Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Aku lupa!


__ADS_3

"Ok jadi lo sama sekali ga ingat gue?" Kaisar masih memaksa memori Dita, tapi dengan rasa kesal dan juga kening berkerut, Dita menggeleng.


Harusnya Kaisar bisa tenang. Dia sudah yakin itu adalah gadis yang dia ingat tidur dengannya sebulan yang lalu, dan semenjak itu rasa nikmat, eh..rasa bersalah itu terus melekat di hati dan pikirannya. Kalau saja waktu itu Dita bukan gadis perawan, mungkin Kaisar tidak ini akan dihantui rasa bersalah yang amat besar.


"Lo siapa sih? ada apa? apa gue punya utang ya sama lo?" Dita kadang suka minjam duit teman sekolahnya dulu, tapi masa iya mereka teman satu sekolah? wajah Kai lebih cocok jadi om nya dari pada teman satu sekolah.


Dahi Dita terus berkerut, memikirkan siapa gerangan pria yang ada dihadapannya ini. Kalau gadis lain pasti sudah menjerit histeris sangking senang nya disamperin Kaisar Barrel, Dita malah risih, takut dianggap lagi tebar pesona sama suami orang.


"Sorry om, gue ga kenal sama lo. Yang pastinya lo bukan teman sekolah gue, baaaaiyyy!" Dita mengangkat tangan kehadapan wajah Kaisar sebelum berlalu pergi.


Kalau mengikuti kata hatinya, Kaisar ingin sekali mengejar Dita dan menarik tangan gadis itu, tapi langkah Dita yang tergesa-gesa membuat Kai mengurungkan niatnya. Lagi pula ini di acara orang, Kai tidak ingin mempermalukan dirinya.


Dari tempatnya Kai memperhatikan gadis itu menuju pelaminan, berbincang dengan Alana dan memeluk gadis itu erat. "Sial, apa gadis itu saudara Alana?" umpatnya sebelum berlalu pergi.


***


Saat yang dinantikan Arun tiba, mama Ema dan Santi sudah memperbolehkan mereka untuk turun dan masuk ke kamar pengantin mereka yang ada di hotel itu.


"Mama ganti pakaian kamu ya Al" ucap Ema yang mendekati Alana yang kini duduk di tepi tempat tidur.


"Eh..ga usah ma. Mama keluar aja, masih banyak tamu di sana, teman-teman arisan mama juga masih banyak nyariin mama. Biar Alana aku yang urus ma" ucap Arun tidak sabaran, mendorong tubuh Ema agar keluar.


"Kamu itu ya, ga sabaran amat. Kalian itu bukan pengantin baru lagi, jadi jangan paksa Alana. Kalau dia belum siap, ya kamu sabar lah" gumam Ema dengan mata melotot.


"Bu, titip Arlan ya" ucap Arun mencium Arlan, yang tengah digendong Santi sejak acara tadi berjalan.


"Iya, kalian nikmati malam keduanya" goda Santi.

__ADS_1


"Eh, bentar Bu. Aku mau gendong Arlan dulu" ucap Alana berdiri. Walau sudah MPASI, tapi Arlan masih dikasih ASI eksklusif, yang rencananya sampai dua tahun.


Arun tampak tidak sabaran melihat Alana yang menggendong Arlan sembari menciumi bocah itu hingga tertawa geli.


Hadeh, apa ga bisa mainnya lain waktu Al. Ini waktunya buat kita berdua. Senangi bapaknya dulu Al, ntar juga bakal ada adiknya Arlan..


Semakin menggebu-gebu gejolak jiwa Arun, dengan tidak sabar, mengambil Arlan dari gendongan Alana. "Besok main sama mama papa lagi ya dek. Muaaach.." kecup Arun memberikan kecupan di semua bagian di wajah Arlan lalu menyerahkannya pada Santi kembali.


Setelah pintu tertutup dan orang-orang yang dianggap pengganggu oleh Arun itu sudah pergi, pria itu pun mendekati Alana, namun kini gadisnya yang merajuk.


"Kok cemberut sayang? ini malam pengantin kita loh"


"Aku kan masih mau gendong Arlan bang. Kenapa dia ga tidur bareng kita di sini aja sih?"


