Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 41


__ADS_3

Di tengah guyuran hujan yang deras, Arlan dengan rasa perih di wajah masih tetap setia berada di depan kosan Sania. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Selama apapun, Arlan akan tetap bertahan hingga gadis itu mau keluar. Dia memilih berdiri tegak di depan pintu, tidak berlindung di bawah kanopi atau mencari tempat berteduh. Dia ingin Sania melihat dirinya di bawah hujan masih setia menunggu.


Berulang kali menghubungi gadis itu, tapi tidak diangkat. Dia juga sudah mengetuk, bahkan berusaha mendobrak pintu, tapi tidak berhasil membawa Sania keluar. Justru beberapa pria penghuni kos, keluar dan memaksanya untuk pergi dari sana.


Sania bukan tidak tahu. Dia mendengar bahkan mengintip dari celah pintu, lengkap dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya. Dia harus bisa menahan diri agar tidak keluar. Mana tega dia melihat Arlan berdiri di bawah hujan.


Awalnya dia pikir, itu akan bertahan setengah jam, nyatanya sudah hampir satu jam, Arlan masih bertahan.


"Pulanglah, Ar, aku mohon. Jangan membuatku semakin hancur dengan keputusan ku ini." Sania meremas sisi gaun tidurnya, masih mengintip dari celah pintu.


Petir kembali menggelegar. Sania terpekik kaget dan melihat ke arah luar. Arlan bisa tersambar petir kalau begini.


Semua pertimbangan dalam hati, dia kesampingkan. Segera membuka pintu dan memayungi Arlan.


"Kenapa kamu masih di sini? Pulanglah, Ar!"


"Kamu kenapa? Aku salah apa? Kenapa kamu meninggalkan? Kenapa kamu tega mengkhianatiku?" Arlan mencengkram lengan Sania, kuat hingga gadis itu meringis.


"Apa benar itu anak Kasa?"


Hati Sania kembali hancur. Air matanya yang masih turun tersamarkan oleh air hujan.


"Jawab aku, Sania! Apa ini anak Kasa?"


'Semua sudah terjadi. Aku gak bisa memutar waktu, sudah melangkah sejauh ini. Maafkan aku Arlan, ini semua aku lakukan demi kamu, demi masa depanmu. Bencilah aku, tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku dan anak kita akan selalu mencintaimu.'


Sania mengangguk. Samar, tapi Arlan masih bisa menganggap gerakan itu. Dia melepas dengan kasar cengkraman di lengan Sania.


Gadis itu sudah menyiapkan alasan kenapa semua itu terjadi, tapi pedihnya, Arlan tidak bertanya, tapi justru berbalik dan melangkah tanpa mengucapkan selamat tinggal.

__ADS_1


***


"Saya terima, nikah dan...."


Lantunan kalimat dari bibir Kasa tidak lagi dia dengarkan. Pikirannya tersita pada Arlan. Pria itu tidak datang, tentu saja tidak. Apa yang dia harapkan dengan melihat Arlan di sini, menyaksikannya menikah dengan sahabatnya.


Ketika kata 'sah' bersahut-sahutan di ruangan itu, Sania baru tersadar. Dia menangis tanpa suara. Kini dia sudah sah menjadi istri Kasa. Seperti mimpi yang ingin dia jauhi.


Kesedihannya bertambah-tambah lagi. Ayahnya masih hidup, tapi tidak bisa menikahkannya secara langsung, meskipun sudah memberi restu.


"Papa, akhirnya Papa mau bertemu denganku." Tangis Sania pecah dalam pelukan Parhan, sang ayah. Awalnya tentu saja dia tidak mau bertemu putrinya seperti biasa Sania datang menjenguk, hanya mengambil apa yang Sania bawa untuknya. Namun, sebelum pergi, Sania menitipkan surat pada ayahnya.


Kata hatinya mengatakan kalau ayahnya pasti akan berubah pikiran dan mau menemuinya. Tebakannya benar. Sipir itu kembali datang bersama ayahnya.


"Maafkan Papa, San. Papa juga kangen sama kamu. Selama ini Papa gak mau bertemu, agar kehidupan kamu tenang, tidak terusik oleh masalah Papa."


