
Al...," ucap Kai kikuk. Pria itu memang menyebut nama Alana, tapi matanya justru melihat kearah Dita yang menatapnya tajam seolah ingin membunuhnya.
"Siapa, Kai?" suara Amanda memutus kontak mata mereka.
"Hai kak Amanda, aku Alana, temannya bangkai. Senang banget bisa ketemu sama model terkenal kayak kakak. Cantik banget aslinya" Alana benar-benar terpesona melihat penampilan Amanda. Mendengar pujian itu, membuat Amanda melayang hingga ke langit ke tujuh.
"Hai juga, Alana" kini tampang curiga dari wajah Amanda pada kedua gadis itu sirna. Ternyata keduanya hanyalah gadis belia yang begitu mengaguminya.
"Bangkai, masih ingat dengan teman aku Dita, kan?" Alana baru sadar kalau Kai sejak tadi menatap wajah Dita terus.
"Ingat..," sahutnya cepat.
"Ta, kamu masih ingat sama Bangkai, kan? cucunya nenek Rosi yang kemarin ke toko, pernah juga datang ke rumah bareng aku" terang Alana mencoba menggali memori Dita.
Masih terus menatap tajam pada Kai, Dita menggeleng. "Ga ingat"
"Apa? ga ingat? baru tadi malam gue nyium bibir lo, dan sekarang lo bilang udah ga ingat sama gue?," umpat Kai dalam hati. Ingin sekali rasanya Kai menarik bibir itu dan mel*matnya seperti tadi malam.
"Masa ga ingat sih, Ta?"
"Emang gue ga ingat, Al. Gue cuma ingat orang-orang yang penting aja, kayak Marco!" tegasnya masih mengunci mata Kai.
Satu tamparan tanpa sentuhan tangan mendarat mulus di pipi Kai. Dia cemburu, tidak terima Dita mengatakan dirinya tidak penting, bahkan cecunguk kayak Marco justru lebih penting baginya. Lewat mata keduanya kini berperang. Dita tampak menunjukkan kesediannya untuk berperang.
"Duduk dulu deh. Kalian gabung sama kita aja ya. Masih kosong kok, yuk" tawar Amanda. Gadis yang biasanya tidak perduli pada orang lain, dan selalu menganggap rendah, kini berubah ramah, hanya karena Alana menyebut nama nenek Rosi.
Jalan menjadi menantu keluarga Barrel cukup terjal. Sangat susah baginya mendekati nenek Rosi yang notabene adalah queen of Barrel yang memegang kendali hidup Kai. Amanda menebak kalau Alana justru dekat dengan nenek Rosi, nanti dia bisa menimba ilmu bagaimana cara mendekati nenek Rosi yang super reseh.
__ADS_1
"Beneran boleh kak?" senyum Alana merekah, begitu gembira bisa makan satu meja dengan model terkenal.
"Mau pesan apa, pesan aja. Aku yang traktir," kata Amanda ingin mendapat pujian.
"Ga usah, makasih. Kita bisa bayar sendiri" potong Dita dengan wajah datar namun menyimpan kebencian. Kini dia paham, alasan Kai tidak mengatakan apapun padanya malam itu, ya karena tangannya sudah menjadi milik gadis lain. Lalu kenapa pria b*ngsat itu harus menciumnya?! Dasar brengsek emang, si Kai!
"Ta, kamu kok gitu sih" Alana menyikut lengan Dita. Sikap jutek Dita membuat Alana menjadi tidak enak pada Kai dan juga Amanda.
"Oh...maaf bukan bermaksud menyinggung. Aku paham, mungkin kalian bisa bayar, tapi ini bentuk rasa syukur ku. Aku mau berbagi dengan kalian, karena saat ini aku sangat bahagia. Kai, calon suamiku, melamar ku malam ini. Kami akan segera menikah, iya kan, sayang?"
Secepat yang dia bisa, Amanda melingkarkan tangan di lengan Kai, dan merebahkan kepalanya di pundak pria itu.
"Hah?...Eh..." Kai semakin terbata. Terpojok oleh keadaan. Dia ingin menjelaskan kalau Amanda salah paham, tapi dia juga tidak mungkin memperjelas di hadapan kedua gadis itu. Amanda selalu menjaga harga dirinya yang tinggi, siapapun tidak bisa merendahkan dirinya.
Jadi Kai memilih untuk menahan ludahnya. Namun setiap perbuatan baik, tidak selalu dapat panggung dan tepuk tangan penonton, kan? kini justru Kai menjadi pesakitan karena ucapan Amanda membuat wajah Dita lebih seram lagi.
