
Satu jam sudah Arlan berdiri di depan pintu kosan Sania, sesekali dia akan mengetuk pintu itu, berharap penghuninya akan sudi membukakan pintu baginya.
Dunia Arlan gelap. Dia kalang-kabut memikirkan cara agar Sania mau mendengar penjelasannya.
Habislah dia kali ini!
"San, aku mohon buka pintunya. Biar aku jelaskan semua. Kamu gak kasihan lihat aku berdiri di sini udah satu jam. Kebelet pipis aja aku tahan demi kamu," ucap Arlan sudah mulai kehilangan jati dirinya. Memohon, memelas, apapun akan dia lakukan. Tidak perlu gengsi, sudah begini keadaannya.
Kembali tangannya mengetuk daun pintu tetap tidak ada sahutan. Sania memang menerima tawaran, bukan ancaman berbentuk perintah agar Sania mau diantar pulang dari basecamp.
Teriakan Arlan yang memekakkan telinga mendapatkan perhatian dari orang-orang yang mereka lewati. Ada yang tersenyum seolah mengerti kalau sepasang kekasih itu sedang bertengkar, ada yang malah menunjukkan rasa takut dan kasihan nya pada Sania. Dia pikir gadis itu sedang dikejar oleh penjahat tampan.
Dari pada dilihatin banyak orang, Sania akhirnya mau naik. Bagaimanapun kencangnya Arlan mengendarai motornya, Sania berusaha sekuat mungkin untuk tidak pegangan pada Arlan. Menggenggam erat besi motor dekat jok yang bisa dia jadikan tumpuan. Begitu sampai, Sania melompat turun dan segera masuk, meninggalkan Arlan di luar. Pintu pun bergegas dikunci.
Sania tidak mendengar panggilan Arlan. Satu jam dia habiskan untuk menangis di kamar mandi dengan air keran yang dia nyalakan.
Diremasnya baju di dada. Sakit, perih dan menyesakkan. Jahat. Hanya itu kata yang bisa ditemukan untuk Arlan dan Kasa. Keduanya sudah dia anggap pria yang baik, dan dia bersyukur bisa bertemu mereka. Terlebih Arlan, pria itu sangat dia cintai melebihi apapun.
Dia tidak menyesal atas apa yang sudah dia lakukan dengan Arlan. Baik buruknya, dia akan pertanggung jawabkan. Namun, yang buat sesak di dada, kenapa semua yang terasa indah ini di awal hanya sebuah taruhan? Dia dianggap barang yang ingin diperebutkan oleh mereka berdua.
Satu hal yang menjadi keraguan Sania. Berarti selama ini cinta dan perasaan sayang ditunjukkan Arlan hanya kebohongan semata? Demi sebuah taruhan dan sialnya, dia menang!
Sania tertawa disela tangisnya. Menyadari kalau dia terlalu banyak berharap pada Arlan. Dia tidak lebih dari sebuah barang yang dijadikan taruhan.
__ADS_1
"Mama... Kenapa hidupku harus begini? Mama bilang aku anak yang baik, berbakti dan upahku akan mendapatkan kebahagiaan, tapi mana? Isaknya semaki menjadi. Kalau ibunya masih ada, mungkin dia tidak akan sehancur ini, paling tidak masih ada yang memeluknya saat terjatuh.
Dia hanya punya seorang ayah setelah peninggalan ibunya, tapi kenyataannya, ayahnya yang dulu juga sangat sayang dan memanjakannya berbalik tak ingin bertemu dengannya.
"Mama, aku gak mau hidup lagi. Aku lelah. Mama, datanglah, jemput aku," tangisnya begitu menyayat. Beberapa menit lalu dia sudah tenang, tapi teringat hari esok yang harus dia lalui seorang diri, membuatnya menangis lagi merindukan ibunya.
Sania menarik kakinya, melihat dan memeluk lututnya. Membenamkan wajah di antaranya. Terus menangis agar beban di hatinya sedikit berkurang.
Mata Sania bengkak. Dia juga menggigil menangis selama satu jam di bawah guyuran shower.
