Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 16


__ADS_3

Satu jam sudah Arlan berkendara, tidak punya tujuan. Dia baru saja kembali dari toko roti Sweet, tapi orang yang ingin dia temui tidak ada di sana. Bingung, dia tidak tahu harus mencari gadis itu kemana lagi.


Tidak ada info yang dia ketahui tentang Sania. Dia sudah meminta nomor Sania dari Ayra dengan imbalan membelikannya semua jenis coklat mahal yang bermerk, tapi sia-sia. Nomor Sania tidak aktif.


"Ada apa, Sayang? Tumben nelpon Mama, kangen, ya? Atau mau Mama masakin sesuatu? Kamu udah di jalan mau pulang, kan?" cerocos Alana saat menerima telepon putranya.


"Mama boleh minta alamat rumah Sania?" Tidak satupun pertanyaan Alana yang dijawabnya, justru melempar pertanyaan pada sang ibu.


"Sania? Mau apa kamu ke rumahnya?" susul Alana penasaran.


"Ada perlu. Buruan, Mama!"


Dengan tidak sabar dia menunggu balasan pesan dari Alana. Motor sudah dia berhentikan di pinggir jalan.


Arlan cemas, sangat. Begitu dia mendengar cerita dari Kasa dalam tidur pura-puranya, tanpa kata dia pergi dari basecamp. Pertanyaan Kasa dan teman-temannya yang lain, mempertanyakan kepergian, hanya dibalas dengan ayunan tangan ke udara.


Pikirannya kalut. Dia tahu saat ini Sania pasti sangat sedih. Membayangkan gadis itu menangis sendirian membuat hatinya perih.


Alana sudah mengirimkan alamat Sania. Dengan kecepatan tinggi, Arlan segera membelah jalanan menuju tempat itu.


Tidak sulit bagi Arlan untuk menemukan alamat Sania. Pria itu berdiri di depan kamar kosan Sania, menyandarkan pinggul pada motor sportnya. Dia memberikan uang pada anak kecil yang bermain di halaman untuk menunjukkan kamar Sania sekaligus memanggil gadis itu keluar.


"Ar-lan," desis gadis itu dengan wajah kusut dan mata yang bengkak karena menangis. Dorongan besar dalam sanubarinya untuk menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Temani gue keluar bentar!"


Itu bukan permintaan, tapi lebih ke perintah. Sania pusing kebanyakan menangis, dia ingin tidur meski tidak bisa, tidak ingin keluar rumah. Tapi Sania tahu, Arlan tidak akan pergi kalau Sania tidak ikut perintah.


Sania kembali masuk, 10 menit kemudian dia sudah keluar kembali dengan mengganti baju dan menyisir rambutnya. Wajahnya sudah tampak lebih cerah sedikit setelah cuci muka, tapi tetap saja, mata sembabnya tidak bisa membohongi keadaan gadis itu.


Sania naik ke atas motor, dan tanpa berkata apapun, Arlan segera melajukan motornya. Kecepatan itu membuat Sania tidak punya pilihan lain selain melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.

__ADS_1


Arlan membawa Sania jauh. Tidak ada tujuan, hanya mengikuti laju motornya.


"Aku lapar, kita makan ikan bakar dulu," celetuk Arlan setelah sepanjang jalan mereka hanya diam. Motor memasuki pondok makan, bergegas Sania turun setelah mesin motor dimatikan.


Alasan utama Arlan mengajak ke sana ingin memastikan Sania makan. Jangan sampai masalah yang mendera gadis itu buatnya lupa untuk makan.


"Mau makan apa?"


"Terserah kamu," jawabnya pelan tak bergairah.


Arlan paham kesedihan yang sedang dialami Sania saat ini, tapi melihat raut sedih di wajah gadis itu, kenapa dia ikut terluka? Dia sudah biasa melihat senyum Sania setiap bicara dengannya.


Pesanan mereka datang. Arlan memutuskan untuk memesan semua jenis makanan di warung makan itu.


"Banyak sekali? Apa habis? Jangan mubazir makanan, dosa," jawabnya masih dengan nada pelan. Dia melihat semua menu di meja. Kalau saat ini dia dalam keadaan baik, pasti bisa melahap hampir semua makanan ini, tapi sedikitpun air liurnya sama sekali tidak terpancing.


