Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Jangan Menoleh Kebelakang


__ADS_3

"Selamat datang, silahkan diorder sebelah sini," sapa Alana dari balik mesin kasir tanpa melihat kearah pembeli.


"Al..."


Suara itu mampu membuat Alana hampir menjatuhkan kepingan uang logam kembali ke dalam mesin kasir. Alana mendongak, memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.


Seperti tersihir, Alana diam, menatap lurus ke depan, menatap mata pria itu.


"Al..." ulangnya menyebutkan nama Alana dengan bibir gemetar.


"Ga-ra..."


"Bisa bicara sebentar?" suara Gara memohon, berharap Alana mau untuk diajak bicara. Kerinduan yang dirasakan pria itu, membawanya tanpa sadar ke toko roti milik Alana. Dia sudah berusaha selama ini menjauh dari gadis itu, mendatanginya sesekali sekedar hanya untuk melihatnya dari jauh, tanpa berani mendekat. Namun hari ini, Gara memang ingin menemui Alana, apapun resiko nya.


Bingung harus bersikap bagaimana, jadi Alana hanya mengangguk. Gara lebih dulu berjalan, memilih tempat yang nyaman untuk bicara.


"Apa kabar, Al?" tanya Gara basa-basi. Melihat Alana dihadapannya membuat lidahnya keluh, padahal semua yang ingin dia ucapkan, yang susah payah dirangkainya sejak awal sudah dihafalkan luar kepala, namun setelah bertemu dengan Alana, seolah semua menguap, hilang tak berjejak.


"Baik, Ga. Kamu, sehat kan?"


"Seperti yang kamu lihat, Al. Hingga saat ini aku masih hidup, masih bernafas, namun itu hanya tubuhku, hatiku sudah lama mati," ucapnya menemukan lidahnya.


Alurnya sudah bisa ditebak, Gara ingin membawa pertemuan itu dengan topik yang justru ingin dia hindari. Alana tidak ingin menyakiti Gara lebih lagi. Harus dengan apa Alana menyadarkannya?


Tidak ada hal yang perlu mereka bicarakan, semua telah usai. Tidak perlu lagi menoleh kebelakang.


"Al, kasih tahu aku bagaimana caramu bisa melupakanku? aku tersiksa begini, Al. Terjebak dalam hidup yang tidak aku inginkan" Gara menarik tangan Alana yang ada di atas meja, mencoba menggenggam tangan gadis itu erat.


"Apa-apaan sih, Ga. Jangan begitu, aku ini istri orang" Alana menarik paksa tangannya dari genggaman Gara.

__ADS_1


"Aku hanya minta saran, Al. Aku hancur, Al. Seandainya aku bisa memilih untuk mati, maka itu akan menjadi pilihan terbaik buatku"


"Aku tidak bisa memberi saran. Aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Namun, jika memang kau ingin mendengar pendapat, maka pulang lah, jangan datang lagi ke sini, Ga. Hargai wanita yang sudah dijodohkan denganmu," tutur Alana.


Dia ingat pertemuannya dengan Nadia waktu itu. Sama halnya dengan suaminya, Nadia saat itu juga meminta saran.


"Aku tidak bisa, Al. Aku bahkan membencinya. Setiap melihatnya, maka aku akan ingat dia lah penyebab aku kehilanganmu"


"Omong kosong, kau tidak kehilangan aku. Justru kaulah yang memilih untuk pergi dari sisiku. Tapi ambil positifnya, Ga. Kita memang tidak berjodoh "


Suasana hening. Keduanya diam, bergumul dengan pikiran mereka masing-masing. "Sebentar, aku ambilkan minum dulu" Alana bergerak menuju pantry.


Jangan salah, dia bukan ingin menahan Gara untuk tinggal lebih lama, hanya Alana melihat bibir kering Gara dan juga wajah pucat nya. Menawarkan segelas teh manis hangat mungkin tepat. Lagi pula, diluar rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


Mungkin juga alam ingin menyirami bara di hati Gara. "Diminum, Ga..." tawar Alana dan kembali duduk di kursinya tadi.


