Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kabar dari Dita


__ADS_3

Rengekan Alana untuk dibolehkan menyentuh mainan kesukaannya ternyata berhasil. Arun toh juga cuma bercanda. Suami normal mana yang bisa tahan puasa hingga seminggu lebih, sementara sang istri ada di dekatnya.


Lagi pula Arun tidak bisa marah pada Alana. Gadis polosnya itu menangis sesunggukan kala Arun menggodanya, mengatakan tidak ingin disentuh oleh gadis itu. "Maafin aku, bang. Jangan benci sama aku," ucapnya di sela isakan yang terdengar pilu.


Arun yakin, bertambahnya usia istrinya, pasti akan merubah sikapnya menjadi lebih dewasa. Arun juga sudah memastikan, pada malam Alana ke club, tidak ada yan menyakitinya di sana. Tidak tanggung, Arun bahkan meminta temannya yang kebetulan pemilik tempat itu untuk menunjukkan cctv club itu.


Tidak ada insiden yang berarti, dan itu membuat Arun tenang. Tapi seperti kata Arun tadi padanya, ini adalah tindakan bodohnya yang pertama sekaligus yang terakhir.


Penutup dimalam itu, Alana mendapatkan apa yang diinginkannya. Semuanya, maaf dari Arun, dan juga mainan kesukaannya yang selalu dibawa Arun kemanapun pria itu pergi.


Arun menarik tubuh lelah istrinya yang kini sudah tertidur pulas. Malam ini mereka hanya melakukannya dua kali, walau Alana ingin nambah. Arun paham dengan sikap agresif istrinya malam ini, setiap baru selesai h*id, n*fsu Alana akan meningkat, dan hal itu sangat disukainya.


Pada pertarungan kedua, waktunya lebih lama. Arun sengaja memperlambat ritme permainan, agar Alana bisa menggapai puncaknya berkali-kali, baru lah kebutuhan Arun menyusul. Melihat wajah puas istrinya, Arun hanya bisa tersenyum. Kadang dia tidak habis pikir, begini lah yang namanya cinta, tingkat si penikmat cinta akan seperti orang gila. Suka tersenyum, dan akan seperti gelap ketika jauh dari kekasih hati.


Mungkin usia Arun sudah melewati masa jatuh cinta layaknya ABG, yang orang sebut bucin akut. Tapi nyatanya, bersama Alana, dia merasakannya. Gadis itu mampu memberikan senyum sekaligus tangis disaat yang bersamaan. Dunia Arun menjadi lebih berwarna bersama gadis itu.


Tenanglah Lily di sisiNya. Tapi kalau mau jujur, bersama Alana Arun merasakan hidupnya lebih bermakna. Hatinya harus memiliki stok sabar, atau setidaknya mengharuskannya bersabar lebih lagi saat menghadapi istrinya.


Kalau Alana menganggap Arun adalah malaikat yang selalu membimbingnya, dan mengatakan Hal terbaik dalam hidupnya adalah bertemu Arun, justru pria itu yang merasa beruntung bisa memiliki Alana. Kadang Arun takut, perbedaan usia mereka yang cukup jauh membuat Arun tidak bisa mengimbangi jiwa muda Alana yang masih ingin nongkrong di cafe, nonton, atau pun makan jagung dipinggir jalan.


Saat gadis seusianya justru lagi menikmati masa muda mereka dengan bersenang-senang dengan temannya, Alana justru harus di rumah mengurus anak dan suaminya.


"Maafkan aku, sayang. Merebut masa muda mu. Tapi aku juga tidak menyesali pernikahan kita saat itu. Karena kalau bukan karena pernikahan itu, saat ini mungkin kau tidak ada di sisiku. Berbaring dengan tubuh polos dibawah selimut yang sama denganku," ucap Arun bermonolog sebelum ikut terbuai dalam arus mimpi.


***


Berulang kali bunyi hape Alana bergema di ruangan itu, tapi karena kelelahan, kedua anak manusia itu tidak ada yang mengangkat.


Terlalu dini untuk bangun. Lagi pula cuaca mendung diluar sana, seolah membujuk untuk tidur kembali lebih lama.

__ADS_1


"Pagi...," sapa Arun yang lebih dulu bangun. Sudah sepuluh menit yang lalu tepatnya. Namun pria itu masih betah mengamati wajah cantik Alana ketika sedang tidur.


