
Dua hari mencari Arun tak juga mendapat kabar. Putus asa tentu saja tidak. Arun tidak akan pernah menyerah untuk mencari Alana. Kalau pun benar dia pergi bersama kekasihnya itu, Arun hanya ingin mendengar langsung dari bibir Alana kalau dia memang lebih memilih Gara dari pada dirinya dan juga Arlan.
"Diam dong Ar, jangan nangis lagi. Bunda bingung nih harus gimana" ucap Lily yang kewalahan mengurus Arlan yang rewel. Bahkan kemarin malam Lily tidak sempat untuk tidur, Arlan rewel sepanjang malam.
"Sini, biar aku yang gendong" Arun yang baru selesai mandi, mengambil Arlan dan menggendong.
"Mungkin dia lapar, bentar ya, aku buatkan susunya" ucap Lily dan bergegas ke dapur. Persediaan ASI Alana sudah menipis, hanya cukup sampai besok. "Gimana nih, kalau Arlan ga mau sufor nya? masa iya aku harus cari ASI ibu-ibu hamil? emang ada yang jual ya?" tanya Lily bermonolog.
Dia juga sih yang salah, setiap Arlan nangis, pasti langsung minta Titin, pembantu barunya untuk buatkan susu. Padahal belum tentu karena Arlan lapar. Seperti kemarin, bayi itu menolak untuk diberi ASI lagi karena sudah kenyang, dan Lily langsung saja membuang ASI ke wastafel. Padahal Arlan menangis karena pup dan bukan lapar. Saat bayinya gerah pengen mandi, nangis dikasih susu lagi. Arlan tentu saja menolak. ASI yang sudah sempat dalam botol pun berakhir sia-sia. Begitulah selama dua hari ini Lily menguras simpanan ASI untuk Arlan.
"Bodo amat lah, ntar aja dipikirkan"
Arun yang sedikit banyak sudah berlatih mengganti pakaian Arlan. Bayi itu menangis karena popok sekali pakainya sudah penuh, dan merasa gerah tidak nyaman karenanya. Kini pria itu sudah kembali meninabobokan putranya penuh kasih, dan nyatanya berhasil. Arlan terlelap dalam buaian papanya.
"Loh, dia udah tidur? aku udah buatkan susu loh?" Lily menghempaskan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Perasaannya kesal, dia sudah capek-capek naik turun tangga membuatkan susu itu, tapi Arlan justru sudah tertidur.
Tidak hanya kepala, tubuhnya juga lelah. Dipijit nya keningnya yang terasa pusing. Dunianya jungkir balik dua hari ini. Kurang tidur dan tidak sempat makan yang benar.
"Makanya, kau perhatikan dong Ly. Anak itu nangis bisa aja bukan karena haus atau lapar. Arlan nangis karena popoknya sudah penuh, gerah rasanya. Lihat nih, karena kau malas gantiin popoknya, kulit Arlan jadi iritasi merah-merah" Arun menunjukkan kulit disekitar paha Arlan yang merah.
Malu untuk mendebat, Lily hanya bisa menunduk malu. Dia pikir setelah kepergian Alana, dia akan jadi ratu di rumah ini terlebih di hati Arun.
"Loh, mau kemana lagi kau, hun?" tanya Lily yang melihat Arun tampak mengganti pakaian dan bersiap untuk keluar.
"Mau cari Alana
__ADS_1
"Jangan gila! Kau mau cari dia kemana? lagi pula dia pergi atas kemauan dia sendiri. Tugas dia sudah selesai hun. Tugasmu yang belum tuntas. Kau harus segera menceraikan dia"
"Aku akan cari dia sampai dapat. Oh, maaf mengecewakanmu, aku tidak akan menceraikannya. Aku mencintai Alana aku ingin dia ada disini bersamaku"
"Kasihan banget kau Run, dia tidak mencintaimu. Dia lebih memilih pergi dengan Gara karena dia mencintainya, bukan kau. Kapan kau akan sadar. Buka matamu, buka hatimu, hanya aku yang mencintaimu" suara Lily sudah meninggi bak orang kesurupan. Harga dirinya terluka atas pernyataan Arun.
