
Kalau saja tidak di tahan mama Reni, mungkin Alana sudah berlari meninggalkan rumah itu tanpa pamit. Wanita paruh bayah itu menunggu Alana keluar dari ruang perpustakaan dan menarik tangan Alana. "Temani mama jalan-jalan sebentar ya" ucapnya menggandeng tangan Alana keluar.
Disamping rumah mewah itu, terdapat pendopo yang dulu biasa dijadikan mama Reni tempat menikmati waktu berdua dengan suami. Kali ini mama Reni membawa Alana ke sana. Bicara berdua dengan tenang.
"Kamu pasti sudah dengar semuanya dari Gara kan?" ucap wanita itu lembut. Alana hanya mengangguk. Benar dia kecewa, benar pula dia sakit hati dan merasa tercampak kan, tapi bukan berarti dia membenci wanita yang ada di hadapannya ini.
"Mama ingin kamu tahu. Gara sama sekali tidak bersalah akan hal ini. Ya mama tahu, mungkin apa pun alasannya kamu tidak bisa menerima Gara menikahi Nadia. Tapi Gara tidak punya pilihan lain Al. Jadi mama mohon kamu mau memaafkan Gara" mama Reni meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Alana yang tergeletak di atas pahanya. Menggenggam tangan gadis itu sebagai permohonan maafnya, karena keluarganya sudah mengecewakan gadis muda itu, membatalkan pernikahan, bahkan anaknya malah menikah dengan gadis lain.
"Aku mengerti ma. Aku kan coba menerimanya. Aku ikhlas ma" sahutnya lirih.
"Tapi mama ingi kamu tetap bersama Gara. Mama tahu hanya kamu yang bisa membahagiakan dia"
"Aku mohon ma, jangan minta aku jadi istri kedua Gara. Aku ga bisa ma" ucap Alana menggeleng dengan bulir bening menetes di pipinya.
"Tapi dia mencintaimu Al. Istri kedua hanya status saja, dihatinya kamu yang nomor satu" mungkin kalau egois Alana bisa saja menerima. Toh, ibu mertua dan juga suaminya memihak padanya. Hidupnya pasti lebih baik dari menjadi istri kedua Arun. Tapi Alana tidak ingin bahagia di atas duka dan air mata orang lain. Perasaan Nadia pasti hancur. Tidak..dia tahu rasanya terabaikan.
"Maaf ma, aku ga bisa. Aku pamit dulu ma..Arlan pasti udah nyariin aku" ucapnya bangkit. Mama Reni hanya tertegun. Bahkan saat Alana mencium pipinya, wanita itu masih mematung.
Tidak ada yang bisa dilakukannya. Dia sudah berusaha memenuhi permintaan Gara sebelum menikah di rumah sakit pagi tadi untuk membujuk Alana agar tetap mau menikah dengan Gara.
***
Alana tidak langsung pulang ke rumah. Pikirannya membawanya singgah ke sebuah taman kota yang dilaluinya. Dia duduk memandang jauh ke depan. Dia benci matanya yang terus saja mengeluarkan air mata. Sekilas dia melirik kanan kiri, sepi tidak ada orang hanya ada bangku kosong yang tersusun di jurus dari tempatnya hingga ke ujung sana.
"hiks...hiks..ngeeeeeee...huaaaaa..." tangisnya pecah.
"Tuhan..kenapa ku begini? kenapa dua kali hatiku dihancurkan oleh harapan indah? Tuhan, apa salah ku banyak banget ya? sampe harus nangis terus dari kecil? Tuhan.. bisakah Kau turunkan hujan aja sekarang? aku pengen teriak lebih kencang, tapi malu kalau ada yang dengar..ngeeeeeee..ngeeee.."
Alana masih tetap menangis sembari menendang batu di dekat sepatunya. Air mata membanjiri wajahnya, ingusnya pun naik turun. Dia meras saku celana, namun membuatnya terisak justru semakin kuat.
__ADS_1
"Tuhan, huaaaaaa.... ngeeeeeee..ngeeee..apes banget hidupku. U-dah gagal ni-kah hari ini, dom-pet dan hape pun ketinggalan. Gi-mana aku mau pulang Tuhan?" ucapnya bermonolog disela-sela tangisnya yang semakin kencang.
"Masa iya jalan kaki sampe rumah, kan jauh. Mau balik ke rumah Gara, tengsin dong..gimana ini Tuhan..tanggung jawab dong, kan yang buat semua ini terjadi juga karena Tuhan meridhoi kan?" Alana masih saja betah bicara sendiri. Tangis yang tadi pecah karena masalah gagal nikah kini semakin kencang karena ingat susah untuk pulang ke rumah. Mau pesan ojol ponselnya tinggal. Terlebih ini adalah taman kawasan elit, mana ada angkot atau taxi yang lewat. Sempurna sudah penderitaan Alana hari ini.
"Aduh..gimana ini Tuhan? kasih ide dong" Alana menghapus air matanya. Bingung menyerangnya. Kali ini dia serius. Merasa putus asa, dia kembali menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Huaaaaa... ngeeeeeee..ngeeee.....hiks..
