
Penderitaan Alana belum berakhir walau makan siang yang sudah terlambat itu berakhir. Alana pikir setelahnya, Ema akan mengajak Alana untuk pergi dan menghabiskan waktu berdua saja.
"Al, kenapa sih kamu dulu mau dijadiin istri ke dua?" tanya Tante Cindy menyandarkan punggung di kursi.
"Eh, itu..."
"Bisa saja jeng, karena karena Arun dan Lily ga punya anak, jadi keluarganya numbalkan si Alana ini" kali ini seorang wanita yang sejak tadi hanya jadi pendengar. Hanya dia satu-satunya yang tidak menatap sini dan juga yang berusaha menyakiti hatinya.
"Berarti emang dasar besan, jeng Ema yang licik. Ga mau anaknya di cerai, jadi minta Alana yang jadi istri simpanan. Kalau sama wanita lain kan, Lily akan di cerai!"
Sakit sekali perasaan Alana mendengar semua hinaan teman-teman mertuanya, rasanya ingin bangkit dan memaki mereka satu persatu, seolah hidup mereka, hidup anak-anaknya sudah sangat sempurna, namun demi menjaga kehormatan Ema, Alana hanya bisa menahan rasa amarahnya. Diremasnya sisi gaunnya, berharap bisa meredakan sedikit emosinya.
"Sudah dong, semuanya. Jangan dibahas lagi yang sudah lalu. Aku bawa mantuku kemari agar bisa gabung dengan grup kita, ikut arisan" Ema tidak tahan juga melihat sahabat bar-bar nya menyiksa perasaan Alana.
Sudah menjadi kebiasaan di kumpulan arisan mereka, akan membahas sekaligus menghina dan menghakimi siapapun yang tampak punya sisi kelam dalam hidupnya, tidak terkecuali keluarga atau pun kerabat diantara mereka.
Jika salah satu sedang di lecehkan secara verbal, maka pihak korban tidak boleh marah, lagi pula dari mana mereka tahu info sedetail itu kalau bukan dari Ema!
"Ah..jeng Ema, kita kan ga bilang apa-apa. Kita cuma tanya-tanya aja sedikit. Iya kan, Alana?"
"Benar itu. Lagi pula, kan jeng Ema sendiri yang kemarin kesal melihat Alana. Sekarang kan udah mesra nih, jadi Alana ga mungkin sakit hati dong, sama jeng Ema?" tante Cindy memuaskan rasa sakit hati anak gadis nya pada Alana yang dianggap penyebab Poppy tidak jadi mantu Ema yang kaya raya itu.
Ema hanya tersenyum kecut, dia tidak bisa membantah apalagi sampai marah. Toh, sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama pada anggota yang lain.
"Kapan kamu punya anak lagi Al? mama mertuamu ini udah ngebet pengen cucu perempuan kayak tante" ucap wanita yang paling bertubuh tambun disitu.
"Ini lagi di usahakan, tante" sahut Alana pendek. Haruskah sampai urusan ranjangnya mereka bahas?
__ADS_1
"Kamu kurang hot kali, jadi Arun malas buat ngajak kamu nganu-nganuan?!" tanpa rasa malu Cindy menghakimi Alana.
"Bisa jadi. Eh, Al...kita ini sebagai istri, harus jadi pelacur suami di tempat tidur, kalau ga, nanti dia cari yang benar-benar pelacur di luaran sana" sambar wanita lainnya yang bernama Lita. Apa yang barusan dikatakan wanita itu berhasil mengundang tawa semuanya.
"Kita kocok arisannya aja, siapa tahu aku yang dapat," ucap Ema mengalihkan topik pembahasan. Sesaat Ema melirik wajah Alana yang coba bersikap tegar, namun raut kesedihan terlihat jelas.
Sisa waktu yang ada dalam pertemuan itu, mereka habiskan membahas masalah internal mereka. Alana bersyukur, dirinya tidak lagi menjadi topik pembahasan.
"Udah sore ini, kita bubar yuk" ajak salah satu dari mereka. Wanita yang ikut julid ini jauh lebih muda, dan penampilannya masih lebih modis dibandingkan wanita yang lainnya.
"Aish, jeng Vera, buru-buru amat. Kenapa? berondongan nya udah nunggu ya?" celetuk wanita bertubuh paling gemuk tadi.
"Apaan sih, jeng Dewi...," ucapnya tersipu malu yang menandakan apa yang dikatakan wanita bernama Dewi itu benar.