"Makasih, Ta. Kamu suka dengan pesta pernikahan? nanti aku kirimkan undangan pernikahan kami," ujar Amanda menawarkan dengan senyum sumringah.
"Oh, ok. Kirim aja, Kak. Aku pasti akan datang!" Kai kalah, segera menundukkan wajahnya. Kai tidak sanggup melihat tatapan tajam Dita yang lagi-lagi ingin membunuhnya. "Aku juga akan mengirimkan undangan pernikahan ku, pada kalian nanti" lanjut Dita.
"Wah, Dita juga mau nikah ya? selamat juga ya," balas Amanda.
"Ta, kok aku ga tau kalau kamu bakal nikah dengan Marco? bukannya tadi kamu bilang, berencana menolak pinangan Marco?" tanya Alana jadi bingung.
Dita menghampirinya ke toko, memaksanya untuk ikut menemaninya jalan, sekaligus ingin curhat tentang lamaran Marco yang rencananya akan dia tolak.
"Itu tadi. Setelah gue pikir, lebih baik gue terima pria yang jelas, bertanggung jawab, dari pada seorang pria pengecut!" seru nya menatap tajam kearah Kai. Tangan Dita menggenggam erat gagang sendok. Seolah itu adalah leher Kai yang ingin dia cekik.
__ADS_1
"Lo ga bisa mengambil keputusan plin-plan begitu. Terlebih ini menyangkut masa depan lo. Sebentar mau nikah, sebentar ga. Kalau lo ga yakin sama dia, ya udah tinggalin" tanpa sadar Kai membuka mulutnya. Sejak tadi dia menahan perasaannya.
Ada rasa marah namun juga merasa bersalah pada Dita. Marah karena wanita itu memutuskan menikah dengan Marco, dan merasa bersalah karena membuat Dita salah paham akan hubungannya dengan Amanda.
"Urusannya apa sama lo? siapa lo ngomong gitu ke gue? besok gue akan minta Marco bawa keluarganya datang ke rumah gue, ngantar seserahan!" salak Dita lepas kontrol.
"Dasar childish, lo. Keras kepala banget!"
"Suka-suka gue. Siapa lo? dasar brengsek. Lo emang pria brengsek. Gue benci banget sama lo. Jangan pernah lo muncul di hadapan gue lagi. Gue benci!" jerit Dita beranjak pergi meninggalkan ketiganya.
Amanda dan juga Alana sama-sama terpelongo melihat perdebatan Kai dan Dita seolah mereka sudah saling kenal dekat. "Aku kejar Dita dulu, kak Manda, Bangkai," ujarnya membungkuk hormat lalu segera bergegas menyusul Dita.
"Gadis yang aneh," ucap Amanda memandangi ke arah jalan yang tadi dilalui kedua gadis itu.
Kai mengeram keras dalam hatinya. Kenapa niatnya ingin segera mendekati Dita justru semakin sulit?
"Manda, ada yang ingin aku bicarakan. Ini serius. Maaf aku tidak bisa menikah denganmu. Aku ingin kita putus," ucap Kai dalam satu tarikan nafas.
Bola mata Amanda membulat, menatap Kai tidak percaya. "Kamu ngomong apa sih, Kai? bercandanya ga lucu" bentak Amanda penuh emosi.
"Aku serius. Ini bukan becanda, aku ga bisa nikahi kamu. Ada wanita lain yang ada di hatiku saat ini" Kai mencoba menjelaskan dengan lembut, tidak ingin Amanda buat kegaduhan di tempat itu.
"Aku ga mau. Kita harus tetap menikah. Enak banget ya jadi kamu mutusin rencana pernikahan sepihak aja. Kamu ga menghargai perasaan aku, cintaku padamu selama ini. Kesetiaan yang aku pelihara walaupun jauh darimu, apa itu semua tidak berarti buatmu?" Amanda menahan air mata palsunya. Sampai matipun dia akan memperjuangkan posisinya untuk bisa masuk dalam keluarga kaya itu.
Kai mengambil ponsel dari sakunya. Mengotak-atik isi file yang tersimpan, lalu memilih beberapa dan mengirimkannya pada Amanda.
Bunyi notifikasi ponselnya membuat Amanda berhenti bicara, penuh emosi membuka layar, dan saat itu lah, matanya tertegun menatap beberapa photo dan video yang baru saja dikirim oleh Kai. Yang paling buat wajah Amanda pucat pasi adalah videonya kemarin malam yang sedang diciumi dua pria sekaligus di ruang VIP di salah satu club ternama di Jakarta.
__ADS_1
"Jangan pernah mengatakan kata cinta dan kesetiaan dihadapan ku, Manda. Kita akhiri dengan damai, suka atau pun tidak, kita putus hari ini juga"