
Semua sudah sepakat untuk liburan selama lima hari di Bali, kecuali Arlan!
Menurutnya Arlan, liburan bersama seperti itu sudah lewat masanya. Dia bukan anak kecil lagi. Tapi mengetahui kalau Kasa justru menyambut hangat rencana itu membuat Arlan tidak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya itu. Kalau saja Kasa ada di dekatnya, sudah pasti dia jitak kepalanya.
Ayra yang mendengar Alana memikirkan ulang rencana itu karena tidak ingin Arlan sendirian di rumah, membuat Arya kesal. Mendatangi kamar kakak nya menjadi pilihan saat ini.
"Lu rese banget, sih, Kak. Ngapian sih pake acara gak ikut ke Bali? Lu ngerusak semuanya!" protes Ayra, menyelonong masuk tanpa peduli dengan satu alis Arlan naik dan sorot tajam mata tidak suka. Semua orang masuk ke kamarnya seolah tidak tahu cara mengetuk pintu terlebih dulu.
"Emang gue pikirin?" Jawab Arlan santai. Kembali membaca buku kumpulan puisi berbahasa inggris. Walau selalu bersikap cuek dan seolah tidak peduli pada sekitar, Arlan sangat suka membaca puisi lama.
"Kakak! Jadi orang kok bisa sejahat ini, sih? Gue pengen banget ke Bali, Kak. Ayo, dong!"
"Gue kan udah bilang gak ikut. Kalian aja pergi. Kenapa harus ngajak gue, sih?"
"Noh, tanya sama Mama. Heran, kenapa lebih sayang sama Kakak, sih? Apa-apa keinginan Kakak dulu yang diutamakan! Kakak gak mikirin perasaan gue. Kalau bisa, gue pengen punya Kakak orang lain, yang sayang sama gue!" umpat Ayra, menangis karena diabaikan oleh abangnya. Panjang lebar dia bicara, tidak sepatah katapun dibalas Arlan.
Setelah pintu dibanting, Arlan menoleh ke arah daun pintu. Sebenarnya bukan dia tidak sayang pada Ayra, juga bukan ingin membuat adiknya kesal karena menolak ikut liburan, tapi ada yang harus dia kerjakan.
Dua bulan lalu, perusahaan bergerak di bidang teknologi yang menciptakan robot, mengirimkan email pada Arlan. Mereka melihat karya ciptaan Arlan perangkat robot sederhana, hingga menawarkan pria itu kerja sama dengan mempatenkan karya Arlan.
Sudah dari kemarin, pihak penanggung jawab perusahaan itu menghubunginya dan menagih waktu untuk kerja sama itu, dan Arlan sudah memberi jawaban, akan bekerja saat liburan semester ini, dan hal itu jauh sebelum dia tahu ada rencana untuk liburan bersama.
"Dia tidur setelah lelah menangis. Aku kasihan sekali padanya, Al," ucap Arun datar. Pria itu baru saja menenangkan Ayra, menemani putrinya itu hingga tertidur.
Tidak ada yang boleh menyakiti Ayra, membuatnya menangis, tidak juga kakaknya sendiri.
Alana masih membisu. Cara bicara Arun seolah melukiskan kalau dirinya lah di sini yang ratu tega. Dia hanya memikirkan Arlan dan mengabaikan keinginan Ayra.
Arun ikut bergabung dengan istri yang sudah berbaring di atas ranjang, menunggu Arun yang sedang mengganggu piyamanya tadi.
"Jadi gimana dong, Mas?"
"Kita tetap ke Bali. Kalau Arlan tidak mau ikut, biarin aja dia di rumah. Kamu terlalu memanjakannya, Sayang," jawab Arun menarik tubuh Alana masuk dalam dekapannya.
__ADS_1
Alana lagi-lagi kehilangan kata-kata. Bagaimana dia bisa bersenang-senang, sementara Arlan tinggal di rumah sendirian? Rasanya liburan kali ini tidak akan semeriah yang lalu.
***
Sudah diputuskan, lusa, keluarga Dirgantara akan bertolak ke Bali bersama Dita dan keluarganya. Keputusan itu semakin mantap karena Arlan turun tangan membujuk Alana.
"Maafkan aku, Ma, aku ada kerjaan penting. Jangan gara-gara aku, Ayra jadi korban. Dia sangat ingin ke Bali."