Sudah rahasia umum, kalau wanita-wanita sosialita itu banyak yang tidak setia. Kesibukan para suami mereka yang kaya raya, menjadi alasan untuk mencari pria yang dapat melayani mereka kapan pun yang mereka mau, dan kebanyakan adalah pria muda yang ingin dibiayai hidupnya.
"Eh, Alana, cuma mertua kamu ini loh yang ga mau main berondong" timpal yang lain, yang membawa tawa semua orang yang ada di sana termasuk Ema.
Tega sekali wanita itu menilai hina dirinya dengan berpikiran kalau Alana mau meniru kelakukan bejat para sahabatnya itu.
Hahahaha..."Kita kan hanya menawarkan cara hidup yang menyenangkan sebagai istri" timpal Dewi tertawa.
"Ma, aku ke toilet dulu ya"
Menggunakan alasan itu, Alana mengambil waktu sebanyak yang dia butuhkan untuk mendinginkan hati dan pikirannya. Dalam toilet yang untungnya hanya dia seorang, Alana menangis dengan membekap mulutnya. Hinaan dan cacian yang dia dapat hari ini juga bersumber dari Ema. Sebegitu bencinya dulu Ema pada dirinya dan juga pada Lily, hingga membeberkan pada para sahabatnya?
Walau dulu Santi bersikap jahat padanya, Alana tidak terima kalau orang tuanya ikut di hina. Dihapusnya air mata yang membanjiri wajahnya. Mengingat Santi, Alana baru sadar sudah berbulan tidak mengunjungi orang tuanya.
__ADS_1
Harusnya tadi kau lawan, Al. Jangan biarkan siapapun menghina dirimu dan juga keluarga mu!
Tapi kalau kau lawan, Al, ibu mertuamu yang akan malu dihadapan teman-temannya
Suara hati Alana saling adu pendapat. Satu sisi ingin melawan keganasan mulut para wanita rubah itu, tapi satu sisi tidak ingin mempermalukan Ema, yang memang dari awal ingin mengajaknya ikut arisan, agar bisa diterima dalam kelompok mereka.
Untuk sekarang, Ema sudah tidak memiliki perasaan marah atau benci pada Alana. Dia justru menyayangi Alana. Bentuk kecil kekesalannya saat ini pada gadis itu, hanya karena belum hamil lagi, dan Ema menginginkan cucu perempuan.
"Lama amat, Al. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ema khawatir, wajah Alana terlihat kusut dan mata sembabnya menjelaskan kalau gadis itu baru saja menangis. Ema menebak, itu pasti karena perkataan teman-temannya.
"Ga papa, ma. Cuma agak pusing. Aku boleh pulang duluan ga, ma?" cicit Alana mendekatkan mulutnya ke telinga Ema.
"Ini sebentar lagi udah kelar, tinggal kocok arisan, tuh" Ema menunjuk Dewi yang sedang membaca gulungan kertas yang bertuliskan nama salah satu dari mereka.
"Jeng Ema...," teriak Dewi sembari menunjukkan potongan kertas itu.
Dalam perjalanan pulang, Alana hanya diam. Dia tidak mengabari Arun untuk menjemputnya, karena Ema melarang. "Mama yang akan antar kamu, ga usah hubungi dia," ucap Ema. Alana menurut. Selama dalam mobil, Alana mengunci rapat mulutnya, berpura-pura tidur dengan memejamkan mata. Dia tidak ingin membahas apapun dengan mertuanya lagi saat ini.
Kalau ini adalah cara yang harus Alana lakukan agar Ema senang, maka dia akan ikhlas. Bagaimanapun, Ema adalah wanita yang melahirkan pria yang dicintainya.
"Sudah sampai, Al. Kamu kelelahan atau sakit? kok dari tadi tidur melulu?," kata Ema setelah Alana membuka matanya.
"Aku baik-baik aja ma. Mama ga turun dulu?"
"Ga usah deh, udah malam"
"Aku masuk dulu, ma. Terimakasih untuk hari ini, mama hati-hati dijalan, ya" Alana sudah membuka pintu mobil, saat tangan Ema menahan nya.
__ADS_1
"Lagi kali, kamu ikut lagi, ya?"
"Maaf, ma. Aku ga cocok ada di sana. Aku ga mau berubah menjadi orang bermulut culas jika sering gabung dengan teman-teman mama. Aku masih takut dosa. Selamat malam, ma..."