Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 24


__ADS_3

Seharusnya sangat mudah mengatakan 'Aku suka kamu', tapi kenyataannya, tidak bagi Arlan. Kalimat itu sangat tabu di telinganya hingga bibirnya sulit melafalkannya.


Dia hanya bisa menelan kecemburuannya, melihat kedekatan Sania dengan Kasa. Selama pria itu dirawat di rumah sakit, Sania mengurusnya. Sepulang sekolah menyempatkan menjenguk sebelum pergi ke rumah sakit. Meskipun dia sendiri mendengar bahwa itu permintaan Dita, tetap saja dia cemburu.


Contohnya saja, ketika Sania menyuapi Kasa, hampir saja Arlan membalikkan meja yang saat ini menopang kakinya. Sementara dari tempatnya, Kasa mengejek dengan tersenyum geli padanya.


Saat Sania akan pergi untuk bekerja, dan dia pamit untuk mengantar Sania, Kasa akan memintanya mendekat lalu berbisik, "Sorry, Bro, kali ini gue menang. Lebih baik lu puas-puasi naik itu motor."


Kalau tidak memikirkan Kasa sedang sakit, dia tidak segan menghajar pria itu. Dia hanya mendengus, lalu pergi begitu saja diiringi tawa Kasa.


Penderitaan Arlan untungnya segera berakhir. Setelah dia minggu dirawat, Kasa diperbolehkan pulang. Ayra menyambut gembira berita itu. Hampir setiap hari dia datang ke rumah Kasa.


"Kali ini bawa apa lagi, Neng?" Kasa menurunkan ponselnya. Matanya sepat sejak tadi main game. Kedatangan Ayra membuatnya semangat, keluar dari kebosanannya.


"Aku bawa bubur kacang hijau. Ini aku masak sendiri. Kakak makan, ya?" Ayra mengeluarkan kotak makan dan membawa ke dekat Kasa. Gadis itu sudah terbiasa berduaan saja dengan pria itu, tapi tetap saja dia akan gugup dan bergerak gelisah setiap Kasa menatapnya dengan cara yang lain.


"Aku gak suka. Buat kamu aja." Kasa tidak berlebihan, sejak kecil dia memang benci makan bubur. Tidak hanya kacang hijau, tapi semua jenis bubur. Bahkan bisa tertolong seperti phobia. Melihat benda encer dan lengket itu membuatnya mual lebih dulu sebelum memakannya.


"Kakaaaak... Makan, dong, aku udah capek buatin untuk Kakak. Coba dulu sedikit aja," bujuk Ayra memasang wajah sedih. Binar gembira di bola matanya saat masuk tadi hilang seketika.


Ayra tidak tahu, kalau sekarang itulah kelemahan Kasa. Dia tidak bisa melihat wajah murung dan sendu gadis itu. Dia ingin Ayra selalu gembira.


Hufffh! "Tapi dikit aja, ya. Aku lagi sakit, harusnya dibuat senang, bukan malah disiksa!"


Gadis itu tersenyum, wajahnya kembali terang. Bergegas dia membuka tutup kotak bekal, dan dengan cepat aroma khas kacang hijau menyeruak di hidung Kasa. Sumpah, dia mau muntah. Dari dalam perutnya saja sudah mendorong ingin keluar, tapi tetap dia menahan demi senyum Ayra.


Kasa mengalihkan rasa mualnya dengan memperhatikan bibir Ayra yang meniup bubur sebelum diberikan padanya.


Ck! Kenapa gue jadi pengen banget ngemut bibirnya?


Buru-buru Kasa mengalihkan pikirannya. Dia tidak bisa mengikuti keinginan hatinya yang paling sesat saat ini karena gadis yang ingin diterkamnya ini adalah adik sahabatnya sekaligus yang dianggap seperti adiknya sendiri.


"Aaaaaa..." Bak anak kecil, Ayra meminta Kasa membuka mulut. Perhatian Kasa terus fokus ke bentuk bibir Ayra yang sangat menggoda. Sarafnya menginstruksikan untuk mengikuti perkataan Ayra. Dia membuka mulutnya dan satu sendok kacang hijau masuk.

__ADS_1


Emmmbugh... Dorongan untuk muntah kembali datang, tapi tatapan Ayra membuatnya berjuang untuk menelan dengan cepat. Satu suapan saja berhasil membuatnya keringat dingin. Masih ada beberapa sendok lagi yang artinya perjuangannya masih panjang hingga ke garis finis dan berteriak merdeka!


Isi satu mangkok berukuran sedang akhirnya pindah ke perutnya. Ternyata tidak seburuk itu, tapi tetap saja dia tidak ingin mengulang lagi.


"Gimana? Kakak suka?"


"Suka banget!"


