
Sepertinya panas dari tubuh karena kebutuhannya yang mendesak namun masih tertahan membuat Kai tidak bisa berhenti ngedumel kesal. Bagaimana tidak, semenit yang lalu, Kai dan Dita sudah siap memadu kasih. Berbaring dibawah satu selimut tanpa sehelai benang pun. Pemanasan yang membakar tubuh juga sudah mereka lalui, hingga satu titik Kai akan berkunjung dalam milik Dita, ketukan di pintu membuyarkan segara hasrat Kai yang berontak ingin dilepaskan.
Awalnya keduanya sepakat untuk tidak memperdulikan ketukan itu, namun ketukan berubah jadi kegaduhan karena mereka tidak mau membuka pintu.
"Aku ga bisa, Bang. Buka dulu deh," cicit Dita menahan tubuh Kai yang sudah berbaring di atasnya.
"Tapi, Ta, Aku udah di ujung nih, Sayang," ucap Kai memelas. Wajahnya merah padam menahan sesuatu yang ingin dimuntahkan dalam liang basah milik Dita.
"Tapi aku ga nyaman, Bang"
Kai menghentak kesal selimut yang menutupi tubuh mereka. Suhu dingin dari ruangan itu saja tidak bisa mendinginkan hati dan pikirannya.
Crek!
Kai membuka pintu setelah selesai berpakaian. Serabut wajah yang sudah dia tebak muncul di hadapannya.
"Ta.." Pria itu dengan cueknya masuk ke dalam. Dita memang sudah memakai pakaiannya kembali sebelum Kai membuka daun pintu.
"Papi? a-da apa?" tanya Dita gugup. Diliriknya wajah Kai yang masih tampak kesal.
"Papi mau pastikan kamu baik-baik aja. Kamu ga papa kan?" mendengar hal itu Kai berbalik, kini menatap punggung mertuanya dengan tatapan tidak mengerti. Apa yang di pikirkan pria itu akan Kai lakukan pada Dita?
"Hah? Aku baik-baik aja kok, Pi. Emang kenapa, Pi?" Dita juga heran melihat sikap Rudi yang tampak panik.
"Ga..ga papa. Papi cuma mau pastikan, kalau kamu baik-baik saja satu kamar dengan predator," ucapnya setengah berbisik, kata terakhir di katakan dengan sangat pelan namun tentu saja Kai masih bisa mendengar.
Dita jadi malu sekaligus tidak enak hati pada Kai. Demi alasan tidak masuk akal ini, ayahnya membuat kegaduhan dan menerjang masuk ke kamar, merusak acara bercocok tanam mereka?
"Apa sebaiknya kamu tidur di kamar Kasa aja?" Sulit bagi Kai percaya apa yang baru dia dengar. Kai menyadari alasan Rudi bersikap posesif tidak jelas begini karena masih belum menyetujui pernikahan mereka, tapi dengan tidak mempercayai Kai, sama saja membuat harga diri Kai terluka.
"Papi ih, keluar sana, Pi" Dita sudah turun dari ranjang, mendorong tubuh Rudi keluar. Kai masih diam, mengepal telapak tangannya, agar tidak tersulut emosi.
"Beneran kamu akan baik-baik saja? Lagian ngapain sih tidur gelap-gelapan? papi ga suka, papi takut kamu di sakiti nanti," Rudi masih memegang tangan Dita, berharap putrinya mau mengikuti perkataannya untuk tidur di kamar lain.
Ehem...
Deheman Kai membuat Dita sadar. Semakin besar pula rasa bersalahnya. Dita tahu papinya melakukan itu karena bentuk rasa sayang dan tidak ingin menyerahkan putrinya pada pria seperti Kai yang punya masa lalu kusam.
"Tidur lah, Pi. Aku dan bangkai juga mau tidur. Dan ingat, papi ga boleh ketuk-ketuk atau buat kegaduhan di pintu kamar. Papi percayalah, bangkai akan membuatku bahagia. Dia pria pilihanku, dan aku mencintainya. Papi harus ingat, aku sudah menjadi istrinya. Dan kewajiban istri adalah nurut pada suami"
Kini Rudi diam seribu bahasa. Tidak ada bantahan lagi. Apa yang dikatakan putrinya benar. Kalau pun malam ini dia berhasil menggagalkan malam pengantin mereka, tapi itu akan berlaku sampai kapan? jalan satu-satunya membuang rasa cemasnya adalah dengan mendoakan pernikahan mereka selalu bahagia.
__ADS_1
Anggukan lemah dari Rudi sempat ditangkap Dita sebelum ayahnya itu berlalu. Setelah sosok jangkung itu menghilang dibalik kamar, barulah Dita masuk.
