
Wajah Dita bersemu merah, kala pria yang setengah jam lalu sudah sah menjadi imamnya itu berbisik di telinganya. "Kau cantik, kau sempurna"
Tidak sampai disitu, jantung Dita berdegup kencang kala suami mesumnya itu melanjutkan dengan mengatakan ketidaksabaran dirinya melahap Dita saat malam pengantin mereka. "Tapi itu kalau kau bersedia, aku tidak akan memaksamu, Ta," ucapnya mengakhiri perkataannya yang berhasil membuat jantung Dita berakrobatik ria.
"Ih, Bangkai, bahasnya nanti aja, itu ada tamu mau menyalami kita," balas Dita menunduk malu. Kai melirik ke kanan, tamu yang dimaksud Dita masih ada di ujung, berbicara dengan mertuanya.
"Sampai kapan kita harus berdiri menyalami orang-orang yang hanya beberapa saja kita kenal?" gerutu Kai menatap kesal ke arah barisan manusia yang ingin menyampaikan selamat pada mereka.
"Bukannya mereka juga rekan dan relasi bisnismu?" Dita menajamkan mata pada mereka, benar, tak satupun ada yang Dita kenal.
Namun setelah melewati 20 orang yang tampak asing, Dita kini bisa tersenyum gembira saat tiba giliran teman-temannya. Satu persatu teman SMA nya menyalami dan menyampaikan ucapan selamat.
"Selamat, Coy. Ga nyangka gue, ada juga yang mau sama, Lo," seru Fajar mencubit pipi Dita hingga buat mata Dita tertutup menahan rasa sakit atas cubitan gemas di pipinya.
"Tolong, lepaskan. Maaf, tapi saya tidak suka" tegur Kai spontan hingga membuat Fajar merasa malu dan diam seribu bahasa. Sementara teman-teman Dita yang ada di baris belakang Fajar tertawa melihat keadaan itu.
"Bangkai, Fajar cuma bercanda. Ga ada niat buat nyakitin aku kok"
"Tapi aku ga suka, pria lain menyentuh kulitmu, walau hanya bercanda!" seru Kai tegas.
Fajar berlalu, di susul Wisnu yang memang pulang dari Belanda untuk menghadiri pernikahan Dita. "Selamat, Ta. Bahagia selalu"
"Makasih, Nu," sahut Dita mengangguk. Senyum manis tidak lepas dari wajah cantiknya.
"Selamat, Ta, mas Kai," kedua pengantin itu menerima uluran tangan Gara yang hari itu datang bersama Nadia.
"Makasih udah datang, Ga" Dita mewakili suaminya berterimakasih. Dita juga memeluk Nadia yang mengucapkan selamat padanya.
Untuk sesaat Kai dan Dita kembali bisa duduk di pelaminan, menatap para undangan yang memenuhi aula. Begitu riang gembira, ikut merasakan kebahagiaan keduanya.
"Hai, Al" suara pria yang menyapanya dari belakang membuat Alana menghentikan obrolannya dengan Arun. Perlahan, menoleh kebelakang melihat pemilik suara itu.
"Gara" suara Alana tercekat, mengetahui orang yang menyapanya adalah Gara, sahabat sekaligus mantan pacarnya yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kabar, Al?" Gara masih fokus dengan Alana, mengulurkan tangan pada gadis itu.
"Ba-baik, Ga. Kamu apa kabar?" Alana pun bangkit dari duduknya, menghadap kedua suami istri itu.
"Baik. Kami baik. Kamu masih ingat, Nadia? istriku?"
"Iya, tentu saja. Apa kabar, Nad?" Alana ikut senang bertemu mereka dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
"Aku baik" sambut Nadia penuh senyum.
"Oh, iya. Ini suamiku, bang Arun" Alana menarik tangan Arun dan tanpa enggan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.