"Apa kamu bahagia? Apakah kehidupanmu saat ini, cukup membuatmu nyaman?" entah apa maksud ucapan Gara, yang pasti dengan mantap Alana menjawab "Ya, aku bahagia dengan semua yang aku miliki saat ini. Hidup ku terasa lengkap"


Suara tawa bocah yang sedang lasaknya berjalan, menarik perhatian kedua orang dewasa itu. "Itu, Arlan?" suara parau Gara mencoba terdengar kuat. Anak itu mendatangi Alana dan minta untuk duduk di pangkuannya.


"Yuk, ke taman" ajak Juli yang membawa Arlan tadi. "Ga ma-u...ga Mauoo...mau sama mama" kicau anak itu memilih memeluk leher Alana, seolah dia tahu kalau pria yang datang menghadap Alana adalah pria yang selama ini mengganggu rumah tangga orang tuanya.


"Arlan, sini sama, om" Gara mengulurkan tangannya, namun Arlan tidak mau menerima, justru berlari masuk lagi ke dalam.


"Arlan sudah besar sekarang, Al"


"Kamu benar. Aku harap kamu bisa lihat sendiri, betapa bahagianya aku, memiliki Arlan dan juga bang Arun."


"Aku tahu, kamu gadis baik, makanya aku ingin kembali padamu," ucapnya mencoba melempar kesempatan, dengan tujuan membuat Alana terpesona.

__ADS_1


"Nadia gadis yang baik, Ga. Cobalah untuk menerimanya"


"Selama itu bukan kamu, aku tidak bisa menerimanya " sahut Gara tegas. Seolah tidak ada yang bisa memaksanya dalam hal itu.


"Kalau begitu, kamu akan terus berada dalam lingkaran masa lalu, yang kamu tahu sendiri kalau tidak akan ada gunanya, semua tidak akan bisa kembali seperti dulu"


"Bisa, Al. Kamu minta cerai pada suamimu, dan aku akan segera menceraikan Nadia. Kita hidup bersama, kamu mau kan, Al?" Gara masih berusaha membujuk. Dia tidak akan berhenti berusaha sampai diterima.


"Jangan gila, kamu Ga! Aku mencintai suami dan anakku, sampai kapanpun aku tidak akan mau berpisah dengan suamiku," sahut Alana galak. Berdiri dari tempatnya, dan ingin segera meninggalkan pria itu.


"Al, aku mohon, dengarkan, aku. Aku bisa mati jika harus berpisah denganmu"


"Selama ini juga kita sudah berpisah, Ga dan kau nyatanya baik-baik saja. Pulang lah, biar waktu yang membalut lukamu. Sementara kau bertahan selagi terluka, buka hatimu untuk menerima perhatian tulus dari Nadia"


Tidak ada bantahan. Ini adalah uji cobanya yang terakhir dalam mendapatkan hati Alana. Dia sudah berjanji akan pergi yang jauh, jika rencana kali ini pun gagal.


"Kamu benar. Aku sudah tenang, asal aku bisa memastikan kamu baik-baik saja, kamu bahagia dengan hidupmu saat ini, maka aku sudah tenang. Itu sudah cukup bagiku saat ini"


Gara bangkit, menatap Alana dengan lekat sekali lagi. Alana yang ditatap tidak biasa jadi kikuk dan salah tingkah.


"Aku pamit, jaga dirimu, Al. Jaga Arlan..berbahagialah, Al, karena kamu pantas mendapatkannya"


Gara menyodorkan tangannya, ragu sesaat menghampiri, akhirnya Alana menjabat tangan Gara. Ini adalah salam perpisahan mereka. Bisa jadi ini pertemuan mereka yang terakhir. Kelak, setelah hari, jika ada pertemuan kembali, mereka bisa saling sapa dengan senyum, bercerita sebagai seorang teman lama. Jabatan itu sekaligus pertanda kalau tidak ada kisah cinta Gara - Alana lagi.


Kedua anak manusia, yang bertemu, bersahabat dan menjalin kasih, takdir menentukan lain akan perjalanan hidup mereka. Semua sudah diatur yang Kuasa. Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap umatnya.


Hingga Gara pergi, Alana masih terus mengamati punggung yang perlahan menjauh itu. Pria terluka, yang kehilangan arah pulang.


Alana hanya berharap kalau mulai saat ini, Gara akan kembali menata hidupnya, kembali menjadi Gara yang punya semangat hidup tinggi.

__ADS_1


"Gara, aku berdoa agar kau pun mendapatkan kebahagiaan mu.."


__ADS_2