Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kecelakaan


__ADS_3

Baru saja Alana berhasil memejamkan matanya, bunyi ponselnya terus saja berbunyi, hingga membuatnya terbangun. "Halo...," jawabnya tanpa melihat nama dilayar hapenya.


"Ini Alana, kan? ini mama Reni, Al" putaran nama itu di kepalanya hanya persekian detik lewat, langsung berhasil membuat kesadaran Alana kembali.


"I-iya, ma. Apa kabar?" sapa Alana terduduk. Diliriknya jam dinding di kamarnya. Pukul 11 malam. Arun yang di sampingnya juga sudah terlelap dengan tangan menempel di perut Alana.


"Al, kamu bisa kemari ga? mama mohon" ucap mama Reni terdengar terisak. Alana semakin menajamkan pendengarannya, benar wanita itu sedang menangis.


"Mama kenapa? mama dimana sekarang?" tanya Alana turun dari ranjang, menjauh agar tidak tidak didengar Arun.


"Mama di rumah sakit Bhayangkara, Gara mengalami kecelakaan. Al, mama mohon, kamu mau datang, kan?"


Bingung harus jawab apa. Alana tidak bisa serta-merta menjawab iya. Dia harus tanya suaminya terlebih dulu, terlebih ini berhubungan dengan Gara. Dia tidak ingin suaminya berpikiran buruk terhadapnya.


"Al..." kembali suara mama Reni memanggil namanya.


"Maaf ma, aku tanya bang Arun dulu. Nanti aku kabari ya, ma"


"Baiklah. Mama akan kirim lokasinya, kamu mau datang mama sangat berterimakasih, tapi kalau pun kamu tidak bisa datang, mama juga akan maklum," jawab mama Reni.


Sambungan telepon terputus. Alana masih berdiri ditengah ruangan mengamati Arun yang tertidur pulas, nafasnya naik turun seiring dengkuran halus yang terdengar.


Ragu-ragu Alana mendekat, menyentuh tangan Arun dan mulai memanggil namanya.


"Bang, bang Arun..." panggilnya pelan. Terbuai dalam mimpinya, Arun sama sekali tidak mendengar penggilan Alana.


"Bang..bang Arun, bangun bang.." kali ini gadis itu lebih kuat menggoyangkan tubuh Arun, hingga perlahan mata pria itu terbuka.


"Ada apa, Al? kau mimpi buruk, sayang?" tangan Arun menarik punggung Alana, agar rebah di dadanya. Pria itu masih setengah sadar, menyangka Alana terbangun karena mimpi buruk.


"Abang...bangun dulu. Dengar, aku mau izin pergi ke rumah sakit"

__ADS_1


Mendengar kata rumah sakit, Arun spontan duduk, menatap wajah Alana, lalu memeriksa tubuh Alana, takut kalau gadis merasa sakit.


"Bagian mana yang sakit, sayang?" ada ke khawatiran dalam nada suara Arun.


"Aku baik, bang. Ga sakit. Aku ke rumah sakit untuk melihat keadaan Gara.."


"Apa?" kening Arun berkerut, menatap curiga pada Alana. Dalam pikirannya, apakah istrinya masih berhubungan dengan pria itu dibelakangnya!


"Abang, jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Tadi mama Reni, mamanya Gara, nelpon minta aku datang ke rumah sakit. Gara mengalami kecelakaan, bang."


"Kau ingin pergi?" Arun bisa menangkap rasa sedih yang tergambar di wajah Alana. Bagaimanapun, pria itu pernah hadir dalam hidup Alana. Melindungi dan menjadi tempat Alana bersandar. Jadi, kalau terjadi hal buruk seperti saat ini pada Gara, wajar kalau Alana sedih


"Kalau abang izinkan, aku akan pergi, tapi kalau abang ga bolehin, aku akan nurut" Arun tahu, itu hanya di bibir Alana, kalau saat ini Arun bisa membelah hati gadis itu, dan melihat isinya, Arun yakin, Alana ingin sekali pergi ke sana.


"Pergilah, aku percaya padamu" Penuh haru, Alana masuk dalam pelukan Arun, memeluk dan menciumi dada pria itu, sebagai ungkapan rasa syukurnya memiliki suami sebaik itu.


"Maukah, kau menemaniku?" tanya Alana mendongak melihat wajah Arun.