"Kau tahu, kini aku baru sadar, kalau kau tidak sebesar itu mencintaiku. Cintamu yang dulu sudah berubah menjadi ambisius dan posesif Ly. Kau hanya ingin mengamankan posisimu, kau hanya tidak ingin kehilangan apa yang sudah kau raih. Dan aku bukan barang yang harus kau pertahanan dengan cara seperti itu. Kalau kau memang mencintaiku, kau tidak akan memasukkan Alana ke rumah tangga kita. Kau tidak akan membagi diriku pada wanita lain, demi ambisi mu!" Arun menatap Lily penuh kesal, menggelengkan kepala rasa tidak percayanya bahwa Lily sudah jauh berubah, lalu Arun memilih untuk meninggalkan ruangan itu.
Tempat pertama yang dituju oleh Arun adalah kediaman Sanjaya. Melalui informan yang ditugaskan nya Arun mendapatkan alamat Gara. Tapi melalui satpam dirumahnya, Arun mendapat kabar kalau Gara dan kedua orang tuanya pergi keluar negeri.
"Satu hal yang pasti, Alana tidak pergi dengan pria sinting itu" ucapnya pada dirinya sendiri.
Arun memutuskan untuk bertemu dengan Reno, teman kuliahnya sekaligus salah satu sahabatnya di salah satu bar di sudut kota ini. "Gimana No, lo udah dapat kabar?"
"Belum Run, tapi lo tenang aja. Masa iya anak buah gue ditambah anak buah lo ga bisa nemuin istri lo. Tapi salah lo juga sih, pake kawin dua kali, maruk lo" goda Reno tertawa geli melihat wajah Arun yang begitu memelas.
"Tapi gue serius nanya. Lo beneran secinta itu sama tu cewek? Lily kurang apa coba? gila, gue aja dulu sempat suka sama dia, keburu lo maju aja"
"Bacot loh ah, udah. Ga usah bahas Lily. Yang terpenting sekarang kita harus gimana buat menemukan Alana" sambar Arun sembari menghabiskan isi gelas nya.
***
Kebanyakan minum dengan Reno, kepala Arun pusing seperti baru dihantam palu besar, sakit. Pria itu memutuskan untuk berangkat ke kantor agak siangan. Setiap malam semenjak kepergian Alana, Arun tidur di kamar gadis itu, berdua bersama Arlan. Sesekali Lily akan ikut bergabung dengan mereka, tapi Arun tidak perduli. Dia sudah terlanjur muak dengan Lily.
Sarapan dimeja makan sudah dihidangkan Lily. Arun duduk, meminta segelas air lemon hangat untuk menyegarkan nya.
__ADS_1
"Sebentar ya hun, aku buatkan" ucap Lily bergegas. Dia gembira karena Arun mau mengajaknya bicara.
Potongan roti isi itu tampak menggugah selera. Arun mengambil selembar, dan tepat saat itu melihat Titin yang masuk menenteng satu tas yang tampak familiar Dimata Arun. Benar, itu seperti tas Arlan.
"Apa itu tin?"
"Oh, ini pak. Tadi ada kurir, mengantarkan pesanan untuk Bu Lily"
"Isinya apa?" desak Arun tertarik.
"Ga tahu pak. Saya belum buka. Ga berani"
Diliputi penasaran, Arun bangkit, mengambil tas berbentuk box itu dari pundak Titin. Tampak berat. Arun meletakkan di atas meja makan dan segara membuka.
Isi tas itu berupa botol yang sudah berisi ASI. Lengkap dengan tanggal pengemasannya.
"Mungkin Bu Lily beli ASI online pak" ujar pelayan muda itu.
"Hah? emang ada jual ASI online?" kening Arun tampak berkerut.
"Kali aja pak"
"Lagi bahas apa sih?" suara Lily membelah perhatian keduanya. Tidak sabar Lily pun ikut melihat isi tas itu.
Wajah Lily pucat. Tanpa memikirkan lebih jauh lagi dia tahu siapa pengirimnya.
__ADS_1
Kerutan di kening Arun, berubah menjadi raut antusias. Salah satu botol yang ada di genggamannya itu diperhatikan dengan seksama. Dia kenal tulisan itu. Dia sangat yakin akan hal itu.
"Siapa yang ngantar tin? mana alamat pengirim nya?" desak Arun.