
Untuk kesekian kalinya, Alana menelan ludah dengan susah payah. Duduk diantara dua wanita yang masih bersitegang. Saling menatap dengan pandangan setajam samurai para ninja, berharap bisa mengalahkan lawannya.
"Mau sampai kapan kita tatap-tatapan begini?" suara Ema yang sedikit membentak menandakan amarahnya belum usai. Perdebatan yang membuat malu itu harus dilanjutkan ditempat lain, karena banyak pelanggan butik itu yang merasa tergangu.
Sebuah cafe yang ada di lantai bawah satu di gedung itu menjadi tempat mereka kembali melanjutkan pertengkaran yang menurut Alana hanya karena kesalahpahaman saja.
"Sampai kau mau mengakui kalau Alana adalah calon istri cucuku" ucap nenek Rosi.
"Jangan mengada-ada. Alana calon istri anakku, dia menantuku!" tegas Ema tidak mau kalah.
"Ga bisa. Dia harus nikah dengan Kaisar"
Merasa tidak punya titik temu, Ema menoleh pada Alana. "Al, ngomong dong. Siapa sih nenek pikun ini? enak bener ngaku-ngaku kamu calon mantunya"hardik Ema minta penjelasan.
"Ga usah paksa Alana. Bagaimanapun dia tetap calon istri cucu saya. Siapapun tidak bisa menghalanginya"
"Al, ini gimana sih? tante jadi bingung ini. Kamu ada janji mau nikah sama cucunya? sebenarnya ini gimana sih? atau kamu memang punya hubungan dengan cucunya?"
Hufffh..Alana menarik nafas berat. Dia sendiri bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Tapi selama dia bungkam, masalah kedua wanita itu tidak akan perbah selesai. "Tante, nenek..sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuat kalian bingung dan jadi salah paham begini"
Kedua wanita itu tampak antusias menanti dan mendengarkan penjelasan dari Alana.
"Nek, aku minta maaf secara pribadi karena sudah berbohong pada nenek. Sebenarnya aku dan bangkai tidak punya hubungan khusus"
Sesaat mata nenek terpejam. Menyesap udara yang masuk melalui hidungnya, lalu membuja kembali matanya. "Kenapa kau tega Al? kau tahu nenek sangat menyayangimu, sudah sangat mengharapkanmu jadi menantuku" Ada nada kecewa penuh kesedihan dalam suara wanita itu dan hal itu semakin membuat Alana semakin merasa bersalah.
"Maaf nek. Aku terpaksa. Saat itu aku hanya ingin membantu bangkai untuk menyenangkan hati nenek yang saat itu sedang sakit. Kami melakukan itu agar nenek punya semangat untuk sembuh"
Alana bangkit, jongkok dihadapan nenek Rosi. "Nenek, aku juga sayang sana nenek, walau aku tidak bisa bersama bangkai, aku masih bisa menjadi cucu nenek" ucapnya lembut.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menjadi istri Kai saja, Al?" nenek Rosi masih berharap semoga ada keajaiban, Alana berubah pikiran dan mau menikah dengan Kaisar.
"Enak aja bujuk calon mantu orang. Alana itu calon istri anak saya" sambar Ema yang langsung mendapat pelototan dari nenek Rosi.
"Maaf nek, hati aku sudah ada yang punya. Aku sangat mencintai pria itu dan kami akan menikah bulan depan" Alana masih sabar menjelaskan pada nenek Rosi. Dia juga tidak ingin wanita itu membencinya, karena sedikit banyaknya, ini juga terjadi karena kesalahan dirinya juga.
Tidak ada bantahan lagi, ketiganya diam dengan pikiran masing-masing. Ema melirik wajah sendu wanita yang sejak tadi jadi partner adu mulutnya. Ada rasa kasihan dalam hatinya, melihat wanita itu dalam kekecewaan.
Satu hal yang disadari Ema kini, bahwa memiliki Alana sebagai menantunya adalah satu anugerah dari Tuhan.
