
Setelah mertuanya tidak lagi tampak, Lily bergegas mengantar Arlan ke rumah Alana. Kedatangan mereka disambut Alana dengan wajah muramnya. "Kenapa Al? jelek amat cemberut begitu?"
Hufffh..."Aku lagi kesal kak" ucapnya mengambil bantal sofa, memangku nya dan dengan kesal membejek-bejek bantal itu demi melampiaskan kekesalannya.
"Kenapa? siapa yang jahatin kau? apa Gara coba ganggu kau lagi?" ucap Lily duduk disebelahnya.
"Hadeh..bukan kak. Ga usah diingat, paling juga dia lagi honeymoon sama istrinya" jawab Alana asal. Sedetik kemudian dia berpikir, iya juga ya, kenapa dia tidak ingat dan merasa kehilangan Gara? mungkin karena Alana disibukkan dengan aktivitas nya belakangan ini mencari tempat untuk tokonya.
"Jadi Apa?" susul Lily menyerahkan Arlan pada bi Minah yang menghampiri mereka. "Saya bawa den Arlan ke kamar Bu, biar nyaman tidurnya" ucap bi Minah. Lily pun baru menyadari kalau bayi dalam gendongannya sudah jatuh tertidur pulas.
"Hey, jawab. Kau kenapa?"
"Kakak tahu kan, aku mau buka toko roti?"
"Iya. Terus?"
"Setelah seminggu ini nyari, akhirnya ketemu yang pas di hati" ucapnya masih cemberut.
"Nah, bagus dong. Kok malah cemberut?" susul Lily.
"Nah, itu dia. Harga sewanya mahal banget kak. Aku ga punya uang" wajah Alana tertunduk lesu. "Menurut kakak aku bisa pinjam uang siapa ya?"
Seketika kening Alana berkerut. "Kenapa minjam uang, emang berapa sih sewa ruko nya?"
"30 juta kak"
"Terus, masa iya Arun ga ngasih bulanan kalian? emang dari bulanan ga cukup buat sewa rukonya?"
"Aku ga mau pake uang bang Arlan. Lagi pula itu kan dia kasih buat keperluan Arlan"
Satu hal yang sejak dulu Lily tahu, Alana sangat keras kepala. Gadis itu selalu memegang prinsipnya, apa yang menurut hatinya pantas dia lakukan pasti itu yang dia ikutkan. Makanya saat Santi mendoktrin dirinya wajib menolong Lily karena selama ini Lily sudah baik padanya, hati Alana mengatakan apa yang dikatakan Santi itu benar, dia sayang Lily dan ingin melihat Lily bahagia, makanya melakukan apa pun untuk Lily.
"Itu juga buat mu Al. Untuk kebutuhanmu. Pake lah" bujuk Lily. Setelah sekian banyak yang Alana lakukan untuknya, kali ini Lily ingin mendukung Alana. Dia ingin membalas kebaikan adiknya itu.
__ADS_1
"Ga ah kak. Udah ga usah dibahas lagi. Nanti aku cari yang lebih murah"
Saat tiba di rumah, Arun sudah pulang, bahkan sudah mandi. "Udah lama sampai rumah, hun.." sapa Lily.
"Setengah jam lah. Itu pesanan mu udah aku bawa. Tumben kau minta dibawain coklat yang banyak," ucap Arun membuka notebook nya.
"Oh, iya. Lagi pengen" ucap Lily melihat isi paper bag yang ada di atas meja.
"Hun, kasihan deh Alana. Dia lagi sedih tuh," ucap Lily membelakangi Arun. Tanpa melihat pun Lily tahu reaksi panik Arun.
"Kenapa dia? ada yang menjahati nya? siapa?" suara panik Arun membuat Lily tersenyum.
Cinta itu masih ada di hati mu, hun. Cinta yang hanya untuk Alana..
"Bukan siapa-siapa. Dia kesal karena gagal mendapatkan ruko yang mau dia jadikan toko rotinya. Harga sewanya kemahalan"
"Memangnya uang nya ga cukup? tiap bulan aku selalu mentransfer uang ke rekening nya, yang lebih dari pada cukup untuk mereka berdua, pasti adalah sisa untuk sekedar sewa ruko. Emang berapa sih?"
"Cuma 30 juta hun, tapi Alana ga mau pake duit yang kau kirim buat bulanan dia. Bahkan, duit yang kau kirim, hanya dipakai seperlunya untuk kebutuhan Arlan. Ratusan juta terendap di ATM itu tanpa mau dia pergunakan. Malah katanya mau cari pinjaman"
"Buat Alana?"
