
Satu persatu Gara mengenali orang yang ada di ruangan itu. Kondisinya sudah semakin baik hari ini. Lima belas menit yang lalu dia sadar, dan dokter memanggil keluarganya, memperbolehkan masuk menjenguk Gara.
"Kamu sudah sadar, nak?" mama Reni menunduk, berbisik ditelinga pria itu dan mencium keningnya.
"Ma-ma..." surau Gara terdengar parau. Mencoba mengingat kejadian terakhir yang dialaminya hingga berakhir di rumah sakit itu.
Hari itu, sepulang bertemu Alana, Gara singgah ke satu bar. Duduk sendiri dengan pikiran yang kalut dan berteman minuman.
Terlalu naif jika dia menginginkan kematian, namun hidup tanpa Alana juga tidak mungkin dia sanggup. Minum terlalu banyak hingga membuat nya mabuk.
Pukul 1 pagi, Gara pulang dalam keadaan sempoyongan, mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dalam kesadaran hanya 50 persen. Selama dalam perjalanan, bayangan Alana terus berputar dalam kepalanya.
Jalanan pada pukul dini hari begitu pasti sepi, hingga Gara merasakan laju motornya bisa ditambah lagi. Menghindari lobang di aspal, motor Gara jadi oleng hingga tak terelakkan lagi menabrak pembatas jalan. Dentuman kuat terdengar saat itu dan seketika Gara jatuh, terpelanting jauh ke tengah jalan.
"Mama mohon nak, jangan tinggalin mama. Mama tidak mungkin sanggup kehilangan kamu, Ga" isak mama Reni kembali terdengar.
"Sudah, ma. Jangan nangis lagi. Mama sudah menangis sejak kemarin tiada henti. Lagi pula Gara sudah siuman," ucap Gilang menenangkan mamanya.
"Benar ma, Gara perlu istirahat. Ingat kata dokter, jangan terlalu banyak mengajaknya bicara," timpal Gala setuju akan perkataan abangnya.
"Sebaiknya kita keluar aja, biar Gara bisa istirahat," lanjut Gilang memberi saran. Mama Reni mengangguk setuju. Apapun akan dia lakukan kini, asal demi kebaikan Gara.
Satu persatu keluar, Gilang yang ada didekat pintu, lalu di susul Gala dan istrinya. Mama Reni yang ada di dekat Gara pun mengikuti mereka dipapah Nadia yang sejak tadi diam di belakang mertuanya. Nadia begitu bersyukur melihat Gara siuman, hingga tak ingin mengatakan apapun, hanya terus meneteskan air mata sembari berdoa pada ilahi.
Ketika tepat Nadia di samping tempat tidurnya, Gara menghentikan langkah gadis itu dengan menarik sisi gaunnya. Nadia menoleh, begitupun mama Reni yang jadi ikut berhenti.
"Kau tinggal lah, aku haus," ucap Gara.
Mama Reni tidak mengatakan apapun, memukul pelan tangan Nadia sembari tersenyum, lalu meninggalkan keduanya dalam ruangan itu.
__ADS_1
Nadia kikuk, itu pasti. Perlahan bergerak ke meja, mengambil air hangat, dan meletakkan sedotan di dalam gelas, agar memudahkan Gara untuk minum.
Setengah dari isi gelas kaca itu sudah diminumnya. Dengan melepas sedotan dari mulutnya, Nadia menyimpulkan pria itu sudah tidak ingin lagi.
"A-ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Nadia terbata. Rasanya dia tidak sanggup berdiri tegak, kalau Gara menatapnya seperti saat itu, begitu dalam dan tajam.
"Aku minta maaf, jika membuatmu kecewa selama ini. Mungkin kau sudah sangat tersiksa menjalani hubungan seperti ini. Jika kau ingin pergi dari ku, maka lakukanlah Nadia. Kau masih muda, berhak mendapatkan kehidupan dan hubungan dengan orang yang lebih baik dan lebih menghargai mu," ucap Gara.
Perlahan, isak tangis gadis itu terdengar. Begitu perih dan menyayat hati. Nadia terus menangis dengan wajah tertunduk.
"Nadia..." ucap Gara untuk kedua kalinya mengucapkan namanya selama menjadi istri nya, kali pertama saat ijab Kabul, lalu hari ini dan hal itu mampu membuat Nadia mengangkat wajahnya.
"Maafkan aku, kau berhak bahagia. Lupakan perjanjian orang tua kita, lepaskan lah diri mu dari pernikahan ini," pinta Gara.
