
Hanya sepersekian detik tubuh Alana menolak. Gerakan nya yang sejak awal mendorong Arun, nyatanya kini berkhianat atas dirinya. Entah sejak kapan mulainya, Alana sudah menutup matanya. Menikmati serangan Arun di bibirnya.
Ini yang tidak dia suka, hatinya akan berdegub kencang setiap didekat Arun, dan akan semakin menggila kalau Arun menyentuhnya.
"Aku bahkan sudah sangat menginginkanmu, Al. Tapi aku menghormatimu. Aku tidak akan menyentuhmu kalau hatimu belum terbuka untukku" ucap Arun setelah melepas ciuman mereka. Arun menopang dagunya di atas kepala Alana.
"Aku bisa saja menuntut hak ku, kau istriku. Tapi untuk apa aku lakukan kalau hanya akan membuatmu membenciku. Aku mencintaimu tulus Al, dan aku begitu cemburu saat kau bersamanya"
"Kenapa kau begitu egois bang. Kau bilang cinta padaku, lalu kak Lily? tidakkah kau ingat kau menikahinya karena mencintainya juga?" Alana ingat betul saat itu, betapa getolnya Arun yang ingin menikahi Lily. Bahkan saat itu Alana yang takut kehilangan Lily meminta kakaknya untuk tidak menikah saat itu yang akhirnya menimbulkan kebencian pada Alana.
"Aku tahu. Aku tidak munafik, kalau saat itu aku mencintainya. Dan mungkin aku masih mencintainya jika saja kau tidak masuk dalam hidupku. Jika saja malam itu tidak ada untuk kita" bisik Arun menangkup wajah Alana agar wanita itu mendongak. Perlahan Arun mengecup kedua kelopak mata Alana.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mencintaiku Al?" bisik nya parau.
Alana menggeleng. "Aku mencintai Gara, bang. Dia cinta pertamaku, orang yang menerima aku saat keadaan terburuk ku sekalipun"
"Lalu bagaimana aku Al? aku juga mencintaimu. Aku tahu aku terlambat, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku" Arun melepas wajah Alana, berjalan ke tepi tempat tidur dan duduk di sana.
Hujan turun mengguyur Jakarta malam ini. Suara kilat diujung jalan juga sudah mulai terdengar. "Kita tidak mungkin bersama, bang. Terlalu banyak orang-orang yang akan terluka. Lupakanlah aku"
"Aku ga bisa Al. Katakan padaku, apakah sedikitpun kau tidak merasakan sesuatu untuk ku di hatimu?"
Alana membisu. Dia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Dia tidak yakin itu cinta, tapi saat Arun menyentuhnya, Alana tidak bisa membohongi dirinya kalau dia menyukai sentuhan itu. Arun dengan cara selalu bisa membuat hatinya berdebar. Sejak awal Arun mengumandangkan janji sucinya yang ditangkap Alana dengan merdu di telinganya, sejak itu pula, hati Alana tak akan karuan jika ada di dekat Arun.
Hanya Arun yang bisa membuatnya panas dingin, berdebar di waktu bersamaan. Itu lah sebabnya Alana selalu menghindari pria itu, bangun lebih awal, berangkat sekolah dan berusaha tidak bertemu saat sudah di rumah. Hanya saja Alana belum menyadari kalau itu adalah benih rasa kagum yang berubah jadi benih cinta nantinya.
__ADS_1
"Al..aku sudah pernah mencoba melupakanmu, tapi, aku ga bisa. Aku tersiksa setiap melihatmu bersamanya. Aku panas, cemburu melihat dia menyentuh mu walau hanya sekedar tanganmu"
Melihat Alana menunduk, Arun menarik tangannya untuk duduk dipangkuan Arun. Tentu saja Alana canggung, tapi hatinya menuntunnya untuk mengikuti instruksi Arun.
"Jangan tinggalkan aku Al. Aku ingin bersamamu"
"Lalu kak Lily? banyak yang akan tersakiti bang. Ada kak Lily, dan juga Gara yang begitu baik dan sangat mencintaiku"
"Dia bisa mencintaimu. Tapi aku yakin di sini.." Arun menunjuk dada Alana. " Kalau kau mau jujur, ada aku di sini. Hanya saja kau menolak untuk mengakuinya"
Tidak setuju dengan pendapat Arun, gadis itu menggeleng. Coba meyakinkan hatinya kalau apa yang disampaikan Arun tidak benar.
