
"Kasa lagi dekat sama satu gadis, dan kau tahu aku juga menyukai gadis itu. Dia baik, dan sangat tulus," ucap Dita memulai pembicaraan. Hari ini dia sengaja menghubungi Alana, sudah lama mereka tidak bertemu.
"Bagus kalau begitu. Tapi ingat, Dit, mereka masih sekolah. Pacarannya jangan melewati batas," jawab Alana memperingatkan.
Sebenarnya pertemuan mereka kali ini ingin membicarakan liburan yang akan direncanakan awal bulan depan. Sudah satu semester berlalu, dan menurut kedua orang tua itu, perlu mengajak anak mereka liburan bareng. Hal biasa yang kedua keluarga itu lakukan. Tapi setelah pembahasan rampung dan memutuskan akan pergi ke Singapura saja, keduanya membahas anak-anak lajang mereka yang masih saja sering mendapat teguran dari sekolah karena kenakalan dan seringnya tidak masuk sekolah.
"Arlan masih sama Agatha?" tanya Dita antusias. Dia masih ingat cerita Alana bulan lalu, seorang gadis mendatanginya dan memperkenalkan diri sebagai kekasih Arlan. Gadis itu datang untuk mengadu, kalau Arlan sudah mengabaikannya dan tidak pernah lagi menghubunginya.
Sebagai orang tua, dia hanya mampu mencoba menenangkan Agatha. Urusan Arlan masih ingin melanjutkan hubungan mereka, Alana tidak ingin campur tangan. Itu semua ada di tangan Arlan.
"Gak tahu juga, Dit. Terakhir aku bicara dengan Arlan, katanya udah selesai." Dita hanya manggut-manggut mendengarkan.
Pembahasan keduanya begitu random. Setelah bahas masalah percintaan anak, kini tajuk diskusinya pada pasangan.
"Jawab dong, apa permainan kalian di ranjang masih se-hot dulu?" Desak Dita. Dia ingin tahu dan menjadikan tolak ukur apakah hubungannya dengan Kaisar masih dirasa wajar atau memang sudah mendingin.
"Kamu ngapian nanya hal itu, sih? Aku malu, ah. Biasa aja. Seperti dulu."
"Seminggu bisa berapa kali?"
Alana diam sesaat. Memikirkan Arun saja membuatnya panas dingin, padahal mereka sudah bertahun-tahun menikah, sudah punya anak lajang lagi, tapi kenapa setiap membayangkan bagaimana perkasanya Arun di atas ranjang, Alana jadi merinding.
"Al..."
"Iya, dengar. Udah jarang, seminggu udah paling hebat, 5-6 kali."
__ADS_1
"Artinya hampir setiap hari, dong?" wajah Dita berubah cemberut. Dia jauh tertinggal. Kaisar yang dulu bak singa kelaparan setiap malam, kini hanya beberapa kali saja menyentuhnya dalam seminggu.
"Memangnya kalian jarang?"
"Gak usah dibicarakan lagi!" sabar Dita. Gadis manja itu tidak pernah berubah. Apapun yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, tidak ingin didengar lagi.
Dua pria yang sejak tadi dibicarakan Alana dan Dita akhirnya muncul. Mereka memang menunggu para suami menjemput. Sudah lama juga keempatnya tidak ngobrol bareng seperti itu.
"Maaf, Sayang, lama menunggu. Meeting hari ini berjalan alot," sapa Arun mencium puncak kepala Alana, mengabaikan Dita yang ada di sana dan sedang melihat ke arah mereka.
"Sorry, Dit, jalanan macet," terang Kaisar pada istinya. Dalam hati Dita membanding cara Arun saat menyapa istrinya dengan sang suami yang tidak menunjukkan rindu atau pun sayang padanya.
Dita diam. Dia tahu bagaimana Kaisar. Don Juan yang memiliki masa lalu yang bebas dan selalu dicintai banyak wanita pada masanya dulu, membuat Kaisar kaku dan tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya pada Dita, terlebih di depan orang. Padahal, Dita kan ingin juga diperlakukan sama seperti Alana.
"Jadi, udah diputuskan kemana liburan kali ini?" tanya Arun yang duduk dengan mepet ke tubuh Alana, seolah ingin menunjukkan pada semua orang di cafe itu, kalau wanita cantik itu hanya miliknya.