"Senang bisa bertemu dengan mu lagi, Bang" Gara mengulurkan tangan duluan, menyalami Arun. Pria itu cukup bijak untuk menyambutnya. Baginya tidak ada lagi yang perlu di debat, mereka semua sudah memiliki takdirnya masing-masing. Arun berharap mereka bisa bahagia seperti dirinya dan Alana.
"Kamu lagi hamil, Al?" tanya Nadia memperhatikan perut Alana yang tampak menyembul. Kalau untuk ukuran wanita lainnya mungkin perut segitu tidak menandakan kehamilan, tapi karena Alana bertubuh mungil dan seingat Nadia, tubuh gadis itu tidak berisi seperti sekarang ini.
"Iya, nih," sahut Alana malu. Hamilnya masih masuk tiga bulan, namun karena makannya yang sangat banyak, timbangannya kini naik lima lima kilo lebih.
"Sama dong, aku juga" lanjut Nadia tersenyum. Keduanya berpelukan karena rasa bahagia yang mereka rasakan.
"Selamat Ga," ucap Arun menyalami Gara.
"Makasih, Bang"
Acara terus berlanjut. Dari tempatnya berada Dita bisa melihat tawa bahagia para sahabatnya, duduk dalam satu meja. Akhirnya Alana dan Gara bisa saling melepas dengan ikhlas, menerima pasangan masing-masing.
"Kenapa senyam-senyum?" Kai sudah mendekatkan tubuhnya pada Dita, pandangannya ikut menatap lurus kearah tatapan istrinya.
"Aku gembira, semua sahabat dan para tamu undangan ini bisa ikut berbahagia bersama kita." Ada nada haru yang terdengar dari Dita. Sebelum buliran bening itu jatuh, Kai menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya, tidak perduli satu dua pasang mata dari para tamu ikut melirik pada mereka.
***
Perhelatan akbar itu pun berakhir dengan manis. Sebenarnya belum berakhir secara keseluruhan, masih banyak para tamu yang betah duduk berlama-lama menikmati hiburan malam itu, terlebih para anak muda.
Baik Arun dan istrinya, serta Gara dan Nadia juga sudah pulang, yang di susul oleh Fajar dan Wisnu yang malam ini tidak berhasil mendapatkan pasangan dalam acara itu seperti harapan Fajar.
"Akhirnya kita berdua, Ta" seringai Kai muncul, setelah Mita dan nenek Rosi sudah mempersilahkan mereka untuk turun panggung.
Untuk kamar pengantin, mereka sudah memesan kamar termahal di hotel termewah, milik tuan Bintang Danendra, salah satu tamu kehormatan dalam pesta tadi. Beliau datang bersama istrinya yang Cantik, mantan model terkenal Bellaetrix Elaina.
Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, menuju lift khusus yang diperuntukkan untuk mereka. Namun belum sempat sampai di lift, Rudi mencegat langkah mereka.
"Kalian tidak usah menghabiskan malam ini di hotel. Sebaiknya kita pulang, kasihan Kasa. Toh tidur sama saja, baik di hotel atau pun rumah"
Sepasang anak cucu Adam itu terdiam. Mau membantah, tapi malu dan juga tidak enak hati. Untuk diizinkan menikah dengan Kai, secara khusus Rudi mengajak bicara putrinya, dan saat itu Rudi meminta Dita berjanji akan menuruti keinginan papinya.
"Ayo kita pulang, Kasa sudah mengantuk"
Rudi sudah berjalan di depan meninggalkan keduanya dalam kebingungan dan rasa kesal yang tidak bisa terkatakan. Namun mereka tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan pria tua pencemburu, yang belum bisa menerima anak gadisnya yang kini sudah memiliki pujaan hati.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Dita, Rudi sudah mendekorasi secara kilat kamar Dita menjadi lebih indah untuk dijadikan tempat mereka menghabiskan malam pengantin. Walau ini bukan malam pertama, hanya malam nerusin, Rudi merasa perlu untuk menyiapkan kenyamanan mereka.
