Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Godaan Besar


__ADS_3

"Pagi semua" sapa Dita yang kini sudah terlihat segar, terlebih setelah mandi pagi ini.


"Pagi sayang, kamu sudah baikan? ga demam lagi?" Mita meletakkan punggung tangannya di kening gadis itu sesaat sesudah duduk di samping ibunya.


"Udah sehat, mi. Udah segar nih" Dita menunjukkan senyum manisnya. "Kasa, mana?"


"Oh, ada sama Sari"


"Sari siapa, mi?" tanya Dita panik. Dia selalu membatasi orang yang boleh dekat dengan Kasa. Lagi pula, tidak semua orang cocok dengan anak ajaib itu. Bayi itu seolah bisa memilih siapa yang boleh menggendongnya, jika tidak suka, dia akan menangis sekencang-kencangnya.


"Baby sitter yang baru. Kemarin mau mami mau mengenalkan pengasuh Kasa yang baru, tapi kamu nya masih tidur. Udah, kamu makan dulu, habis itu kita lihat mereka ke atas"


Dita tidak bisa menyembunyikan rasa geli nya kala diperkenalkan dengan Sari. Lama Dita mengamati wajah dan juga tubuh baby sitter itu, memang ada yang tidak pas. Untuk ukuran seorang wanita, Sari terlalu tinggi, terlalu tegap, dan memiliki rahang yang tegas, yang pada umumnya dimiliki pria.


"Saya Dita, salam kenal, kak," ucap Dita memanggil kakak. Kaisar hanya mengangguk.


Beruntung di ruangan itu tidak ada yang menyadari kalau kakinya gemetar dan terasa lemas. Jantungnya saja tak hentinya berdegup kencang. Kalau seperti ini, Kai yakin dia akan pingsan.


Tangan Dita masih menggantung di udara, Kai ragu untuk menerima uluran tangan gadis itu, bukan apa, Kai perlu menyelamatkan jantungnya. Tapi karena merasa tidak enak, Kai pun menerima uluran tangan itu.


Deg!


"Mohon bantuannya, Kasar..."


"Hah? kok kasar, Ta?" tak hanya Kai yang mengerutkan kening, Mita juga ikut bingung.


"Namanya kan Sari, mi. Kak Sari, kan dipanggil Kasar" Dita mengulum senyum.


Ni bocah ABG sama aja kayak si Al, Dasar! seenak nya aja manggil gue, yang satu bangkai yang ini kasar!


"Lihat nih, Ta. Kasa kayaknya suka deh sama Sari. Setiap ditemani Sari, pasti Kasa tenang," ucap Mita menguyel-uyel pipi bakpao bayi itu. Dita pun membenarkan hal itu, biasanya Kasa akan cengeng digendong orang asing, ini malah mengacak bermain.


"Ya udah, mami tinggal dulu ya" Mita mengelus lengan bisep Kaisar sebelum pergi.


Deg! jantung nya maraton lagi. Terlebih ketika mereka hanya bertiga.

__ADS_1


Kalau benar Kasa adalah gue, tanpa disadari langkah ini udah bawa gue tinggal dengan mereka dalam satu atap tiga hati...


"Kasar, umurnya udah 30 tahun, ya?"


"Iya, non" sahutnya kikuk.


"Jangan panggil non, Dita aja. Kakak juga kan bukan pelayan. Asal mana, kak?"


"Medan, non. Eh, Ta"


"Nah gitu, oh Medan" gumam Dita yang kini duduk di tepi ranjang. "Bawa sini, kak"


Untuk sesaat, Kai tidak menyimak ucapan Dita, masih saja terbengong melihat paha mulus Dita yang terpampang dihadapannya.


Ya Tuhan, besarnya godaan yang Engkau berikan pada hamba...


Kai sudah memutuskan pulang kerja hari Jumat, dia harus menemui dokter. Ada yang salah dengan dirinya. Hanya dengan melihat paha mulus Dita, Kai sudah menegang, menginginkan pelepasan, sementara sebelumnya bahkan wanita bug*l pun ada dihadapannya tidak terlalu terpengaruh buatnya. Masa iya, barangnya hanya mau dengan Dita?!


"Sini, kak"


"Bawa kemari, Kasanya. Mau nen," ucap Dita bersiap mengangkat tank topnya.