Arun menarik panjang nafasnya, lalu mengeluarkan secara perlahan. Kadang Arun ga habis pikir lihat istrinya ini, konsep dari mana bermalam pengantin dengan bawa anak? mereka sedang tidak bercengkrama sepanjang malam kan? tahu ga sih Alana agenda malam pengantin itu ngapain? kalau ga bajak sawah, bercocok tanam, atau main Rodeo, lantas mau ngapain?


"Hei.." Arun menangkap wajah Arun, membawa pandangan gadis itu hanya menatap kearahnya. "Kalau kau tidak mau melakukannya malam ini, ga papa Al, aku akan menunggu kapan kau siap" bisik Arun lembut, mencium kening Alana.


"Aku..aku.. bukannya ga mau bang, tapi aku takut. Waktu itu, saat pertama kali melakukannya, kau memaksaku. Rasanya sakit, dan aku begitu ketakutan" ucap Alana menjatuhkan tatapannya di bibir Arun, sama sekali tidak berani menatap mata pria itu.


"Maafkan aku sayang, hingga kau trauma karena malam itu. Tapi kali ini akan berbeda, aku janji. Kita akan melakukannya karena kita saling mencintai, dan ingin memiliki seutuhnya. Apa yang akan kita lakukan adalah bukti perasaan cinta yang kita miliki. Kau milikku, dan aku pun milikmu" bisik Arun.


Perlahan Alana mengangguk, hingga pria itu berinisiatif membawa Alana dalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu. Bahkan Arun bisa mendengar debar jantung Alana yang berdegup kencang.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan Al. Aku akan melakukannya perlahan, kau tidak akan merasa sakit" bisik Arun menangkup dagu Alana. Perlahan gadis itu mengangguk tanda setuju.


Saat jemari Arun menyentuh pundak mulus Alana, gadis itu sempat bergidik, merinding dengan sentuhan jemari yang seolah menyetrum tubuh Alana. Satu persatu kancing kebaya Alana dibuka oleh Arun, dan itu pula menjadi ritme debar jantung Alana yang bertalu-talu.

__ADS_1


"Bang, aku mau mandi dulu" ucap Alana. Dia tidak ingin rasa lengket dan mungkin saja aroma tidak sedap dari tubuhnya keluar, membuat Arun menjadi ilfil nanti padanya.


Alana ingin mempersembahkan malam ini jadi yang terbaik buat Arun, dan pastinya yang tidak akan mereka berdua lupakan.


"Tapi jangan pakai air dingin. Sebentar aku siapkan air hangat, biar kau ga masuk angin ya" Arun mencium kening Alana dan segera berlalu.


Hati Alana kembali menghangat. Dia begitu beruntung dicintai Arun sebesar itu. Semoga cinta pria itu selamanya bahkan terus bertambah untuk Alana.


Alana memakai waktunya dengan cepat, membersihkan wajah dan sekujur tubuhnya, walau hanya sepuluh menit, Alana menyempatkan berendam dengan essentials oil agar tubuhnya lebih rileks dan tentu saja wangi.


Melihat Alana keluar dari kamar mandi, Arun tidak bisa mengalihkan pandangan, yang wajar saja membaut wajah Alana merona malu.


"Sebentar aku mandi..tunggu ya sayang" bisik nya berlari ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah ada di atas tempat, saling menatap dengan jantung berdebar kencang. "Kau siap sayang?" bisik Arun dengan suara maskulin yang mampu membuat bulu kuduk Alana meremang.


Tak ada sahutan, hanya anggukan lemah dengan senyum dikulum sebagai jawaban Alana atas ajakan Arun.


Hanya ada cinta, kenikmatan yang akan mereka rasakan malam itu, yang pasti akan menjadi pondasi kuat dalam hubungan mereka.


Jauh di sudut kota, di salah satu bar, seorang pria yang tampak merana, duduk berteman sebotol minuman yang diharapkannya mampu membuatnya lebih kuat menghadapi persoalan yang mungkin menghadang hidupnya dikemudian hari.


***


Hai semua aku mampir nih, bawa novel yang mau di rekomen, mampir ya.


__ADS_1


__ADS_2