"Jam berapa?" gadis itu menggeliat. Tidur begitu nyenyak, dan sepertinya peredaran darahnya begitu lancar. Kepalanya tidak berdenyut lagi, moodnya juga bagus pagi ini. Alana merasa dirinya seperti gadis yang baru terlahir kembali.


"Jam sepuluh"


"Hah? yang benar, bang? kok aku ga dibangunin? aku kan mau ke toko" Alana bergegas melempar selimutnya, namun tangan suaminya sudah kembali menarik Alana.


"Hari ini kita work from home aja. Aku masih kangen, masih pengen berduaan" seperti biasa, wajah Alana bersemu merah. Padahal sudah kesekian kali Arun menikmatinya.


Mau buka mulut menyanggah, namun dia ingat perjanjian dirinya dengan Arun, dan juga lebih dengan dirinya sendiri, untuk menjadi istri yang patuh.


"Apa kata abang aja deh, adek nurut aja" ucapnya mengerlingkan mata menggoda. Arun tertawa lepas, bahagia dan detik itu juga Alana sadar, betapa mudahnya membuat pria itu bahagia. Hanya dengan jadi penurut.


Perasaan Arun begitu bahagia pagi ini. Memulai harinya, tentu saja mereka harus mandi, dan tentu saja berdua, dan benar...mengulang kenikmatan duniawi yang tidak pernah mengenal adanya kata cukup.


***


"Dari mana aja sih lo, beb? gue telponin ga ngangkat. Tega lo, ya" serang suara dari seberang.


"Aduh, sorry, Ta. Aku tadi lagi mandi, jadi ga dengar"


"Bokis lo. Orang gue hubungi mulai jam 2 pagi, lo ga ngangkat," ucapnya terdengar kesal.


"Hah? masa iya? maaf deh, Ta. Aku ga dengar. Nyenyak banget tidurnya semalam " Alana jadi merasa tidak enak karena hal itu.


"Habis digempur lo ya sama lakik lo, makanya tepar?" goda Dita sudah terdengar mulai tertawa.


"Ih, Dita. Kamu udah dimana sekarang?" Alana coba mengoper topik pembicaraan, kalau ga bisa habis-habisan dia dibully sahabatnya itu.

__ADS_1


"Justru karena itu, gue nelpon. Lo kemari dong, lihat gue sama anak gue"


"Anak?" Alana mengernyitkan dahinya.


"Iya, anak gue. Cakep deh, Al"


"Kamu kok udah lahiran?" tanya Alana kaget.


"Makanya itu, lo kemari, temani gue, ya"


***


Laju mobil sudah begitu cepat, namun bagi Alana mobil itu seolah tidak bergerak. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Dita.


"Sabar, Al. Ntar lagi juga kita nyampe," ucap Arun mencoba menenangkan Alana yang terlihat gelisah di bangkunya.


"Tapi aku udah ga sabar pengen ketemu Dita, bang. Harusnya dia belum lahiran saat ini, tapi kok..."


"Iya, nanti bisa kau tanya. Sekarang tenang dulu. Kalau Dita aja bisa bercanda kayak tadi ditelpon, berarti semua baik-baik aja. Sabar ya, sayang" dengan tangan kirinya Arun membelai puncak kepala Alana penuh kasih. Mencoba menenangkan hati istrinya.


Sesuai dengan pesan yang dikirim Dita, mereka masuk ke dalam ruang VIP rumah sakit ternama itu. Begitu membuka ruangan itu saja, orang akan menduga kalau itu adalah kamar hotel, dengan segala perlengkapan mewahnya.


"Beibiiiiiii..." teriak Dita begitu melihat wajah Alana nongol di balik dinding.


"Ta..., kamu baik-baik aja kan? selama ini kamu kemana? ninggalin aku gada kabar, tau-tau udah lahiran aja. Dedek bayinya sehat kan, Ta?" si cengeng Alana justru sudah mulai meneteskan air mata. Dia begitu khawatir hingga mulai dari rumah terus saja berdoa, semoga Dita dan bayinya baik-baik saja.


"Alhamdulillah, gue baik..cuma bayi gue..."


****

__ADS_1


Penasaran bayi Dita gimana nasibnya? lanjut ga nih?😁😁 malam ini mau crazy up tiga bab, tapi bagi support nya dongπŸ™πŸ˜… kamsamida πŸ™πŸ˜˜πŸ˜…


__ADS_2