk segar. "Minum dulu, biar fresh"
Dita mendongak, menumpukan dagunya di permukaan meja. "Diminum Ta" ulang Alana. Tidak enak karena sudah membuat sahabatnya itu khawatir, Alana menyedot minuman itu hingga ludes.
__ADS_1
"Kok enak sih?" ucapnya menatap gelas kosongnya.
"Karena dibuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang" ucap Alana.
"Makasih ya Al. Maaf, dua hari ini gue bersikap jahat dan childish abis" ucap gadis itu menggenggam tangan Alana yang terulur di atas meja.
"Sama-sama. Itu kan yang namanya teman?"
Kalau gitu, ikut gue yok? temani gue jalan ke mall, gue sumpek banget, hampir gila nih gue..." pekiknya histeris.
***
Setengah jam sudah mereka mengacak-acak isi toko pakaian salah satu merk luar. Dita kalau lagi kambuh gila, shopping adalah cara ampuh untuk mengembalikan kewarasannya.
Alana memilih duduk di salah satu kursi sembari mengamati Dita yang masih bersemangat untuk membedah satu demi satu isi dari toko itu. Lama-kelamaan Alana jadi fokus membalas pesan Arun yang mengirim kata rindu dan ungkapan cinta padanya.
"Eh..maaf" ucap seorang wanita pada Dita, saat secara kebetulan keduanya memegang hanger kaos yang mereka sukai, dan kebetulan pula stok barangnya hanya tinggal satu saja.
Dita yang memang sifatnya sangat cuek, hanya tersenyum mengambil baju itu tanpa mengatakan basa-basi karena tidak mau mengalah.
"Mbak, yang kayak gini masih ada?" tanya wanita itu pada pelayan toko.
"Maaf ya mbak, saya udah suka sama yang ini jadi mau saya ambil aja" ucap Dita dengan senyum palsunya.
Dita langsung membayar semua belanjaannya yang genap 8 Tote bag. "Ayo Al" ucapnya dari meja kasir. Alana bangkit dan tepat berdiri disamping Dita. Sementara gadis yang tadi rebutan baju dengan Dita terus menatap kearah Alana yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Udah selesai?" suara bariton dari arah belakang mereka membuat ketiga wanita yang berdiri di sana menoleh kearah suara itu.
"Udah.."
"Gara.."
"Ga-ra"
Ketiganya kompak menyahut bersamaan. Pertama jawaban istri Gara, lalu Dita dan yang terbata adalah Alana. Kini berganti, Gara yang terpelongo melihat wajah Alana. Dia hanya sekilas melirik kearah Dita, langsung mengalihkan pandangan pada Alana.
__ADS_1
"Al.." Alana membatu. Hatinya bergejolak ketika bertemu dengan Gara kembali dan secara kebetulan.
"Hay sang mantan" ucap Dita mewakili Alana.
***
Keempatnya berakhir di sebuah tempat makan yang ada di mall itu. Restoran itu hanya dihuni beberapa pelanggan saat itu.
Alana dan pasutri itu tampak canggung duduk bersama di satu meja. Hanya Dita yang tampak cuek tidak perduli. Dia memesan banyak menu, yang akan dilimpahkan pada Gara.
"Mmm..kita ngopi dulu" tawar Gara saat mereka baru saja keluar dari toko pakaian itu. Pertemuan tidak terduga Gara dengan Alana membuat pria yang selama ini masih memiliki perasaan pada gadis itu ingin menahan Alana di sampingnya untuk beberapa saat.
"Ga usah Ga. Kita mau pulang" sahut Alana sopan.
"Ga papa kali Al. Gara punya niat baik buat traktir kita makan. Lagian aku udah lapar, ayok" Dita menarik tangan Alana, berjalan di depan. Dia ingin memberikan pelajaran pada teman mereka itu karena sudah meninggalkan Alana begitu saja, dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.
"Ok deh mbak, itu aja dulu. Tapi buku menunya ditinggal aja, siapa tau masih mau ngorder yang lain" ucap Dita mengangguk.
"Apa kabar Al?" tanya Gara tanpa canggung dan perduli pada sorot mata istrinya. Siapa pun melihat pasti langsung merasakan hubungan pasutri itu sedang tidak baik.
"Baik. Kalian baik kan?" sahut Alana sengaja menggunakan kata kalian, agar tidak bias.
"Baik.." hanya Gara yang menyahut, sementara Nadia hanya mengangguk ramah. Wanita itu dalam kesakitan nya masih bisa tersenyum, mencoba bersikap kuat. Nadia bukan tidak tahu siapa Alana bagi Gara, suaminya. Bahkan sampai saat ini, Gara masih tidak menyentuhnya karena masih berharap bisa kembali pada Alana.
Dengan alasan kuliah keluar negeri, Gara bisa jauh dari mama Reni dan keluarga yang dianggap Gara sudah menjebaknya dengan menikahi Nadia. Mama Reni memaksa Gara membawa istrinya ikut bersamanya ke luar negeri. Selama itu pula lah, Gara tidak memenuhi nafkah batin istrinya. Dia sama sekali tidak perduli pada Nadia, malah sangat membencinya.
"Lo nanya Alana aja Ga? gue juga teman lo ya" cerocos Dita menendang sepatu Gara.
"Iya bawel, lo apa kabar?" Gara mengikuti keinginan Dita.
"Gue ga baik. Gue lagi benci sama orang, sampai hati gue perih" sahutnya asal.
"Oh.." gumam Gara.
"Cuman oh?"
__ADS_1
"Terus mau lo gue mau bilang apa lagi, Ta?"
"Bodo. Jadi ini cewek yang buat lo ninggalin Alana di hari pernikahan?"