
Alana baru saja memberikan uang kembalian pada Pelanggan pertamanya saat Dita menerobos masuk ke dalam toko dengan wajah dan rambut acak-acakan.
"Nih.." Dita meletakkan satu gepok duit yang bahkan masih ada lebel dari salah satu bank swasta di negeri ini.
"Apa ini?" tanya Alana tak mengerti.
"Gue pesan racun seember, biar gitu gue minum langsung metong gue" ucapnya kesal.
"Becandaan mu ga lucu Ta. Kamu ngapain pagi-pagi udah ke sini?"
"Jadi gue ga boleh kemari? ok fine, gue pergi"
Alana keluar dari pintu setengah badan yang terbuat dari papan hanya untuk para karyawan dan orang yang berkepentingan.
"Tunggu,Ta" kejar Alana menarik tangan gadis itu yang udah sampai di pintu kaca. "Gitu aja ngambek. Maksud aku kenapa pagi-pagi udah ada di sini? biasanya jam segini kamu kan masih tidur"
Huaaaaaaaaa.. Tiba-tiba Dita memeluk tubuh Alana dan menangis dengan suara yang memekakkan telinga. Mereka harus segera menyingkir dari sana karena beberapa pembeli ingin masuk.
"Min, tolong dong gantiin aku" pinta Alana dan membawa Dita keruangan nya.
"Ada apa sih Ta? wajah kamu kusut banget. Ribut lagi sama om Rudi?"
Dita menghapus air matanya, lalu mengangguk lemah.
"Terus duit itu, duit apa?"
"Harga keperawanan gue" sahutnya gamblang. Ingatannya kembali pada malam itu dan seketika tubuhnya bergidik ngeri. Sampai sekarang bagian dirinya dibawah sana masih terasa perih.
Dita bangun dengan kepala mau pecah. Hal pertama yang dia lihat adalah br* nya yang tergantung di sandaran kursi. Kesadarannya datang, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Denyut nyeri yang menyapanya membuat dirinya tersadar sudah kehilangan satu-satunya milik yang paling berharga.
Setelah membersihkan diri seadanya, Dita yang keluar dari kamar mandi melihat segepok uang merah yang diletakkan di bawah Asbak dan satu catatan kecil.
Terimakasih untuk malam yang menggairahkan ini. Next time, kita bisa mengulangnya lagi..
Penuh amarah Dita menyambar uang itu dan segera memasukkan ke dalam tasnya, dan keluar dari kamar terkutuk itu.
"Jangan bercanda Ta. Ga lucu ah.."
__ADS_1
"Gue serius Al. Tadi malam karena kesal sama bokap, gue ikut ajakan teman sableng gue main ke club, habis itu kali kebanyakan gue minum jadinya gue teler. Bangun pagi gue udah di kamar hotel yang ada di club itu, tel*njang dan m*ki gue perih, ****! sial banget sih nasib gue" umpatnya kembali menangis.
"Udah dong sayang, jangan nangis lagi. Nanti kamu sakit. Kita cari jalan keluarnya. Kita datangi aja itu cowok, minta tanggung jawab" saran Alana simpel.
"Lo emang teman gue yang paling polos ya Al. Pikiran lo lempeng aja. Kalau gue tahu siapa tu cowok, bukan gue minta tanggung jawab, gue bunuh, gue gunting tu batangnya" makinya kesal, memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Ya Allah, jadi kamu ga tahu main sama siapa?" Dita dengan lemah menggeleng.
***
"Dita belum mau pulang Al?" tanya Arun yang memandangi Alana yang sedang masak.
"Belum bang. Katanya mau menenangkan diri, biar berani ngadepin om Rudi"
"Oh.." gumamnya tapi terus menatap wajah cantik Alana.
"Kok gitu amat ngelihatin nya sih?"
"Habis kau cantik. Ga bosan lihat wajahmu"
"Gombal" sahut Alana.
"Abang ke depan gih, ngapain kek..Oh, olah raga aja, main basket kayak dulu, pas ngawasin aku dan Gara di teras"
"Udah deh, ga usah diingatkan lagi" ucap Arun, mendekat dan mencium sekilas bibir Alana sebelum mengikuti keinginan kekasihnya.
***
"Semangat amat olah raganya, Run" suara Ema yang dari belakang menghentikan Arun mendribel kembali bola basketnya.