"Kalau kau tidak mencintaiku, kau tidak akan menerima ciuman itu"
"Kau menyangkal. Tubuhmu saja sudah mengakui ku"
"Aku bilang aku ga menerimanya. Kau menyebalkan bang" Alana memaksa untuk berdiri, tapi Arun sudah menahan dan berganti posisi secepat kilat. Arun membaringkan tubuh Alana di ranjang lalu dengan masih mengunci tatapan Alana, Arun sudah berada diatasnya.
Dengan tangan jemarinya nya Arun membelai rambut Alana, menyelipkan rambut ke telinga nya yang jatuh membingkai wajah Alana.
Arun masih menatap, perlahan mendekat, hingga Alana sudah menutup matanya meski bibir Arun masih belum menyentuh bibir sensual milik gadis itu.
Alana ingin membuktikan pada Arun, terlebih pada dirinya sendiri, kalau dia tidak menikmati ciuman seperti yang dikatakan Arun tadi.
Ciuman tipis itu berubah menjadi ciuman mendamba, liar dan memabukkan. Arun mendesak ingin masuk dengan menggigit bibir bawah Alana dengan lembut, hingga gadis itu membuka mulutnya, menerima rasa nikmat yang ditawarkan Arun padanya.
__ADS_1
Bibir Arun yang sedang bekerja tidak bisa menahan senyum, ketika disadari Alana nya sudah mulai membalas ciuman itu. Alana mungil dan polosnya hanya dengan menggeliat dibawah sana sudah bisa membuatnya mendamba.
Adu bibir itu semakin panas. H*sapan diantara atraksi membuat ******* manja keluar dari bibir Alana. Arun sudah tidak berdaya akan hasil perbuatannya sendiri. Dia turun, menikmati leher jenjang Alana, mengh*sap pelan membuat tanda cinta di sana.
Sesuatu yang luar biasa terjadi, yang belum pernah Alana rasakan. Ada bagian dalam dirinya yang ingin meledak. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi.
"Bang..ah.." desisnya saat tangan Arun sudah menangkup bagian dada Alana. Menciumi penuh sayang.
Dorongan untuk menarik baju Alana ke atas, agar bagian tubuhnya indah terlihat tentu saja menjadi godaan terbesar saat ini, tapi Arun masih bisa mengendalikan b*rahinya. Dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan menyentuh Alana lebih jauh lagi sebelum wanita itu mengakui perasaannya pada Arun.
"Baaaang.."desisnya gelisah sebelum dirinya meledak sempurna. Alana menggenggam erat leher Arun dengan bibir bertaut, pria itu menemani Alana menuju puncaknya. Mungkin itu bukan yang sempurna, tapi bagi Alana si pemula, itu sudah lebih dari cukup. Buktinya bisa membuat nya lupa diri, melayang ke nirwana yang paling tinggi.
Senyum menggoda yang terbit di bibir Arun, membuat Alana gemas dan memilih untuk mencubit lengan Arun.
Wajah Alana memerah sempurna. Semu di wajahnya pertanda dirinya sudah kalah. Arun benar, dia memang menyukai ciuman panas itu. Apakah benar dia sudah mulai menyisihkan ruang di hatinya untuk Arun?
Arun membantunya duduk. Menatap wajah satu gadis itu. "Jangan pernah katakan kau tidak mencintaiku walau sedikitpun" ucap Arun membelai wajah Alana lembut sebelum mengecup kening istrinya lama sembari mengucapkan doa dalam hatinya untuk Alana.
***
"Bi Minah, lihat Arun?" tanya Lily yang baru saja tiba dari rumah Santi setengah jam lalu. Sudah kesemua tempat dia mencari Arun, tapi tidak menemukannya.
"Bibi ga tahu Bu" sahut bi Minah berbohong. Jelas bi Minah tahu majikannya sejak sejam lalu masuk ke dalam kamar Alana dan hingga kini masih ada di dalam.
Maaf Bu, non Alana kan juga istri bapak. Mereka punya hak berdua..ibu harus bisa terima, karena ibu lah yang membuat semuanya terjadi, dalam satu atap, ada tiga hati..
__ADS_1