
Hingga pulang, pipi Alana yang ditampar empat kali oleh Santi masih juga terasa perih. Bahkan tamparan terakhir, kuku Santi mengenai sudut bibir Alana hingga sedikit sobek.
Alana berjalan menyusuri arah pulang. Dia sengaja tidak memesan ojek online agar bisa meredam rasa sakit di hatinya dulu.
Dari ucapan ibunya, Alana tahu, hari ini Lily ke rumah orang tua mereka. Menceritakan semua yang di ulang Santi tadi. Kenyataannya tidak semua benar. Bagian yang diakui Alana, Arun menolongnya, tapi bagian kecurigaan Lily mengenai Arun menaruh rasa padanya, langsung di tepis Alana.
"Tidak mungkin bang Arun menyukaiku. Perhatiannya hanya karena dia perduli pada anaknya yang aku kandung" cicitnya meremas sisi rok sekolahnya.
Alana masih memerlukan waktu lebih untuk menenangkan dirinya. Dia memilih untuk duduk di bangku taman kota yang dia lewati.
Banyak orang yang bermain di sana. Bercengkrama bersama dengan orang terkasih mereka.
"Tuhan.. kenapa aku tidak bisa diterima oleh keluargaku?" gumam nya pada angin yang bertiup membelai parasnya. Sejuk, tapi tidak mampu menghapus rasa sakitnya.
Seorang pedagang cilok menghampirinya, menawarkan dagangannya, namun saat itu Alana tidak berminat, hingga hanya menggeleng dan melepas satu senyum tulusnya.
"Kak Lily kenapa ngadu ke ibu? kak Lily kan bisa tanya langsung ke aku?" satu bulir bening jatuh di telapak tangannya. Alana mengamati Air mata itu.
"Kenapa selalu turun sih? aku bosan loh menangis terus" cicitnya berharap bisa mengontrol dirinya agar tidak menangis tapi justru malah lebih kencang.
"Biar aja deh, aku nangis.Toh gada yang kenal ini sama aku di sini" ucap nya sesunggukan.
Sibuk dengan tangis kesedihannya, Alana tidak menyadari kalau seseorang sudah duduk di sampingnya. Pria itu tanpa suara menyodorkan sapu tangannya, hingga membuat Alana tersadar dan menoleh pada pria itu.
"Hah? kok ada di sini sih?" ucap nya semakin menangis. Dia malu, mungkin pria itu sudah mendengar monolog nya sedari tadi.
"Kamu kenapa kayak orang bego nangis sendirian di sini?" pria itu terus mengamati Alana yang tidak hentinya menyeka air matanya dengan sapu tangan itu, tapi turun lagi.
"Bang Arun sendiri ngapain di sini? jangan bilang nguntit aku" tanyanya mendongak.
"Sembarangan. Aku tadi pulang meeting sama klien dekat sini, pas pulang lihat ada gembel nangis, mana gembelnya kayak kenal lagi. Makanya aku turun" goda Arun menghapus jejak air mata di sudut mata Alana yang tidak terjangkau saat di hapusnya tadi.
"Jangan sentuh. Aku kan udah bilang kemarin, jangan pernah sentuh aku lagi" suara cengeng bak anak kecil merajuk membuat Arun mengulum senyum.
"Masa iya, suami ga boleh nyentuh istri sendiri?" goda Arun yang mendapat pelototan dari Alana.
__ADS_1
Kembali pedagang menawarkan jualannya pada mereka. Kali ini tukang rujak.
"Rujak nya neng?"
Alana memandangi beraneka jenis buah yang tampak segar menggiurkan. Berkali-kali Alana menelan salivanya.
"Mau?" tawar Arun. Gadis itu ingin sekali mengangguk, tapi rasa malu hanya membuat nya menundukkan wajah.
"Buat seporsi mang" pinta Arun. Tidak butuh waktu lama untuk Alana menghabiskan rujaknya.
"Mau nambah" ucapnya menunjukkan piringnya yang sudah kosong ke hadapan Arun.
"Ga boleh. Nanti kau sakit perut lagi. Kasihan Anak kita" Kalimat yang meluncur sepenuh hati Arun itu membuat suasana kaku diantara mereka. Sebenarnya kan ga ada yang salah. Memang benar, anak yang sedang dikandung Alana itu adalah anak mereka berdua, buatnya aja berdua.
Arun bangkit, menunju gerobak penjajah minuman. Arun membeli satu botol air mineral.