"Kalau itu yang kamu inginkan, kalau menurutmu itu yang terbaik, maka aku ikhlas,"jawab Nadia tersenyum getir. Perlahan tangannya naik ke atas tengkuknya, lama di sana membuka kaitan kalung yang menggantung di lehernya.
Nadia menggenggam liontin yang sejak kecil sudah ada dilehernya, menutup mata seolah mengucapkan salam perpisahan.
"Aku tidak perlu lagi menyimpannya setelah kepergian ku nanti, terimakasih untuk selama ini, aku pamit, Ga. Aku akan memanggil bang Gilang untuk menemanimu"
Baru akan melangkah, Gara menarik tangan Nadia, sementara tangannya yang lain memegang liontin itu.
"Ini..."
Nadia berbalik menatap gadis itu, melihat ke matanya. "15 tahun lalu kamu memberikan itu padaku, kamu minta aku menyimpannya sampai kamu datang lagi menemui ku"
Ada jeda dan tarikan nafas panjang dari Nadia. "Aku pikir, sekarang waktunya aku mengembalikannya padamu" Nadia mencoba untuk melepas senyumnya.
"Kamu si ompong?" tanya Gara tidak percaya. Gadis yang selama ini menjadi istrinya justru adik sekaligus teman masa kecilnya. Lama diamatinya gadis itu, masih tidak percaya, gadis kecil yang selalu menghiburnya, menyayangi nya sejak kecil adalah istrinya.
__ADS_1
Gara bukan tidak ingat dengan teman kecilnya dulu, dan setahu Gara namanya bukan Nadia. Om Leo, papanya selalu manggil Putri, dan Gara memberi gelar ompong karena saat itu gigi Nadia yang di bagian atas memang sudah habis rata alias ompong.
Nadia hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Gara. "Aku pergi, Ga. Aku akan jelaskan pada mama Reni dan papaku alasan kita berpisah" Nadia sudah melangkah meninggalkan Gara yang masih belum kembali dari kesadarannya. Memorinya membawanya bermain jauh ke masa kecilnya yang indah dengan Nadia.
"Kamu udah keluar, Nad? gimana Gara? apa dia memintamu keluar karena tidak ingin istirahat?" mama Reni mencerca Nadia dengan banyak pertanyaan.
"Ga ma. Aku memilih untuk keluar. Ma, bang, kak..," ucap Nadia mengamati satu per satu anggota keluarga.
"Terimakasih selama ini sudah menjaga ku, bersikap baik padaku dan menerimaku dalam keluarga ini. Aku bersyukur pernah menjadi bagian keluarga ini. Mama Reni, terimakasih sudah menjadi sosok ibu yang selama ini aku rindukan, aku yang sejak kecil sudah tidak memiliki ibu, akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku mohon, izinkan aku pamit dari keluarga ini. Aku dan Gara tidak akan pernah bahagia dalam pernikahan ini. Aku akan bicara dengan papa, agar segera mengurus surat cerai kami"
Ah... akhirnya Nadia mengatakan semuanya, beban yang terhimpit di dadanya seakan sudah menguap. Kini dia dapat tersenyum lebar. Rasa sakit itu masih ada dan mungkin butuh lama untuk sembuh, tapi Nadia yakin akan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.
"Kenapa harus begitu, Nadia? Mama tahu, Gara sudah banyak salah padamu, tapi mama mohon kamu tetap bertahan, nak" Mama Reni menggenggam tangan Nadia.
"Ini semua demi kebaikan kami bersama, Ma. Ikhlaskan perpisahan kami"
"Kamu tunggu sebentar, mama mau bicara dengan Gara" mama Reni sudah bangkit dari duduknya, melangkah mantap ke dalam ruangan Gara.
Gara tengah menatap liontin itu saat mama Reni masuk. Wajah lelah itu tidak tahu harus menunjukkan ekspresi bagaimana. Mama Reni seolah sudah tidak tahu lagi cara menangis.
"Ga, apa kamu tidak bisa menerima Nadia sebagai istri kamu? Apakah pengorbanan nya selama ini tidak bisa menyentuh hati mu? apakah perceraian menjadi jalan satu-satunya bagi kalian?" mama Reni kembali menangis.
"Siapa yang bilang kami akan bercerai?" tanya Gara menatap ibunya. Riak wajahnya sudah berubah.
"Nadia. Dia sudah pamit pada semua anggota keluarga. Dia akan meminta cerai padamu. Dia ingin berpisah dengan mu!"
"Katakan padanya, itu hanya akan terjadi kalau aku mati!"
****
__ADS_1
Hai, mampir lagi ya