Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Tertampar kenyataan


__ADS_3

Ada pepatah yang mengatakan, jika sudah berkali terjatuh, maka tidak akan takut lagi akan rasa sakitnya. Alana tahu betul Santi juga ibunya, yang patut untuk dia hargai, untuk dia hormati, tapi hatinya yang sudah kebal dari rasa sakit itu, terlebih saat melihat mata ayahnya yang tak perduli atas penyiksaan yang dilakukan Santi terhadapnya tempo hari, hati Alana kini sudah membatu pada mereka yang katanya orang tua.


"Ibu datang.." jawab Alana berusaha menguatkan hatinya untuk tidak melemah. Sejak tahu Lily sakit, Alana bahkan sudah tidak perduli apapun lagi selain kesehatan Lily. Selama ini yang menganggapnya manusia hanya Lily, lalu untuk apa lagi Alana bersikap patuh dan menerima setiap hinaan Santi?


"Aku tanya, mau apa kau di dapur ini? tempat mu bukan disini, pergi kau dari sini sekarang juga!" hardik Santi.


"Maaf bu, aku tidak bisa. Aku mau masak bubur untuk kak Lily, dia kurang enak badan"


"Alah, ga usah cari alasan. Anak mantuku masih sanggup menggaji pembantu, sekarang kau pergi dari sini, dasar wanita murahan, sama saja kau seperti ibu mu!" Kembali lagi Santi mengeluarkan senjatanya yang selalu berhasil membuat Alana sakit hati.


"Kenapa ibu selalu menyakiti hatiku? membenciku? apa dengan berbuat begitu, ibu bahagia? ibu senang? rasa sakit hati ibu bertahun-tahun itu bisa terhapus? ga kan bu?" ucap Alana menahan diri untuk tidak menangis lagi.


"Berani sekarang kau menjawab perkataan ku ya. Sudah merasa hebat kau ya? jangan kita karena Arun kemarin melindungi mu, kalau kira aku tidak berani menghajar mu. Dasar tidak malu, masih berani kau tanyakan kenapa aku membenci mu? kembalikan perusahan kami, setidaknya itu bisa mengurangi dosa ibu mu pada ku!" Santi masih berdiri tegak di hadapan Alana, keinginannya untuk menjambak rambut gadis itu ditahan sekuat tenaga. Dia tidak ingin kembali mendapat masalah dengan Arun jika sampai main tangan.


"Urusan perusahaan itu bukan keputusanku bu. Aku tidak minta, aku juga tidak mau perusahaan itu. Bang Arun yang memberikannya. Kalau ibu mau, minta aja sama dia lagi" tantang Alana tidak gentar sedikitpun. Cukup sudah dia selalu dipersalahkan selama ini.


"Berani sekali kau bersikap seperti itu padaku ya" Santi maju selangkah, namun dia ingat lagi perkataan Arun, dan kembali mundur. Mengepal tinjunya menahan emosi di hatinya.


Santi menatap tajam pada Alana, sebelum pergi menjumpai Lily. Lebih baik Lily saja yang mengusir Alana, Arun pasti tidak akan memarahi Lily.


Pintu kamar dibuka Lily dengan kasar, menghempas karena luapan emosi yang tertahan tadi. "Bagun Ly, ibu mau bicara" hardiknya melipat tangan di dada, berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


Tubuh Lily masih tetap diam, tak ada reaksi. Gadis itu baru saja bisa tertidur setelah semalaman tidak bisa tidur. "Bangun Ly, jangan pura-pura tidur. Kau ga tau, p*lacur itu akan merebut suamimu" Tidak mendapat reaksi dari Lily, Santi menggoyangkan tubuh anaknya itu.


"Bu, kak Lily baru saja tertidur. Jangan ganggu kak Lily bu" Alana sudah berdiri di ambang pintu.


"Diam kau. Sejak kapan kau berhak ngatur aku? kau bukan siapa-siapa, segera kau pergi dari sini, bi*dab!"


Tubuh Lily yang semakin lemah membuatnya lama menerima respon. Sekali lagi Santi mengguncang tubuh Lily, kali ini lebih kuat hingga Lily susah payah berhasil dibangunkan.


