Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Mengetahui kebenaran


__ADS_3

"Ngapain lo disini?" hardik Kai kaget. Sejak di tubruk Alana tadi, Kai sudah mengenali gadis kecil itu. Hanya saja masih diam hingga Alana mendongakkan wajahnya.


"Bangkai juga ngapain disini?" tanya Alana balik.


"Gue tanya, lo malah balik nanya. Lo ngapain disini? apa lo ga tahu ini tempat apa?" hardik Kai kasar. Melihat Alana berada disini, membuat Kai khawatir kalau gadis polos itu akan dimanfaatkan orang.


"Lo kalau lagi ada masalah dengan suami jangan cari tenang disini. Masuk kamar, lo berdoa, minta petunjuk sama yang kuasa!" ucap Kai yang membuat Ferguson mengulum senyum. Pasalnya geli mendengar Lucifer memberi nasehat yang masuk akal. Dia sendiri aja ada masalah ga pernah sholat, malah menenggak minuman.


"Bos...bos...bisa ae biji salak ngasih petuah, dia sendiri ada masalah malah nongki dimari"batin Ferguson tersenyum.


"Hah? ga kok. Aku ga punya masalah sama bang Arun. Orang kita baik-baik aja kok"


"Jadi ngapain lo kesini?"


Baru saja Alana akan menjawab, Kai sudah menarik tangan Alana keluar club, menuju parkiran dan masuk ke mobil.


"Gue ga mau ada yang kenal sama lo, atau ga kenal lo istri si b*ngsat Arun, lihat lo disini mencap lo gadis ga benar. Apalagi sampai suami lo tahu lo kemari, habis lo dibuat jadi sate!"


"Ih, benar banget. Jangan sampe suami aku tahu bang, aku disini" ucap Alana menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Ga usah lo tutupi, mobil gue mobil mahal. Ga bakal kelihatan dari luar"


"Oh, bagus lah. Tapi kok abang tahu kalau suami aku bakal marah kalau sampai tahu aku kelayapan disini"


"Semua suami normal juga bakal marah, Oneng kalau tahu istrinya beredar di tempat haram jadah kayak gini!" ujar Kai memugar sisiran rambutnya. Ferguson yang duduk dibalik setir hanya bisa mengulum senyum.


"Iya bang, benar. Jangan sampai suami aku tahu"


"Memangnya kemana dia?" tanya Kai memicingkan mata.


"Ke Kalimantan. Baru berangkat pagi tadi"


"Pantas lo bisa kelayapan gini. Sebenarnya lo mau ngapain di sana?"


"Mmmm...kan udah ku bilang cari teman"


"Temanmu jualan di sana?"


"Bukan lah, enak aja!" sambar Alana tegas. Tidak terima sahabatnya dikatain.


"Terus?"


Seketika Alana diam. Dia juga harus bingung jawab apa. Pasalnya dia tidak boleh membuka aib sahabatnya kan?

__ADS_1


"Woi...!"


"Apa sih bang?"


"Jawab dong, malah bengong!"


"Aku ga bisa jawab. Karena kalau aku bilang, sama aja itu nyebarkan air sahabatku sendiri" Alana menunduk, dimana saat ini Dita? dia begitu khawatir. Om Rudi juga jatuh sakit, seperti yang dikabari tante Mita, mamanya Dita. Semenjak Dita kabur, terus mencari hingga kelelahan dan jatuh sakit. Sementara anak buahnya yang ditugaskan mencari Dita, juga tidak ketemu.


"Lo mau cerita apa ga? siapa tau gue bisa bantu. Itung-itung bayar utang karena dulu Lo udah nolong gue ngomong sama nenek Rosi"


Sesaat Alana berpikir, benar juga. Kai pasti punya kuasa dan juga orang-orang pasaran yang sering berkeliaran di dunia malam, buktinya aja pria bejat itu suka ke club. Tapi apa iya boleh menceritakan masalah pelik Dita sama orang lain? tapi kalau mau buat laporan ke kantor polisi juga pasti harus jujur kan duduk perkaranya?!


"Ok deh, aku cerita. Tapi janji ya, abang jangan bilang sama orang lain"


Mmmm...


"Janji dulu"desak Alana menagih janji setia Kaisar.


