
Meski sudah diyakinkan oleh Kasa, entah mengapa Arlan merasa ada yang janggal, nyangkut dalam memorinya menyisakan tanda tanya dalam hati. Namun, meskipun begitu, Arlan tidak bisa membohongi hati nurani, dia sangat mencintai Sania.
"Mungkin, karena gue sempat lama terkapar di rumah sakit, tidak bicara dengan Sania, hingga dihantui pikiran aneh, menganggap kalau Sania bisa mengkhianati gue!" cicitnya menyudahi ke khawatirannya. Lagi pula, Kasa itu sahabatnya, tidak mungkin mengkhianatinya.
"Kenapa? Ada yang aneh, ya di wajahku?" tanya Sania gugup, Arlan menatapnya dengan cara lain. Tatapan seperti dulu, setiap pria itu mendambanya.
"Gak ada yang aneh, hanya saja aku kangen banget sama kamu," ucapnya menarik Sania ke dalam pelukannya.
"Kamu udah gak marah lagi sama aku?" Sania memberanikan diri membahas topik yang terakhir memicu pertengkaran mereka. Arlan paham maksud gadis itu, dan benar, dia tidak marah lagi. Toh, ini bukan kesalahan Sania seutuhnya. Justru kalau mau ditilik lagi, dialah yang patut dipersalahkan. Kalau dia tidak kecelakaan, mungkin saat ini mereka sudah terdaftar di kampus favorit.
"Gak, dong. Mana berani aku marah sama kamu," jawabnya merangkul Sania, berjalan ke arah parkiran.
Mulai sekarang, Arlan menggunakan mobil hendak pergi kemanapun. Selain motornya sudah hancur pasca kecelakaan, Arun melarang keras Arlan menggunakan motor lagi. Setidaknya untuk saat ini.
Beban di hati Sania seolah terangkat. Tidak ada lagi ke khawatir dalam benaknya. Arlan sudah kembali sehat dan berada di sisinya seperti dulu. Masalah taruhan, Sania berjanji tidak akan mendebat lagi.
Semuanya sudah dia lupakan. Kasa sudah menjelaskan padanya awal mula ide gila itu. Siapa yang tahu hari yang akan datang. Awalnya mereka niat taruhan, tapi lihat akhirnya, mereka bertiga justru jadi dekat. Kasa menjadi teman terbaiknya, sementara Arlan, posisi pria itu tetap menjadi pemilik hatinya. Satu-satunya pria dalam hidupnya yang sangat dia cintai.
"Aku memang sudah tidak marah lagi padamu. Tapi ada satu hal yang ingin aku bahas denganmu."
Sania menoleh, melihat wajah Arlan yang fokus memperhatikan jalanan. Apa kira-kira yang ingin dibahas pria itu dengannya. Baru hatinya merasa damai, semua masalah sudah usai, kenapa kembali deg-degan?
"Apa?" Suara Sania begitu lemah, hampir tidak terdengar. Jantungnya berdetak lebih kencang, penasaran dan takut bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Ini soal kuliah. Papa sudah mengatakan padaku, kalau dia ingin memberikan beasiswa untuk kuliahmu hingga strata tiga."
Kelopak mata Sania terbuka lebar. Dia menajamkan pendengarannya. Dia tidak salah, kan?
"Om Arun mau kasih beasiswa? Kenapa?"
Sania bukan meragukan niat baik Arun. Dia tahu kalau pria itu dermawan, tapi kenapa tiba-tiba ingin membantunya? Atau memang ada program beasiswa dari perusahaannya?
Di sinilah susahnya. Arlan bingung harus mengatakannya. Dia belum menerima penawaran ayahnya karena memiliki banyak pertimbangan, salah satunya tidak ingin jauh dari Sania. Syarat yang diberikan ayahnya jelas-jelas akan membuat mereka LDR an, dan Arlan tidak akan sanggup jauh dari gadis pemilik hatinya itu.
"Arlan, jawab!"
"Anggap aja rezeki. Mungkin Papa dan Mama tahu kamu pintar, punya cita-cita tinggi. Kamu mau jadi dokter, kan?"