Kai sudah berbaring, telungkup di ranjang. Membenamkan wajahnya di bantal. Dita tahu rasa kesal masih bergelayut manja di hatinya.
Ehem..
Usaha menarik perhatian yang dilakukan Dita tampaknya tidak berhasil. Kai masih tidak berbalik. Dita mengalah, karena dia juga sadar ini karena perbuatan papinya.
"Kita lanjutkan lagi yuk, Bang" bisik nya menunduk tepat di dekat telinga Kai. Tidak ada reaksi. Dita yang keras kepala hampir saja memukul punggung bidang itu, namun di tahannya.
"Abang, kita main bajak sawah lagi, yuk. Adek masih penasaran nih, pengen ngerasain belaian si Hulk itu," ucapnya membelai rambut lebat Kai. Dita tersenyum memikirkan ucapannya. Ada rasa malu terselip, namun, buru-buru disingkirkannya. Toh, sekarang mereka adalah suami istri.
Umpannya di makan. Pria ngambekan itu sudah berbalik, menatap dalam ke arah mata Dita. "Nanti papi mu ganggu lagi. Sakit loh, Ta udah di ujung harus di tarik"
"Iya, maaf. Tapi kau jangan marah. Gimana pun dia itu papi ku, mertuamu. Awas loh kalau kau benci sama papi"
"Iya, bawel. Jadi ga dijinakkan Hulk lagi? tapi tunggu, kenapa Hulk sih, Ta? kan ga ijo?" sehari kerutan tergambar di keningnya.
"Hulk kan kecil, kalau udah marah jadi gede. Ini juga kalau udah ada maunya pasti jadi gede," ucapnya mengulum senyum malu. Rasa malunya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Perkataan berani itu entah dia dapat dari mana. Tapi Dita pernah baca, kalau dengan suami harus saling terbuka, bahkan kegiatan di ranjang sekalipun. Kalau belum puas katakan belum, jangan malu!
"Kalau gitu, Hulk minta sampai pagi" gantian Kai yang melempar senyum.
"Suhu, mohon bimbingannya," ucap Dita menyatukan kedua telapak tangan di dada, mengangguk perlahan, layaknya seorang murid memberi hormat pada guru nya.
"Baik lah, aku tidak akan sungkan lagi, wahai murid ku. Hanya satu aturan mainnya. Jangan malu untuk mengatakan apa yang kau inginkan," bisik Kai sebelum menutup mulut Dita dengan bibirnya. Mencecap rasa manis dari bibir gadis itu. Dita maju, tidak berpura-pura menjadi gadis tidak tahu apa-apa walau pun memang semua pengetahuannya dia dapat dari film.
Dita membalas, menyapukan lidahnya pada rongga mulut Kai, hingga pria itu mengeram nikmat. Dita ingin memberikan kepuasan pada Kai pada pemanasan diawal ini. Dita sudah mengangk*ng, duduk di pangkuan Kai. Mulai menciumi, menjilati leher pria itu, mengecup telinga dan kembali ke bibir pria itu.
Kai terbakar atas apa yang sudah dilakukan istrinya, antara senang dan terkejut melihat aksi Dita yang coba membuatnya puas malam ini. Dengan satu tangan Kai membuka kait di punggung gadis itu, dengan satu hentakan penutup bukit indah itu meluncur melewati perut ratanya.
Kai menunduk, untuk menyapa puncak yang sejak awal hanya ada dalam khayalnya. "Sorry, Kasa, malam ini papa pinjam dulu" desisnya sebelum menj*lat dan mengisap put*ng salah satunya. Dita hanya tersenyum mendengar kalimat bodoh Kai, sebelum mengeram indah saat mulai merasakan sedotan yang membuat miliknya berdenyut.
Puncak itu menawarkan kenikmatan yang tiada tara, Kai tersesat dalam arus gelombang yang dia ciptakan sendiri, dia ingin lebih. Mulutnya kini berpindah pada puncak satunya. Membelai dengan lidahnya, bermain dengan bulatan kecil pada ujungnya, membuat Dita semakin terbakar, menjambak rambut Kai dan membenamkan wajah Kai lebih dalam lagi pada dadanya.
Kai seolah belum cukup membakar, lidahnya menyapu sela diantara kedua puncaknya itu, mengecup kulit mulus diantaranya, hingga Dita sejenak harus menahan nafas karena kenikmatan yang dihadirkan Kai.