"Sorry, Al, kayaknya kalau ke Singapura, aku gak bisa ikut. Lagi pula, aku udah janji sama Kasa mau ke Bali. Dia mau belajar surfing, katanya," terang Kaisar, lalu menyeruput kopinya.
Alana dan Dita saling adu pandang. Berjam lamanya mereka memilih tempat, kenapa tadi Dita tidak mengatakan apapun soal Kasa yang ingin ke Bali?
"Kok aku gak tahu, Yang?" Dita melayangkan pandangan tajam ke arah Kaisar. Dia benar-benar jadi orang asing bagi anak dan suaminya. Keduanya mengatur rencana tanpa mengikutsertakan dirinya.
"Loh, aku pikir kamu udah tahu. Kasa gak bilang?"
Dita tidak menjawab, dia mendengus kesal lalu buang muka. Riak wajahnya sangat sedih, dan merasa sangat malu di depan Alana dan Arun.
__ADS_1
Bagaimana pun Alana coba memancing Dita untuk mau bicara, tetap saja, wanita itu hanya menjawab seadanya hingga mereka berempat saling berpamitan pulang.
***
Libur akan tiba. Besok, Arun dan Alana akan ke sekolah untuk mengambil rapor Arlan dan Ayra.
"Jadi kita ke Singapura, Ma?" tanya Ayra merebahkan kepalanya di pangkuan Arun. Anak gadis itu masih saja tanpa sungkan bermanja-manja dengan ayahnya. "Nilai aku kan naik, pasti dapat ranking, semua berkat kak Sania. Kok bisa ya ada orang sepintar Kak Sania? Udah cantik, baik, pintar lagi," lanjut Sania.
"Biasa aja. Orang pintar itu mah, banyak. Bukan dianya yang hebat, tapi lu yang kelewat bego," timpal Arlan yang serius memandangi layar ponselnya. Mendengar nama Sania, lidahnya tidak tahan untuk tidak memberi komentar.
"Dih, apaan, sih. Memangnya kayak Kakak, pintar, tapi pelit. Ngajarin adik sendiri gak mau!"
Alana dan Arun saling pandang. Mereka hanya punya dua anak, tapi kalau sudah bertemu, maka rumah seakan penuh dengan banyak orang.
"Mama, jadikan ke Singapura? Ingat loh, Papa udah janji. Aku juga udah belajar keras," rengek Ayra. Jangan pernah menjanjikan sesuatu pada gadis itu, kalau gak mau disusul sampai dapat.
"Itu dia. Mama dan Tante Dita udah ngobrol buat liburan bareng. Awalnya udah sepakat kita semua mau ke Singapura, tapi ternyata Kasa inginnya ke Bali, mau belajar surfing, kata Om Kai. Jadi, kalau Ayra tetap pengen ke Singapura, kita pisah sama keluarga Tante Dita," terang Alana menunggu reaksi Ayra, karena yang paling susah dibujuk itu Ayra.
"Hah? Kak Kasa gak mau ke Singapura?" Ayra sampai terduduk, memastikan kebenaran dari ibunya.
Setelah Alana mengangguk, Ayra menjatuhkan kembali tubuhnya. Lemas. Harapannya hancur. Ayra tahu, kalau setiap liburan panjang, keluarganya dengan keluarga Kasa akan liburan bersama. Itu sudah jadi tradisi yang dikembangkan Dita dan Alana demi menjalin silaturahmi kedua keluarga. Lagi pula, karena Arlan dan Kasa teman akrab, keduanya senang-senang aja menjalani liburan bareng.
Memilih Singapura juga Ayra punya tujuan. Dia ingin mengunjungi tempat-tempat terkenal di sana, dan membuat kenangan indah dengan Kasa. Dia bahkan sudah berangan-angan untuk mengatakan perasaannya pada Kasa, cintanya sejak kelas lima SD.
"Iya, mereka mau ke Bali. Jadi kita aja yang ke Singapura," sambar Arun mencubit ujung hidung Ayra. Gadis itu pun kembali duduk tegak. Dia tidak akan melepaskan kesempatan kali ini.
__ADS_1
"Gak bisa, Papa. Kita harus tetap liburan bareng. Masa tradisi diabaikan. Kalau gitu, kita juga liburan ke Bali aja."