Rasanya dia lelah sekali. Menangis selama itu jauh lebih capek dari bekerja di restoran sampai subuh meski menangis dilakukan dengan duduk.
Kepalanya jadi pusing. Mungkin tubuhnya yang disiram air selama satu jam jadi masuk angin.
Tebakan Sania benar. Satu pesan datang dari kak Tiwi, kamar paling ujung. Dia kesal dan keberatan dengan keributan yang dibuat Arlan. Kekasihnya tidak bisa tidur katanya.
"Ar-lan. Hentikan. Aku mohon." Sania pada akhirnya mengalah, berbicara pada pria itu lagi.
"Buka pintunya, San. Aku mohon, kita harus bicara." Suara Arlan begitu memelas. Dia tak berdaya memikirkan kalau Sania akan meninggalkannya karena ini.
"Iya, tapi gak sekarang. Kamu pulang dulu, nanti kalau aku udah siap bicara, aku akan hubungi kamu," jawab Sania masih lembut, suaranya sendu gambaran kesedihannya.
Arlan tahu kalau kali ini dia tidak bisa memaksa kehendaknya. Sania janji mau bertemu dengannya lagi saja sudah satu kemajuan. Ibarat oksigen, janji Sania setidaknya adalah kantong udara yang bisa dia harapkan untuknya kembali bernapas sampai masalah ini selesai.
__ADS_1
"Kamu janji? Gak akan menghilang?" Arlan tanpa sadar bertingkah seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan kesukaannya.
"Janji. Tapi kamu juga janji, sebelum aku hubungi kamu jangan cari aku. Ke sini atau ke tempat kerja. Sekali aja kali langgar, aku benar-benar gak mau ketemu sama kamu lagi!"
Arlan tidak berani berkata lagi. Dia ingin aman, seenggaknya saat ini jangan menimbulkan konflik baru. Dia fokus mempertahankan Sania di sisinya.
"Aku pulang. Kalau ada masalah, kamu jangan lupa kabari aku." Lama Arlan menunggu tanggapan dari kalimat terakhirnya, tapi Sania tidak mengatakan apapun lagi.
Tubuh lunglai, Arlan pergi dari sana. Separuh hati dan pikirannya tertinggal di sana bersama keadaan Sania yang terluka.
"Maafkan aku, Sania," cicitnya saat sudah berada di atas motor. Dipandangnya sekali lagi pintu kos yang memisahkan dirinya dengan gadis yang paling dia cintai itu, lalu pergi dari sana.
***
"Gimana?" Kasa sudah menyerang lebih dulu kala mereka bertemu di bar. Dia bahkan duduk di meja menghadap Arlan yang sudah setengah mabuk dengan tatapan kosong.
"Woi, ******! Gue tanya gimana? Lu udah kasih penjelasan pada Sania?"
Arlan mengangkat gelasnya ke udara masih dengan tatapan hampa. Ketiga temannya yang sadar keadaan Arlan saat ini hanya bisa diam. Arlan tidak pernah sehancur ini saat bertengkar dengan kekasihnya terdahulu. Inilah takdir. Mungkin semesta ingin menghukumnya. Selama ini sudah banyak gadis yang dipermainkan olehnya, berhubungan dengan mereka tanpa cinta, tapi kali ini, dia bertemu Sania dan sialnya jatuh cinta pada gadis itu, bisa dibilang, dia tergila-gila pada Sania.
Sania adalah dunia, semesta, hidup, udara, dan masa depannya. Namun, saat ini mataharinya itu sedang tidak bersinar padanya.
"Lu jangan kayak orang bego. Udah gimana? Sania mau mendengarkan penjelasan mu?" Kasa tidak sabar, menarik gelas yang ada di hari Arlan. Gelas itu sudah kosong, tapi masih digenggam Arlan dengan begitu kuat, pastinya akan membuatnya hancur remuk di tangan Arlan.
__ADS_1
"Dia gak mau ketemu gue. Dia ingin waktu. Dia akan bicara, tapi perlu waktu memikirkan semuanya. Dia ingin menarik batas dari gue! Bisa lu bayangkan? Gue hancur kalau sampai ditinggalkannya!"