"Papi kamu yang mengubah kamar ini? sangat berbeda dari sebelumnya," ujar Kai setelah mereka berdua saja di dalam sana. Mita sudah pamit mengucapkan selamat malam dan membawa Kasa untuk tidur bersamanya malam ini.
"Iya. Eh, tapi tunggu dulu, kok bangkai tahu kalau kamar aku dulu ga begini?" kening Dita berkerut sembari menajamkan matanya menatap Kai.
Tiba-tiba tawa Kai pecah. Pria itu tertawa puas hingga bulir bening mengembang di sudut katanya. Dita semakin mengerutkan kening, menatap suaminya yang seperti orang kesurupan.
"Auw, sakit, Ta" Kai mengelus pinggangnya yang terasa sakit bekas cubitan istrinya.
"Siapa suruh ketawa kayak orang gila. Ada apa sih? ditanya kok bisa tahu, malam ketawa ngakak?"
Kai tidak tahan dengan wajah cemberut istrinya yang merasa diabaikan. Kai pun menarik tangan Dita agar tubuh mereka mendekat. Lalu Kai membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu hingga berhasil membuat matanya membulat sempurna dan bibirnya melongo.
"Bangkai...Kasar?" wajah Dita tampak histeris. Kenyataan yang membuatnya bingung harus bersikap apa. Kalau Kai adalah Sari, berarti selama ini secara tidak langsung dia sudah mengungkap perasaannya pada pria itu. Oh, bukan hanya itu, Dita juga sering buka baju di depan Kai.
Untuk yang terakhir ini, Dita memejamkan matanya, menutup wajahnya dengan tangannya.
"Kenapa?" Kai menarik tangan gadis itu dari wajahnya, dan mengangkat dagu gadis itu.
"Aku mencintaimu. Anggaplah itu pengorbanan ku untuk mendapatkan hati dan juga menjagamu dan Anak kita" Dita masih terdiam. Bingung harus mengatakan apapun.
"Lupakan masa lalu. Kita bangun rumah tangga kita dengan penuh cinta dan kasih. Aku sangat mencintaimu, Dita Anggraini Setyawan Barrel"
Keduanya saling bersitatap. Dita tahu suaminya sedang menunggu jawabannya. "Aku juga mencintaimu, Kaisar Barrel"
Tidak perlu lama lagi, Kai menyatukan bibir mereka. Merengkuh rasa nikmat dan penuh damba yang selama ini tersimpan rapi di dalam hatinya. Cinta yang hanya akan menjadi milik gadis itu. Hati, tubuh seluruh hidupnya adalah milik Dita.
"Sayang, aku menginginkanmu. Apakah kau bersedia?" bisik Kai parau. Menahan segala hasrat yang siap meledak malam ini. Perlahan, namun pasti, Dita mengangguk tipis sembari menyembunyikan senyum malu-malunya. Nyatanya senyum itu bisa membuat Kai menyeringai lebar.
πΉThe endπΉ
***Hai semua, aku datang sekaligus pamit. Terimakasih sudah bertahan hingga saat terakhir dari novel ini. Makasih untuk support dan segala doa serta masukan dari semuanya. Aku sayang kalian.
Aku tahu, novel ini jauh dari kata sempurna, banyak yang tidak suka dan kurang puas, tapi sekali lagi, aku minta maaf untuk itu.
Dan bagi yang kurang puas sama endingnya, (pasti nih, minta bonchap, pengen tahu gimana perkasanya Kai di malam nerusin ini, aku akan buat dehπππ) tapi sabar ya, kapan nya belum tahu. Pastinya bukan besok. Salam sayang buat kalian, tetap jaga kesehatan ya, big love to all of you, guysππβΊοΈππ
Mmmm, apa lagi ya, oh iya, mampir nanti di cerita ku yang baru ya, makasih ππππ
__ADS_1