Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Curhat


__ADS_3

Kai tidak bisa terpejam sedikitpun. Percayalah, dia lelah. Pikiran dan juga tubuhnya, tapi mengingat wajah Dita yang terluka tadi siang membuat matanya tidak mengantuk. Dia ingin fajar segera datang, agar dia bisa segera pergi menemui Dita, memastikan gadis itu baik-baik saja.


Dari pada ambil resiko, Kai akan segera memberitahukan perihal siapa dirinya, dan dia berniat untuk menikahi Dita.


***


Pagi-pagi sekali, diantar Perguson, Kai kembali ke rumah Setyawan dengan indentitas baby sitter gadungan nya.


Dita masih tidur, dia sempat membuka pintu kamar gadis itu, ada Arlan juga yang tidur disebelahnya. Melihat kedua pencuri hatinya itu membuat perasaan Kai menghangat.


Seandainya pun, lo bukan darah daging gue, gue akan tetap sayang sama lo, Cil!


Takut akan menggangu tidur keduanya, Kai memilih untuk keluar. Lebih baik menunggu hingga gadis itu bangun.


"Sar, ibu boleh minta tolong ga? kamu tanyain Dita, anak itu ada masalah apa sih? sejak kemarin bawaannya kesal melulu. Ga mau diajak ngobrol. Makan juga mau, cuma dalam kamar ngurung diri," ujar Mita menghampiri Kai yang sedang menyeduh kopi untuknya.


"Kenapa gitu ya, Bu. Apa dia punya masalah, ya?"


"Tante juga ga tahu. Pulang dari jalan sama Alana, dia langsung masuk kamar. Malam nya tante lihat dia tidur dengan sisa air mata di pipinya. Tante khawatir dia lagi ribut dengan Marco" Kai hanya diam mendengar perkataan Mita. Dia tahu pasti alasan kesedihan Dita.


Kenapa hatinya begitu tidak tenang, saat mengetahui gadis itu tengah bersusah hati? "Sar, kamu mau dengar, kan?" ulang Mita meminta perhatian Kai yang terlihat bengong.


"Eh..baik, Bu"


Rudi sudah berangkat ke kantor, dan Mita juga pagi itu pergi mengikuti kegiatan sosial yang dilakukan yayasan sosial miliknya.

__ADS_1


Bingung harus apa, Kai duduk di ruang keluarga, menunggu Dita bangun. Mungkin karena begadang tadi malam, tidur gadis itu pagi ini sangat nyenyak. Bahkan saat masuk ke kamarnya tadi mengambil Kasa, gadis itu tidur dengan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut, sudah seperti dadar gulung.


"Ada apa dengan mama mu, Nak? Kenapa dia begitu sedih? apakah itu karena aku?" Kaisar mengajak Kasa berdialog walau bayi itu hanya melotot padanya dan sesekali tersenyum. Seolah meminta Kai untuk bermain sebentar. Kai melayani, menggelitik bayi yang kini sangat gempal menggemaskan itu. Bayi itu tertawa kecil menunjukkan mulut ompong nya.


Tanpa sadar Kai pun tersenyum. Tidak menyangka hanya dengan menggelitik bayi yang belum genap dua bulan ini sudah membuatnya gembira. Asik mendorong Stroller Jasa, kaki Kai tidak sengaja menendang album photo yang terlihat lusuh.


Penasaran Kai membuka lembar per lembar. Wajah gadis kecil lucu yang hampir semua gigi nya sudah habis jadi pengisi album itu. Kai menebak, itu adalah photo Dita kecil. Senyumnya mengembang, membayangkan gadis keras kepala itu sewaktu kecil.


"Kasar... akhirnya kamu datang juga," pekik Dita menghambur ke sisi Kai. Asik melihat photo membuat pria itu tidak mendengar langkah Dita tadi turun.


"I-iya..."


Deg! Debar jantung Kai tidak sehat lagi, berdetak tidak sesuai aturan. Bagaimana tidak, Dita bisa saja cuek dengan penampilannya, tapi Kai? itu sama saja menyiksa. Membawa Kai yang haus ke oase yang ternyata adalah fatamorgana.


Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Apa gadis ini selalu begini kalau tidur?


"Kasar, ayo ke kamar. Aku mau cerita" ajaknya menarik tangan Kai.


"Eh, sebentar" Kai buru-buru mengambil Kasa dari stroller nya. Setidaknya kehadiran Kasa di sana bisa membendung niat Kai untuk menguasai tubuh Dita di bawahnya.


Dita merampas Kasa dan langsung memasukkan bayi itu di box besar di ruangan itu. Dita butuh perhatian Kai sepenuhnya untuk menyimak ceritanya kali ini.


"Sini, Kasar." Dita menepuk-nepuk tempat di sisinya. Dengan jantung yang semakin lama tidak bisa dikondisikan, Kai menurut. Duduk di dekat Dita.


Ya, Allah...ampuni dosa hamba. Jangan siksa lagi lebih lama. Izinkan hamba menikahi gadis sialan yang begitu menggoda ini. Ya, Allah...akan bagaimana nasib gue nanti hidup dengan gadis ini? kenapa gue bisa cinta sama gadis keras kepala ini?

__ADS_1


Dita menangkap mata Kai yang melotot melihat kearah paha Dita yang mulus. "Kasar, kenapa lihatin paha aku?" Dita yang merasa risih, menutupi dengan tangannya.


"Hah? Oh.." gugup Kai begitu terlihat. Apalagi ketahuan melirik paha gadis itu. "Aku minta kamu kalau keluar kamar, jangan pakai pakaian begini"


"Loh, emang kenapa? kan, di rumah aja, kok"


"Tapi banyak pelayan pria di rumah ini yang lalu lalang melihat mu. Sebagai wanita kau harus bisa menutup aurat mu dan hanya suami mu lah yang berhak" entah dari mana Kaisar menadapat ide untuk menasehati Dita.


"Kasar, ih...udah kayak orang tua aku aja, rewel," cibir nya mengerucutkan bibir.


Tolong dong, Dita, jangan bangunkan singa dalam diri gue yang udah lama tertidur ga di kasih makan...pengen bet gue gigit itu bibir..


Kai menelan salivanya dengan berat. Membuang pandangannya ke arah lain, agar bisa sedikit menarik nafas yang menghalau pikiran kotor dari kepalanya.


"Tapi yang aku bilang ini benar. Jadi ga ada salahnya kau nurut" akhirnya Kai bisa mengembalikan pikiran jernihnya.


"Iya deh. Aku ga akan keluar dengan pakaian begini. Udah, ada yang lebih penting yang mau aku ceritakan sama, Kasar" Dita Kembali ingat permasalahan yang membuatnya iring-iringan seperti saat ini.


"Masalah apa?" Kai pun menjadi penasaran. Mungkin ini yang membuat Dita menangis semalaman seperti yang Mita katakan tadi pagi.


"Aku...mulai dari mana, ya?..mm, dari Marco aja" wajah Kai terlihat masam. Ini ternyata masalah Dita dengan Marco. Tahukah Dita bahwa Kai tidak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan Marco.


"Marco mau melamar aku. Mami dan papi juga udah setuju"


Tangan Kai terangkat. "Sebentar aku potong, aku mau tanya, apakah kau mencintai pria itu?"

__ADS_1


Kalau ternyata Dita memang mencintai pria itu, maka Kai seharusnya bijak untuk membiarkan keduanya saling mencintai. Di atas semuanya yang terpenting adalah Dita bahagia, tidak penting dengan pria manapun, asal bisa menjamin gadis itu serta anaknya bahagia, itu sudah cukup bagi Kai.


Walau siapa saja coba belah dada Kai, dia pasti tidak akan bisa melupakan gadis itu. Entah itu hukuman atau justru berkah buatnya, Kai tidak bisa lagi melupakan Dita. Gadis itu melekat di hatinya. Hanya gadis itu yang bisa membuatnya berani membentuk rumah tangga di tengah bayang-bayang masa lalunya.


__ADS_2