"Iya. Dia butuh ini biar moodnya bagus. Kau tau sendiri aku ga suka makan makanan yang manis"
Saat di rumah Alana tadi, Lily memang meminta Arun untuk singgah di swalayan, membeli semua jenis coklat yang ada di sana, dua buah tiap merk-nya. Itu akan jadi alasan yang tepat untuk Arun datang ke rumah Alana.
"Loh, bapak. Masuk pak" ucap bi Minah mempersilahkan Arun masuk. Kali ini tanpa perasaan sungkan Arun masuk. Toh di rumah itu mereka tidak hanya berdua saja lagi.
"Alana sudah tidur?"
"Belum pak. Tadi masih ke dapur ambil minum. sebentar bibi panggilkan"
Mendengar Arun datang saja dari laporan bi Minah sudah membuat jantung Alana berdegup kencang. Sebaris senyum tanpa sadar melengkung di bibirnya. Dia tidak munafik, dia merindukan pria itu. Pria yang terlarang untuk dirindukan.
__ADS_1
"Ng-ngapain bang Arun kemari bi?"
"Mana bibi tahu non. Pastinya jumpai non lah"
Penuh semangat Alana turun. Dia pikir Arun duduk di teras rumahnya seperti waktu itu, hingga senyum sumringah yang dia pasang sejak keluar kamar yang niatnya akan dia tarik setelah melewati pintu depan, nyatanya sampai di ruang tamu, senyum itu masih ada dan sempat ditangkap Arun.
Pria tinggi dengan wajah tampan itu pun membalas senyum Alana yang kembali membuat jantung nya berdisko.
"Bang Arun, ada apa kemari?" hanya itu yang dapat dia pikirkan untuk salam pembuka pada pertemuaan mereka kali ini.
"Nih, ngantar ini. Dari Lily" Arun menunjuk paper bag yang dia letakkan di atas meja lewat bibirnya yang dia majukan sedikit. Dan berhasil membuat Alana semakin terpikat pada Arun. Tanpa sadar, pikiran Alana melayang jauh ke masa lalu.
Dulu bibir kenyal itu pernah menciumnya. Membuainya dengan kegilaan yang amat teramat sangat dia nikmati. Dia rindu, dan ingin mengulangnya lagi, tapi buru-buru dia tepis.
Sadar Alana, dia itu bukan suamimu lagi. Dia sekarang abang ipar mu!!
"Ga mau lihat isinya?" tanya Arun menatap Alana. Suara sexy Arun yang berat mampu membuat bulu kuduk Alana meremang.
"I-iya bang"
Wajah Alana sumringah. Isi paper bag itu adalah jenis cemilan yang paling dia sukai. "Wah.. coklat. Makasih bang. Eh, makasih buat kak Lily" ralat nya dengan mata berbinar.
"Kata Lily kau ga jadi sewa ruko yang terakhir kau lihat?"
"He eh.." erangnya sebagai jawaban. Mulutnya tak mampu terbuka karena sudah penuh oleh coklat berbungkus warna ungu itu.
Arun memperhatikan gadis itu menikmati coklatnya. Sungguh Arun gemas. Naluri laki-lakinya bangkit, terlebih setelah berbulan-bulan lamanya puasa. Ingin sekali menarik gadis itu lalu menikmati bibir tipis menggoda miliknya. Ingin mel*mat, menikmati tekstur bibir yang selalu dia rindukan itu.
Kadang kala saat keinginan itu datang dan tidak bisa lagi terbendung, dia akan masuk ke kamar mandi, melakukannya sendiri dengan bayangan Alana bermain bersamanya walau sebatas dalam imajinasinya.
"Lokasinya dimana?" tanya Arun mengalihkan pikirannya, agar tidak fokus memandang ke arah bibir Alana yang sudah belepotan oleh coklat yang dia nikmati.
"Dia jalan Sudirman bang, dekat sekolah Bhineka. Ga jauh dari rumah sakit Kasih Ibu" ucapnya sembari memasukkan coklat merk ratu perak kedalam mulutnya dalam potongan besar. "Abang ga mau?" tanya nya sembari mengunyah dan satu tangan menyodorkan kehadapan Arun.
__ADS_1
Tanpa Alana duga, reaksi yang diberikan Arun cukup membuatnya hampir jatuh pingsan. Dengan jempolnya Arun menyapu bibir Alana yang penuh dengan bekas coklat, lalu membawa jempolnya ke dalam mulut untuk dia hisap. "Manis" desisnya