
Kaisar dalam wujud Sari sudah mengantongi izin dari Mita untuk pulang. Memang perjanjian kerjanya, setiap Jumat sore dia boleh pulang, dan kembali lagi hari Senin pagi.
"Mau kemana?" tanya Dita yang sudah berdiri di depan pintu, melipat tangan di dada. Sejak kemarin sore hingga sore ini, Dita mengunci mulutnya, tidak mau bicara dengan Kai karena ucapan dan tindakan pria itu padanya.
Dita menilai Kai terlalu berani karena menjual namanya pada Marco untuk meminta pria itu pulang dari rumahnya.
"Kata Dita, lo udah boleh pulang. Dia mau ngurus anaknya!" serunya penuh emosi. Hanya begitu, lalu Kai berlalu masuk meninggalkan Marco yang tampak heran. Tidak percaya, Marco pun menghubungi Dita, memastikan pesan itu.
"Sorry, Co. Kasa rewel. Besok aja kita ketemuan lagi ya," ucap nya melalui sambungan telepon.
Alasan kenapa akhirnya Dita buka mulut, menegur Kai, karena Mita memberitahukan kalau Kai akan pergi. Dita menduga karena perdebatan kecil mereka tempo hari yang membuat baby sitter gadungan itu mau hengkang dari rumah itu.
"Pulang.." sahut Kai singkat. Tanpa menoleh kearah Dita, terus memasukkan pakaian dinas nya ke dalam tas. Setelah selesai, berjalan kearah pintu dan lagi-lagi tanpa memperdulikan Dita.
"Tapi Kasar balik lagi, kan?"
"Ga tahu," sahutnya ketus. Terus saja berjalan menuruni anak tangga.
"Kalau Kasa kangen, gimana?"
"Panggil noh, si omicron!" jawabnya asal masih terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
***
Melihat tempat tidurnya saja, Kai begitu gembira. Pulang ke apartemennya seraya mendapat remisi dari penjara. Sebenarnya bukan tidak nyaman tinggal di sana.
Kamar yang ditempati Kai di rumah itu juga bagus, luas, tapi karena dia harus setiap saat memakai pakaian wanita membuatnya tidak bebas bergerak.
List agendanya hari ini, dia akan tidur, hanya pakai boxer, hingga malam nanti. Lalu singgah ke Basterds club, menghabiskan waktunya dengan minum sepuasnya, sebelum kembali ke masa penjajahan hari Senin.
***
"Kita periksa aja ya, Al" ajak Arun menggosokkan minyak kayu putih ke punggung Alana, tak lupa menyapukan di bawah hidung gadis itu.
"Ga usah deh, bang. Aku cuma masuk angin kok" tolaknya sembari memiringkan tubuhnya, dengan paha Arun sebagai bantalan.
"Ya udah. Hari ini kita ga ke dokter, tapi kalau sampai besok ga berkurang juga mual dan pusingnya, kita ke dokter. Siapa tahu kamu hamil, Al"
"Hamil?"
"Iya. Aku ingat waktu hamil Arlan dulu, kau juga begini"
__ADS_1
Perlahan tangan Alana turun, meraba permukaan perutnya yang masih rata. "Apa iya aku hamil?" gumamnya dalam hati. Tapi dia tidak mau terlalu banyak berharap, dia takut kalau ternyata dia tidak hamil, maka akan banyak orang yang kecewa padanya. Tidak hanya Arun, mama Ema juga pasti kecewa.
"Makanya kita ke dokter, ya?" tawar Arun lagi, tapi Alana buru-buru menggeleng. Dia ingin memastikan lebih dulu seorang diri, kalau benar hamil, maka dia akan pura-pura tidak tahu, dan menyetujui saran Arun untuk ke rumah sakit.
"Besok aja ya, Bang" pintanya memejamkan mata. Menekan perasaan ingin muntah yang kembali datang.
***
Tepat pukul delapan malam, Kai bangun dari tidurnya. Itu pun karena Perguson yang datang membangunkan pria itu, sesuai dengan permintaannya, dijemput jam 8 malam.
"Buruan, Bos. Aku udah lapar nih"
Peletak!
Satu sabetan keras mendarat mulus di bagian belakang kepala Perguson. Kai baru selesai mandi, dan mendengar perintah Perguson, langsung memberikan buah tangan berupa jitakan.
"Aau, sakit, Bos" gerutunya mengusap kepalanya yang tadi kena salam manis dari Kai.
"Waktu lo narik dana operasional kantor, buat bayar apartemen lo, ga ngerasa sakit, kan lo?" umpatnya geram.
Hehehe.."Sorry, Bos. Aku kehabisan uang, mana cicilan apartemen udah jatuh tempo"
"Ini pertama dan terakhir, lo ngambil duit kantor tanpa tanda tangan gue!" hardik Kai mengencangkan ikat pinggangnya.
