Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Permintaan Terakhir#2


__ADS_3

Dua Minggu dirawat, Lily tidak menunjukkan perubahan besar, tubuhnya malah semakin lemah. Arun selalu berada disisinya, begitu pun dengan Alana yang selalu datang setiap hari. Kadang Alana bergantian berjaga agar bisa menjaga Arlan, ada kalanya keduanya bersama di rumah sakit, dan menitipkan Arlan pada bi Minah, paginya baru Alana pulang untuk memberi ASI.


Santi dan Bima pun tidak ingin ketinggalan memanfaatkan waktu yang ada untuk membangun momen indah dengan Lily. Setiap hari datang berkunjung, walau tidak sampai menginap di rumah sakit.


"Pagi Al.." sapa Lily yang sudah bangun saat Alana sampai membawa rantang makanan dan perlengkapan ganti buat Arun.


"Pagi kak, kenapa bangun secepat ini? masih pukul 7 pagi" Alana duduk di ranjang di samping Lily.


"Aku ga bisa tidur" ucapnya berbohong. Dia sangat ngantuk malah, tapi memilih untuk terus terjaga. Dia takut kalau nanti tertidur tidak bisa lagi bangun.


Dering ponsel Arun yang diletakkan di meja menyita perhatian kedua untuk berhenti ngobrol. "Tolong bangun kan dia Al"


"Bang, ada telepon ini" ucap Alana yang sudah berdiri di samping Arun. Kamar VIP ini dilengkapi ranjang untuk keluarga pasien yang tengah berjaga, jadi Arun dapat tidur cukup saat menjaga Lily.


"Bang, bangun dong" ucap Alana menyentuh lengan Arun.


Mmmm.. desahnya malas. Tapi Alana tidak perduli, bunyi ponsel itu harus segera dihentikan. "Bang, ayo dong, itu asisten mu nelpon melulu. Mungkin ada yang penting" kembali Alana membangunkan. Kali ini Alana menyelipkan cubitan di lengan Arun hingga pria itu terperanjat bangun, meringis kesakitan.


"Sakit Al.." desisnya.


"Bodo! Makanya bangun"


Untuk ketiga kalinya ponsel itu berdering dan langsung disambar Arun.


Alana meninggalkan Arun dengan urusannya. Kembali ke Lily, untuk membantu kakak nya itu mandi, namun harus menunggu perawat yang biasa membantu datang.


"Ada apa hun?" tanya Lily melihat Arun yang baru menutup teleponnya, dan mengacak kasar rambutnya.


"Miko minta aku ke kantor. Ada berkas yang harus ditandatangani, sekaligus pengusaha dari Australia itu mau ketemu aku"


"Ya pergi lah hun. Lagian ada Alana di sini"


"Iya bang. Pergilah. Tapi jangan lama-lama" Alana tidak ingin Arun jauh dari Lily di saat seperti ini. Hidup mati seorang tidak ada yang tahu. Alana takut sesuatu hal buruk terjadi pada Lily dan sialnya Arun sedang tidak ada di sisinya.


"Tapi bajuku?"

__ADS_1


"Nih.." Alana menyerahkan tas pada Arun berisi pakaian bersih.


"Makasih sayang" bisik nya pelan agar Lily tidak mendengar. Alana tidak menjawab hanya menunduk menyembunyikan rasa malunya. Padahal sudah setiap hari Alana membawakan baju ganti buat Arun, awalnya atas permintaan Arun yang minta tolong dibawain saat Alana datang lagi ke rumah sakit. Setelahnya tanpa disuruh, Alana berinisiatif membawakan untuk Arun.


Rasa segar menyapa Arun setelah mandi paginya. Tubuh atletisnya sudah dikeringkan dengan handuk. Namun saat membuka tas, Arun tercengang melihat isi tas itu. Perlahan Arun mengangkat selembar kain berbentuk segitiga tipis berwarna putih. Senyumnya mengembang, lalu penuh semangat dia mengacak isi tas itu lebih lanjut.


Satu senyum lagi melengkung di bibirnya saat mengangkat penutup dada Alana. "Perasaan waktu megang dulu, ga sebesar ini ukurannya, apa karena di h*sap Arlan makin besar ya?" cicitnya geleng-geleng.


Lalu berikutnya ada kaos dan celana jeans milik Alana yang akan dia pakai nanti mandi sore sebagai baju ganti. Lalu paling bawah adalah miliknya sendiri. Setiap harinya pakaian yang dibawakan Alana adalah sesuai yang dia suka, dan seperti diatur, itu juga baju favoritnya.


