Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Empat rubah


__ADS_3

Film belum dimulai, masih ada sepuluh menit lagi, jadi Alana memanfaatkan waktunya untuk ke kamar mandi, sejak tadi gadis itu sudah menahan diri untuk ke toilet. "Bang, bentar ya aku ke toilet dulu. Kebelet nih" ucapnya seraya menyerahkan tas persegi yang sejak tadi ditentengnya.


"Ini apa isinya? bawa tas sempai dua gini?"


"Lihat sendiri aja deh. Aku kebelet nih" Alana sudah setengah berlari menuju tanda panah yang mengarah ke toilet.


Rasa penasaran Arun membuatnya membuka resleting tas itu. Senyumnya mengembang, hatinya menghangat. Dia bangga pada Alana yang masih tetap memikirkan anak mereka.


"Lihat cowok diluar ga? yang duduk dekat pintu masuk studio 3? gila cakep banget, sumpah gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Ngelihat tubuhnya yang sempurna, rahim gue menghangat" ucap salah satu dari empat cewek yang ada di depan wastafel. Alana yang sedang berada di dalam toilet hanya bisa mendengar.


Dasar cewek, seru banget kalau udah ngumpul..jadi kangen Dita..


"Tapi kayaknya dia sama ceweknya. Tadi sih sendiri, tapi barusan ceweknya datang. Cuma sih tampilannya standar, cantik sih iya, tapi BB tau ga sih.." sambar suara yang lain diikuti tawa ketiga teman yang lainnya.


"Iya benar. Mana lusuh banget. Bau bet badannya, gue rasa nih, tu cowok udah mau muntah nahan bau ketek tuh cewek" sambut cewek ke tiga. Hati Alana kini menciut. Walau bukan dia yang dibicarakan gadis-gadis itu, tapi dia merasa kasihan pada gadis yang mereka gosip kan.


"Pokoknya gue bakal coba deketin tuh cowok. Ya kali body perfect kayak gue ditolak" kali ini gadis yang pertama tadi kembali bicara.


Satu hal yang tidak habis pikir oleh Alana, dia sudah selesai buang air kecil, kenapa dia tidak keluar dari sana, justru menunggu hingga gerombolan gadis-gadis itu pergi.


Setelah terdengar sepi, Alana pun keluar. Menatap wajahnya di cermin wastafel sembari menuci tangan. "Kenapa masih ada cewek yang suka merebut kekasih orang lain ya?" cicitnya.


Langkah Alana terhenti, Arun tampak diajak berbincang oleh empat orang gadis yang dilihat dari penampilan mereka, paling dua atau tiga tahun lebih tua darinya.


Entah dorongan dari mana, Alana merasa tidak suka gadis-gadis itu mengelilingi Arun. Segera dia berjalan menghampiri, tapi para serigala betina itu tidak perduli sama sekali. Justru salah satu gadis yang paling semok yang duduk disamping Arun makin mendekatkan tubuhnya pada Arun.


"Al.." Arun spontan berdiri melihat kedatangan Alana.


Glek! salivanya begitu sulit untuk dia telan kala melihat tatapan marah Alana. Gadis itu cemburu, hanya saja dia tidak menyadarinya. Dia tidak ingin siapapun mencoba mendekati Arun.

__ADS_1


Tepat saat Arun ingin buka mulut, terdengar pemberitahuan kalau studio tiga sudah di buka. Alana dengan kesal menarik tangan Arun untuk masuk ke dalam. "Dasar ganjen" cibirnya ditengah langkah mereka, Arun masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Rasa kesal belum hilang, kini Alana semakin dongkol. Gimana tidak, keempat gadis itu duduk di baris atas kursi mereka. Si gadis paling centil dan tampak sensual itu justru duduk tepat di belakang Arun. Dengan sengaja dia menggoda Arun mendekatkan tubuhnya agar bisa menyentuh punggung pria itu.


Alana lihat semua itu, dan dia tahu niat wanita centil itu, yang berhasil membuatnya terbakar cemburu.


"Kasihan banget, cewek tampan kayak kamu mas, mau jalan sama cewek bau badan gini" celetuknya berani. Dia ingin menyindir Alana hingga mental gadis itu jatuh dan menjauh dari Arun.