Dasar munafik lu, Kasa! Itu aja lu tadi mau muntah! Lu gak sadar kalau sekarang lu udah jadi budak cinta Ayra!


"Kalau begitu, besok aku bawain lagi," ucap Ayra penuh semangat.


Mampus, gue!


"Menurut Kakak, rasa manisnya udah pas, belum? Ada yang kurang atau mau ditambah apa?"


"Kamu mau tahu apa yang kurang? Sini mendekat."


Jantung Ayra seketika berhenti berdetak kala bibir Kasa sudah melekat di bibirnya. Dia bingung harus apa, tapi gerakan lembut bibir pria itu yang terasa di bibirnya membuat Ayra menutup mata. Dia tahu apa yang terjadi saat ini. Tubuhnya gemetar dan tangannya mencengkram kuat sisi gaunnya.


Bibir Kasa semakin intens, bergerak liar melu*mat bibirnya, dan selama itu pula Ayra merasa melayang. Lidah Kasa mulai menggoda, merayu agar gadis itu mau berpartisipasi dengannya. Sayang sekali kalau kenikmatan ini hanya dia yang berperan.


Satu menit berlalu, ciuman itu semakin panas. Ayra membuka mulutnya, mencoba mengikuti gerakan Kasa. Setiap lidahnya dihisap, Ayra akan merasa terbakar hingga er*angan pelan muncul dari cela bibirnya.


Kasa harus mengakhiri ciuman itu karena melihat wajah Ayra yang semakin memerah karena kekurangan oksigen.


Begitu terlepas, dada Ayra naik turun menggapai udara. Kasa yang melihat hanya menyunggingkan senyum. Dia tidak menyangka kalau bibir Ayra begitu nikmat. Kenikmatan yang belum pernah dia rasakan dari puluhan mantannya.


"Jangan mengejekku!" lirih Ayra, gadis itu menunduk malu. Dia sadar kalau dia masih pemula. Bahkan ini ciuman pertamanya, dan bagi Kasa yang master of para wanita, dirinya jauh dari kata memuaskan.


Kasa semakin mendekat, lalu menyatukan kening mereka, satu tangannya mengusap leher Ayra dengan jempolnya mengusap lembut pipi gadis itu.


"Kenapa kamu begitu manis?"

__ADS_1


Dalam diamnya Ayra melayang. Perasaan bangga dan juga terharu menghinggapinya.


Itu pujian, kan? Kak Kasa menyukai bibirku? Oh semesta, rasanya ingin sekali aku terbang.


"Aku minta maaf karena sudah menciummu, Ay. Kamu pasti membenci ku? Kamu berhak untuk marah," bisik Kasa. Dia siap kalau setelah ini dia akan dihajar Arun dan Arlan. Tapi dia sungguh tidak menyesali perbuatannya. Ini bukan nafsu semata. Dia memang menginginkan Ayra.


Dia kalah, dia sudah jatuh pada pesona gadis yang kini baru berusia 16 tahun. Kenapa dia harus terjebak dalam keadaan ini? Kenapa Ayra harus jadi adik Arlan?


Ayra menggeleng cepat. Dia ingin mengonfirmasikan kebenarannya. "Siapa bilang aku marah?" Kalimat itu meluncur tanpa mengangkat wajahnya. Yang benar saja, dia belum berani menatap wajah Kasa. Dengar saja, jantungnya masih berdebar tak karuan.


Jawaban Ayra membuat Kasa kembali tersenyum. Dia mencium kening, lalu naik ke puncak kepala Ayra. Di sana Kasa berhenti, seolah mengucapkan sesuatu dalam hatinya.


"Terima kasih."


***


Walau sudah ditentang Dita dan mengatakan lebih baik supir yang mengantar Ayra pulang tapi tetap saja Kasa bersikeras mengantar Ayra. "Biarin saja, Sayang. Dia udah cukup sehat dan kuat. Cowok dan boleh lemah," ucap Kaisar memberi dukungan. Dita kalah. Dua lawan satu, dia bisa apa?


"Udah sampai. Masuk, gih."


Ayra masih belum turun dari motor. Pelukannya saja masih begitu erat. Dia mau ikut lagi pulang ke rumah Kasa, tapi itu kan, tidak mungkin.


"Ayo, udah malam. Besok kamu sekolah."


Ayra terpaksa menurut. Aneh, dia jadi anak penurut sekarang.


"Besok Kakak udah masuk sekolah?"


"Iya. Besok, kita nonton, ya?"


Penuh semangat Ayra mengangguk. Belum ada kata jadian, tapi tanda-tanda dari Kasa kalau mereka akan pacaran, sudah bisa diduga Ayra.


"Bukannya lu masih sakit, kenapa bela-belain ngantar adik gue? Gue jadi curiga sama kalian!"

__ADS_1


__ADS_2