Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 2


__ADS_3

Bukan karena penasaran hingga membuat Arlan masuk sekolah hari itu, tidak sama sekali, tapi karena adiknya memaksa nebeng sampai ke sekolah, terpaksa dia juga masuk karena mereka memang satu sekolah.


Yayasan pendidikan Bhinneka adalah sekolah swasta elit mulai dari tingkat SMP hingga SMA. Saat mengetahui kalau Ayra ingin masuk sekolah itu, Arlan mengajukan permohonan pada ayahnya untuk pindah sekolah karena tidak mau satu sekolah dengan adiknya. Permintaan itu dengan tegas ditolak sang ayah.


"Papa setuju menyekolahkan Ayra di sana, biar kamu bisa jaga, ini malah kamu minta pindah. Papa gak setuju!"


Pernyataan ayahnya tidak bisa dibantah. Aran sangat tegas kalau soal pendidikan. Sekolah itu punya kredibilitas tinggi, tidak bisa sembarang anak bisa masuk ke sana meski punya uang, hanya orang-orang yang memang pintar yang bersekolah di sana.


Meskipun nakal dan jadi biang kerok di sekolah, Arlan punya otak pintar. Meski tidak masuk kelas, nilainya selalu yang tertinggi di kelas. Hanya beberapa kali gelar juara umum lengser dari pangkuannya, dan itu pasti disabet oleh Kasa. Beberapakali jadi utusan sekolah mengikuti olimpiade, dia selalu menyabet juara dan bergantian dengan Kasa. Tidak diragukan lagi kalau Arlan adalah anak yang pintar, itulah alasan Arun tidak membatasi pergaulannya.


"Masuk sana, ngapain malah bengong disini?" hardik Arlan yang memarkirkan motor sportnya.


Mata Ayra masih celingukan mencari seseorang. Tujuan utamanya ingin berangkat sekolah bersama abangnya, ya, karena ingin bertemu dengan Kasa.


Benar sekali, Ayra sangat menyukai Kasa sejak dulu. Rasa sukanya muncul saat pertama kali bertemu Kasa di rumahnya. Saat itu dia masih kelas enam SD, terlalu dini menyukai lawan jenis.


"Mmm... memangnya kak Kasa gak sekolah, Kak?"


"Ngapain lu tanyain dia?" Mata Arlan menyipit.


Ayra jadi gugup. Jangan sampai abangnya tahu tentang perasaannya. "Gak papa, nanya aja. Biasanya kan, kalian seperti gula dan semut. Dimana ada Kak Arlan disitu ada Kak Kasa," celetuk Ayra bergegas pergi ke gedung sebelah kiri, ruang kelas SMP.


Arlan masih mengamati langkah adiknya saat pundaknya ditepuk. " Lagi lihat apa?"


"Eh elu, udah datang? Itu tadi adik gue tumben-tumbenan nanyain elu!"


Pandangan Kasa mengarah ke punggung Ayra yang semakin menjauh. Namun, tak lama sosok yang lebih mencuri perhatiannya melintas dari depan mereka.

__ADS_1


"Noh, orangnya."


Arlan mengikuti telunjuk Kasa yang mengambang di udara. Gadis dengan rambut diikat ekor kuda, kulit wajah putih dan bentuk tubuh yang lumayan menarik untuk ukuran anak SMA.


Gadis itu berjalan tanpa peduli dengan sekitarnya, berjalan lurus dengan langkah cepat.


Tanpa disadarinya langkahnya dihentikan oleh Kasa yang berdiri menjulang tinggi di depannya.


"Sania ya, IPA 1?"


Dari tempatnya berdiri, Arlan hanya mengamati keduanya dengan sikap cuek, tapi penasaran, apa yang dibicarakan Kasa pada gadis itu. Ada yang aneh, kenapa dia penasaran dengan gadis yang diincar oleh Kasa? Ah, mungkin itu hanya karena taruhan mereka.


Padahal dia belum mengatakan setuju untuk taruhan, tapi Kasa sudah menyalaminya pertanda taruhan menjadi sah.


Lama mereka bicara, dari pengamatan Arlan, Sania merasa tidak nyaman, tapi gadis itu tetap bertahan setelah dua kali melangkah tapi tetap dihalangi Kasa.