Setelah selesai, Arun keluar dengan senyum yang tidak bisa ditahan. "Nih.." ujarnya seraya menyerahkan tas kecil itu.


"Hampir aja aku salah pakai Al. Ukurannya kecil banget, mana pake renda tipis lagi" godanya pada Alana yang membuat bola mata gadis itu membulat sempurna. Pipinya bersemu merah. Alana ingin sekali menyembunyikan wajahnya ke bawah tanah, agar tidak bisa dilihat orang. Beruntung mereka saat ini jauh dari tempat tidur Lily, hingga gadis itu pasti tidak mendengar.


"Aku pergi ya sayang" bisik Arun membelai puncak kepala Alana yang masih saja menunduk.


***


Akhirnya Lily bisa istirahat. Mungkin walaupun sekuat tenaga dia menjaga matanya untuk tetap bangun, tapi akhirnya kalah selepas makan siang.


Ketukan di pintu mengahalau pikiran nakal Alana. Bergegas dia bangkit.


Ema dan Wiga datang setelah dua Minggu Lily masuk rumah sakit.


"Om, tante" sapa Alana sopan.


"Alana" ucap Wiga mengulurkan tangannya untuk menjabat Alana.


"Lily sudah lama tertidur?" tanya Ema yang kali ini begitu lembut pada Alana.


"Udah tante"


Perbincangan itu terjeda saat tim medis masuk untuk memantau keadaan Lily, dan waktunya memberi obat. Lily harus dibangunkan karenanya.


Setelah semua selesai, Ema mendekati Lily. Mencium pipi Lily kiri dan kanan.

__ADS_1


"Mama ikut prihatin atas keadaanmu ya. Maafkan mama yang sudah sangat egois padamu. Mama sadar selama ini mama lah yang secara tidak langsung mendorongmu berbuat nekat hingga rela membagi cintamu dengan wanita lain" ucap Ema tulus. Air mata nya merebak. Alana berinisiatif mengangsurkan tisu pada Ema yang diterima dengan senyum.


"Terimakasih Alana" ucapnya.


"Sudah ma, jangan nangis lagi. Ini semua takdir yang harus aku jalani. Jadi aku akan terima. Aku sudah ikhlas ma" ucap Lily yang menerima pelukan Ema. Hati Lily menghangat. Dia bersyukur, satu demi satu permohonannya pada Tuhan sebagai janjinya akan pergi dengan ikhlas sudah terkabul.


"Alana..sini nak" ucap Ema mengulurkan tangannya setelah mengurai pelukan mereka.


"Mama juga mau terimakasih sama kamu. Dan juga mau minta maaf karena selama ini sudah jahat padamu."


"Iya tante. Kita lupakan yang lalu" sahut Alana memberikan senyum terindahnya.


"Terimakasih juga sudah memberikan cucu yang sangat tampan buat keluarga kami" sambar Wiga dan diangguk Ema. Semua orang dalam ruangan itu hanya mengembangkan senyum.


Satu jam berbincang, cukup bagi Lily. Dia harus kembali istirahat. Maka kedua mertuanya itu pulang.


"Sini Al.." ucap Lily setelah Alana mengantar pasutri itu. Alana mendekat dan duduk di ranjang Lily.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu"


"Aku ga mau dengar perkataan b*doh kakak"


"Aku hanya ingin kau kabulkan permintaan terakhir ku. Please.." ucap Lily coba tidak menangis. Dia sebenarnya lelah harus menangis setiap saat seperti ini.


"Mau ya sayang" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Alana yang menatapnya ikut menangis tanpa suara, lalu mengangguk.


"Permintaanku hanya satu, aku ingin kau hidup bahagia, tidak ada lagi air mata, hanya ada kebahagiaan yang kau rasakan, menikahlah dengan Arun Al.."


"Kak, aku.."


"Aku tahu, kau tidak ingin jadi yang kedua, dan aku setuju untuk itu. Tidak ada wanita yang mau dijadikan kedua. Arun sangat mencintaimu Al, dan aku mohon jangan bohongi hatimu, aku tahu kau pun merasakan hal yang sama. Aku mohon menikah lah dengannya setelah aku tiada" Lily kembali meneteskan air matanya. Perih harus mengulang dan mengingatkan diri sendiri akan kepergiannya yang tidak lama lagi.


"Kakak..aku yakin kakak akan sembuh" isak Alana tersendat-sendat.


"Kita semua tahu itu tidak mungkin Al. Biarkan aku pergi sayang. Aku sudah cukup bahagia melihat kalian yang aku kasihi bisa bersatu. Katakan Al, kau mau kan? aku mohon penuhilah permintaan wanita sekarat ini Al.."

__ADS_1


__ADS_2