Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Waktu tak bisa diulang kembali


__ADS_3

Taman rumah sakit itu begitu ramai dikunjungi pasien pagi ini. Mungkin mereka jenuh terlalu lama berbaring di ranjang rumah sakit, dan ingin menghirup udara pagi ini.


Di salah satu kursi kayu di taman itu, kedua kakak beradik itu duduk dalam diamnya. Jika Lily diam tidak tahu harus berkata apa untuk kalimat pembuka dalam memulai percakapan ini, Alana justru diam agar bisa menahan air matanya. Dia tidak ingin menangis, karena kalau dia menangis, ada dua kemungkinan yang terjadi.


Pertama, Lily akan ikut menangis, kedua Lily akan malu dilihatin pasien dan keluarga mereka yang sedang ada di taman itu, karena Alana akan menangis sekencang-kencangnya.


"Hei.." ucap Lily menoleh pada wajah Alana yang masih menunduk.


"Kapan ya terakhir kali kita duduk berdua gini? kayaknya udah lama banget..kangen saat kita duduk di cafe eskrim favorit kita. Pulang kuliah aku jemput kau ke sekolah, lalu kita pergi senang-senang. Andai waktu bisa di putar ya dek" ucap Lily dengan suara bergetar. Kali ini Alana tidak bisa lagi menahan diri.


Matanya merah menahan perih cairan bening yang ingin jatuh di pipi. "Aku ga mau bicara sama kakak," ucapnya kembali membuang muka.


"Al.." panggil Lily lagi. Tapi gadis itu masih terus menatap ke arah lain. Ada dua gadis kecil berwajah mirip, Alana tebak mereka kakak adik, karena gaunnya pun sama. Tidak kembar, tapi pasti mereka kakak adik. Berdua saling berpelukan, berjalan dan tertawa riang di taman itu.


"Alana Adhinata" panggil Lily menghapus air matanya yang jatuh ke pipi.


"Aku membencimu kak, jangan bicara padaku!"


"Jangan benci aku dong, nanti aku sedih"


"Bodo" Alana seperti anak kecil yang kesedihannya membakar hati, ingin sekali teriak karena kesal tapi ga tahu bagaimana melampiaskannya.


"Al..mau kah kau memelukku? sebentar aja, please.." suara Lily tak lagi hanya bergetar, tapi gadis itu sudah menangis tersedu.

__ADS_1


Alana menoleh, melihat dengan tatapan marah, lalu menghambur memeluk saudaranya itu. Manusia satu-satunya yang buat dia bisa bertahan sejauh ini dalam hidupnya, sejak dirinya di buang.


Keduanya tidak perduli tatapan orang yang lewat dari depan mereka. Mereka terus saja menangis melampiaskan semua rasa sedih dan himpitan di hatinya.


Di dalam ruangan tadi Alana diam seribu bahasa saat menemani Lily kemo. Gadis itu tersentak saat Alana muncul dalam ruangan itu. Dia tidak menyangka kalau Alana akan mengikutinya. Sepanjang proses kemo Alana hanya diam, menyaksikan tubuh kakak yang menjadi lemah setelah diberikan obat oleh dokter dan meminta seminggu ke depan harus istirahat total.


"Kenapa kau ga cerita sama ku kak? kau jahat menyimpan beban mu sendiri" isak Alana mengurai pelukan mereka.


Lily hanya tersenyum menanggapi perkataan Alana, menggenggam tangan adiknya itu penuh sayang. Jika bukan karena tuntutan mertuanya, Lily bersumpah tidak akan menjadi egois menghancurkan hidup dan masa depan Alana. Yah.. penyesalan selalu datang terlambat. Tapi Tuhan seperti sudah punya rencana atas ini semua.


Satu hal yang di petik Lily, jika dia pergi nanti, dia sudah tenang menitipkan belahan jiwanya pada adik kesayangannya. Dua orang yang paling dia sayangi dalam hidupnya. Dia ikhlas. Justru jika dia pergi, dan Arun hidup dengan gadis lain, Lily tidak akan setuju.