"I-bu.." ucapnya parau. Kepalanya pusing sekali dan kembali ingin muntah, namun Lily menahannya. Ulu hatinya seolah terbakar, perih sekali. "Kakak, berbaring aja, jangan bangkit kak" ucap Alana ngeloyor masuk, berputar melewati Santi, sedikitpun tidak perduli akan kehadiran ibu tirinya. Santi terdiam, melihat kedua kakak beradik itu. Terlebih melihat putrinya yang berwajah pucat, tampak lemah seperti orang penyakitan.


"I-bu ada apa kemari siang begini? apa semua baik-baik saja?" Lily tampak mengkhawatirkan orang tuanya. Itulah yang membuat Alana semakin kesal, saat sedang sakit pun Lily masih memikirkan orang tua mereka.


"Ka-kamu kenapa Ly?" Santi akhirnya kembali dari keterkejutannya. Tubuhnya terhempas di samping Lily. Santi terus menatap wajah Lily yang begitu pucat. "Ly, lihat ibu nak"


"Dia tidak baik. Dia sakit, makanya ibu tolong jangan buat kak Lily tertekan" ucap Alana tanpa menoleh pada Santi.


"Sakit? kau sakit apa Ly?" wajah Santi berubah panik. Dia sama sekali tidak menyangka anaknya sedang tidak sehat saat ini, seandainya tahu dia tidak akan marah-marah.


"Aku baik-baik aja Bu. Ga usah dengar kata-kata Alana, dia hanya melebihkan" Lily coba memasang wajah tersenyum.


Santi masih memandang wajah Lily lekat, lalu beralih pada Alana. Gadis tidak memperdulikannya.

__ADS_1


"Hei, kau katakan Lily sakit apa? jangan-jangan kau kan yang mengguna-guna dia? dasar iblis!"


"Ibu, cukup! aku ga mau ibu terus menghina Alana dan juga memfitnahnya. Jangan setiap hal buruk yang terjadi pada kita, ibu selalu anggap itu salah Alana. Dia ga salah sama sekali Bu, justru kita yang banyak salah sama dia" jawab Lily penuh emosi. Namun satu hal yang dia sesali, untuk mengatakan itu dia sudah mengerahkan tenaganya, dan sekarang dia menjadi lemah.


"Karena memang itu kenyataan. Hidup kita jadi sial semenjak ibunya datang ke rumah kita. Dan sekarang anaknya yang meneruskan kesialan yang kita alami"


Lily ingin menjawab lagi, namun ditahan Alana. Dia tidak ingin keadaaan Lily jadi semakin parah hanya karena menanggapi perkataan ibu mereka.


"Maaf bu, aku mohon kak Lily perlu istirahat. Sebaiknya ibu pulang"


"Diam, tutup mulutmu! kau yang buat anak ku sakit. Pasti kau yang sudah meracuni makanan Lily kan? aku lihat kau tadi memasak bubur untuknya"


"Diam!!!" Lily menutup telinganya dengan kedua tangannya. Muak, itu yang tepat menggambarkan perasaan yang dia rasakan pada ibunya kini.


"Berhenti berburuk sangka pada Alana. Ibu mau tau aku sakit apa? limfoma lambung bu, yah..aku mengidap kanker lambung, dan mungkin umurku tidak lama lagi! apa ibu puas sekarang?" salak Lily, dan setelahnya Lily jatuh pingsan.


***


Keringat dingin mengucur deras di kening Arun. Rasanya ingin sekali menerbangkan mobilnya ini, kenapa pada saat ingin cepat sampai ditempat tujuan justru harus terjebak macet.


Beberapa menit lalu, dia mendapat kabar dari Alana, mengabarkan Lily masuk rumah sakit, dan meminta Arun untuk segera datang secepatnya. "Tapi dia kenapa Al? aku sedang ada meeting ini, baru aja mulai"

__ADS_1


"Lebih penting meeting itu bang? pokoknya buruan abang ke rumah sakit, sekarang juga. Kalau abang ga mau menyesal nantinya. Kalau sampai abang nyampe lama, aku akan membencimu selamanya" ucap Alana di sela tangisnya. Diawal komunikasi itu tersambung pun Alana sudah mulai terisak duluan, setelah ditenangkan Arun barulah Alana bisa bicara mengabarkan keadaan Lily saat ini yang sudah masuk UGD.


__ADS_2