"Minum.."
Malu-malu Alana mengambilnya, meminum setengah dari isinya. Suasana hening kembali tercipta.
Ehem.. kerongkongan Arun terasa tercekat. Dengan sigap mengambil Air mineral yang digenggam Alana, dan meminum isinya hingga tuntas. "Eh..itu kan minum ku, udah bekas mulutku bang"
Aaaach.. jerit Alana menutup telinga.
"Kenapa? apa yang sakit?" tanya Arun panik.
"Ga ada" sahut nya ketus.
"Lantas kenapa teriak?" Arun jadi binging menghadapi gadis labil di hadapannya ini.
"Karena abang bahas hal jorok" ucapnya merengut.
"Kok jorok. Kita halal ya"
"Udah dong, jangan ngebahas itu lagi" pipi Alana bersemu merah. Pria itu selalu saja sukses membuatnya malu, dan itu dikatakannya seolah dia tidak punya rasa malu.
__ADS_1
"Al.." ada jeda pada kalimat Arun. Keduanya saling menatap ke depan. Melayangkan pandangan ke arah danau buatan yang sangat indah.
"Aku mohon, kau harus kuat. Jangan menangis dalam kesendirian mu lagi. Kau bisa mengandalkan ku"
Tatapan keduanya masih menatap jauh di satu titik di depan mereka. Arun memang tidak menatap ya saat mengatakan itu, tapi hati Alana bergetar haru. Dia adalah orang pertama dalam hidup Alana yang mengatakan bahwa Alana bisa mengandalkannya. Alana ingin sekali mengalihkan tatapannya melihat kearah Arun, tapi dia pasti menangis haru. Jadi memilih untuk tetap melihat lurus kedepan.
"Pulang yuk" ajak Arun setelah lama mereka berdiam diri. Dia kini paham, untuk memenangkan hati Alana, bukan dengan paksaan atau pun kuasa. Alana harus di perlakukan baik, menyentuh hatinya agar dia bisa mengizinkan Arun untuk dekat dengannya.
"Makasih bang" ucap Alana tepat saat mobil sudah berhenti di depan rumah. Lily yang sedang menata bunganya, menghentikan sejenak kegiatannya untuk melihat orang yang akan turun dari mobil. Untuk sesaat Alana ragu untuk turun.
"Ga papa. Aku akan bilang, kita bertemu tidak sengaja, dan menawarkan mu tumpangan"
Kali ini Alana menatap Arun. Suara lembut dan menenangkan pria itu seolah menghipnotisnya. Alana mengangguk dan segera turun dari mobil.
Dahi Lily berkerut, dan bersiap melempar pertanyaan, tapi Arun lebih dulu buka suara.
"Kami kebetulan bertemu, Alana dengan teman-temannya, jadi aku ajak pulang bareng" mulut Lily terkatup. Alana tahu kakak nya tidak puas. Masih ingin mendebat, tapi Arun sudah masuk.
Hendak mengikut jejak Arun, Lily langsung menariknya. "Kok bisa pulang bareng?"
"Tadi kan udah di jelaskan bang Arun, kak. Aku masuk dulu ya" ucap Alana meninggalkan Lily. Dia masih kesal pada Lily. Hari ini ibunya menampar dan menjambak nya lagi karena aduan Lily.
Tapi aneh, Alana tidak bisa membenci Lily. Dia terlanjur sangat sayang pada kakaknya itu. Lagi pula, ini kali pertama Lily mengadu, Alana paham mungkin dia takut dirinya merebut Arun.
"Aman kan?" Alana yang berjalan menunduk terkejut dikagetkan suara Arun di belakangnya.
"Bang.. ngagetin" rungut nya kesal.
"Aku khawatir kalau Lily memarahi mu. Hari ini ibu memukul mu lagi ya?"
Bola mata Alana membulat. Dia bingung kenapa Arun bisa tahu. "Ga, kok"
"Ga usah bohong. Aku lihat kau nangis, pipimu juga merah, dan sudut bibirmu berdarah" Alana hanya menunduk mendengarkan Arun membuka lukanya lagi.
"Ingatlah, setiap air mata mu yang menetes karena mereka, aku akan membalasnya" ucap Arun membelai puncak kepala Alana sebelum turun ke bawah.
__ADS_1
**Hai..Eike sibuk banget cuma bisa up satu bab lagi. maapkeun yah..betewe aku mau rekomen novel keren lainnya, kuy kepoin..