
Suasana menjadi kaku malam itu sejak Agatha memilih menginap di vila, meninggalkan teman-temannya di hotel.
Sejak itu pula, mata Sania perih. Mau nangis, tapi malu. Kenapa perasaan hatinya kacau sekali? Tidak rela, tapi dia siapa? Dia harus siap melihat kemesraan yang dipertontonkan Agatha.
"Lu kayak ulat bulu deh, Gath, nempel Mulu," celetuk Kasa melirik geli pada keduanya. Untuk apa, sih, gadis itu harus datang?
Kasa tahu kalau Arlan sangat tidak suka akan keberadaan gadis itu di sini, tapi Arlan terlalu sopan untuk mengusirnya, terlebih di depan keluarga. Coba kalau hanya ada mereka berdua, niscaya pasti sudah sejak tadi Agatha dimaki.
"Jealous lu? Suka-suka gue sama pacar gue. Emang elu, ditinggal Gina?" ejek Agatha kembali menyentuhkan dadanya ke lengan berotot Arlan.
Mereka duduk di dekat pantai, mengitari api unggun. Sementara para orang tua membentuk lingkaran sendiri. Sejak tadi Alana terus melihat ke arah Agatha yang tidak mau jauh dari sisi Arlan.
"Gak usah dilihatin terus, Sayang. Namanya juga anak muda," ujar Arun mengusap lengan Alana yang juga bersandar pada Arun. Angin malam bertiup, sedikit membuat rasa dingin di kulit.
"Aku cuma kasihan sama Arlan, kayaknya dia gak suka sama Agatha," jawabnya lirih.
"Iya, heran anak gadis zaman sekarang, kenapa gak tahu malu begitu sih, ngelendot udah kayak anak kecil. Beda cerita kalau udah jadi suami," celetuk Dita. Sama halnya dengan Alana, Dita juga kurang suka pada sikap Agatha.
"Beda banget sama Sania, ya," komentar Alana membenarkan perkataan Dita.
"Iya, makanya aku pendekatan, semoga jodoh sama Kasa."
"Sayang, kamu terlalu cepat memikirkan hal itu. Anakmu itu saja masih SMA juga belum selesai," sambar Kaisar tersenyum. Sejak tadi dia hanya mendengarkan para istri ngedumel.
"Aku masuk dulu ya," ujar Sania yang tidak tahan lagi. Perasaannya campur aduk saat ini. Dia ingin marah pada Arlan karena menjadi penyebab kegelisahannya saat ini. Kalau saja pria itu tidak menciumnya, Sania tidak akan sekesal ini.
Dia yang bodoh, sempat pula berpikir kalau ciuman itu tanda Arlan menyukainya, jelas-jelas dibandingkan dengan Agatha, dia bukan siapa-siapa.
"Baru juga duduk, bentar lagi, dong San," bujuk Kasa menarik kembali pergelangan tangan Sania hingga membawa gadis itu kembali terduduk di kursinya.
"Biarin aja kenapa, sih, Kasa. Lagi pula gue heran, ada hubungan apa sama keluarga ini, kenapa anak aneh ini ikut liburan bareng kalian?" Wajah Agatha memandang rendah ke arah Sania. Sejak dia sampai di vila dan melihat kehadiran Sania, dia sudah tidak suka.
Dia tahu Sania, murid pindahan yang terkenal pintar di sekolah. Sayangnya, dia tidak satu kelas dengannya, kalau iya pasti sudah habis dikerjai Agatha.
__ADS_1
"Kak Agatha apaan, sih, ngatain Kak Sania aneh? Dia itu guru les aku, dia juga baik. Kakak itu yang aneh, gak mau nimbrung di liburan kami tanpa diundang!" seru Ayra kritis. Sejak tadi hanya Agatha yang ngoceh sementara mereka berempat hanya diam. Tidak ada perbincangan atau canda tawa seperti tadi siang saat mereka jalan-jalan. Kasa juga tidak mood, karena keberadaan Agatha yang menyinggung soal hubungan Kasa dengan Gina di depan orang tuanya tadi.
"Kok kamu gitu, sih, Ay? Kamu dipengaruhi dia, ya? Dulu kamu baik sama aku." Agatha sedikit malu dan tentu saja tidak terima Ayra menyerangnya.
Agatha berharap kalau hubungannya dengan Arlan akan panjang, hingga ke jenjang pernikahan, tapi kalau sekarang aja salah atau anggota keluarga sudah tidak setuju, hal itu akan memberatkan langkahnya.
"Cukup Agatha. Lu gak usah fitnah orang. Kalau lu punya harga diri, lebih baik lu balik ke hotel, biar gue anterin!"
