
"Mbak.... Mbak... Pesanan saya?" panggilan dari pelanggan membuyarkan lamunan Sania. Dia benar-benar tidak fokus saat ini. Hal yang wajar, mungkin semua gadis yang begitu juga jika mengalami apa yang baru saja dia alami.
"Maaf, Mas. Ini kopinya," jawabnya meletakkan secangkir kopi di atas nampan yang sudah lebih dulu ada burger dan kentang goreng yan tadi dia siapkan.
Pria itu mendengus kesal padanya lalu membawa nampan itu ikut serta bersamanya. Sania hanya menunduk malu atas ketidak profesional-an hari ini.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, deh, San. Dari tadi aku liat gak fokus. Ada masalah, ya? Kalau gak kamu pulang aja. Aku bisa handle, kok," ujar Ratna, teman satu kerjaan Sania yang selalu bersikap baik padanya sejak Sania gabung di restoran cepat saji ini.
" Oh, gak usah, Rat. Aku masih baik-baik aja." Sania tersenyum malu pada Ratna. "Maafin aku, Rat. Boleh aku ke belakang sebentar. Mau cari udara segar, lima menit aja," jawab Sania tidak enak hati. Mungkin setelah menenangkan dirinya, dia bisa kembali bekerja dengan baik.
"Take your time."
Sania duduk di salah satu kursi yang ada di roof top. Malam ini sangat dingin setelah hujan mengguyur kota ini sejak siang hingga sore tadi. Tapi paling tidak udara malam ini terasa lebih segar.
Sania tidak tahu harus mengutuk atau malah berbahagia atas yang terjadi padanya. Gadis itu menutup matanya. Sekali lagi bayangan itu muncul dalam pikirannya seolah baru sedetik lalu terjadi.
"Ar-lan..." lirihnya dengan mata terkunci pada mata elang pria itu. Tubuhnya bergetar di bawah Arlan.
"Kamu cantik. Sangat cantik." Hanya itu jawaban dari bibir Arlan sebelum fungsinya berubah. Tidak lagi untuk bicara, tapi lebih merasai.
Arlan mendaratkan ciuman di bibir Sania. Membujuk gadis itu tanpa kata, menunjukkan apa yang diinginkan pria itu saat ini.
Bola mata Sania yang tertutup memberikan Arlan satu jawaban kalau gadis itu menerimanya.
__ADS_1
Ciuman panas mulai menuntut. Arlan melepas bibir yang sudah dua kali dia sentuh itu. Dia mengecup pipi Sania, lalu sejengkal demi sejengkal wajah Sania dia kecup dengan lembut.
Desakan sudah mulai menghantui Arlan, tapi dia tahu kalau ini adalah kali pertama bagi Sania. Dia tidak ingin kebutuhannya menjadi peringkat pertama dan mengabaikan rasa takut yang akan ditimbulkannya.
"Kamu wangi... Aku suka," bisiknya merayap ke leher gadis itu, membenamkan wajahnya di ceruk leher Sania. Bermain dengan kulit halus itu yang sesekali menggigit pelan. Bibir itu terus turun dan kini bermain di tulang selangka tegas milik gadis itu. Tangannya turun menyusuri kedua milik Sania yang membusung indah.
Sania sempat bergetar kala miliknya disentuh. Debar jantungnya yang cepat juga bisa di dengar Arlan kini ketika wajahnya sudah dia benamkan di antar keduanya.
Lembut, dan kenyal. Tangan kanannya diletakkan di salah satu milik Sania, dan bibir Arlan terlihat melengkung sedikit. Milik Sania begitu indah dan menantang. Begitu pas di tangannya seolah memang tercipta untuk dirinya.
Arlan sempat mengangkat wajahnya, melihat Sania yang menutup mata. Hati Arlan begitu gembira mengetahui Sania juga menginginkannya. Arlan ingin semua ini sempurna. Dia tidak akan melakukan hal yang membuat gadis itu takut. Dia mulai dengan menyapukan lidahnya di puncak milik Sania yang sudah mengeras karena sejak tadi disentuh jemari Arlan.
Sania pikir dia sudah mati, melayang tidak lagi menginjak bumi. Dia terbang bersama rasa nikmat yang membakarnya. Setiap kecupan dan hisa*pan Arlan membuatnya ingin membuka mata. Tangannya yang gemetar memberanikan diri menyentuh rambut pria itu.
