Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Memenuhi janji


__ADS_3

"Bangun dong bang. Udah jam sepuluh ini" ucap Alana menggoyangkan tubuh Arun yang sudah dua jam tertidur.


Tubuh pria itu terasa remuk, namun terbayar oleh kepuasan yang dia dapatkan.


"Bang.." sekali lagi Alana menggoyangkan tubuh Arun untuk meminta perhatian. Setelah pertarungan pagi tadi, Alana tidak kembali tertidur seperti bujukan Arun, gadis itu memilih untuk berendam sembari mendengarkan lagu di playlist nya. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan terus berada dalam dekapan suaminya, yang ujung-ujungnya pasti melakukan itu lagi. Miliknya saja sudah membengkak rasanya dihajar habis oleh Arun.


Bersama pria itu, Alana bisa menjadi dirinya, tanpa malu mengatakan bagian mana yang dia sukai untuk disentuh Arun. Alana hanya perlu mendesah saat Arun menyentuhnya hingga pria itu mengerti apa yang diinginkan istrinya.


"Abang ga mau bangun? ya udah, aku pergi sendiri aja" ancam wanita itu bangkit dari duduknya, namun belum sempat melangkah, Arun sudah menarik tangannya.


"Kita mau kemana Al? apa kamu ga capek sayang? mending kita pelukan aja di sini sampai besok"


"Ogah! paling juga nanti abang minta gituan lagi" sahut Alana memonyongkan bibirnya.


"Itu namanya pengantin sayang. Kalau ga bajak sawah yah mau ngapain lagi?" ucap Arun tersenyum.


Duh, ini orang tampan amat. Senyum nya ya Allah..sadar Al, jangan mau terperangkap..


"Udah, ntar malam juga bisa. Sekarang kita makan, aku udah lapar. Habis itu kita ke tempat kak Lily"


"Hah? bukannya baru dua hari lalu kita ke sana, sebelum nikah?" tanya Arun mengingat apa dia yang salah, tapi kayak nya benar mereka baru saja ke sana. Alana bilang mau ngasih tau sama almarhumah kakaknya untuk menikah.


"Iya, tapi aku mau kita ke sana lagi. Kita udah penuhi permintaan kak Lily, dia pasti bahagia di alam sana" ada genangan di bola mata Alana. Arun melihatnya dan menarik tangan Alana hingga tubuh gadis itu terduduk di tepi ranjang. Sigap Arun melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, meletakkan dagunya di pundak Alana.


"Kau boleh mengenangnya, tapi jangan ada air mata. Selama nya Lily akan ada dalam kenangan kita, tapi hanya sampai di situ sayang. Kita sudah punya kehidupan sendiri, kalau kau terus merindukannya, dia akan sedih di sana" bisik Arun yang diangguk Alana dengan tetesan air mata di pipinya.


Keduanya hanya sebentar berada di sana, berdoa, menabur bunga dan pulang. Alana sudah menyampaikan isi hatinya. Berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Arun. Wanita itu tahu, Arun adalah satu-satunya pria yang dicintai Lily semasa hidupnya. Arun sangat berarti untuk Lily hingga dia rela untuk berbagi suami hanya demi mempertahankan rumah tangganya bersama Arun. Janji Alana pada kakaknya yang tidak didengar Arun kala itu.

__ADS_1


"Al, kakak mohon jaga dan cintai Arun ya. Jadilah istri yang baik untuknya. Dengan kau menjaga dan mencintainya sepenuhnya hatimu, kau sudah membuatku bahagia. Aku bisa pergi dengan tenang, meninggalkan Arun pada wanita yang tepat" ucap Lily kala mereka hanya berdua waktu itu.


Alana tidak menjawab, hanya ada tangis dan juga anggukan di depan kakaknya yang sudah sekarat.


"Jangan tinggalkan Arun ya Al. Lanjutkan tugasku untuk mencintai dan juga menjaganya. Tetaplah ada di sisinya, walau ada kalanya percekcokan terjadi di rumah tangga kalian nantinya"


Janji itu lah yang selalu Alana ingat dan coba dia pegang. Cintanya pada Arun akan selamanya ada, dan bagaimanapun nanti nya pertengkaran di rumah tangga mereka, Alana tidak akan pernah meninggalkan pria itu.