Kalau pun Alana tidak menikah dengan Arun saat itu, dan pada saat ini dia tahu penyakit akan merebutnya dari sisi Arun, maka Lily akan bertindak egois, meminta Alana untuk menikahi Arun. Terlalu besar cintanya pada pria itu, dan dia yakin, Alana adalah gadis tepat untuk menitipkan cintanya pada Arun.


"Kau bicara apa kak? jangan sampai aku memukulmu ya!" bulir air mata Alana terus saja berjatuhan. "Kau tidak akan kemana-mana, kau akan baik-baik saja. Aku tidak mengizinkan mu pergi, aku ga izin" teriaknya menangis sesenggukan.


"Tapi kita harus siap menghadapi yang terburuk kan? aku mohon, kembali lah pada Arun, demi aku dan juga Arlan"


"Aku ga mau. Itu suamimu. Kau jaga sendiri. Jangan seenaknya nitip bang Arun padaku. Kakak... kakak..aku mohon jangan begini. Aku ga akan sanggup kehilanganmu kak. Aku takut hidup sendiri. Selama ini aku hanya bisa bersandar padamu, jangan tinggalkan aku kak..." tangis Alana semakin meledak. Tangannya terus membelai lengan Lily, seperti seorang anak takut ditinggal ibunya.


Lily pun tak kuasa menahan laju air matanya. "Al..jangan nangis lagi, kata dokter kalau aku nangis dan sedih, daya tahan tubuhku semakin lemah" bisik Lily. Apa yang dikatakannya benar, semakin emosional dirinya, maka semakin lelah terasa. Tubuhnya seolah tidak sanggup menahan lebih banyak lagi kesedihan.


Mendengar hal itu, buru-buru Alana menyudahi tangisnya. Air mata masih melaju, dia masih ingin menangis tapi demi kesehatan Lily, dia berusaha untuk menahan diri. Alana membekap mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara tangis. Sesak nafas dan tenggorokan terasa tercekat tapi dia berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak menangis.

__ADS_1


"Udah ya sayang..kita pulang yok. Kepalaku pusing, dan lemas banget ini" tanpa suara Alana hanya mengangguk.


Sebelum Alana bangkit untuk memapah Lily, kakaknya itu menarik hingga terduduk kembali. "Aku mohon, jangan beritahukan hal ini sama siapa pun, terlebih Arun ya, Al" hanya anggukan yang Alana berikan. Dia akan patuh pada apapun yang kini Lily katakan padanya, asal kakaknya itu ada di sisinya.


***


Semalaman Alana tidak tidur, keadaan Lily sangat mengganggunya. Dia ingin dirinya sendiri yang merawat kakaknya. Dia masih ingin percaya kalau kakaknya akan baik-baik saja, akan sembuh.


Dia memang janji untuk merahasiakan keadaan Lily dari siapapun, tapi dia pikir Arun selaku suami Lily harus tahu keadaan kakaknya itu.


***


Pagi datang, Alana dilanda rasa malas. Dia tidak ingin pergi ke ruko hari ini. Secepat yang dia bisa Alana bersiap, membawa Arlan yang tampak sudah tampan menuju rumah Lily.


"Arlan sayang, kita ke rumah bunda Lily ya?" ucapnya berjalan santai keluar dari rumah. Mendorong stroller Arlan menuju rumah Lily. Pagi ini langit cerah, menambah semangat Alana.


Hanya butuh sepuluh menit, Alana sampai di rumah Lily. Titin memberitahukan Lily ada di kamarnya. Baru akan melangkah ke kamar, langkah Alana dihentikan oleh suara menggelegar seorang wanita.


"Berhenti di sana" hardiknya. Seketika Alana berbalik, terkejut karena ternyata yang menghentikan langkahnya adalah Ema, mama Arun. "Kenapa cucuku bisa ada bersamamu sepagi ini? aku melihatmu keluar dari rumah itu bersama cucuku? itu rumah siapa? kenapa kau bisa keluar dari sana bersama Arlan?"


***Hai..aku datang bawa rekomen novel nih, kuy mampir 🙏


__ADS_1


__ADS_2