
"Ada apa Kak? Kok dari tadi aku lihat diam aja?" Ayra menyentak Kasa dari lamunannya. Gadis itu menatap penuh tanya melihat kening Kasa yang berkerut.
"Eh, gak papa, Ay." Kasa berusaha menelan salivanya, tercekat dan sakit. Diraihnya air mineral yang ada di meja. Cafe di dekat sekolah Bhinneka, tempat mereka biasa nongkrong sepulang menjemput Ayra terlihat sepi, tidak seperti biasanya.
Kasa memandang jauh ke luar pintu. Suatu kebetulan, di luar sana ada seorang wanita dengan anak laki-laki berusia kurang lebih tiga tahun, duduk di tepi jalan dekat pintu masuk cafe. Keduanya tampak sedang mengamati pejalan kaki yang lalu-lalang melewati mereka dan berharap membeli dagangan sang ibu. Terlihat di depannya ada sebuah keranjang berukuran sedang berisi mainan hasil buatan sendiri.
Sesekali tampak wanita itu menyodorkan mainan ke arah orang lewat, mencoba peruntungan, siapa tahu mau beli, tapi sejauh pengamatan Kasa, tidak ada satupun.
Kembali Kasa menghela napas. Hidup memang keras. Gadis itu terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, hampir seumuran dengannya. Bagaimana kalau hal yang sama terjadi juga pada Sania?
Bagaimana kalau Arlan tiada, bagaimana nasib Sania dan anaknya? Apakah harus seperti wanita itu kelak? Kembali dia teringat perdebatannya dengan Sania malam itu.
"Sebaiknya kamu memberitahukan pada keluarga Arlan. Cobalah bicara pada Tante Alana," saran Kasa yang pada akhirnya tidak jadi pulang. Dia memutar tubuhnya menghadap Sania yang kini sudah mengangkat wajah menatap ke arahnya.
Kasa mengambil tempat di depan Sania. Satu kursi dia angkat dan mulai berhadapan.
"Aku gak bisa, Kasa. Itu gak mungkin," sambar Sania menghapus jejak air matanya. Sedikitpun tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Kenapa gak mungkin? Ini darah daging Arlan, cucu mereka."
"Begitukah? Lantas bagaimana reaksi mereka mengetahui mempunyai cucu dari wanita yang ayahnya napi? Kamu lupa siapa keluarga Dirgantara? Hampir semua orang di kota ini mengenal Arundaya Dirgantara!" seru Sania semakin merasa frustasi. Setiap dia mengatakan penolakannya pada Kasa, setiap pula seolah hal itu dia lakukan untuk mengingatkannya juga.
Kasa mengepal tinju. Persetan dengan kehormatan dan nama baik! Namun, dia juga tidak menampik sekaya dan setenar apa keluarga itu. Nama belakang mereka bisa tercemar. Namun, apa pantas mengorbankan Sania dan anaknya demi menjaga nama baik?
"Sialan! Bangun lu Ar, lihat masalah yang lu ciptakan, baji*ngan!" umpatnya geram, meninju pegang kursi.
Sania kembali menunduk. Dia terlalu lemah untuk berdebat dan berpikir lagi. Dia mau pingsan rasanya.
"Sekarang kamu istirahat. Besok kita pikirkan lagi."
"Tapi kamu janji, kan, gak akan bilang sama siapapun, terlebih Tante Alana?" Mata Sania memohon belas kasih Kasa. Dia tidak akan punya muka untuk bertemu keluarga itu besok. "Kasa...," rengek Sania hingga membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain mengangguk lemah.
__ADS_1
Kasa pulang dari kamar hotel pukul tiga pagi, setelah dia memastikan Sania tidur dengan nyenyak.
Pada manager hotel yang juga dia kenal karena sebenarnya, Kaisar punya saham di hotel itu.
"Saya akan pastikan teman kamu baik-baik saja," jawab manager hotel yang berada di sana saat itu.
Kasa bisa tenang sekarang. Dia tidak mungkin kembali ke rumah sakit, jadi memutuskan untuk ke bar, minum hingga tertidur di sana.
"Nah'kan, melamun lagi. Ada apa, sih? Kakak kayaknya nyimpan sesuatu dari aku," ujar Ayra dengan nada manja. Baru aja mereka dekat, bahkan jadian juga belum sah karena Kasa belum menyatakan cintanya secara jelas pada Ayra, meski sudah menunjukkan perhatian sebagai bentuk rasa sukanya, masa iya mereka sudah harus pisah?
"Gak ada, Sayang. Udah, habisin makannya, biar kita ke rumah sakit."