Keduanya meninggalkan apartemen dengan penuh semangat, ini adalah malam pelepasan Kai dari hidupnya yang menyedihkan selama beberapa hari ini.
Suasana ramai penuh hiruk-pikuk sudah menjadi ciri khas club besar ini. Pelanggannya kebanyakan orang-orang ternama dan tentu saja berduit.
Kai sudah masuk, dan bola matanya dimanjakan dengan pandangan yang selalu dia sukai, tapi sialnya, semakin menajamkan penglihatannya, justru wajah Dita yang muncul pada setiap wanita yang dia lihat.
"Pasti gue udah gila. Kelamaan bersama gadis itu, pikiran gue ke dia terus" geramnya.
"Udah jatuh cinta kali, Bos" celetuk Perguson sembari menari-nari mengikuti hentakan musik.
Peletak!
Kembali kepala Perguson menjadi sasaran tangan Kai malam ini untuk kedua kalinya.
"Sakit, Bos. Dianiaya mulu gue!"
"Makanya, bacot lo dikasih filter!" sambar Kai. Berjalan semakin ke dalam, seperti biasa Kai disambut oleh pemilik club.
__ADS_1
"Selamat malam, Bos. Lama ga kelihatan," sapa si pemilik club, menyambut kedatangan Kai, pelanggan VIP yang bahkan memiliki kamar sendiri. Kamar yang tidak boleh di sewakan pada orang lain.
Ah..kamar itu.. mengingat kembali kamar itu, membawa kenangan yang mendalam buat Kaisar.
"Ada barang baru, Bos. Saya suruh siap-siap ke kamar ya, Bos" ucap si agen gendut yang dulu salah memasukkan wanita ke kamarnya yang berujung petaka buat Dita.
"Ga usah, gue lagi ga mood malam ini. Gue cuma pengen minum, bawain gue minum" perintahnya yang dimengerti semua yang menyambut kehadirannya.
Satu botol ludes hanya dalam waktu setengah jam. Perguson bersiap untuk membuka botol kedua, saat mata Kai menangkap sosok gadis yang sangat dia kenal.
Dita!
Kai bangkit, memastikan memang Dita baru saja dia lihat itu. Dibawah pencahayaan temaram, Kai terus memperhatikan Dita yang malam itu bersama Marco, ketepatan meja mereka tidak jauh dari pandangan Kai.
Keduanya tampak asik bercerita. Wajah Dita malam itu begitu cantik dan dewasa di dibawah sinar lampu club yang kerap-kerlip.
Hanya melihat keduanya tertawa bersama saja, hati Kai panas. Entah apa yang mereka bicarakan hingga harus sedekat itu, dan ketika Marco membisikkan sesuatu di telinganya, Dita tertawa terbahak-bahak.
Bruk!
Tanpa sadar, Kai memukul meja yang ada di hadapannya, sebagai ungkapan panas hatinya.
"Santai dong, Bos," ucap Perguson bergidik ngeri. Kalau Bos nya sudah marah, maka tempat ini pun bisa di bakarnya.
"Diam, lo!" umpatnya semakin kesal.
Setiap hatinya panas melihat kemesraan Dita dan Marco, Kai akan menenggak satu gelas minuman, memberikan sensasi panas di tenggorokannya, hingga terasa terbakar.
Gelas dalam genggaman Kai bahkan hampir pecah, saat melihat Marco mencium pipi Dita, dan lebih parah, reaksi Dita yang terkejut itu, hanya menunduk tanpa bisa berkata apapun. Dia sendiri tidak menyangka kalau Marco akan mencium pipinya.
Tidak tahan hanya sebagai penonton, Kai berdiri. Penuh amarah mendatangi meja mereka. Tanpa salam pembuka, langsung menarik paksa tangan Dita hampir saja terjatuh.
"Lepas, apa-apaan sih ini?" hardik Dita menghempas tangan Kai, namun sia-sia. Tenaga pria itu tentu saja jauh lebih kuat darinya.
"Ayo, pulang!"
"Ga mau. Lepaskan tangan gue! Dasar gila!" Dita masih berusaha melawan.
"Hei, siapa lo, lepasin tangan pacar gue" Marco ambil peran.
"Pacar?!" Gedebuk! Marco terjerembab ke meja setelah mendapat pukulan dari Kai tepat di rahangnya.
__ADS_1
"Lo ikut gue pulang dengan suka rela, atau gue gendong?!"
***Hai semua, cerita ini akan berakhir beberapa hari lagi, kisah utama Alana dan Arun sudah berakhir bahagia, kalau pun terselip hanya menunggu apakah Alana punya anak lagi, atau justru ditakdirkan punya Arlan aja. Bab kedepannya, kita fokus sama Kai-Dita, Gara- Nadia ya. Please jangan ada yang komplenπππ₯Ί. Salam sayang, salam sehat mi untuk kita semuaπππππ