"Bawel nih cewek ya. Iya gue janji. Lagian sama siapa gue cerita, penting banget sih lo dan teman lo itu, kenal juga ga!"delik Kai mulai kesal. "Udah Ferguson..lo nyetir, kita antar nih cewek sableng" gumamnya menepuk pundak Ferguson yang sejak tadi setia mendengarkan.


"Eh, tapi aku diminta cerita"


"Ya kan bisa sambil cerita, Oneng. Udah jam berapa ini? kasihan anak lo!" umpat Kaisar dengan kekesalan naik level 2.


"Udah buruan.." lanjut Kai meminta keseriusan Alana.


"Eh, tapi alamat aku bukan yang kemarin, aku udah pindah. Jalan Purwosari ya bang Fergus" ucap Alana seenaknya menyingkat nama Ferguson.


"Mulai ga?!" naik sudah ke level 3!


"Iya, ish..!"


"Teman aku lagi ada masalah bang, jadi dia kabur dari rumah. Orang tuanya udah capek ke sana kemari nyariin"


"Masalah apa? narkoba ya?" sambar Kaisar. Apalagi masalah remaja kalau bukan seputar hal itu.


"Idih, amit-amit ya! jangan sotoy ya!" Alana kesal dengan sikap Kai yang suka asal tebak.


"Lanjut!"


"Teman aku itu lagi hamil dan.."


"Nah kan, benar. Teman lo itu jualan, lo aja yang ga tahu"

__ADS_1


"Aaaau..." pekik Kai mengelus pahanya tempat Alana baru saja mencubitnya.


"Rasain! makanya jangan suka asal tebak. Teman aku itu hamil karena udah ditipu sama buaya, pria brengsek, kurang ajar, ga punya otak!" maki Alana penuh semangat.


"Ditipu gimana?"


"Malam itu dia bertengkar sama papanya, terus karena kesal pergi ke club, sadar-sadar dia udah dikamar, tanpa pakaian dan ya gitu, perawan nya diambil" ucap Alana pelan, lidahnya keluh untuk mengucapkan kalimat terakhir.


Deg!


Jantung Kai seketika berhenti. Semua yang diucapkan Alana tiba-tiba merujuknya pada seorang gadis yang sudah dia nodai, yang bernasib sama dengan teman Alana itu.


"Na-nama teman lo itu siapa?" suara Kai berubah halus, bahkan nyaris tak terdengar ditelinga Alana.


"Hah?" ulang Alana kurang dengar.


"Teman mbak itu siapa namanya?" sambar Ferguson dari depan. Dia mengikuti setiap alur cerita Alana, dan saat ini pun dia tahu kalau bos nya sedang keringat dingin. Berharap kalau orang yang saat ini mereka bahas bukan gadis itu.


"Oh.. namanya Dita Angraeni Setyawan. Itu loh bang, gadis yang pernah abang tanya waktu nikahan aku"


Tiiiiit! jantung Kai berhenti. Dia mati. Tewas seketika, dan besok di semua media cetak dan elektronik akan memuat berita besar, headline news, pengusaha sukses Kaisar Barrel meninggal dunia karena menahan nafas terlalu lama!


Seandainya itu bisa terjadi, pasti Kai akan lebih tenang. Tapi tidak, dia tidak mati. Tidak semudah itu untuk lepas dari tanggung jawab. Dia harus diadili!


"Bangkai, wajah mu kok pucat pasi gitu?" tanya Alana menyikut lengan Kai.


Ferguson dibalik setir justru mengulum senyum. Berita yang pasti membuat bosnya itu akan terjaga semalaman.


Selamat ya bos, ntar lagi jadi bapak. Lagian udah waktunya bos..


"Eh..jadi Dia lagi hamil?" tanyanya memastikan.


Tenang Kai, belum tentu juga dia hamil anak lo, siapa tahu habis mantap-mantap sama lo dia main juga sama yang lain..


"Tadi juga udah aku bilang, Dita lagi hamil. Seminggu lalu aku nganterin dia ke dokter. Kata dokter udah hamil 4 bulan"


Kai membisu, diingat kembali, benar kejadian itu sudah empat bulan lalu. Keringat dingin mengucur deras di kening, padahal pendingin udara di mobilnya berfungsi dengan baik.


"Hamil?" gumam Kai nyaris tak terdengar.


***Hai..aku datang lagi, sembari nunggu up, mampir ke sini juga ya, makasih


__ADS_1


__ADS_2