
Remasan pada telapak tangannya sendiri terlalu kuat hingga buku jarinya memutih, bahkan kuku tangannya membuat rasa sakit semakin nyata. Alana gugup tidak tahu harus berbuat apa. Ujung lidahnya keluh. Kata hatinya ingin sekali jujur pada Gara. Tapi rasa takut kehilangan pria itu lebih besar hingga mengubur nuraninya, memilih untuk berada di zona amannya saat ini.
Perlahan Alana menggeleng. "Tidak, aku tidak menyembunyikan apa pun dari mu"
"Aku percaya padamu. Aku yang salah sempat menaruh ragu. Maafkan aku sayang" Gara menarik tubuh Alana masuk dalam pelukannya.
Rintik hujan tepat menetes di puncak kepala Gara. Biarlah air hujan itu membersihkan rasa curiganya. Membuang ragu yang tadi sempat bersarang di dada dan pikirannya.
***
Waktu berjalan, dua hari lalu Lily sudah menyampaikan kalau weekend nanti, Ema akan mengadakan tujuh bulanan untuk Lily. Semua doa dan berkat akan dilantunkan untuk bayinya, dan Lily ingin Alana di sana agar bayi Alana lah yang menerima semua doa itu.
"Nanti kalau ketahuan gimana kak?" tanya Alana saat keduanya memilih gaun yang akan di kenakan Alana. Perutnya sudah semakin membesar. Beberapa teman dan guru juga sudah semakin curiga akan perubahan tubuhnya.
Beruntung tidak lama lagi, Alana akan mengikuti ujian nasional jadi setelahnya tidak perlu harus ke sekolah lagi.
"Tenang aja, kau nanti berdiri dibelakang kakak pas siraman, terus duduk di dekat aku juga, pokoknya kemana aku, ada dimana kau juga harus di sana" ucap Lily mengambil gaun berwarna gold untuk dipakai Alana besok.
Setelah semua selesai dibeli, Lily mengajak Alana untuk mampir di salah satu cafe di mall itu. Dari awal berangkat, Lily sudah meminta Arun menjemput mereka. Jadi sembari menunggu Arun pulang kerja dan datang menjemput, mereka menikmati menu yang ada di sana.
"Pelan-pelan Al" ucap Lily menghapus bekas makanan di sudut bibir Alana.
"Ini enak banget kak. Sumpah. Coba nih" Alana mengangkat satu suapan kearah Lily yang awalnya sempat ragu untuk dimakan Lily, tapi akhirnya Lily buka mulut dan ikut menikmati.
"Kau harus makan makanan yang sehat, biar dedek bayinya juga ikut sehat" Alana hanya mengangguk.
Belanjaan mereka memang cukup banyak, dan kesini pun mereka naik taxi online, jadi pilihan untuk menunggu Arun menjemput adalah hal yang tepat.
"Lagi hamil ya mbak? udah berapa bulan?" suara seorang wanita mengagetkan Lily.
__ADS_1
"Hah? iya kenapa mbak?" sahutnya gelagapan.
"Si mbak nya lagi hamil ya?" tunjuk wanita itu pada perut buncit Lily.
"Oh..iya..aku memang lagi hamil. Udah tujuh bulan"
"Mbak yang ini juga?" kali ini Alana tidak bisa berkata apa-apa. Diam seribu bahasa.
"Bukan..dia adik ku. Masih sekolah. Perutnya memang gede. Suka habis makan terus tidur sih" sahut Lily asal.
Alana harus berterima kasih pada Arun kali ini. Kedatangannya menghentikan percakapan yang tidak mengenakkan itu.
"Udah selesai belanjanya?"
Lily menoleh kebelakang, mendapati pemilik suaranya yang tengah menatap Alana. Pemandangan seperti itu sudah beberapa kali disaksikan Lily, suaminya kedapatan menatap adiknya sendiri. Well, memang Arun punya hak sih, secara Alana juga istrinya. Sakit, pasti, cemburu apalagi, tapi Lily bisa apa?
Sampai saat ini dia bisa bertahan, hanya karena menanamkan dalam hatinya kalau suatu haru nanti, ketika Alana sudah melahirkan bayinya dan pergi dari kehidupan mereka, Arun akan kembali seperti dulu, hanya ada dirinya dalam hati dan pikiran pria itu.