"Hai ma..tumben kemari pagi-pagi gini" Arun mendekat, menyalim tangan dan mencium pipi ibunya, kebiasaan yang sejak dulu tak pernah dia lupakan.
"Taraaaaa....lihat mama bareng siapa?" ucap Ema bergeser menunjukkan seorang gadis yang ada di belakang tubuhnya agar bisa dilihat Arun.
"Siapa ma?" tanya Arun datar, soalnya dia sama sekali tidak kenal dengan gadis itu.
"Ini Poppy, anak Tante Irma, teman mama. Waktu kecil kalian suka main bareng kan"
"Poppy yang suka kentut itu?" jawab Arun dengan santai, tanpa ekspresi gembira.
__ADS_1
"Reaksinya kok gitu sih, Run. Ga senang apa ketemu sama sahabat mu mulai dari kecil?"
"Senang, senang kok"
"Udah, ayo masuk, kita ngobrol di dalam aja, biar nyaman" Ema sudah menarik tangan Poppy untuk mengikutinya.
"Jadi mama bawa Poppy kemari, biar kalian bisa dekat lagi. Sudah saatnya kamu menikah lagi Run. Mama juga udah cerita semua tentang kamu sama Poppy, dan dia ga masalah. Dia mau kok jadi istri kamu, iya kan pop?"
"Iya tante" sahut Poppy tersenyum kearah Arun sebelum menunduk.
"Dia mau jadi istriku, tapi aku nya yang ga mau jadi suaminya ma. Mama apa-apaan sih jodohin aku sama gadis lain. Aku udah punya Alana ma. Mama tahu kan, aku cintanya sama dia. Lagi pula, dia mamanya Arlan dan satu lagi, kami ingin memegang janji kami pada Lily" raut wajah Arun sudah tidak senang. Apa lagi kalau sampai Alana dengar
Beruntung jarak dapur dan ruang tamu sangat jauh.
"Kamu yakin Alana mau nikah sama kamu? kalau iya, dia ga akan minta waktu sampai satu tahun. Mama rasa ya dia cuma ngulur waktu buat cari yang lain. Udah kamu sama Poppy aja" ucap Ema mengeluarkan kipasnya.
"Cukup ma, jangan berburuk sangka sama Alana"
"Kalau gitu, cepat kalian nikah, kalau dia masih ga mau, tinggalkan aja dia, nikah sama Poppy atau wanita lain. Mama ga ingin kamu kelamaan jadi dudanya. Mama malu digosipin sama teman-teman arisan" ucap Ema sedikit histeris.
"Kalau alasan tunggu lewat masa berkabung, enam bulan kan bisa, tunangan aja dulu kalau ga"
"Ma..aku mohon mama ngertiin ya keadaan kami. Bersabar sedikit lagi. Kami pasti nikah, kalau ada teman yang nyinyir, cuekin aja ma" ucap Arun berpindah tempat duduk disamping Ema. Wanita itu pun menyandarkan kepalanya di dada Arun, membelai kepalanya.
Dari dalam terdengar langkah Alana yang datang dengan nampan ditangan berisi teh untuk ketiganya.
"Al.." wajah Arun pias. Alana membawakan minum tanpa diberitahu kalau ada tamu, berarti Alana sudah mendengar semuanya.
"Silahkan diminum tante, mbak" ucapnya menunduk.
"Al..mama bawa calon istri untuk Arun, kamu sebenarnya mau ga nikah sama Arun? Kalau ga mau biar tante jodohin sama gadis lain!" tembak Ema tanpa basa-basi. Arun sudah mengepal tangannya, geram melihat tingkah mama nya yang blak-blakan.
"Maaf tante, kalau aku udah buat tante kesal. Menikah dengan bang Arun adalah kebahagiaanku, aku dan bang Arun saling mencintai, tapi kalau tante berkehendak lain, dan bang Arun juga mau dengan pilihan tante, aku akan mundur"
"Al.." hardik Arun berdiri. Alana juga ikut berdiri.
Alana menatap mata Arun lekat. "Tapi saya pastikan kebahagiaan bang Arun hanya ada bersama aku tan, jadi aku mohon jangan pisahkan kami. Kalau memang itu yang membuat tante bisa menerima kami, aku akan ikut apa yang tante mau, karena aku menghargai tante. "Aku siap menikah dengan bang Arun"
***Haii, nunggu up, baca ini juga yuk🙏
__ADS_1