"Makan, kenapa diliatin aja?"


"San...."


Gadis itu mendongak. Ini kali pertama Arlan menyebut namanya selama mereka kenal.


"Makan ya, please."


Jangankan Sania, Arlan sendiri juga tidak menyangka kalau di akan memohon pada gadis itu. Kenapa hatinya sekarang begitu lemah? Dia sangat khawatir akan keadaan Sania.


Sedikit rasa malu menghantarkan Sania menyendok nasi ke mulutnya. Masih tidak selera. Arlan yang sejak tadi mengamati tidak sabar melihat gadis itu yang bergerak lemah.


"Buka mulutmu!" Satu sendok makan berisi nasi dan lauk disodorkan padanya. Gadis itu kembali mendongak. Mereka ini sedang apa, sih? Kenapa Arlan begitu baik dan saat perhatian padanya. Dia sendiri saja baru menyadari kalau Arlan ternyata bisa bersikap lembut juga.


"Please, Ar, jangan bersikap baik begini sama aku," batin Sania. Ada riak air mata menggenangi bola matanya. Dia masih ingat muasal kenapa identitas dirinya sampai terekspos. Kalimat Agatha masih jelas terngiang di telinganya.

__ADS_1


Arlan masih menunggu. Alis hitamnya menukik ke atas, menandakan sudah tidak sabar memegang sendok itu.


Sania merespon di luar kendalinya. Dia membuka mulut dan menerima suapan Arlan tepat satu bulir bening jatuh di pipinya. Jemari Arlan sigap menghapus air mata itu.


"Kenapa lu nangis? Siapa yang udah buat lu sesakit ini?"


Sulit buat Sania menggeleng sekaligus memberi senyuman. Dia tidak boleh semakin jauh. Pria tampan di depannya ini bukan miliknya, jangan terlalu larut dan terperdaya oleh sikap lembut Arlan, jangan sampai rasa cintanya pada pria itu semakin membukit. Akan sakit rasanya jika nanti Sania harus melupakan pria itu.


"Gak papa. Terima kasih, Arlan."


Pria itu tidak menjawab, dia kembali menyodorkan satu sendok makanan.


"Jangan disuapi lagi. Aku bisa makan sendiri."


"Makan!" Suara tegas dan tidak ingin dibantah kembali terasa. Anehnya, Sania bukan merasa tertekan, justru merasa terlindungi.


Gadis itu kembali menurut. Biarlah, dia ikuti kemauan Arlan, sebelum dia menghilang. Dia sudah memutuskan jalan hidupnya setelah ini. Memikirkan akan berpisah dan tak akan pernah melihat Arlan lagi, membuat Sania ingin menangis lagi, tapi sekuat tenaga dia tahan.


Sudah suapan ke lima. Sosok pemimpin anak badung dan dicap berandalan di sekolahnya, yang sangat ditakuti, justru saat ini sedang menyuapinya makan.


"Kamu gak mau tanya soal papa?"


Sania tidak ingin lari dari kenyataan. Dia juga tidak ingin selamanya bersembunyi di balik cadar keberanian semunya. Dia tahu kalau sikap Arlan yang peduli padanya saat ini, karena pria itu sudah tahu soal ayahnya.


"Gue hanya ingin ngurus lu saat ini, soal yang lainnya gue gak peduli!"


Hufffh... Sania menarik napas panjang lalu melepaskannya. Dia siap.


"Papaku masuk penjara atas tuduhan menggelapkan dana perusahaan." Sania mulai bercerita. Dia tahu ini tidak mudah. Bahkan Arlan yang berusaha menunjukkan minta tidak ingin tahunya, hanya untuk membuat gadis itu nyaman. Dia sadar tidak gampang bagi Sania membuka lembar kelam kehidupannya.


"Tapi kamu harus tahu, papaku difitnah. Saat itu perusahaan papa sedang mengalami krisis keuangan. Dia butuh suntikan dana. Salah satu teman dekatnya menawarkan pinjaman, dan papa hanya perlu menandatangani perjanjian. Entah bagaimana caranya, keadaan berbalik, temannya justru mendepak papa dan mengambil alih perusahaan milik papa, endingnya papa dijebloskan ke tahanan, dan mama memilih bunuh diri."

__ADS_1


__ADS_2