***


Dua hari menginap di kamar presiden suit di hotel itu, membuat Alana sangat merindukan Arlan. Walau setiap saat melakukan panggilan dengan Video, Alana tidak cukup puas. Alana tahu, Ema pasti menjaga Alana dengan baik, tapi jika tidak bertemu, tetap saja Alana tidak tenang.


Rumah baru mereka juga sudah siap huni. Bahkan setelah pesta pernikahan mereka bi Minah sudah lebih dulu berada di sana. Mempersiapkan kedatangan mereka yang tentu saja dibantu oleh Santi, Bima dan juga mama papa Arun.


"Wuih, wajah pengantin baru ini sumringah sekali" goda Ema saat Alana meminta Arlan untuk di gendong.


"Gimana Arun, masih tokcer kan? cerita dong Al" godanya lagi. Senang melihat raut wajah Alana yang memerah. Apa iya dia harus bilang pada ibu mertuanya kalau suaminya sangat liar dan hampir membuat Alana tidak bisa jalan?


"Mama ih.." sahutnya menunduk. Rasa malunya mungkin sudah menjalar hingga ke ujung rambut


"Loh, emang mama salah nanya? ga salah kan jeng?" tanya Ema pada Santi yang disambut tawa oleh wanita itu.


"Sudah dong mbak, anak saya jangan digodain terus" sahutnya membelai rambut Alana.


Acara diteruskan dengan bersantap bersama. Makan malam yang disediakan oleh chef hotel yang sengaja dipesan Wiga membuat acara malam itu tampak sempurna. Arlan sudah tidur, Ema dan Wiga juga tak lama pamit.


"Ibu sama bapak juga pamit pulang ya Al" ucap Santi.

__ADS_1


"Ga nginap di sini aja Bu?" punya Alana. Sikap keibuan yang ditunjukkan Santi padanya sungguh melengkapi perasaan Alana, dia yang sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu, kini bisa merasakan dan mengerti arti memiliki seorang ibu.


"Lain kali aja ya Al. Ibu sama bapak janji" jawabnya tersenyum.


"Oh iya. Sebentar bu" Alana menarik tangan Santi bergabung dengan Arun dan Bima yang mengobrol di ruang depan.


"Bang..itu teringat yang kita bicarakan kemarin..mengenai permintaanku" ucap Alana memberikan kode pada Arun, namun nampaknya pria itu tidak mengerti ucapan Alana.


"Yang mana Al?"


"Itu loh, permintaan aku yang abang bilang kemarin. Itu loh bang, yang aku ajukan untuk hadiah pernikahan untuk ku" terang Alana lebih mendetail. Kerutan di dahi Arun menghilang seiring dengan timbulnya senyum di bibirnya.


"Oh, itu..iya aku ingat"


"Omongin sama ayah dan ibu sekarang"


"Ada apa sih ini?" tanya Bima penasaran.


"Begini yah, teringat perusahaan ayah yang sudah berpindah tangan itu.." ucap Arun merasa tidak enak untuk meneruskan. Hal itu sama saja mengingatkan pembalasannya pada kedua mertuanya itu.


"Oh..ga papa. Ayah sudah ikhlas. Lagi pula di hari tua kami ini, kami hanya ingin membahagiakan Alana, menebus kesalahan kami, bukan begitu bu?" Bima menatap istrinya, Santi setuju akan ucapan suaminya dengan mengangguk kan kepalanya.


"Justru itu yah, kalau ayah dan ibu ingin Alana bahagia bersamaku, maka terimalah permintaan Alana"


"Katakanlah Run" sambar Santi. Dia akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Alana. Sekarang hanya Alana lah putrinya.


"Maksud Alana, dia ingin ayah kembali mengurus perusahaan itu. Alana ingin mengembalikan pada ayah dan ibu. Dan aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus balik namanya atas nama ayah lagi"

__ADS_1


Air mata haru dari Santi dan Bima tak terbendung. Tak ada kata yang terucap, keduanya beranjak memeluk Alana, putrinya yang terbuang, yang memiliki hati seluas samudera.


__ADS_2