***


Selama pelajaran les pertama, Arlan melakukan pengamatan. Dia terus menatap Sania yang diminta guru fisika menjelaskan soal yang ada di papan tulis. Arlan akui dia pintar. Wajar dia mendapat bea siswa. Dia jadi ingat keterangan dari Kasa.


"Kata teman-teman dia cantik, pintar, tapi sayang miskin. Dulunya anak orang kaya, tapi bapaknya bangkrut jadi dia jatuh miskin. Gak penting juga, soal latar belakangnya. Kenapa dia menjadi target taruhan kita, karena katanya dia cewek yang susah didekati. Gua juga udah cari info di sekolah lamanya. Dia bunga yang berduri, tidak tersentuh!" terang Kasa menggoda egonya. Arlan hanya mendengar, tapi belum memutuskan. Namun, setelah disalami oleh Kasa, taruhan pun dimulai.


Semua yang diucapkan Kasa benar adanya. Ada sesuatu di manik gadis itu yang buat Arlan susah untuk mengalihkan matanya.


"Bagus sekali. Sania memang pintar. Di kelas ini sebenarnya banyak siswa pintar, sayangnya kelakuannya yang tercemar," ucap Pak Edi menyinggung kedua pentolan SMA Bhinneka.


Apa keduanya tersinggung? Tentu saja tidak. Mereka bahkan tidak peduli!

__ADS_1


"Kita ke basecamp?" Tanya Kasa memperhatikan layar ponselnya dan mengarahkan ke wajah Arlan. Sekilas pria itu membaca. Ada taruhan balap liar nanti malam. Kali ini Kasa sangat bersemangat karena musuh bebuyutannya yang mengirim pesan dan sekaligus menantangnya.


Ini yang dia tunggu. Sudah sejak lama dia ingin kembali bertarung dengan pria itu, terlebih sejak kekalahannya yang dulu.


"Lu duluan, gue nyusul. Gue ngantar Ayra pulang dulu."


Kasa hanya mengangguk lalu melesat keluar dari ruangan. Niatnya mengajak Sania pulang bersama terlupakan sejenak. Bagi Kasa, melawan Roki adalah yang terpenting.


Arlan menunggu lama di parkiran, tapi Ayra masih saja belum muncul. Berulang kali Arlan mengirim pesan, tidak satu pun dijawab gadis itu. Hingga hampir setengah jam, barulah satu pesan masuk dari Ayra yang mengabarkan kalau dia tidak jadi nebeng dan pulang bareng teman-temannya karena mau singgah ke toko buku.


"Dasar bocah! Capek-capek gue nungguin. Kenapa gak bilang dari awal!" umpat Arlan menghidupkan mesin motornya.


Demi menghindari macet di simpang empat sekolahnya, Arlan memilih jalan lain yang melalui lapangan voli komplek perumahan di dekat sekolahnya.


Dari kejauhan dia melihat seorang gadis yang seragamnya sama dengan yang saat itu dipakai menandakan kalau itu adalah teman satu sekolahnya, tengah diganggu dua orang pria tanggung berpakaian ala-ala preman.


Semakin dekat, dia menyadari kalau gadis yang ingin dirampas laptopnya itu adalah Sania.


Arlan menghentikan motornya di dekat para kedua pria itu yang menghentikan aksi mereka mengancam Sania tadi.


"Ngapain lu berhenti? Pergi sana!" hardik salah satu diantara mereka. Arlan mengamati, pria bertubuh kurus itu sebenarnya pengecut, hanya berani pada wanita. Kalau saja dia memang preman sungguhan, kenapa tidak sekalian saja motor milik Arlan dibegal?


"Dia pacar gue. Lu semua mau apa?"


Arlan turun dari motornya, maju paling depan menutupi tubuh gadis itu.


"Gak ada bang, kita cuma mau minta duit gocap buat beli rokok sama kakak ini. Sorry bang, kita gak tahu kalau dia cewek Abang." Masih pria cungkring yang menjawab. Ternyata memang tebakan Arlan benar. Mereka hanya dua pria lemah yang sok jadi preman, dan jadi tukang palak siswa yang lewat di sana.

__ADS_1


"Naik lu!" serunya tanpa menoleh pada Sania dan menghidupkan mesin motornya.


__ADS_2