Alana tahu dirinya lah yang tengah disindir oleh keempat gadis itu. Dia mengendus sisi ketiak nya kiri dan kanan, emang bau keringat yang bercampur bau deodoran. Alana mengakui tubuhnya lengket dan pastinya bau karena sudah ikut membantu bersih-bersih di ruko tadi.


Tampaknya niat gadis semok itu berhasil. Keadaan itu membuat Alana merasa malu didekat Arun, hingga menjauhkan sedikit tubuhnya dari Arun.


Gerakan itu disadari Arun. Dia pun mendengar perkataan gadis-gadis reseh yang sejak tadi mengitarinya. Dia ingin menegur bahkan memaki kecentilan pada gadis itu, menghardik mereka agar menjauh dari dirinya, tapi Arun tidak ingin membuat Alana malu, hingga menahan diri. Lagi pula bisa dibilang, ini adalah kencan pertama mereka. (Kalau bisa disebut kencan)


Merasakan ketidaknyamanan Alana, Arun segera menarik tubuh Alana ke dalam dekapannya. Arun memang mencium bau keringat, tapi itu tidak masalah. Arun suka pada semua yang berhubungan dengan Alana. Dia tidak ingin menyukai Alana saat wanita itu wangi, cantik dan.. menggoda. Nyatanya bau keringat Alana yang bercampur parfumnya membuat sensasi tersendiri yang ditangkap hidung, membuatnya..menegang.


"Emang kenapa? aku mau meluk"


"Kita bukan muhrim lagi"


"Tapi anggap aja kita kekasih"


Alana mengerutkan keningnya, kesal dengan sikap super cuek Arun. Alana merasa risih diejek dari belakang.


"BB Woi, malu dong, masa iya pacarnya dikasih cium bau ketek" cibir salah satu dari mereka.


"Tinggalkan aja dia mas, mending milih kita"


"Cewek bau bet. Ngurus diri aja ga becus, gimana mau ngurus lakik"

__ADS_1


"Biasa diam ga kalian?" bentak Arun bangkit berdiri. Suara Arun yang menggelegar tepat saat film sudah dimulai, membuat guide cinema yang masuk dengan penonton yang baru masuk, mendekati mereka.


"Maaf mas, ada apa ini?"


"Tolong suruh mereka pergi, berisik ganggu saya dan pacar saya nonton" salak Arun memandangi keempatnya. Keempat gadis itu terdiam.


"Maafkan kami mas. Tapi kami tidak bisa menyuruh mereka keluar karena sudah beli tiket, tapi kami pastikan keberadaan mereka tidak akan menggangu kenyamanan mas dan mbak nya" ucap guide cinema itu ikut takut melihat amarah di wajah Arun.


"Saya ga perduli. Balikin saja duit mereka. Kalau perlu, kosongkan studio ini, saya ganti lima kali limat tiket mereka, sekalian kursi yang masih kosong ini saya bayarin" umpatnya kesal.


Semua terdiam tidak berani membantah. Tapi tentu permintaan Arun yang terdengar janggal membuat guide cinema itu terdiam.


"Bang, apaan sih?" bisik Alana menarik kemeja Arun. "Ngapain sih minta studionya di kosongkan? ga lucu deh. Abang bikin aku malu" desisnya meremas lengan kemeja Arun. Kesal menggerogoti Alana tapi sebenarnya ditujukan pada keempat gadis gila itu, yang memancing amarah Arun. Justru Alana sangat tersentuh karena Arun bersikap gentle untuk melindunginya.


"Aku udah cukup sabar melihat tingkah laku mereka, aku ga akan terima saat mereka menghinamu, Al. Ingin rasanya keempat rubah betina ini aku masukkan ke penjara" umpat Arun.


"Iya, tapi jangan mengosongkan satu studio juga dong kak" ucap Alana melembut. Jika amarah Arun sudah meninggi, dia akan memilih untuk merendah, karena kalau mereka sama-sama emosi akan jadi lebih buruk keadaannya.


"Pokoknya aku ga mau satu studio sama mereka"


"Mmm..gini aja mas,studio 5 sebentar lagi akan dibuka, kalau mas mau, mas sama mbak bisa di sana"


"Ok, saya ambil. Semua kursinya saya ambil hanya untuk kami berdua"


***Mau dong bang, diajak nonton🤭🤭😁Mubasir banget nonton dalam satu bioskop cuma berdua..🙄🙄🙄🤭


btw, aku mau rekomendasi novel ini, mampir ya🙏😘


__ADS_1


__ADS_2