
"Gimana hasilnya? Bisa kamu jawab semua?" tanya Sania. Kasa mengambil tempat di sampingnya sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.
"Aman, dong. Kasaaaa," jawabnya jumawa. Sebenarnya pertanyaan Sania yang salah. Tutup mata saja, Kasa dan Arlan pasti bisa menyelesaikan ujian nasional itu dengan mudah. Hanya Tuhan dan semesta yang tahu bagaimana otak mereka bisa bekerja.
"Gak terasa, ujian udah kelar, bentar lagi kita pisah, deh." Ada nada sedih dalam suara Sania. Bagaimana tidak, dia akan pisah dengan Arlan, berakhir sudah kebersamaan mereka padahal mereka belum saling membicarakan isi hati masing-masing.
Mengingat hal itu, Sania ingin rasanya menangis, tapi malu. Hal yang paling indah dalam hidupnya setelah kehancuran keluarganya adalah bertemu Arlan. Oh, kenapa matanya mengabur? Dia benci jadi cengeng lagi. Padahal Arlan sudah menasehatinya untuk kuat saat Agatha menjahati saat itu.
"Hei, kok malah bengong? Ini waktunya kita bergembira. Ujian udah kelar, enaknya kita kemana ya? Paris, Swiss atau gimana kalau kita ke Jepang?"
Sania tertawa melihat Kasa yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun, perhatian berubah pada pria gagah pengisi hatinya yang berjalan ke arah mereka.
"Tampaknya kalian bahagia sekali, ya?" Arlan berdiri di depan keduanya dengan tangan terlihat di dada dan satu alis naik ke atas.
"Jelas, dong, kita kan udah pacaran. Ini baru jadian," celetuk Kasa menyampirkan tangannya ke bahu Sania.
Riak wajah Arlan berubah seketika, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Memilih duduk di samping Sania.
"Lepasin Kasa!" Sania mendorong tubuh Kasa agar melepaskannya.
"Kita mau kemana, nih? Udah selesai ujian, pengen senang-senang."
"Bukannya tiap hari lu bersenang-senang?" sambar Arlan jutek. Kasa tidak membiarkan siapapun merusak moodnya saat ini. Dia lagi senang. Nanti malam dia janji mau nonton dengan Arya mengganti janji kemarin yang batal. Jadi, meski Arlan menyentil nya, dia tidak akan peduli sama sekali.
"Bebas! Akhirnya kita tamat SMA juga!" teriak Gilang berlari ke arah mereka diikuti Tomi dan Dito.
"Lama benar kalian. Makanya kalau ada waktu, belajar, bukan mabok atau nge*w*e aja !" kata Kasa yang buat ketiganya me- miting Kasa lagi."
"Sue, Lu! Iya kita tahu lu pintar! Udah kemana, nih?" Tomi sudah tak sabar ingin party, merayakan kelulusan mereka.
"Kita ke apartemen gue, undang cewek-cewek cantik kenalan kita," timpal Dito ikut bersemangat. Semua menyambut setuju rencana Dito, dan bersiap untuk pergi.
"Sorry, aku gak bisa ikut, ya. Aku harus kerja nanti sore."
__ADS_1
Kelima pria itu bersamaan melihat Sania, menunjukkan rasa kecewa mereka.
"Ah, gak asyik. Ayolah, ini hari penting. Walau baru aja selesai ujian terakhir, tapi anggap aja kita udah lulus, dan harus dirayakan," protes Gilang.
"Udah, jangan ganggu dia. Kalian pergi aja duluan, nanti aku nyusul. Aku antar Sania dulu."
Arlan sudah menarik tangan gadis itu sebelum yang lainnya protes.
***
"Kita berteduh dulu, ya. Nanti kamu sakit." Baru 15 menit keluar dari pekarangan sekolah, Arlan dan Sania sudah diguyur hujan. Keduanya menuju kosan Sania lebih dulu karena gadis itu ingin ganti pakaian sebelum ke restoran tempatnya bekerja.
"Lanjut aja, ya. Udah basah juga. Nanti kalau berteduh, masuk angin. Bajunya kan basah," jawab Sania mengeratkan pelukannya.
Arlan membenarkan ucapan Sania. Langit sangat gelap, hujan ini akan sangat lama. Bahkan di pertengahan jalan hujan semakin deras. Beruntung jalanan tidak terlalu macet, hingga cepat sampai.