Ruangan itu berubah panas meski di luar sana hujan begitu lebat. Suara petir sesekali terdengar, menjadi musik pengiring permainan mereka.
Arlan menarik tubuhnya. Melihat banyak jejak kepemilikan di seluruh bagian tubuh Sania. Dada, perut, leher, lengan, pinggang dan di bawah pusarnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Melepaskan Sania sesaat untuk membuka semua pakaian mereka yang masih melekat.
"Sania..." Arlan sudah kembali menutupi tubuh polos Sania dengan tubuhnya yang juga sama. "Aku menginginkanmu. Sangat," lanjutnya. Sania dengan air mata di sudut matanya mengangguk pelan.
Dia tidak akan menyesal meski semua ini salah. Dosa akan dia pertanggung jawabkan pada penciptanya. Cinta yang dia rasakan suci meski caranya salah. Biarlah dia terbakar bersama rasa cintanya pada Arlan.
Tangan Arlan terasa dingin menyengat di kulit Sania ketika pria itu membuka pahanya dan bersiap untuk masuk. Ada kilat ketakutan di mata gadis itu, dan Arlan masih sadar kalau dia sudah memaksa keinginannya pada gadis polos itu, tapi dia keinginan tubuhnya di bawah sana sudah lebih banyak mengambil peran, mengesampingkan akal sehatnya.
__ADS_1
"Sayang, lihat aku... Aku mohon jangan pejamkan matamu saat aku masuk. Aku ingin melebur bersamamu," ucap Arlan menenangkan Sania.
Bulir bening di kening gadis itu sudah cukup menjelaskan kalau dia sangat gugup, tapi dia tak bisa menyangkal kalau dia tidak ingin berhenti.
Jemari Arlan menyentuh pipi Sania lalu membelai keningnya, mengecup keringat di dahi gadis itu. Bibir panas Arlan mengecup lebih lama, sampai ketegangan gadis itu berkurang. Dia turun ke bibir gadis itu lagi, mencercap, mengisap dan membuai Sania.
Keadaan Sania sudah lebih rileks bahkan kini mulai menuntut dengan ikut memainkan lidahnya. Arlan tahu saat ini adalah waktunya. Perlahan, tanpa disadari Sania, Arlan menerobos masuk meski susah, kali kedua dia mendorong, akhirnya pria itu bisa masuk.
Arlan harus terima rasa sakit di bibir bawahnya kala rasa sakit itu datang, Sania menggigit bibirnya.
Dia diam di dalam sana. Tidak bergerak sampai rasa sakit yang dirasakan Sania menghilang. Tusukan kuku Sania di punggung Arlan mulai tak terasa lagi, dan bagian tubuh Sania sudah tidak tegang lagi, barulah Arlan mulai menggerakkan tubuhnya. Pelan dan lembut hingga Sania merasa gemas.
"Ar... Aku...," ucap Sania terbata dengan hentakan napas yang susah untuk dia raup.
"Iya, Sayang."
Cinta itu indah bukan? Terlebih saat sedang bercinta, bisa mengerti apapun yang diinginkan dari pasangan. Arlan tahu apa maksud Sania meski gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya. Jadi dia memilih untuk mempercepat gerakannya. Membawa Sania terbang menuju taman indah di atas nirwana. Melayang indah bak peri bersayap, menjelajah kenikmatan yang hanya bisa diberikan Arlan padanya.
Era*ngan demi erang*an keduanya tertelan oleh suara hujan di luar sana. Hingga teriakan Sania menggema di ruangan diiringi gerakan Arlan yang semakin cepat memompa. Keduanya meledak, melebur menjadi satu dalam satu wadah, tubuh Sania.
Semua terasa indah, sempurna. Arlan merebahkan tubuhnya di samping Sania dan menarik gadis itu ke pelukannya. Terlelap dalam kelelahan dan rasa nikmat yang mereka rengkuh bersama.
'Aku akan menjemputmu. Jangan lupa kabari aku!'
__ADS_1
Pesan Arlan membuyarkan lamunan panjangnya. Dia menatap lama layar ponselnya dan tiba-tiba saja air matanya turun.