Sania mengalihkan pandangannya ke samping, menjauh dari tatapan Arlan. Dia memang ingin sekali jadi dokter, tapi tidak dengan mengemis biaya pada orang lain. Untuk apa dia banting tulang, kalau bukan karena ingin melepaskan ayah dari penjara dan juga untuk biaya kuliah.
Harga dirinyalah yang membuat Sania menolak rencana Arlan untuk kuliah di tempat elit, karena dia pasti tidak sanggup, tapi kalau kuliah di tempat biasa, swasta pula, pasti biaya administrasi bisa dicicil beberapa kali hingga akhir semester.
Beberapa menit berlalu dalam kebisuan. Hanya terdengar lantunan lagu dari audio mobil.
"Kita mau kemana? Kan, kosan aku lewat sana?" tunjuk Sania ke arah perempatan menuju kosannya.
"Papa Mama undang kamu makan malam. Kita ke rumah. Mama udah kangen sama kamu."
__ADS_1
"Bukannya baru dua hari lalu ketemu?" Sania menawan seadanya. Kenapa dia jadi kesal karen keluarga Dirgantara membahas tentang masa depannya tanpa mengikutsertakan dirinya atau paling tidak menanyakan pendapatnya. Apa begitu lagak para orang kaya? Melakukan apapun yang dianggap benar untuk orang lain, tidak peduli yang bersangkutan setuju atau tidak?
"Kamu itu memang ngangenin. Ini aja aku pengen banget cium kamu."
Arlan memang jago membalikkan suasana hatinya. Sania tersipu malu mendengar perkataan kekasihnya itu. Eh, tapi kapan mereka jadian? Sampai detik ini aja belum ada pernyataan cinta dari Arlan.
"Kok berhenti?" Sania menyadari kalau Arlan sudah menepikan mobilnya.
"Aku mau cium kamu." Pria itu membuktikan perkataannya. Tangan kekar Arlan memegang batang leher Sania dan menarik gadis itu untuk mendekat padanya.
Sania bergelora dalam hati. Tidak ada yang berubah. Arlan masih tetap menginginkannya dari cara pria itu mencium bibirnya dengan sangat lembut. Melu*mat bibir bawah Sania, mengisap dan terus menggoda dengan lidahnya hingga Sania ikut berpetualang bersama Arlan dalam tingginya puncak kenikmatan yang ingin direngkuh.
Deru napas mereka saling berkejaran. Suhu dalam mobil tampaknya semakin panas membakar. Tangan pria itu bergerilya turun menuju puncak yang sebenarnya. Namun, melihat Sania yang kesulitan meraup udara, Arlan tidak tega. Menghentikan kegiatan di tengah permainan.
Senyumnya terukir di bibir, masih mengamati Sania yang ngap-ngapan. "Dasar, bocah, ciuman aja sampai susah napas. Kamu harus lebih sering belajar sama aku. Mulai besok, setiap ketemu harus dipraktekkan, biar makin mahir," goda Arlan mengacak rambut Sania.
"Iih, Arlan!"
Tawa Arlan pecah melihat Sania yang sudah seperti tomat matang, merah di semua sudut wajahnya. Dia tidak ingin lebih lama menggoda Sania, memutuskan untuk menarik gadis itu ke pelukannya. Arlan meletakkan dagunya di puncak kepala Sania, sebelum mengatakan kalimat yang selama ini ditunggu gadis itu.
"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. San, aku ingin mengejar mimpiku, menjadi sukses, buat perusahaan robot dan otomotif sendiri, agar bisa menghasilkan banyak uang untuk membahagiakan kamu."
Rasa haru mendengar pernyataan tulus dari Arlan membuat Sania ingin menangis rasanya. Akhirnya dia mendengar Arlan mengatakan cinta padanya. Itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu seperti di acara reality show, atau di film romantis, saat sang pangeran datang pada tuan putri, dan mengatakan 'maukah kau menjadi pacarku'.
__ADS_1
Semua itu kini tidak butuh lagi. Sania sudah cukup bahagia. Diam-diam dia mencium dada pria itu, sebagai wujud terima kasihnya.
"Masa di dada aja, di bibir juga, dong," goda Arlan yang kembali buat pipi Sania memerah.