Penuh frustrasi, Kai berjalan ke depan, menyerahkan Kasa yang sejak tadi bermain dengannya.


Ini petaka. Gue ga boleh ada disini!


Tanpa beban, Dita mengangkat tank topnya, memperlihatkan perut ratanya, lalu menggulung hingga ke atas dada, hanya B*a hitam yang tampak.


Glek! Susah payah Kai menelan salivanya. Jika dia masih ingin hidup, dia harus segera pergi dari sini!


"Eh, kasar mau kemana?disini aja, temani aku. Kita cerita-cerita," pinta Dita tanpa sadar sudah mengikat tali ke leher Kai.


Kai diam ditempat, tidak jadi memutar tubuhnya. "Duduk dong kak" tawar Dita menunjuk kursi yang tepat ada di hadapannya.


Wahai penduduk bumi, bisa dibayangkan bagaimana menderitanya Kai. Harus menahan diri untuk tidak menyentuh benda kenyal bulat dan besar itu. Sementara bayi itu dengan santainya mengh*sap dan menikmati sumber kehidupannya itu.

__ADS_1


"Ih, kasar. Kok lihatin nya kayak gitu? jangan bilang kakak lesbong ya!" hardik Dita merasa risih cara Kai menatapnya. Bahkan Dita sempat menangkap Kai menelan ludahnya beberapa kali. Buru-buru Dita mengambil lampin Kasa, menutup dadanya sekaligus kepala Kasa.


"Eh...ga lah, Ta. Kakak normal, masih suka lawan jenis" sahutnya buru-buru.


"Terus, kok ngelihatin nya kayak gitu banget?"


"Hah? Oh itu, kakak cuma berpikir, gimana ya rasanya menyusui seorang anak, karena kakak tidak pernah merasakan hal itu"


"Kakak udah nikah tapi belum dikasih anak?" tebak Dita melepas lampin penutup dadanya.


Glek...! kembali Kai tergoda untuk melihat kearah sana, namun buru-buru dia mengalihkan pandangannya.


"A-aku pernah punya anak, tapi ga lama, dia pergi dibawa orang"


"Astaga, anak kasar diculik?"


"Hah? diculik? siapa?" Kai pun mulai susah berkonsentrasi dalam percakapan itu, keinginannya untuk ikut berpartisipasi dengan Kasa sangat besar. Lagi pula disebelah kan kosong!


"Tadi kasar kan, yang bilang dibawa orang"


"Oh, iya, dibawa neneknya karena aku harus kerja ke Jakarta" Kai lega, untung dia masih bisa berimprovisasi dengan cepat.


"Oh...yang sabar ya,kak. Itu sebabnya kasar jadi baby sitter, ya?"


Kai hanya mengangguk lemah. "Iya, gue terpaksa jadi baby sitter, demi anak ini. Tapi dia justru udah manas-manasin gue, dengan nyedot put*ng lo tanpa bisa ikut join!" gumamnya dalam hati.


Aaaau...pekik Dita menahan rasa nyeri di sekitar putingnya. Langit-langit mulut Kasa yang kasar kadang buat put*ng Dita nyeri di his*p terlalu kuat.


"Kenapa, Ta?" spontan Kai berdiri, dan itu penyesalan buat dia, karena tepat saat itu, Kasa melepas ****** milik ibunya, hingga menyembul keluar. Put*ng pink kecoklatan sungguh memanggil-manggil Kai untuk mendekatkan mautnya.


"Sakit, Sa" rintih Dita memasukkan kembali ke dalam batoknya, namun Bayi itu ternyata sudah terlelap dengan perut kekenyangan.


"Kenapa, Ta? yang mana yang sakit"


"Ini, kak. Nen gue perih. Kasa gitu deh, suka nyedot kuat-kuat," ucapnya cemberut. Ada genangan di bola matanya, namun tidak sampai turun. Itu lah nikmatnya memilik anak, saat mengasihi, akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, namun jika terselip rasa sakit dan perih, tak ayal air mata juga mau menetes.

__ADS_1


"Sabar, ya" Kai mengelus puncak kepala Dita, yang tanpa sadar membuat Dita mendongak. Keduanya saling tatap, buru-buru Kai mengalihkan pandangannya, tidak ingin Dita menyadari siapa dia.


__ADS_2