"Hei, bisa diam ga? berisik lo ya, dari tadi nangis mulu. Itu mulut apa ga capek? nangis, teriak, marah-marah maki-maki Tuhan, emang lo siapa? Thanos? berani maki-maki Tuhan?" suara pria yang bangkit dari tidurnya di kursi ketiga dari Alana. Sungguh Alana tidak melihat ada siapa pun tadi di sana. Dari mana tiba-tiba manusia itu muncul?
Dengan punggung tangannya, Alana menghapus jejak air matanya. Mengamati pria itu, yang ditebak Alana seumuran sama Arun. Tampangnya seram, matanya menatap Alana sinis seolah dia itu penyakit yang kalau kena bisa terpapar Covid 19.
"Aku bukan Thanos, aku Alana"ucapnya tanpa sadar dan kembali menatap tajam pada pria itu.
"Bisa ga sih lo ga usah ngelihatin gue kayak gitu! Ga pernah lihat cowok cakep lo? satu lagi, buang ingus lo! udah meleber tuh sampe kena mulut," ucapnya masih mendelik tajam.
Sreeep..Alana bukan membuang ingusnya malah menariknya masuk ke dalam, membuat pria itu semakin jijik melihatnya.
"Kok kau malah marah-marah sih? ini kan ingus aku, kok kau yang sewot? terserah aku dong, mau buang apa mau ngisap masuk ke dalam lagi" ucapnya menatap marah. Alana merasa tepat, kali ini dia punya objek untuk dimarahi agar emosi dan rasa kesalnya bisa terlampiaskan.
"Gila lo ya, gue jijik tau ga lihat ingus lo naik turun terus"
"Ya ga usah lihatlah"
"Lo yang udah ganggu tidur gue"
"Emang ini rumah lo? hotel? ngapain juga lo tidur di sini?"
"Ini juga bukan tempat lo maki-maki Tuhan, marah-marah sampe nangis sesunggukan kayak orang gila. Kenapa lo? ditinggal kawin ya sama cowok lo? bagus lah dia sadar, lo rada sarap"
__ADS_1
Tanpa sadar Alana mengambil kayu kecil di dekat kakinya lalu melempar pria itu tepat mengenai lengannya.
"Awwwuuu...sakit gila. Beneran sarap nih orang" ucapnya mengusap lengannya yang sakit.
"Iya, aku gila. Ditambah lagi ketemu sama orang menyebalkan kayak kau" umpat Alana.
"Sumpah, ini orang gila. Pergi ga lo dari sini?"
"Gue juga mau pergi dari tadi, tapi ga bisa" ucapnya menghela nafas. Dia memang menyedihkan. Alana akan ingat hari ini sebagai hari terburuk seumur hidupnya.
"Kenapa lo ga bisa? pergi sana. Gue butuh ketenangan makanya gue ke sini" umpat pria, merogoh saku jas nya dan mengeluarkan kotak rokok dan pemantiknya. Penuh perasaan di resapnya nikotin pada rokok yang sudah dia bakar, lalu menghembuskan nya bersatu ke udara.
Setelah menimbang, Alana memutuskan untuk berjalan ke arah pria itu dan berhenti tepat di depannya. "Pinjami aku uang 100 ribu buat ongkos" ucapnya menengadahkan tangan ke hadapan pria berjambang tipis itu.
Pria itu memicingkan mata, menatap aneh sekaligus jengah pada Alana. "Nanti aku ganti. Kau simpan nomor ku, nanti kita ketemuan buat balikin duitmu"
Pria itu masih memicingkan mata, keningnya berkerut dan menatap curiga pada Alana.
"Dompet dan hapeku ketinggalan. Aku janji aku bakal balikin duitmu. Simpan nomor ponsel ku, biar kau bisa menagih utang ku"
Masih bergeming, Alana menatap kesal pada pria itu yang seolah menganggapnya penipu.
"Kau mau aku segera pergi dari sini kan? buruan pinjamin aku duit. Oh iya, sekalian orderin ojol ya" ucapnya cuek.
Pria itu berpikir sejenak. Kalau dengan uang 100 ribu bisa mengusir gadis itu dari hadapannya, maka dia akan lakukan. Oleh karena itu, dia segera membuka dompet dan menarik selembar uang merah.
Alana langsung menyabet uang di ujung jari pria itu, membuat pria itu mendelik kesal padanya. "Nanti aku bayar" ucapnya. "Pesankan ojol nya"
Penuh kesal pria itu mengikuti permintaan Alana. Tidak lama, mobil Avanza putih muncul di depan sana.
__ADS_1
"Aku pergi ya. Makasih udah menjamin duit sama pesanin ojol. Nanti aku bayar. Oh iya satu lagi.." tanpa ragu, Alana mengambil rokok yang tengah parkir di mulut pria itu, dan membuangnya ke tanah dan menginjaknya hingga mati.
Sebelum pria itu angkat suara yang dapat dipastikan penuh amarah, Alana lebih dulu berucap "Merokok ga baik buat kesehatan, apa lagi om-om tua kayak kamu" dan setelahnya Alana berlari menuju mobil.