***
Alana masih setia menjaga Arlan yang lagi-lagi masih belum sadarkan diri. Dita juga ada di sana menemani. Biasanya mereka akan bertukar, kalau Sania dan Kasa datang, tapi hari ini Sania belum ke rumah sakit.
Pagi tadi, masih dengan kepala pusing kebanyakan minum, Kasa melaju ke hotel me jemput Sania. Pagi ini gadis itu ada shift pagi, jadi Kasa langsung mengantarnya ke restoran.
Barulah saat malam hari, Arun yang menjaga Arlan, Alana dipaksa untuk beristirahat di ruang sebelah bersama Sania.
"Iya, Ma." Ayra mencium punggung tangan Alana lalu Dita. "Mama dan Tante Dita makan dulu, ini Ay bawakan makanan."
Alana hanya mengangguk lemah. Bungkusan yang diletakkan Ayra di atas meja sama sekali tidak menggodanya untuk membuka.
"Sania mana?" tanya Alana yang baru menyadari kalau hanya Kasa dan Ayra yang datang. Biasanya gadis itu tidak pernah absen mengunjungi Arlan. Tadi malam Alana pikir setelah pulang kerja, Sania akan kembali ke rumah sakit untuk tidur di sana bersama Alana seperti biasanya, tapi tunggu punya tunggu, gadis itu tidak datang. Alana yang khawatir mencoba menghubungi nomornya, tapi tidak aktif.
"Dia masih kerja, Tante. Mungkin sore baru ke sini," jawab Kasa mengempaskan tubuh penatnya di sofa. Dia memejamkan kelopak matanya sejenak. Dia juga lelah. Walau bukan dia yang berbaring di sana, tapi rasa sakit juga dia rasakan.
Kasa menatap lurus ke arah Arlan. Pria itu masih betah bermain-main di dimensi lain hingga tidak ingin segera pulang ke tubuhnya.
"Brengsek! Bangun, Ar. Lu harus lihat Sania. Gak kasihan lu lihat dia? Saat ini dia butuh lu, dia bingung dan ketakutan!" Semua umpatan itu tentu saja hanya ada dalam benak Kasa. Dia masih memegang janjinya pada Sania untuk tidak mengatakan apapun soal kehamilannya.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah, Kasa. Kelihatan banget kamu kurang tidur. Jangan sampai sakit, Nak," ujar Dita prihatin pada keadaan anaknya.
Kasa menurut. Perlahan tanpa sadar, Kasa jatuh tertidur di sofa. Ayra bangkit, dan menyelimuti tubuh Saka. Lama Ayra mengamati prianya itu.
"Aku tahu kamu menyimpan sesuatu dari aku, Kak. Tapi aku gak akan memaksa kamu untuk cerita padaku. Aku akan menunggu dengan sabar sampai kamu mengakui kalau aku bisa dipercaya untuk berbagi masalah apapun," cicit Ayra sebelum kembali pada mamanya dan Dita.
***
"Bagaimana keadaanmu hari ini, apa semua baik-baik aja? Kamu udah makan? Bagaimana keadaan... dia?" Tatapan Kasa terhenti di perut Sania yang masih rata.
Sania mencoba menarik sudut bibirnya, membentuk satu senyuman.
"Aku udah makan, dan kami baik-baik saja."
Benar, 'Kami'. Sania tidak lagi sendiri, kini sudah berdua dengan janin dalam perutnya.
"Baguslah. Kamu harus jaga kesehatan." Kasa memasangkan helm di kepala Sania dan mengunci pada dagu gadis itu.
Sania merasa bersyukur memiliki Kasa di sisinya saat ini. Oh, dia jadi merindukan Arlan. Seharusnya dia yang ada di sini, memasangkan helm di kepalanya, seperti biasanya pria itu lakukan setiap mereka jalan.
"Kita berangkat," kata Kasa, segera menghidupkan motor setelah dipastikan Sania duduk aman di atas motor.
Hari ini Sania lebih tenang. Tidur cukup membuatnya bisa berpikir waras dan meredam emosinya.
Tiba di kamar Arlan, dia segera mendekat pada pria itu. Alana dan Dita minta izin turun ke kafetaria rumah sakit, sementara Ayra minta ditemani Kasa ke swalayan rumah sakit mewah ini di lantai dasar.
"Hai, apa kabar? Kenapa betah benget, sih, tidur terus? Gak kangen sama aku? Arlan, bangunlah," Air mata Sania mulai turun menggenangi pipinya.
Sania menggenggam erat tangan Arlan dan meletakkan di atas permukaan perutnya, lalu menunduk serta berbisik di telinga Arlan.
"Aku mohon, Arlan, bangunlah. Kembali pada kami. Bangun, Sayang, aku dan anakmu membutuhkanmu. Aku hamil anak kita, Arlan."
__ADS_1