"Tapi Mama khawatir. Mama gak pernah jauh dari kamu," jawab Alana merebahkan kepalanya di pundak Arlan. Keduanya sedang berbincang sore itu di ruang keluarga.
"Aku bukan anak-anak lagi, Ma. Jangan khawatirkan aku. Mama, Papa dan Ayra pergi liburan, nikmati waktu liburan tanpa ada beban."
Alana akhirnya mengangguk. Dia tidak boleh egois pada putrinya.
"Kalau gitu, kamu jaga diri. Jangan lupa makan. Bi Inah ikut liburan bareng kita, jadi gak akan ada yang nyiapin makan buat kamu selama kita di Bali."
***
Dalam benaknya sudah menyusun rencana untuk mendekati Kasa.
"Kamu mau kemana? Kurang apa lagi? Mama udah capek ini, Ay," protes Alana memilih duduk, memperhatikan Ayra yang ingin beranjak ke salah satu toko lagi.
"Ada yang mau aku beli, Ma. Ini yang terakhir, kalau Mama capek, ya udah, tunggu bentar di sini," jawab Ayra melesat pergi, tak lupa meletakkan Tote bag di dekat kaki Alana.
Alana menunggu sembari membuka layar ponselnya. Saat jenuh, dia mengalihkan pandangan ke depan.
"Sania.... Sania....," teriak Alana dengan keras. Panggilan keduanya berhasil membawa pandangan Sania ke arahnya.
"Tante Al, lagi belanja? Sama siapa?" tanya Sania mengamati banyaknya belanjaan Alana yang tergeletak begitu saja. Dia juga menambahkan pertanyaan dengan siapa, berharap kalau bukan satu nama yang bersarang di hatinya yang akan disebutkan Alana. Dia tidak siap bertemu Arlan saat ini.
"Iya. Sama Ayra. Kamu sama siapa?"
"Sendiri, Tante," jawab Sania gugup. Padahal yang dihadapinya cuma anak dari pria yang suka buatnya deg-degan kenapa bisa salah tingkah seperti ini.
__ADS_1
"Itu apa, San?" tanya Alana memperhatikan tas yang ditenteng oleh Sania. Tas yang transparan, menunjukkan banyak bros di dalamnya.
"Oh, ini bros dan juga hiasan jilbab, Tante."
"Banyak banget, kamu borong atau gimana?" Alana penasaran. Mencoba memperhatikan isi tas itu. Sania tersenyum kikuk. Dia bingung harus menjawab apa.
"Bukan, Tante, ini daganganku. Mau dititip di toko aksesoris itu," tunjuk Sania dengan sorot matanya ke arah toko tidak jauh dari tempat mereka.
"Boleh Tante lihat?"
Sania mengangguk, mengambil tempat di samping Alana.
"Ini bagus banget, kamu yang buat?" Sania mengangguk lagi.
"Kamu itu ya, udah pintar, cantik, kreatif lagi. Tante mau beli, ya."
Sania merasa tersanjung dipuji oleh Alana. Keduanya berbincang hingga tidak bosan menunggu Ayra.
"San, kan sekarang lagi libur, Tante sekeluarga sama keluarga Tante Dita mau liburan ke Bali. Kamu ikut kita, ya?"
"Hah? Eh, gak usah Tante," sambar Sania. Punya uang dari mana dia mau ikut liburan ke Bali? Meskipun salah satu impiannya adalah mengunjungi pulau Dewata itu.
"Ayo, dong, biar tambah seru. Ayra gak ada temannya. Kalau kamu ikut, pasti dia senang."
"Terima kasih atas ajakannya Tante, tapi, uang tabunganku belum cukup. Lain kali aja kalau ada kesempatan lain," jawab Sania malu-malu. Ini kenyataan, untuk apa pergi liburan kalau sepulang dari sana, dia justru kelaparan karena semua tabungannya sudah dikuras.
"Kamu tenang aja, Tante ngajak kamu pastinya semua biaya dari Tante. Kamu mau ya, Sayang."
Sania cengengesan. Tawaran yang menarik, tapi apa pendapat Arlan nanti kalau tahu dia ikut liburan keluarga mereka? Sania takut kalau sampai Arlan beranggapan dia memanfaatkan kebaikan ibunya.
"Kamu mau, ya, Sania? Pokonya harus mau. Tante mohon banget. Cuma lima hari aja, kok," bujuk Alana penuh harap.
"Iya deh, Tante. Makasih banyak, Tante."
__ADS_1