Puas dengan keduanya, Dita menarik leher Dita, menghis*p dan memberikan tanda kepemilikan di sana. Tubuh Dita bergetar hebat. Ada sesuatu yang akan keluar dari miliknya.
"Bang, ada yang mau keluar dari bawah"
"Keluarkan sayang, keluarkan untuk ku" Kai kembali menyerang bibir Dita hingga gadis itu mend*sah dan menutup dengan jeritan tertahan. Tubuhnya lemas, puas dan ingin lagi.
__ADS_1
Kai membaringkan tubuh indah itu di ranjang, segera turun dan melucuti pakaiannya sendiri. Kontak mata mereka masih tetap terkunci satu arah. Dengan lembut, Kai menarik kain penutup milik Dita yang senada dengan B*a nya yang entah sudah kemana dia lempar tadi.
Pria itu juga sudah tidak tahan, dia ingin memasuki Dita, yang membawanya mengingat malam panas mereka dulu. Mata Dita menatap ke bawah, jantungnya berdegup kencang. Hulk begitu besar, Dita yakin dia akan terkoyak jika Hulk masuk, tapi rasa takut itu hilang kala mendengar ucapan Kai yang lembut.
"Aku akan menjadikan mu milik ku seutuhnya dengan terhormat dan juga tanpa dosa" bisik Kai berbaring di atas tubuh Dita.
Perlahan, Kai menekuk kaki Dita. Melihat kegelisahan di wajah istrinya, Kai mengecup bibir mungil itu. "Tatap mataku, sayang. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," bisik Kai yang diangguk cepat oleh Dita.
Kai masuk, perlahan, dan pelan. Kai tidak ingin besarnya Hulk membuat Dita takut dan menarik diri. Milik Dita sudah siap, basah dan hangat. Kai mendorong pelan, hingga satu hentakan kuat membuat Hulk berhasil masuk. Kai diam untuk sesaat. Milik Dita basah dan sempit, mencengkram nikmat Hulk yang sudah di dalam.
Rasa nikmat yang sama, yang selalu membuat nya tidak menginginkan wanita lain selain Dita. Untuk sesaat mata Dita terpejam. Hulk membuatnya sesak di dalam sana, namun itu hanya sepersekian detik.
Melihat tubuh Dita yang sudah rileks dan telah menatap matanya kembali, Kai mulai bergerak, pelan, hingga Dita menggila. Dia akan meledak untuk kedua kalinya. Melihat kegelisahan wajah istrinya, Kai mempercepat gerakannya.
"Bang, aku mau...aku mau..."
"Iya sayang, kita sama-sama meraihnya, ya" ucap Kai mencium bibir Dita. Terus memompa, Kai merasakan Dita yang juga ikut bergerak mengikuti arah permainannya. Keringat membasahi tubuh liat Kai. Dari atas sana, Dita tampak begitu cantik, menawan dan membuat Kai begitu bersyukur memiliki istri sepertinya.
Desakan itu muncul, dorongan lava yang selama ini terkunci siap untuk meledak, memuntahkan bibit-bibit unggul penerus mereka.
"Bang..." racu Dita benar-benar akan meledak. Setiap hujaman Kai, membuat Dita meng*rang nikmat, ingin lagi dan lagi Kai menumbuk tubuhnya.
"Aaaaaaach..." keduanya serentak mengeluarkan lengkuhan tertahan. Tepat saat itu, Kai melebur jadi satu dengan bukti kenikmatan milik Dita. Senyum penuh kepuasan tergambar di wajah keduanya. Deru nafas mereka bersahutan, menguap bersama perasaan nikmat yang luar biasa.
Kai berguling ke samping, menarik tubuh Dita untuk di peluknya.
"Kau suka?" tanya Kai mencium kening Dita
"Suka..sangat suka..aku mau dari belakang nanti," ucapnya malu-malu.
Kai hanya tersenyum, menatap wajah Dita yang memerah. Tanda cinta yang baru saja mereka jejaki bersama tadi masih membekas. Gadis keras kepalanya begitu polos, mengatakan apapun yang dia inginkan, dan Kai menyukai hal itu.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Dita Angraeni Setyawan," ucap Kai mencium dalam bibir gadis itu.
***Hai, aku balik setelah sekian purnama ☺️☺️kangen kalian, kangen komenannya. Semoga selalu sehat-sehat kita ya🙏😘😘
Aku datang buat bayar utang nih☺️malam nerusin nya udah kelar ya. Maaf kalau ga bisa seperti buku- k*m*s*tr* ya🤣🤣
Oh, iya mampir dong di novel baru aku. Masih sepi banget😔 mohon dukungannya ya, makasih 🙏☺️😘😘
__ADS_1