"Alana kenapa?" pertanyaan Lily dijawab oleh pertanyaan dari Arun. Bola mata Lily memutar, jengah mendapati Arun begitu perhatian pada Alana.
"Kurang enak badan paling" jawab Lily kesal.
"Ya udah, kita buruan pulang"
"Tapi kita belum makan. Duduk lah sebentar Hun, lagian kau baru nyampe. Apa ga cape?" wanita yang ada didekat mereka tadi, hanya diam memperhatikan ketiga orang itu. Membatin kalau dugaannya benar, mereka adalah dua wanita yang berbagi suami.
"Jangan khawatirkan aku. Alana lebih penting. Ayo Al" Arun sudah memapah Alana. Lily hanya bisa menahan rasa dongkolnya. Mengikuti langkah keduanya.
***
__ADS_1
Rentetan acara itu berjalan lancar dan tentu saja melelahkan. Alana harus tetap berada di dekat Lily saat semua orang menyelamati nya dan berdoa untuknya.
"Ini, kenakalan gelang ini. Sudah di doakan dan dipercaya sebagai pelindung dari mata jahat" ucap Ema yang dengan suka hati diterima Lily.
Santi yang juga berada bersama mereka ikut tersenyum gembira. Santi merasa posisi putrinya kini sudah aman, terlebih melihat Ema yang sangat menyayanginya.
"Ini nanti kau yang pakai ya Al" bisik Lily setelah meminta Alana menunduk agar bisa membisikkan ditelinga nya.
Lily sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang sangat banyak. Tidak ada rasa lelah tergambar diwajahnya layaknya ibu hamil.
Justru Alana merasakan lelah yang berkepanjangan. Dia sudah tidak tahan lagi berdiri terlalu lama, ingin merebahkan tubuhnya sesaat agar panas di sekitar pinggangnya berkurang.
"Kak, aku boleh keluar ga. Kaki aku pegal banget, kepalaku juga pusing" bisik Alana. Lily yang mendapat panggilan dari Ema untuk di perkenalkan pada teman-temannya hanya mengangguk.
Selepas Alana pergi, Arun menyelinap, mencari Alana. Gadis itu ada disamping, duduk di kursi di tepi kolam renang.
"Abang ngapain?" ucap Alana terkejut, saat Arun yang sudah duduk lantai tepat di hadapannya. Memijit pergelangan kakinya tanpa rasa jijik.
"Kaki mu pegal. Biar aku pijit sebentar"
"Ga usah bang. Lepasin. Nanti ada yang lihat bang" rengek Alana tapi Arun tidak perduli. Lihat saja kulit kaki Alana bahkan sudah terkelupas. Kaki Alana sudah membengkak karena kehamilannya, ditambah memakai sepatu dengan ukuran yang biasa dia pakai saat belum hamil tentu membuat sakit kakinya.
"Lihat nih, sampe lecet. Kenapa sih dipaksakan pakai sepatu?"
Alana tidak menjawab. Memilih untuk diam. Hatinya bergetar dengan sentuhan dan juga perhatian Arun. Biarlah kali ini dia menikmati pertolongan Arun, karena memang dia sangat butuh.
"Harusnya kau tidak perlu ikut Al. Kau tidak perlu mengikuti setiap perkataan Lily yang menyulitkan mu" ucap Arun lembut. Memijit betis Alana hingga kembali ke ujung jari kakinya.
"Kalau kau merasa tidak enak badan, karena kelelahan kita pulang aja? biar aku antar kau pulang Al?" tanya Arun masih fokus pada kaki mulus Alana.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Alana bisa menjawab rangkaian pertanyaan Arun, degub jantungnya tak karuan setiap jemari Arun menyentuh setiap senti kulitnya. Asik bercerita, keduanya tidak menyadari, seseorang tengah mengintip dibalik pintu. Mengamati setiap gerak-gerik keduanya. Mengepal tinjunya sebagai bentuk rasa amarah.
"Awas aja kau nanti. Aku habisi kau. Dasar anak tidak tahu diri, pel*cur" maki Santi meninggalkan keduanya dan kembali ke acara itu.