"Kalau abang ga keberatan, aku akan senang sekali kalau kau mau pergi denganku" Arun mencium ujung hidup mancung Alana, kemudian mengembangkan senyumnya. "As your wish, my queen"


***


Suasana duka begitu terasa di lorong depan ruang operasi. Mama Reni tampak menangis sesunggukan dalam pelukan Gilang. Dipojok ruangan, tak jauh dari tempat mama Reni, Nadia terduduk lemas, tertunduk tanpa hentinya menyeka air mata dengan tisu ditangannya.


"Ma, aku datang," ucap Alana menghampiri mama Reni. Begitu melihat gadis itu, tangis mama Reni semakin kencang. Menarik tubuh Alana, memeluk erat tubuh gadis begitu erat, seolah mama Reni ingin membagi kesedihan terdalamnya dengan Alana.


"Gara, Al. Garaaaaa...." pekiknya terus menangis, semakin kencang. Kesedihan itu menular, Alana jadi ikut menangis. Keduanya saling berpelukan erat, menangisi orang yang sama, yang saat ini berjuang di meja operasi.


"Terimakasih sudah datang, mas" sapa Gilang pada Arun, dan mengajaknya duduk di salah satu kursi tunggu.


Sudah satu jam Gara berada di ruang operasi, tapi satu dokter pun belum ada yang keluar.

__ADS_1


"Apa Gara mengalami kecelakaan tunggal?" tanya Arun. Instingnya bilang, kalau itu kecelakaan tunggal, karena Arun tidak melihat adanya pihak lain, yang biasanya menjadi lawan kecelakaan itu. Paling tidak keluarganya.


"Benar, mas. Gara menabrak pembatas jalan. Saat itu dia mengendarai sepeda motor, tanpa helm pula" terang Gilang.


"Jadi, kepalanya..."


"Benar, mas. Itu yang kita takutkan"


Keduanya kembali diam. Baik Gilang ataupun Arun tahu, kalau kecelakaan seperti itu, bagian tubuh yang paling riskan adalah kepala, terlebih Gara tidak memakai helm.


Setengah jam lagi berlalu, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dari sana, masih lengkap dengan pakaian hijaunya. "Bagaimana dengan adik saya, dok?" tanya Gilang antusias.


"Kita tunggu dulu dia siuman, kalau operasi berjalan lancar. Saya minta salah satu anggota keluarga pasien, ikut ke ruangan saya. Ada sedikit yang akan saya jelaskan"


Gilang sebagai perwakilan, mengikuti langkah dokter itu. "Diminum dulu, ma" Alana menyodorkan cup teh yang dibelinya dari kantin rumah sakit dilantai bawah.


Mama Reni, menolak. Dia tidak bisa minum apapun sampai tahu keadaan putra bungsunya. "Minum lah, ma. Sedikit aja" bujuk Alana mendekatkan cup ke bibir mama Reni.


Tidak bisa mengelak, mama Reni meminum teh hangat itu. Terasa sedikit menenangkan nya. "Mama pegang aja, Al," ucapnya dengan suara parau.


Alana beranjak, mendekati Nadia dan menawarkan segelas untuk gadis itu. Sama halnya dengan mama Reni, keadaan Nadia juga tidak jauh berbeda. Mata cekung dengan lingkaran hitam dibawah matanya.


"Minum dulu, Nad" Alana mengambil tempat tepat disampingnya. Merasa iba melihat keadaan gadis itu saat ini. Sebenarnya nasib Nadia sama dengan Gara, terpuruk karena cinta. Cinta yang menyakitkan karena hanya bertepuk sebelah tangan. Gara mencintai Alana, sementara Nadia mencintai Gara.


Tapi setiap pertemuan pasti ada tujuannya, bukan? Tuhan mempertemukan dengan seseorang, karena akan ada cerita dibalik itu, terlepas dari baik buruknya.


"Makasih udah datang, Al" Nadia menoleh ke samping, menatap mata Alana. Tulus mengucapkan rasa terimakasihnya.


"Kamu harus kuat, Nad. Saat ini, Gara lebih membutuhkanmu. Tapi jika selama ini dia bersikap tidak adil padamu, hanya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Tetap berada di sisinya, atau pergi meninggalkannya"


"Aku akan milih yang kedua, Al, kalau itu bisa membuatnya lebih baik"

__ADS_1


__ADS_2