"Ayo, masuk dulu. Maju kamu basah. Hujan juga makin deras, gak mungkin langsung pulang," pinta Sania. Arlan pamit, ingin segera pulang, tapi besarnya petir dan hujan yang semakin menggelegar membuat Sania menahan pria itu.
"Siapa bilang? Boleh, kok. Itu kamar yang diujung malah tinggal bareng sama pacarnya. Udah, masuk dulu." Suara Sania bergetar, tubuhnya menggigil. Dinginnya air hujan yang menyirami membuatnya beku.
Kota metropolitan itu sudah lama tidak diguyur hujan. Kemarau panjang dan terik yang menyengat sudah menjadi makanan para warga. Hari ini semesta menurunkan berkahnya ke bumi hingga mengizinkan bumi basah oleh hujan.
Arlan memarkirkan motornya di parkiran kosan, bergabung dengan beberapa motor di sana yang artinya banyak penghuni kos yang sedang berada di kamarnya.
"Ini, kamu mandi dulu. Pake kaos aku dulu gak papa ya. Oh, iya, ini ada celana training aku, tapi pasti sama kamu jadi celana 3/4," ucap Sania menyodorkan pakaian dan handuk baru pada Arlan.
"Kamu aja duluan. Aku masih kuat. Kamu harus cepat mandi, biar gak sakit."
"Kamu aja duluan."
"Kalau kamu gak mau mandi duluan, kita mandi bareng aja," ajak Arlan yang berhasil mengubah air muka Sania.
Gadis itu tak ingin mendebat, memilih untuk masuk ke kamar mandi. Semakin lama berdebat, dia akan semakin kedinginan dan akan semakin lama Arlan mandi.
__ADS_1
Secepat mungkin Sania menyelesaikan mandinya, lalu berganti dengan Arlan. Sembari menunggu, Sania membuat teh manis panas untuk menghangatkan tubuh mereka.
Sania harus menahan tawanya. Dia juga merasa malu melihat Arlan memakai pakaiannya. Terlihat pas di tubuh pria itu padahal samanya, kaos itu sangat kebesaran begitupun training nya.
"Kamu masih berani tertawa?" hardik Arlan pura-pura kesal, padahal dia juga merasa aneh atas pakaian itu. Namun, satu sisi dia juga merasa senang, ada wangi parfum Sania menempel pakaian gadis itu. Perasaannya seolah gadis itu sedang berada di pelukannya.
"Udah, minum dulu. Biar badannya hangat." Arlan menerima mug yang ditawarkan Sania. Keduanya duduk berhadapan.
"Kamu lapar? Aku masakin mi, mau?"
"Nanti aja. Ini apa?" Arlan mengambil botol berwarna hijau yang ada di dekatnya.
"Oh, itu botol minyak telon. Biar hangat aku oleskan ke perut tadi. Oh iya, sini aku oleskan ke punggung kamu, biar hangat."
Sania berbicara tanpa sadar efek yang ditimbulkan atas diri Arlan. Baru setelah menyadari kalau dirinya tanpa tahu malu menawarkan diri melihat tubuh Arlan, dia jadi menunduk, menggigit bibir bawahnya demi menahan rasa malu.
Arlan mengamati semua gerakan gadis itu. Tepat saat bibir merah itu digigit, akal sehat Arlan menguap.
Dia membuka kaos yang baru beberapa menit lalu dia pakai, dan berbaring di atas kasur Sania. Aroma sampo di bantal, membuat darahnya memanas.
Sania paham maksud pria itu. Dia tidak bisa menarik kata-katanya lagi. Terpaksa dia mengoleskan minyak itu di punggung Arlan.
Sentuhan telapak tangan Sania di punggung Arlan sudah mulai membawa sensasi berbeda pada pria itu. Setiap elusan dan juga hirupan napas Sania membuat pikiran Arlan semakin berkelana jauh... Dan jauh!
"Ar-lan, kamu mau apa?" pekik Sania tertahan kala pria itu dengan gerakan cepat mengubah posisi. Sania yang kini berbaring di kasur dengan Arlan berada di atas tubuhnya.
*
*
*
Wayooo, apa yang terjadi selanjutnya? Dukungan dong, biar cepat upðŸ¤
__ADS_1