"Selama ini aku salah menilai kamu Al, ternyata kamu gadis yang baik. Kenapa selama ini aku tidak bisa melihat ketulusan hatimu? sedangjan wanita tua yang baru sekali bertemu dengan mu saja bisa melihat kebaikanmu" batin Ema mengamati Alana yang tengah berpelukan dengan nenek Rosi.
***
Alana jadi serba salah dalam bersikap. Ema sejak dalam perjalanan selalu diam menutup rapat mulutnya. Alana takut kalau wanita itu akan mengamuk padanya dan yang paling parah, dia akan membatalkan rencana pernikahannya dengan Arun.
"Tante.." Alana memberanikan diri untuk menyentuh tangan Ema, hati Alana sedikit gugup takut kalau Ema akan menghardiknya karena sudah bersikap lancang. Tapi apa yang dikhawatirkan Alana tidak terjadi.
"Sebenarnya kau mencintai Arun ga sih Al? tante ga ingin Arun kembali kecewa, pernikahannya dengan Lily sudah berakhir dan kini dia sangat mencintaimu, kalau ternyata kau hanya setengah hati padanya, tante mohon, lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja"
Wajah Alana pias. Kali ini ketakutan terlihat jelas dibola matanya. Bagaimana hidupnya jika dia berpisah dengan Arun?
"Tante, aku bersumpah kalau dihatiku hanya mencintai bang Arun, tidak ada yang lain. Seperti yang ku katakan di cafe tadi, aku berpura-pura menjadi pacar bangkai karena saat itu nenek Rosi sedang sakit dan menuntut bangkai untuk memperkenalkan pacarnya pada nenek"
"Tante bisa pegang janjimu?"
Alana mengangguk, penuh rasa lega Ema memeluk Alana.
***
__ADS_1
Malam itu, Alana menghabiskan malamnya dengan berbincang dengan Dita. Arun tidak datang karena harus mengurus pekerjaannya di Bali. Berulang kali Arun memohon agar Alana mau ikut bersamanya, tapi setiap itu juga jawaban Alana tetap sama, dia tidak bisa ikut.
"Ayo lah Al temani aku" pinta Arun mendesak.
"Abang kesana kan mau kerja, jadi ga boleh bawa pacar, nanti tergoda, jadi kebablasan" goda Alana mengerling. Kembali fokus memasukkan pakaian dan keperluan Arun ke dalam koper.
"Ga papa juga Al. Kan bentar lagi dihalalin" ucap Arun yang tiba-tiba sudah memeluk Alana dari belakang, menciumi lekuk leher Alana hingga nekat membuat kiss mark di sana.
"Aaach..abang.." des*h nya meremas sisi gaunnya.
"Makanya temani aku"bisiknya terasa begity sensual di telinga Alana.
"Ga bisa bang. Lain kali ya sayang, kalau sudah sah jadi nyonya Dirgantara"
Arun kalah. Akhirnya berangkat pagi tadi tanpa Alana, dengan perjanjian, kalau gadis itu akan selalu mengaktifkan ponselnya dan siap sedia mengangkat telpon dari Arun kapan pun itu.
"Malam gini, lo kangen ga sama ayang beb lo?" celetuk Dita menaikkan satu kakinya di atas meja. Udara malam tampak segar membelai wajahnya.
"Kangen lah. Tapi kan hanya untuk dua hari aja. Lagi pula kan ada kamu kan yang nemani. Kamu kan kekasih hatiku juga" ucap Alana menempelkan tubuhnya pada Dita.
"Idih, ada maunya aja, ngakuin gue kekasih hati lo!"
Keduanya serentak tertawa. Sepanjang satu jam kedepan, keduanya asik membahas masalah yang sedang viral saat ini hingga aktor tampan yang mereka gilai.
"Permisi non Al, dibawah ada tamu" suara bi Minah menghentikan percakapan keduanya.
"Siapa bi?" Alana tidak punya gambaran siapa orang yang bertamu malam-malam begini.
"Kurang tahu non. Pria paruh baya mencari non Dita katanya" kedua gadis itu saling melempar pandang.
__ADS_1