Ucapan Arlan sama saja seperti menampar Agatha. Dia menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Arlan agar bisa melihat wajah pria itu lebih jelas. Apa-apaan ini, kenapa semuanya menyerang dirinya?
"Kamu belain dia, Beb?"
"Lu berisik, gue udah bilang mending lu pergi sana!" Arlan menarik rokok dari kotaknya, lalu meminjam rokok di sela jari Kasa dan menyalakan lewat baranya.
Wajah Agatha memerah. Dia menatap satu persatu orang yang ada di sana, lalu berdiri.
"Begini kamu perlakuan aku, Ar, setelah apa yang sudah kamu perbuat denganku?"
Emosi Arlan tersulut, dia melempar batang rokoknya lalu menarik tangan Agatha.
Sania memandangi punggung Arlan yang menjauh. Hatinya menghangat karena pria itu membelanya. Tapi akibatnya nanti sungguh tidak pernah dibayangkan Sania.
***
Sania belum terpejam, dia menanamkan pendengarannya menunggu kepulangan Arlan. Diliriknya kembali jarum jam, sudah pukul dua pagi. Semua orang sudah tidur dengan nyenyak nya.
Rasa khawatir membuatnya ingin mendatangi Kasa. Dia yakin pria itu belum tidur. Dia ingin meminta Kasa pergi mencari Arlan.
Namun, rasa enggan itu menahan langkahnya. Dia juga tidak mau menimbulkan kecurigaan Kasa, atas dirinya yang terlalu mengkhawatirkan Arlan.
"Masa bodo, aku bisa gila kalau hanya berdiam diri begini, menunggu sampai Arlan pulang," cicitnya keluar dari kamar.
Sebisa mungkin langkah Sania sangat pelan, tidak ingin membangun pengisi vila.
__ADS_1
"Lu nyari gue?"
Tangan Sania yang ingin mengetuk pintu kamar Kasa menggantung di udara.
"Kamu dari mana?"
"Dapur. Ada apa?"
"Mmm... Arlan belum pulang, ya? Aku khawatir," tukasnya meremas jemarinya yang saling melilit.
Kasa diam memperhatikan wajahnya Sania, mencari kecurigaan yang sedikit mulai berkembang di benaknya.
"Mmm... Itu, mereka bertengkar karena belain aku, jadi aku merasa bersalah."
"Oh... Gue pikir lu suka sama dia!" jawab Kasa menyeringai. "Dia pasti baik-baik. Hubungan mereka memang toxic, sering banget bertengkar. Lu gak usah khawatir. Sekarang mumpung lu udah di sini, gue mau bicara."
Kasa tanpa permisi, menarik tangan Sania, membawa gadis itu melintasi ruang depan menuju halaman, terus berjalan menuju bibir pantai, tempat mereka tadi menyalakan api unggun.
Wajah murung Sania hanya pasrah. Hampir semua isi pikirannya ada pada Arlan. Berharap pria itu segera pulang, agar dia bisa tenang.
"Kasa, kamu ngapain?" Sania terkesiap melihat Kasa yang sudah berlutut di depannya. Mengunci pergerakannya dengan memegang kedua sisi kursi.
"San, ada yang mau gue omongin ke elu. Gue suka sama lu, dan berharap lu mau jadi pacar gue."
Kalimat itu diucapkan Kasa dengan satu kali tarikan napas. Dia sudah beberapa kali nembak cewek, tapi tidak pernah se-grogi dan berdebar seperti saat ini.
"Jawab, San. Gue ingin dengar jawaban lu sekarang!" paksa Kasa.
"Aku... Aku gak bisa, Kasa. Lepaskan, kamu nyakitin tangan aku," pinta Sania merasakan cengkeraman Kasa di lengannya.
"Tapi gue suka sama lu. Gue mohon, kita coba pacaran dulu, kalau lu gak bisa cinta sama gue, kita pisah. Simple, kan?" tuntut Kasa melepas lengan Sania. Rasa bersalah menyelimutinya kala melihat lengan putih Sania yang kini berbekas jarinya.
"Maaf, Kasa, aku gak bisa." Sania masih kekeuh pada jawabnya. Dia tidak mungkin pacaran dengan orang yang tidak dia sukai.
__ADS_1
Kasa yang merasa kecewa terdiam kaku. Bingung harus bagaimana membujuk Sania lagi. Satu tindakan terlintas dalam benaknya. Saka menangkup wajah Sania dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu, tepat saat Arlan berada di belakang mereka dan melihat semuanya dengan jelas.