Penjelasan ayahnya buat tangis Sania semakin kencang. Kasa yang duduk tidak jauh dari mereka hanya bisa diam mendengarkan. Beruntung hari ini tidak banyak keluarga napi yang besuk, hingga mereka bisa memanfaatkan ruangan itu sedikit privasi.


"Iya, Papa. Sania baik-baik aja. Sania pasti ingat pesan Papa."


Hening sesaat. Parhan seperti hendak menimbang, kalimat yang tepat untuk dia katakan.


"Dalam suratmu..."


"Benar, Papa. Aku akan menikah dengan Kasa," jawab Sania dengan nada rendah. Kasa yang disebut namanya berdiri dan lebih mendekat. Dia mengulurkan tangan pada Parhan, tapi pria paruh baya itu justru memeluk Kasa.


"Kenapa kalian memutuskan menikah muda?" Tak satupun dari mereka yang sanggup menjawab.


"Sudahlah. Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu." Dibelainya rambut Sania lalu mengecup kening putrinya. Kini pandangan terarah pada Kasa.


"Apa kamu benar-benar menyayangi putriku?"

__ADS_1


Kasa mengangguk, dan menutup dengan ketegasan seorang pria gentle. "Mohon Om mengizinkan aku menikahi Sania."


"Om merestui. Tolong jaga Sania. Dia permata hati Om. Jangan pernah memarahi atau menyakiti hatinya. Om mungkin ada di balik jeruji besi, tapi Om tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hatinya. Om mohon, tolong bahagiakan, Sania."


Kasa bisa melihat riak kesedihan di mata Parhan. Jelas dia sangat menyayangi Sania, keadaannya yang buat dia tak berdaya saat ini.


"Aku pasti menjaga Sania, Om."


"Pergilah, doa restu Om bersama kalian."


Atas izin ayahnya, wali hakim menikahkan Sania. Setelah acara sakral itu selesai, beberapa orang yang turut hadir menyalami Kasa dan Sania. Mengucapkan selamat untuk mereka. Sania tak sanggup membalas ucapan Alana. Dia tahu apa yang dirasakan Sania saat ini. Meski tahu Sania sudah mengecewakan putranya, anehnya Alana tidak membenci Sania.


"Sudah, Sayang, jangan menangis lagi. Tante doakan semoga kamu selalu bahagia." Alana jadi ikut menangis, berpelukan erat dengan Sania. Dita tidak bisa mengabaikan momen itu, dia turut menitikkan air mata.


Arun pun hanya menyalami dirinya seadanya. Raut kecewa jelas terlihat dari wajahnya. Tebakan Sania, mungkin karena dia belum berhasil membujuk Arlan ke Jerman.


Arlan... Kemana, dimana pria itu saat ini? Hati Sania bertanya-tanya, tapi tidak berani melontarkan.


"Maafkan kalau ada yang salah diperbuat Kasa dan Sania, ya Al." Dita memeluk Alana. Dia kini yakin Arlan sangat mencintai Sania. Kasa lah yang sudah berprilaku buruk, merusak hubungan Sania dan Kasa dengan menghamili Sania.


"Sudahlah. Meski gak jadi dengan Arlan, tapi Sania menikah dengan Kasa, yang sudah ku anggap putraku sendiri, sama seperti Arlan."


Dita dan Kaisar memuji kebesaran hati Alana. Dia tidak membenci, malah tadi dia turut membantu Sania bersiap-siap. Tidak sampai di situ Alana juga memakaikan sebuah gelang ke tangan Sania seusai gadis itu selesai dirias.


"Ini untuk kamu. Hadiah pernikahan dari Tante. Bawa gelang ini kemana kamu pergi. Jaga bayimu baik-baik," ucapnya mencium puncak kepala Sania penuh sayang.


Hati Sania kembali hancur. Dia sudah menyakiti perasaan Alana dan keluarganya. Betapa berdosanya dia.


"Al, soal Arlan, kenapa gak ikut? Kemana dia?"


Alana saling lempar pandang dengan Arun. Menarik napas berat sebelum bicara.

__ADS_1


"Itulah, Dit. Dia bertengkar lagi dengan Mas Arun dan sudah memilih pergi dari rumah. Dia sudah berangkat ke Inggris dua hari lalu."


__ADS_2